Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Kasihan Owen


__ADS_3

Suasana pagi yang cerah, namun tidak bagi Owen dan Willow. Keduanya bertengkar hebat di apartemen. Semenjak kesepakatan itu, Owen memang kembali ke apartemen.


"Willow, kenapa sikapmu menjadi seperti ini? Apa kamu tidak ingat bagaimana orang tua Darsh menerimamu dengan baik?"


"Tidak! Semua orang bahagia atas penderitaanku. Kalau aku tidak bahagia, mereka juga tidak."


Glek!


Selama ini Owen selalu memberikan semua kebutuhan dan kebahagiaan layaknya suami istri yang sesungguhnya. Namun, sepertinya Willow menanggapinya lain.


"Tidak, Owen. Aku tidak mencintaimu. Dari awal pertemuan kami, aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada Darsh."


Deg!


Rasanya sakit sekali mendapati kenyataan seperti ini. Rasanya ingin melepaskan Willow begitu saja membuat Owen ragu dengan prinsip keluarganya. Sekarang, dia tidak boleh ragu lagi. Haruskah dia hidup dalam penjara pernikahan yang tak pernah membuatnya bahagia?


"Kalau begitu, izinkan aku menceraikanmu."


Jurus terakhir Owen. Dia tidak mampu lagi harus bertahan.


"Tidak! Sebelum aku mendapatkan Darsh."


"Kamu gila!" bentak Owen.


"Ya, aku gila padanya! Kau tahu, dia itu pria yang sangat perhatian, penyayang, dan aku sangat menyukainya."


"Harusnya kamu sadar diri, Willow. Kita sudah menikah, begitu juga dengan Darsh. Dia memiliki istri dan anak. Apa kamu tega memisahkan seorang daddy dengan anak-anaknya?"


"Bahkan papaku meninggalkan kami." Willow mulai sesenggukan.


"Jangan salahkan orang lain kalau itu disebabkan oleh keluargamu sendiri. Darsh tidak salah. Begitu juga dengan orang tuanya. Kalau kamu mau balas dendam, harusnya sama papamu, bukan malah sama keluarga Darsh."


"Om Dizon dan Aunty Olivia juga masih ada sangkut pautnya dengan orang tuaku. Lihatlah, mereka sangat bahagia. Sedangkan keluargaku terpecah belah. Jangankan bahagia, aku setiap hari terluka melihat kondisi mamaku. Aku berjanji akan balas dendam pada orang-orang yang pernah dekat dengan mamaku dan membuat kehidupannya kacau."


"Termasuk Om Sean?" tanya Owen.


"Tidak."


"Kenapa tidak? Bukankah dia mantan suami mamamu?" selidik Owen. Setelah ini dia akan mengambil keputusan.


Willow menggeleng. Ini cukup aneh menurut Owen. Sean malah lebih dekat dengan mamanya, tetapi mengapa malah Willow membalas dendam pada keluarga Dizon? Sangat tidak masuk akal sebenarnya. Mungkinkah ada sepenggal kisah yang Owen tidak tahu?

__ADS_1


"Baiklah, ini kesempatan terakhirmu. Sebenarnya aku tidak ingin terlalu mengekangmu, namun kamu masih tetap pada pendirianmu. Maka dari itu, aku memutuskan akan mengajukan gugatan perceraian."


"Jangan, jangan lakukan itu padaku, Owen! Kumohon," ucap Willow sesenggukan. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Setidaknya, hanya Owen yang bisa menerimanya dengan baik.


Owen tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangganya. Dia merasa gagal untuk membuat Willow sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah besar. Bagaimanapun, Owen hanya manusia biasa yang menginginkan kebahagiaan. Tekadnya sudah bulat untuk tidak meneruskan pernikahan neraka versinya ini.


...*****...


Di sisi lain, Darsh dan sang istri mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah tahanan. Mereka akan menjemput Max yang keluar hari ini. Sungguh rasanya tidak sabar untuk mengakhiri semuanya dan hidup kembali normal seperti sebelumnya.


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Darsh.


"Iya, aku sudah menemui kedua anakku itu. Setelah semuanya mandi dan makan pagi, aku bisa meninggalkannya sekarang. Mereka cukup bisa diandalkan untuk hal sepenting ini."


"Baguslah. Kita jemput Helga dulu."


Helga kembali ke tempat kost yang pernah ditinggali bersama Livia kala itu. Dia juga sedang menunggu kebebasan kekasihnya. Sehingga Darsh harus mengemudikan mobilnya lumayan jauh barulah mampir ke tempat Helga.


"Bagaimana harimu, Helga?" tanya Darsh ketika masuk ke mobil.


"Aku sangat senang, Darsh. Sudah lama sekali aku merindukan momen seperti ini."


"Maaf, demi membela keutuhan rumah tangga kami, kalian berdua harus berkorban sebesar ini," ucap Glenda.


Secepatnya Darsh menuju ke rumah tahanan. Jangankan Helga, dia pun sama tidak sabar untuk memeluk sahabatnya. Menggandeng erat tangannya kemudian bersama menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.


Sampai di sana, Darsh segera memarkirkan kendaraannya. Dia tidak menyangka ketika hendak masuk, rupanya Max sudah menunggu mereka.


Max lebih dulu memeluk Helga, kekasihnya. "Akhirnya kita bertemu lagi, Helga."


"Iya, Max. Aku sangat merindukanmu," ucapnya.


"Apakah kalian akan berpelukan di hadapanku seperti ini?" protes Darsh.


"Maafkan aku, Darsh." Max melepaskan pelukannya kemudian beralih memeluk Darsh. Tak lama, dia pun melepaskannya.


"Hai, kakak ipar. Apa kabar?" sapa Max.


"Aku baik, Max. Bagaimana kabarmu?" balas Glenda.


"Seperti yang kamu lihat, aku bebas sekarang. Bagaimana? Apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Max.

__ADS_1


"Lupakan itu! Sebaiknya kita mampir ke tempat Owen. Kita bicarakan di sana," ajak Darsh.


"Baiklah. Aku akan ikut ke manapun kalian pergi," jawab Max.


Darsh tidak ragu lagi untuk mempertemukan Max dan Owen. Mereka sebenarnya sahabat dekat, tetapi karena sebuah kesalahan orang lain menyebabkan keduanya sempat berselisih paham.


"Oke. Kamu akan berdamai dengan Owen, kan?" tanya Darsh.


"Mungkin," jawab Max.


Kini, posisi mereka berada di dalam mobil. Helga dan Max duduk di kursi penumpang, sedangkan Glenda berada di samping Darsh.


"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Darsh.


"Kembali mengurus showroom dan menikah," ucap Max yakin.


"Itu pilihan yang tepat. Apakah kamu sudah memiliki calonnya?" goda Glenda.


"Iya, kakak ipar. Doakan kami berdua bisa menikah sepertimu dan memiliki bayi-bayi mungil," sahut Max.


"Wah, Helga. Kamu dengar, bukan?" ucap Darsh.


"Iya, Darsh. Kami memang menginginkan menikah sepertimu. Kurasa ini awal yang bagus untuk kami." Helga memang menginginkannya sejak lama.


"Baiklah, Sayang. Segera setelah masalah ini selesai." Max menggenggam erat tangan Helga.


"Baiklah, Max. Apa yang akan kita lakukan pada Willow? Kurasa ini saat yang tepat untuk menyelesaikan segalanya." Darsh sudah tidak sabar karena ingin sekali kembali seperti semula. Suasana yang tentram dan damai tanpa ada drama.


"Kurasa kita perlu melibatkan orang tuamu dan juga orang tuanya. Mungkin seperti itu," jawab Max.


"Lalu, mengenai Owen?" Justru Helga malah mengkhawatirkan lelaki itu.


"Kita serahkan semuanya pada Owen. Mau melanjutkan, ya silakan. Itu hak kehidupannya. Kita tidak berhak untuk mengaturnya. Oh ya, aku akan meminta Helga untuk mengabari Livia. Minta Juvenal untuk datang ke sini. Kalaupun Owen masih bertahan, setidaknya orang tuanya juga tahu. Jika Owen memutuskan sebaliknya, papanya bisa langsung membawanya kembali, bukan?" jelas Max.


"Kamu tidak dendam padanya?" Ini yang mengganjal di benak Darsh saat ini.


"Untuk apa, Darsh. Dia hany gadis aneh yang berusaha untuk menyenangkan dirinya sendiri. Justru aku kasihan sama Owen. Entah, apa yang akan dilakukannya setelah ini? Kurasa dia salah paham terhadapku," jawab Max.


Tidak hanya Max, Darsh pun kepikiran hal yang sama. Andaikan Owen tidak menarik Willow ke dalam kehidupannya? Tentu semua ini tidak akan terjadi. Namun, entah apa yang terjadi pada Darsh dan keluarganya?


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya



__ADS_2