
Menjelang sore, Jillian baru saja pulang diantarkan oleh Justin. Sesuai kesepakatan, setelah menjalin hubungan selama dua minggu, Justin akan mempertemukan Jillian dengan keluarganya. Sementara Darsh dan Glenda malah terlihat meributkan nama anak mereka.
"Tidak, Darsh. Harus ada nama Damarion ataupun Abraham. Bukankah salah satunya bayi laki-laki?"
"Tidak seperti itu, kalau keduanya laki-laki, nama Damarion harus disematkan di belakang nama mereka."
"Mana bisa begitu? Salah satu harus menggunakan nama Abraham. Deal?"
"Enggak!"
"Ck, Kakak kenapa kalian ribut seperti itu?" sahut Jillian.
"Kakakmu, Jill. Bayi kami kembar dan salah satunya berjenis kelamin laki-laki, sementara satunya masih belum kelihatan laki atau perempuan. Nah, kakakmu maunya memakai nama belakang Damarion semua. Aku kan tidak mau. Salah satu harus memakai nama Abraham," jelas Glenda.
"Ya sudah, begini saja. Kalau memang salah satu perempuan, baru dikasih nama Abraham. Begitu saja, Kak."
"Nah, begitu saja," sahut Darsh.
"Baiklah, aku setuju. Namun, kalau keduanya sama-sama lelaki, salah satu tetap menggunakan nama Abraham. Titik, no debat!" ucap Glenda.
Darsh sudah tidak bisa berkutik lagi. Memang seharusnya begitu. Malam ini, rencananya Darsh akan mengajak istri dan adiknya untuk makan malam bersama di rumah orang tuanya. Ini sudah diagendakan dari beberapa hari yang lalu. Namun, mendadak ponselnya berdering. Ada panggilan dari Owen.
"Siapa?" tanya Glenda.
"Owen, Sayang. Kuangkat dulu ya?"
"Hemm."
"Halo, ada apa?" tanya Darsh.
"Darsh, Frey ada di Kafe-ku sekarang. Dia bilang sedang berlibur dan rindu kalian. Bagaimana? Apa kamu bisa datang?"
Deg!
"Darsh, apa kamu mendengarku? Aku juga sedang menghubungi Justin dan Max. Dia meminta kita untuk berkumpul," ucapnya.
"Oh, iya. Aku bisa datang. Segera aku ke sana," balas Darsh.
"Baguslah, kutunggu," ucap Owen kemudian mengakhiri panggilannya.
"Perm kenapa?" tanya Glenda.
"Frey datang. Dia memintaku untuk datang. Apa kamu mengizinkanku pergi ke sana?" tanya Darsh.
"Begini saja. Antarkan aku dan Jillian ke rumah mama mertua. Setelah itu pergilah ke sana. Ingat, jangan sampai Justin dan Max ribut lagi."
Glenda jelas lebih mengkhawatirkan kondisi Jillian jika tahu kalau Frey berada di negara ini. Padahal beberapa bulan yang lalu dia pergi tanpa pesan, tiba-tiba sekarang dia datang dengan dalih berlibur.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu memikirkan sesuatu?" tanya Darsh pada istrinya.
"Aku tidak tahu ini baik untukmu atau tidak. Setidaknya katakan kalau Justin dan Jillian akan menikah. Frey masa lalu, namun kalau kalian tidak jujur dari awal, takutnya Frey salah paham. Aku percaya kalau kamu bisa menyelesaikan semuanya. Nanti, ketika aku sampai di rumah mama, aku akan menginterogasi Jillian."
"Kamu baik-baik saja aku tinggal? Tidak ngambek lagi?"
Glenda menggeleng. "Selama kamu bisa bersikap baik padaku, aku tidak akan ngambek, Darsh. Sebentar lagi kita jadi orang tua, apa iya harus ngambek di depan anak-anak? Tidak, kan?"
"Kamu benar, Sayang. Maafkan aku, ya? Dan, baby W, kalian sehat-sehat di dalam perut Mommy, ya," ucap Darsh. Dia mengelus perut istrinya kemudian menciumnya sejenak.
"Baby W?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"No, baby B!" protes Glenda.
"Baby W. Dia anakku, laki-laki dan kembar," goda Darsh pada istrinya.
"Ish, anak kita! Baby B dan W. Biar adil," ucap Glenda.
...💘💘💘...
Selesai meributkan nama bayi mereka, sekarang Darsh dan Glenda berada dalam satu mobil yang sama. Namun, mereka tidak berdua saja melainkan bersama Jillian.
"Kak, kenapa kalian berdua diam seperti itu? Apa karena ada aku, jadi privasinya merasa terganggu?" ucap Jillian.
"Oh, kukira kalian sedang ribut. Malu lah sama bayi di perut," goda Jillian.
"Hemm, nanti kalian mau menginap di rumah mama atau bagaimana, Sayang?"
"Pulang saja."
"Loh, Kak Darsh memangnya mau ke mana?" tanya Jillian sembari membaca pesan di ponselnya. Dia sedang berkirim pesan dengan Justin.
"Ke Kafe-nya Owen. Kenapa? Mau ikut?"
"Tidak, aku hanya bertanya saja. Kenapa sensitif sekali?"
Darsh tidak menjawabnya karena mobil sudah sampai di halaman rumah orang tuanya. Darsh mengantarkan mereka masuk terlebih dahulu baru pergi ke Kafe.
"Darsh, kenapa buru-buru sekali? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Dizon.
"Pa, aku titip Jillian dan Glenda di sini. Aku ada urusan sebentar. Sampaikan kepada mama. Mungkin akan menjemputnya hampir larut malam."
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Kafenya Owen. Ada keperluan sebentar, Pa. Kalau selesai lebih awal, aku secepatnya kembali."
__ADS_1
"Hemm, hati-hati di jalan."
Selepas Darsh pergi, Glenda dan Jillian duduk di ruang tengah untuk menunggu waktu makan malam tiba. Olivia baru saja menemui mereka karena sibuk membantu menyiapkan makan malam.
"Glenda, suamimu kemana?"
"Ke tempat Owen, Ma. Ada urusan dengan Justin," jawab Glenda.
"Loh, kok Kak Justin tidak memberitahu aku? Tahu gitu, aku ikut Mak Darsh ke sana." Jillian merasa kecewa pada Justin.
"Mungkin urusan pekerjaan, Jill. Jangan terlalu ikut kakakmu. Kadang banyak urusan yang harus diselesaikan," jelas Olivia.
"Iya, tante."
"Ya sudah, ayo ke meja makan! Om Dizon sudah menunggu di sana. Ayo Glenda, Mama sudah masakin makanan kesukaanmu."
"Iya, Ma."
Di meja makan hanya ada Dizon dan baru saja mereka bertiga bergabung di sana. Dizon terlihat sangat senang karena rumahnya mulai terlihat ramai.
"Glenda, bagaimana kehamilanmu?" tanya Dizon.
"Cucu Papa berkembang dengan baik. Kami tidak hanya memberinya satu, tetapi dua."
"Wah, benarkah?" tanya Olivia.
"Iya, Ma. Sebenarnya Glenda sudah tahu sejak awal, namun jenis kelaminnya baru tahu hari ini. Itu pun hanya satu yang muncul."
"Wah, laki-laki?" tanya Dizon.
"Salah satunya, Pa."
Dizon tampak semringah. Baru kali ini, dia bisa sebahagia ini. Dari gennya yang memiliki anak laki-laki, sekarang menurun pada putranya yang sebentar lagi akan memiliki anak laki-laki juga.
Olivia begitu senang melihat perubahan suaminya yang bisa menerima Glenda dengan baik. Jarang sekali Olivia melihat suaminya itu bisa tersenyum sebahagia itu.
"Jaga baik-baik cucu Papa. Kalau kamu perlu sesuatu, jangan lupa kabari Mama. Mungkin kamu minta dibuatkan makanan apapun," jelas Dizon.
"Papa jangan khawatir. Mama akan selalu memperhatikan Glenda. Apalagi kehamilan kembar itu membutuhkan tenaga ekstra," balas Olivia.
"Wah, Kak Glenda beruntung sekali memiliki mertua yang baik. Ah, semoga aku pun seperti itu," jawab Jillian.
"Makanya kamu menikah dulu, Sayang," balas Olivia.
"Hemm, doakan Aunty. Semoga berhasil!" ucapnya semringah.
Makan malam berlangsung dengan meriah. Dizon bisa bersenda gurau dengan menantunya. Jillian pun bisa menggoda kakak iparnya itu dengan sangat puas karena kakak sepupunya tidak berada di tempat.
__ADS_1