
"Syarat apa, Ze? Katakan!" Olivia sudah tidak sabar menunggunya.
Bukan tanpa sebab keluarga Glenda meminta persyaratan itu, karena mama mertua di keluarga Damarion-lah yang meminta pernikahan dipercepat. Ada dilema yang sangat mendalam untuk Olivia. Pernikahan dipercepat, itu artinya semakin cepat dia kehilangan Mama mertuanya. Wanita yang selalu menjadi panutan kedua menantu perempuannya. Yang selalu mengajarkan untuk kuat hidup berdampingan dengan suaminya. Apalagi model Dizon yang 11-12 dengan papanya, membuat Olivia harus berjuang ekstra. Kehadiran Darsh Damarion yang membuatnya harus bertahan sampai sejauh ini. Pernah terbersit keinginan untuk bercerai, tetapi orang tuanya melarang. Dia mengingatkan ada anak yang harus dibesarkan dengan sepenuh hati. Turunkan egomu dan kuatkanlah hatimu.
"Setelah pernikahannya dilangsungkan di tempat keluarga Damarion, maka keluarga kami akan melangsungkan resepsi pernikahan kedua di restoran ZA sekaligus memperkenalkan putri kami pada mereka semua," jelas Zelene.
"Itu syarat yang mudah, Ze. Tidak masalah untuk kami," balas Olivia.
"Adalagi, Kak," sahut Vigor.
Deg!
Darsh dan Glenda paling khawatir kalau daddynya Glenda sudah berbicara. Pasti pria itu akan mempersulit Darsh untuk kedepannya.
"Katakan! Kami hanya ingin masalah ini segera clear," sahut Dizon. Dia juga ingin menampakkan taringnya di hadapan calon besannya. Supaya tidak terkesan menjadi suami-suami takut istri.
"Setelah semua resepsi selesai, Darsh akan tinggal bersama kami selama beberapa bulan. Bagaimana?"
Olivia, Dizon, dan Darsh saling pandang. Mungkin bagi orang tuanya, Darsh bisa saja tinggal di rumah Vigor. Namun, bagi pandangan Darsh sendiri, apakah dia sanggup tinggal di rumah orang lain walaupun itu rumah orang tua istrinya? Bagaimana dia bisa menjalani keseharian di rumah mereka? Rasanya berat untuk mengatakan setuju mengenai syarat yang diajukan calon mertuanya.
"Kami setuju," jawab Olivia akhirnya. Wanita itu mengambil kesimpulan kalau menolak persyaratan ini, maka keluarga Glenda akan mengulur pernikahannya. Sebenarnya bukan karena licik, tetapi lebih menjaga anak perempuannya supaya nyaman berada di rumahnya sendiri.
"Baiklah kalau begitu, Kak," ucap Zelene.
"Minumlah dulu!" perintah Olivia.
Sebelum Darsh dipanggil, pelayan rumahnya sudah menyediakan minuman untuk tamunya. Olivia selalu mengingatkan pada mereka semua untuk segera memberikan minuman kepada setiap tamu yang datang ke rumahnya.
Kesepakatan telah dibuat. Mereka langsung pamit pulang. Tak ada pembicaraan lagi antara Glenda maupun Darsh. Keduanya dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Ma, kenapa menyetujui syarat yang diberikan daddynya Glenda?" selidik Darsh.
"Mama hanya ingin pernikahanmu disetujui oleh mereka. Lagi pula, tak ada salahnya kamu tinggal di rumah mertuamu. Kalian bisa gantian. Ajak Glenda untuk menginap di sini. Mungkin untuk mengakrabkan diri antara menantu dan mertua. Jalani saja, nanti kamu pasti akan memahaminya," jelas Olivia.
"Ma, minta pada mereka, harus adil. Kalau Darsh di sana dua minggu, di sini pun harus sama," usul Dizon.
"Papa jangan khawatir. Seiring perjalanan waktu, mereka akan membaginya sendiri. Aku paham betul pada Zelene."
Darsh kembali ke kamarnya. Dia hampir saja tenggelam dalam kubangan keputus asaan. Mendadak menikah sebenarnya bukan pilihannya, tetapi menikah dengan pilihannya sendiri membuat Darsh menyadari bahwa apa yang disyaratkan oleh calon mertuanya itu adalah benar.
Darsh harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin dia harus menghubungi beberapa sahabatnya untuk mengatakan bahwa pernikahannya dipercepat. Bisa-bisa mereka akan menertawakannya. Darsh sebaiknya menunggu saat yang tepat.
...🥝🥝🥝...
"Mom, kenapa daddy mengajukan syarat itu?" protes Glenda pada Zelene ketika baru saja sampai rumah. Sepanjang perjalanan pulang, Glenda tidak ingin menanyakan apapun pada daddynya.
Tentu saja Glenda sadar. Di rumahnya sendiri saja semua pekerjaan dikerjakan oleh Mommy dan beberapa pelayan rumahnya. Walaupun mereka tidak terlalu dominan. Banyak kekurangan yang dimiliki Glenda. Dia bukan gadis sempurna yang bisa segalanya.
"Mom, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" selidik Glenda. Dia memang sudah cukup umur untuk mengerti mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan. Namun, ada beberapa hal yang ingin dipastikan pada Mommynya. Mengingat pernikahannya tinggal dua minggu lagi.
"Katakan saja, Sayang. Mommy akan menjawabnya selagi bisa."
"Mom, apakah perlu melakukan malam pertama setelah pernikahan?"
Om astaga! Pertanyaan putrinya tentu saja mengingatkan pada Zelene beberapa puluh tahun lalu. Dia bahkan dengan sengaja meninggalkan suaminya yang hampir mendapatkan intinya.
"Ehm, jangan tanyakan itu pada Mommy, sayang. Tanyakan saja pada suamimu nantinya," balas Zelene. Dia tidak mungkin menceritakan kegagalan malam pertamanya pada putri tunggalnya. Biarkan dia menjalani kehidupannya berdua dengan suaminya tanpa bayang-bayang pernikahan orang tuanya di masa silam.
"Yah, Glenda pasti malu, Mom. Kami kan berbeda, mana mungkin aku menanyakan itu pada Darsh. Bisa-bisa aku ditertawakan olehnya." Glenda menutup mukanya malu. Dia tidak tahu akan seperti apa dirinya setelah pernikahan.
__ADS_1
"Itu urusanmu, sayang. Bukan urusan Mommy," canda Zelene.
Semakin dekat hari pernikahannya, Glenda semakin was-was. Dia bingung harus memulai dari mana untuk berinteraksi dengan Darsh. Apalagi Mommynya tidak memberikan jawaban yang memuaskan, malah memberikan teka teki silang yang Glenda tidak tahu apa jawabannya.
"Sudahlah, Mom. Mommy tega sekali padaku. Sekali saja kasih jawaban untukku." Glenda sedang memaksa Mommynya untuk menjawab.
"Tidak bisa, Sayang. Itu privasi kalian berdua. Bukan urusan Mommy dan daddy lagi. Kalian sudah cukup untuk mengerti apa itu pernikahan. Tanpa Mommy jelaskan, Darsh pasti juga mengerti apa yang harus dilakukan lelaki itu padamu. Mommy tidak mau ikut campur keributan yang kalian buat, ya," jelas Zelene.
Glenda segera meninggalkan Mommynya. Dia lebih memilih masuk ke kamarnya. Pertanyaannya mengenai pernikahan tak mendapatkan jawaban apapun.
Zelene tersenyum melihat tingkah putrinya. Dia sangat penasaran sekali tentang cerita itu. Tentu saja Zelene tidak mungkin membeberkannya, bukan? Biarkan saja Glenda dan Darsh usaha sendiri.
Zelene mencari keberadaan suaminya. Dia belum bisa move on setelah mengerjai putrinya seperti barusan.
Ceklek!
Zelene masuk ke kamarnya. Dia melihat suaminya masih di sana dan tidak melakukan apapun.
"Kamu kenapa, Honey? Kenapa senyum-senyum begitu?" selidik Vigor.
"Tentu saja ini gara-gara putrimu. Dia menanyakan bagaimana ehem di hari pertama pernikahannya. Ya mana bisa aku ceritakan secara mendetail. Hari pertama kita saja sudah gagal sepenuhnya." Zelene mendekati ranjang dan duduk di samping suaminya.
Ternyata bukan hanya Zelene saja yang tersenyum. Vigor langsung menertawakan istrinya. Dia tidak habis pikir juga pada pertanyaan putrinya yang sudah menjurus ke arah sana.
"Eh, kenapa malah tertawa?" protes Zelene.
"Aku tahu, hari pertama pernikahan kita itu merupakan aib yang tidak perlu dijelaskan pada putrimu. Benar begitu, kan?" jawab Vigor.
Kali ini Zelene yang tertawa. Dia rupanya sepemikiran dengan suaminya. Bisa saja Glenda malah menertawakan dirinya. Kegagalan hari pertama yang tak patut dicontoh oleh siapapun. Itu rahasia yang paling lucu sampai sekarang. Hanya Vigor, Zelene, dan Sean yang mengetahuinya. Jangan sampai kakak iparnya itu membongkar aib ini pada keponakannya.
__ADS_1