
Sampai pagi, akhirnya Glenda tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Untung saja Kayana sangat sabar menghadapi gadis itu.
"Glenda, sebaiknya kamu mandi dulu. Setelah itu, langsung ke ruang makan. Tante mau bantu pelayan untuk menyiapkan sarapan pagi," pamit Kayana.
"Terima kasih sudah membuat Glenda semakin tenang, Tante."
"Sama-sama, Sayang."
Kayana meninggalkan Glenda seorang diri. Dia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri sebentar sebelum pergi ke dapur.
Ceklek!
"Sayang, bagaimana Glenda?" tanya Felix.
"Dia tidak bisa tidur, Sayang. Pikirannya berisi Darsh semua. Lucu juga ya keponakanmu itu. Dinginnya seperti Kak Dizon, tetapi menjadi daya tarik tersendiri untuk Glenda," ucapnya.
"Entahlah, pesona Darsh memang sedikit berbeda dari Kak Dizon. Hanya sikap dinginnya saja yang 11-12 dengan kakakku itu."
"He em, Sayang. Aku mau membersihkan diri dulu, ya. Aku mau bantu pelayan menyiapkan sarapan pagi. Jangan lupa bantu mama dan papa dikamarnya." Kayana langsung masuk ke kamar mandi.
Felix yang sudah siap sejak tadi dan berniat keluar untuk menemui orang tuanya. Dia berharap kehadiran Darsh dan calon istrinya bisa membuat mamanya jauh lebih sehat. Bukan penyakit serius, tetapi sudah sangat tua dan mengkhawatirkan sekali. Terkadang karena tekanan darah yang tidak stabil membuat mamanya itu sangat mengkhawatirkan.
Tok tok tok.
Felix langsung masuk ke kamar orang tuanya. Dia melihat papanya sudah siap dan mamanya perlu dibantu ke kursi roda. Namun, ketika hendak naik ke kursi roda, tiba-tiba wanita tua itu sesak napas. Melihat kejadian itu, Felix refleks mengangkat tubuh wanita tua itua dan membiarkan papanya tetap berada di kamarnya.
"Ma, bertahan. Felix akan membawanya ke rumah sakit. Papa di rumah saja." Felix langsung mengangkat mamanya dan terjadilah keributan di ruang makan.
Felix dengan sigap membawa tubuh mamanya menuju ke depan. Walaupun sudah paruh baya, Felix masih kuat untuk melakukan itu.
"Siapapun, tolong bantu aku!" teriak Felix.
"Kenapa, Om?" tanya Darsh yang ikutan panik melihat grandmanya di gendongan Om-nya yang mulai terlihat lemah.
"Siapkan mobil! Kita ke rumah sakit!" balas Felix.
__ADS_1
Darsh yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya, dia langsung menyiapkan mobil Om-nya untuk mengantarkan grandma ke rumah sakit. Rumah keluarga Damarion sangat gaduh. Kayana, Felix, dan Darsh ikut mengantarkan Carlotta ke rumah sakit.
Sementara Jillian yang baru saja keluar terlihat bingung. Pasalnya, semua orang biasanya sedang sarapan pagi. Dia tidak melihat mommy, daddynya, dan grandmanya. Bahkan grandpanya juga belum keluar dari kamarnya.
"Bi, ke mana semua orang?" tanya Jillian. Setelah semalam menunggu di Bandara, dia terlambat bangun. Dia juga belum melihat keberadaan Glenda maupun Darsh.
"Ke rumah sakit mengantar grandma, Nona," balas pelayan.
"Grandma kenapa, Bi?" tanya Jillian lagi. Dia bisa saja langsung pergi ke rumah sakit, tetapi tanpa izin orang tuanya tentu tidak akan mungkin.
"Yang Bibi tahu, Tuan Felix mengangkat grandma dari kamarnya kemudian keluar."
Penjelasan dari pelayan rumahnya cukup bisa dimengerti. Jillian sangat khawatir dengan kondisi grandmanya.
"Lalu, grandpa masih di kamar?" selidiknya lagi.
"Iya, Nona."
Jillian berinisiatif ke kamar grandpanya, tetapi dia tertahan karena Glenda baru menuju ke ruang makan.
"Grandma mendadak harus dilarikan ke rumah sakit, Kak. Ayo sarapan, biar aku yang temani. Pasti Kakak sudah lapar," balas Jillian.
Lapar, tentu saja dia lapar. Apalagi semenjak datang ke rumah ini, dia belum menyentuh makanan atau minuman sedikit pun. Jillian lantas menggandeng tangan kakak sepupunya itu.
"Duduk, Kak. Bi, siapkan teh hangat untuk Kakakku!" perintah Jillian.
"Terima kasih, Jill." Glenda mulai mengambil makanannya. Tidak banyak, cukup untuk mengisi perutnya yang kosong.
Seusai sarapan pagi yang tidak begitu berselera karena empunya rumah mendadak sakit, Glenda berusaha terus berada di samping Jillian. Dia ingin mendapatkan kabar terbaru tentang kondisi grandma.
Hendak berpindah dari ruang makan menuju ruang tengah, grandpanya baru saja keluar. Pria tua itu langsung duduk di meja makan. Pelayan segera melakukan tugasnya untuk menyiapkan semua makanan grandpa Denzel.
"Jill, apa daddymu sudah memberikan kabar?" tanya Denzel.
"Belum, grandpa. Mungkin grandma masih ditangani."
__ADS_1
Pria tua itu terlihat lelah dan menampakkan raut wajah yang sangat khawatir. Istrinya sakit, dia tidak bisa berbuat terlalu banyak karena faktor usia. Bahkan ketika mendapati istrinya sesak napas, dia tidak mampu menolongnya lagi. Bagaimana pun juga, Carlotta sudah menemaninya dari awal. Dia satu-satunya wanita hebat yang selalu tahan dengan sikapnya yang kadang tidak bisa ditebak itu.
"Grandpa mau ke rumah sakit, kah? Kalau iya, Jillian akan mengantarnya."
Glenda tidak mampu berkata apapun. Jillian yang terlihat masih sangat muda itu sepertinya sudah mandiri. Dia mungkin bisa mengemudikan mobil. Tidak sepertinya yang hanya bisa meminta tolong kedua orang tuanya dan terkadang memakai taksi.
"Selepas sarapan, kita ke rumah sakit," ucapnya. Denzel memakan hidangan yang sudah disiapkan pelayannya.
"Ehmm, maaf. Grandpa, boleh aku ikut?" tanya Glenda. Dia tidak mungkin berada seorang diri di rumah sebesar ini.
"Ikutlah! Darsh juga di sana, kan?" ucap Denzel. Pria tua itu tidak menolak keberadaan Glenda karena gadis itu masih keturunan keluarga Armstrong. Untuk pertama kalinya, Denzel bisa bersikap baik pada orang lain.
"Terima kasih, Grandpa. Jill, aku masuk ke kamar dulu untuk bersiap. Tunggu sebentar, ya!" pamitnya.
"Iya, Kak. Jangan buru-buru. Aku juga mau ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobil," balas Glenda.
Belum terlalu siang, tetapi mereka harus bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi grandmanya. Sakit seperti ini sudah dialami grandma semenjak dua tahun terakhir ini. Perjalanan paling akhir adalah kemarin ketika kunjungan ke rumah Dizon untuk menghadiri perayaan kecil pengangkatan cucunya.
Felix awalnya menolak, tetapi ketika melalui cek kesehatan dan masih bisa untuk bepergian, Carlotta tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Di sana, dia ingin meminta permintaan terakhirnya. Cucunya juga sudah setuju. Itulah yang membuat wanita tua itu semangat.
Grandpanya sudah selesai sarapan. Jillian segera menyiapkan mobil untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Glenda juga sudah menunggunya di depan. Dia belum sempat menghubungi orang tuanya ketika sampai di negara I.
"Grandpa duduk di kursi penumpang saja, ya," ucap Jillian.
"Iya, Jill. Kamu jangan ngebut bawa mobilnya," pesan Denzel.
"Iya. Kak Glenda, duduk di depan saja."
"Terima kasih, Jill."
Jillian yang sedang fokus menyiapkan mobil mengabaikan ponselnya yang sedang berdering itu. Mungkin panggilan dari mommy atau daddynya. Dia masih fokus pada mobilnya. Kalau harus mengangkat telepon sekarang akan memangkas waktunya pergi ke rumah sakit.
"Jill, angkat teleponmu dulu!" perintah Denzel.
"Nanti saja, Grandpa. Kita ke rumah sakit dulu," ucapnya.
__ADS_1
Jillian memang tidak tahu itu telepon dari siapa. Yang pasti, tujuannya saat ini fokus mengemudi dan mengantarkan grandpa ke rumah sakit.