Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Max Vs Frey


__ADS_3

Darsh tidak mengindahkan kebingungan istrinya. Dia keluar kamar untuk menemui seseorang. Glenda merasa kesulitan dalam posisi ini. Tidak keluar kamar untuk berkumpul dengan keluarga lainnya juga tidak mungkin. Dia terkendala baju yang akan digunakannya.


"Aduh, aku harus bagaimana ini?" ucap Glenda masih dalam kebingungannya. Dia mondar mandir ke sana ke mari. Menelepon mommynya juga tidak mungkin. Orang tuanya mungkin sekarang dalam perjalanan. Kemungkinan malam ini akan sampai di negara I. Bisa jadi, orang tuanya akan menginap di rumah Om-nya.


Ceklek!


Darsh masuk membawa paper bag. Dia memberikannya pada Glenda.


"Pakailah!" ucap Darsh.


Glenda menerima paper bag itu dengan penuh tanya. Bagaimana mungkin dia mendapatkan baju baru semendadak ini? Glenda tidak perlu menanyakan lagi. Dia harus segera membersihkan diri.


Darsh meminum kopi kemudian keluar kamar. Dia membiarkan Glenda untuk bersiap dan merasa bebas di kamarnya sendiri. Darsh mencari keberadaan Om Felix untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.


"Jill, Om Felix di mana?" tanya Darsh ketika melihat Jillian yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Mungkin sedang di kamar, Kak. Apa mau kupanggilkan?"


"Tidak perlu. Terima kasih untuk paper bag-nya barusan," ucap Darsh.


Melihat kebingungan Glenda, Darsh tak sampai hati melihat istrinya berada dalam kesulitan. Dia meminta tolong Jillian untuk membelikan baju yang sesuai dengan warna yang dibutuhkan. Untung saja, Jillian pernah membeli baju, tetapi tidak cocok dengan dirinya. Modelnya yang tidak terlalu suka dan warnanya hitam. Tak perlu tahu ukuran Glenda lebih detail karena Glenda dan Jillian 11-12 postur tubuhnya.


Darsh mencari Om-nya ke kamar. Mungkin sembari menunggu kedatangan mobil dari rumah sakit, Felix dan Kayana berbincang dulu di kamar. Mengenai grandpa-nya, semenjak pria tua itu masuk ke rumah, dia tidak keluar lagi dari kamarnya.


Tok tok tok.


Felix berdiri, dia membuka pintu, dan melihat kedatangan Darsh. Sedikit terkejut, tetapi Felix berusaha bersikap biasa saja. "Ada apa, Darsh?"


"Bisa bicara sebentar, Om?"


"Tentu, kita bicara di ruang tengah saja," ajak Felix.

__ADS_1


"Tidak perlu, Om. Di sini saja," jawab Darsh.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Nanti malam, mama dan papa kemungkinan sudah sampai Bandara bersamaan dengan orang tuanya Glenda. Apakah nanti malam Om akan menjemputnya?"


Felix hampir melupakan hal itu. Dia terlalu sibuk mengurus kepergian mamanya.


"Oke, Om yang akan menjemputnya."


"Tidak, Om. Om terlihat sangat lelah, izinkan Darsh yang akan menjemputnya."


"Baiklah, tetapi ingat, tetap hati-hati dan fokus."


"Terima kasih, Om. Kalau begitu, Darsh pamit ke kamar dulu."


"Baiklah."


Belum benar-benar kembali ke kamarnya, di luar mobil pengantar jenazah telah tiba. Felix mengajak istrinya untuk ke depan. Tak lupa, Felix memanggil seluruh anggota keluarganya. Termasuk pelayan rumahnya. Dia juga memanggil papanya yang sejak tadi berada di kamarnya.


"Glenda, jenazah grandma sudah tiba. Kamu sudah siap?"


"Iya, Darsh."


Darsh keluar diikuti Glenda di belakangnya. Suasana rumah sepi. Carlotta yang biasa selalu meramaikan suasana rumah, kini telah pergi untuk selamanya. Wanita tua yang sangat bijaksana itu pergi dengan binar mata bahagia. Keinginannya untuk melihat salah satu cucunya menikah sudah terwujud.


...❣️❣️❣️...


Di dalam pesawat tujuan penerbangan ke negara I, sepasang suami istri merasakan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya mereka baru berangkat hari ini, tetapi Dizon merasakan ada sesuatu yang membuatnya harus pulang lebih awal. Sementara orang tua Glenda baru sampai besok malam karena mereka memang harus berangkat hari ini.


Ternyata, Dizon dan sahabat Darsh berada dalam penerbangan yang sama. Mereka baru tahu ketika pesawat transit. Bertepatan dengan itu, Dizon mendapatkan kabar kalau putranya harus cepat dinikahkan karena mendadak mamanya berada di rumah sakit. Tak berselang lama, setelah kebahagiaan sesaat, mamanya menghembuskan napas terakhirnya tepat setelah putranya menikah.

__ADS_1


"Pa, bersabarlah." Olivia berusaha menenangkan suaminya. Dia terlihat tak berdaya setelah mendapatkan kabar duka itu.


"Ma, bagaimana aku bisa bersabar? Penerbangan baru beberapa jam lagi akan sampai. Mereka pasti sudah mengantar mama ke pemakaman."


Dizon anak tertua. Carlotta-lah yang selalu mendampingi dan mendukungnya sampai saat ini. Keterpurukan di masa lalunya sudah berakhir. Sekarang, hanya kebahagiaan yang tersisa. Namun, baru beberapa kali bertemu dengan mamanya, sekarang sudah ditinggalkan untuk selamanya.


"Tidak, Felix pasti menunggumu. Dia tidak akan membiarkan kakaknya untuk tidak memberikan penghormatan terakhir kepada mamanya. Percayalah padaku!"


Pembicaraan tidak berhenti sampai di situ, tetapi dalam penerbangan yang sama dan ruang yang berbeda, keempat sahabat Darsh sedang berbincang. Ini merupakan sesuatu yang sangat menyedihkan untuk sahabatnya.


"Max, apa menurutmu malam ini kita menginap di hotel saja?" tanya Justin.


"Itu tidak mungkin, Justin. Darsh sedang berduka. Kita harus langsung ke rumahnya. Setidaknya setelah pemakaman, kita baru memikirkan selanjutnya," balas Max.


"Max benar. Darsh pasti membutuhkan kita. Setelah itu, kita akan mencari penginapan selama beberapa hari," jelas Frey.


Owen tak berkomentar. Kemana pun mereka pergi, Owen ikut saja. Lagi pula, mereka berangkat bersama, pulang juga bersama.


Bayangan Frey untuk bertemu dengan Jillian nampak di depan mata. Gadis itu sudah lama tidak mengabarinya. Mungkin Frey akan lebih lama berada di sana. Mengingat Darsh pasti membutuhkan dirinya lebih lama. Mengenai perusahaan, staf kepercayaan Dizon sudah dipekerjakan. Itu akan membuat Dizon bisa lebih tenang. Begitu pun dengan Frey. Dia bisa lebih tenang meninggalkan pekerjaannya.


"Frey, apa kabar Jillian?" tanya Max.


Mengenai gadis itu, entah Max sengaja menggoda Frey atau membuat lelaki itu cemburu, hanya Max yang tahu. Beberapa kali berselisih paham, rupanya Max tidak pernah kapok.


"Max, jangan membuat keributan. Pesawat bisa terguncang kalau kalian berdua memulai keributan ini," sindir Owen.


Mereka terdiam kalau Owen sudah menjadi penengah keduanya. Namun, Frey ingin mengakhiri kesalah pahaman berlanjut ini.


"Max, kamu jangan menyindirku terus mengenai Jillian. Aku akan mengatakan padamu kalau Jillian itu bebas. Belum terikat apapun denganku. Kalau kamu mau, dekati dia dan lamar saja. Aku lelah, setiap kita bertemu, kamu selalu seperti itu. Kalau memang Jillian menolakmu lagi, jangan salahkan kalau dia mendekatiku," jelas Frey.


Semuanya terdiam mendengar penuturan Frey. Suasana berduka, mereka masih sempat bertengkar. Owen sebagai penengah selalu memberikan solusi bijak untuk kedua sahabatnya yang masih berseteru itu.

__ADS_1


"Max, sudah kukatakan berulang kali. Kalian tidak boleh bertengkar hanya karena satu perempuan. Malu! Ucapan Frey benar. Kalau kamu sekali lagi mencoba mendekati gadis itu dan mendapatkan penolakan lagi darinya. Cukup, jangan lanjutkan lagi. Jillian malah merasa tidak nyaman. Coba pikirkan lagi kalau gadis itu kamu dekati dan dia malah ilfil padamu, bagaimana?" jelas Owen.


Lelaki ini selalu bisa memberikan solusi, tetapi suka sekali memberikan teka-teki. Ucapannya barusan mengharuskan Max menyerah untuk tidak melanjutkan niatnya mengejar Jillian yang sudah jelas kalau gadis itu memilih Frey.


__ADS_2