Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Banyak Kebahagiaan yang Menanti


__ADS_3

Meninggalkan duka kehilangan kedua grandma kembar dan cerita buruk masa lalu Willow, sepagi ini seluruh anggota keluarga sedang sibuk bersiap. Beberapa berada di dapur untuk menyiapkan sarapan paginya.


Vigor dengan susah payah akhirnya mendapatkan pesawat untuk jam 10. Lumayan agak siang dari yang sudah dijadwalkan. Namun, awalnya dia harus bernegosiasi. Dia sebenarnya mendapatkan pesawat lebih pagi dengan ketentuan akan mengalami transit di satu atau dua tempat. Jadi, butuh sekitar lima jam sampai negara H. Vigor menolaknya karena jadwalnya terlalu pagi. Padahal, pagi ini mereka semua harus mampir ke pemakaman dulu.


Vigor akhirnya mendapatkan penawaran untuk jam 10 tanpa transit. Itu hanya membutuhkan waktu dua jam sampai di negara H. Vigor akhirnya memutuskan menyewa pesawat itu.


"Ayo semuanya sarapan pagi dulu," panggil Callista pada semua orang. Sebagai tuan rumah, dia berhak untuk meminta tamunya untuk mengikuti arahannya.


Baby Gavino, cucunya terlihat sangat rewel. Sehingga Glenda berusaha membantu aunty-nya itu untuk menenangkan. Sejak semalam, bayi itu terus saja menangis.


"Kak Aqua sarapan saja dulu. Baby Gavino biar ikut denganku." Entah, rahasia apa yang digunakan Glenda sehingga bayi itu mau ikut dalam gendongannya. Bahkan, suara tangisannya pun mereda. Perlahan bayi itu tertidur pulas.


"Glenda, kurasa kamu pandai sekali merawat bayi. Lihat saja anakku langsung pulas seperti itu," ucap Aquarabella.


"Sayang, lekaslah sarapan. Gantian dengan Glenda. Pagi ini kita harus mampir ke pemakaman dulu." Callista selalu mengingatkan agar tidak ada yang tertinggal.


Willow baru saja keluar dari kamarnya. Melihat Glenda yang sedang menggendong bayi, naluri keibuannya muncul.


"Boleh aku gendong? Siapa namanya?" Willow mengangkat kedua tangannya untuk segera menggendong bayi itu tanpa menunggu jawaban dari Glenda.


Owen melihatnya. Ada sedikit senyuman terkembang di bibirnya. Semoga setelah ini, Willow mau berubah dan yakin pada permintaan Owen. Jangan dikira setelah pernikahannya, Owen berhasil menyentuh istrinya. Belum sama sekali.


Glenda menyerahkan baby Gavino pada Willow. "Namanya Gavino Leoline Armstrong."


"Nama yang manis. Tidurnya pulas sekali," ucap Willow yang sudah menggendong bayi Gavino.


"Iya, baru saja selesai menangis. Oh ya, Kak. Aku titip Gavino dulu, ya. Aku mau sarapan. Setelah itu, aku akan ke sini lagi untuk bergantian dengan Kakak. Terima kasih sebelumnya," ucap Glenda dengan senyuman mengembang. Dia lantas meninggalkan Willow seorang diri.


Owen mendekati istrinya. Sebenarnya Willow sedikit terkejut melihat kedatangan suaminya.


"Seharusnya kamu ikut sarapan pagi bersama mereka," ucap Willow.


"Mana mungkin aku bisa makan. Sementara istriku masih di sini. Kita akan makan bersama. Masih ada waktu sebelum pergi ke pemakaman."

__ADS_1


"Baiklah, tunggu Glenda kembali." Willow fokus memandangi bayi mungil itu. Rasanya ada sebuah kebahagiaan tersendiri bisa menggendong keturunan Armstrong.


"Kamu pantas memilikinya," ucap Owen membuyarkan lamunan Willow.


"Maksudmu?"


"Kurasa sebaiknya kita melanjutkan malam pertama yang sempat tertunda. Kita akan membuat bayi juga, kan," jelas Owen tanpa merasa malu lagi.


Willow diam. Dia malu karena menunda malam pertama mereka. Masih dalam rasa ketakutan yang melanda kalau Owen mendapatkan dirinya dalam keadaan tidak bersegel.


"Apakah kalian akan terus berada di sini? Lekaslah sarapan! Berikan bayi Gavino padaku," pinta Sean.


Willow menyerahkan bayi itu kemudian pergi ke meja makan bersama Owen.


"Lekaslah sarapan, Willow. Setelah ini kita berangkat," ucap Callista.


"Di mana baby Gavino?" tanya Glenda yang masih berada di meja makan.


Darsh dan Glenda yang baru saja selesai makan langsung meninggalkan meja makan. Sebelum itu, Darsh berpesan pada Owen untuk secepatnya bersiap.


"Jangan lama-lama, Owen. Sebentar lagi kami harus berangkat ke makam." Darsh sengaja mengingatkan Owen.


"Darsh, sepertinya kamu sudah melupakanku. Aku masih sahabatmu, kan?" Justin tidak terima. Beberapa kali bertemu dengan Darsh, lelaki itu malah seolah cuek padanya.


"Maaf, Tuan CEO. Aku sibuk," canda Darsh. Tentu saja tak banyak waktu untuk mengurus sahabatnya. Lebih baik dia mengurusi istrinya.


"Mulai sombong!" balas Justin.


"Kamu yang lebih sombong. Bahkan, kamu tidak melihatku sedikit pun," sindir Owen.


Tentu saja mereka tidak banyak interaksi dengan sahabatnya. Sibuk dengan istrinya masing-masing.


"Apa kamu ke sini berniat bertemu dengan Frey?" tanya Owen. Sebelum berada di rumah ini, Owen memang sempat makan siang bersama.

__ADS_1


Justin melirik ke arah istrinya sesaat. Dia terdiam dan tidak bersikap aneh. Mungkin benar kalau sekarang Jillian sudah mencintai Justin seutuhnya.


"Tidak. Kami hanya berlibur dan tak sengaja bertemu dengan Aunty Callista." Justin memang sudah mengetahui namanya dari mommy mertua. Mommy mertuanya sahabat dekat dari Aunty Callista.


Selesai sarapan pagi, seluruh anggota keluarga kembali ke kamar masing-masing untuk mengambil beberapa koper. Pelayan membantu mereka untuk memasukkan ke dalam mobil masing-masing.


Sebelum mampir ke pemakaman, Sean menitipkan rumah untuk selalu dirawat oleh pelayan. Rumah ini tidak akan dijual, tetapi akan dijadikan tempat singgah bagi siapapun anggota keluarga yang datang.


Beberapa mobil beriringan menuju ke pemakaman. Semua anggota keluarga sudah berada di mobil masing-masing. Termasuk keluarga Felix yang niatnya akan berlibur lama di negara T. Nyatanya dia harus berpindah tempat menuju rumah kakaknya.


"Mom, sesampainya di negara H, kita langsung ke rumah mertuaku, ya? Aku sudah rindu dengan baby W." Rasanya meninggalkan putra putrinya selama beberapa hari akhirnya rindu juga.


"Iya, Sayang. Mom juga sudah rindu dengan cucu. Pasti semakin hari semakin menggemaskan." Zelene membelai rambut putrinya.


Perjalanan dari rumah menuju ke pemakaman tidak terlalu jauh. Zelene sudah menyiapkan beberapa bunga untuk ditaburkan di makam mama dan aunty-nya. Dia masih tidak menyangka kalau mamanya akan pergi secepat ini. Andai saja mereka tidak segera kembali ke negara H, maka Zelene akan berlama-lama di makam ini.


Glenda juga merasakan kehilangan yang teramat sangat. Ini pertama kalinya dia menangis tanpa henti sampai matanya hampir membengkak. Darsh selalu mengingatkan untuk tetap bersabar. Menangisi kepergian seseorang terlalu berlebihan tidak baik, oleh karena itu Glenda bisa memaklumi sikap suaminya.


"Sayang, jangan terlalu merasa kehilangan seperti itu. Setidaknya grandma sudah berbahagia di sana. Kamu tahu kan, mereka pasti sedih kalau melihatmu seperti ini." Darsh menggenggam erat tangan istrinya. Berusaha menguatkan agar Glenda tidak terpuruk. "Ingat, baby W pasti akan sedih kalau melihat mommynya seperti ini."


Rupanya tak hanya Glenda, mommy mertuanya juga terlihat sangat terpukul. Sebenarnya dia masih ingin berada di makam ini jika Om Sean-nya tidak mengingatkan untuk datang lebih awal ke bandara.


"Ze, apa kamu akan terus menangisi kepergian mama? Lihat, jam berapa sekarang? Kita bisa terlambat kalau tidak segera pergi." Sean meminta pada seluruh anggota keluarga lekas masuk ke mobil masing-masing. Kini tersisa hanyalah Sean, Zelene, Darsh, dan Glenda. Vigor pun sudah lebih dulu ke mobil untuk mengecek persiapan pesawat yang sudah dipesannya.


"Mom, percayalah akan ada kebahagiaan setelah duka. Mom harus melihat aku dan kedua cucu mommy. Jangan terpuruk seperti ini. Walaupun mommy jarang bertemu grandma Jenica, tetapi wanita tua itu akan tetap berada di hati kita semua." Glenda melihat sikap mommynya sangat terenyuh. Wanita paruh baya itu sampai bersimpuh di tanah.


Putrinya benar. Zelene tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Banyak kebahagiaan yang sedang menanti. Dia akan pulang dan bertemu dengan kedua cucunya. Itu sudah lebih dari sebuah kebahagiaan yang sebenarnya.


...🍃🍃🍃...


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren berikut. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏


__ADS_1


__ADS_2