
Felix yang lebih tanggap dalam hal ini. Melihat keponakannya terdesak seperti itu membuatnya tidak tega.
"Kak, kalau Darsh tidak mau menjawabnya jangan dipaksa. Sebaiknya kalian buat janji temu saja dengan keluarganya," usul Felix.
"Nah, itu benar Oliv. Sebenarnya mama masih ingin menyaksikan proses pertunangan Darsh, tetapi Felix harus secepatnya kembali. Kami sudah menunda keberangkatan selama beberapa hari ini," sahut Grandma.
"Wah, Darsh, gadis mana yang beruntung menerima pinangan lelaki tampan dan kaya sepertimu?" selidik Grandpa.
"Hanya gadis biasa, Grandpa. Aku menyukainya."
"Grandma tak masalah. Kalau bisa, pernikahannya diadakan di tempat keluarga Damarion. Bagaimana, Darsh?" usul Grandma. Wanita tua ini tidak mungkin lagi untuk melakukan penerbangan ke mana-mana. Untuk menghadiri pengangkatan CEO DD Corporation sudah dipaksakan seperti ini.
"Kami usahakan, Ma," sahut Olivia.
Olivia melihat kondisi Mama mertuanya yang sudah semakin renta itu. Tak mungkin dipaksa untuk mengikuti penerbangan menghadiri pernikahan Darsh dalam waktu dekat jika semuanya sudah diputuskan.
"Begini saja, Kak. Kalau misalnya Darsh sudah sepakat dengan gadis itu. Segera tentukan tanggalnya. Aku dan Felix yang akan mempersiapkan semua kebutuhan pesta beserta baju pengantinnya. Butikku akan menyiapkan gaun spesial untuk keponakanku," sahut Kayana.
"Bagaimana, Darsh? Apa kamu setuju?" tanya Grandma.
"Kalau itu demi Grandma, aku tidak bisa menolaknya. Semoga calon yang kubawa ini cocok untuk kalian."
Tak ada pembicaraan lagi. Felix malam ini harus secepatnya kembali. Kalau kemarin rencananya tanpa Jillian, malam ini harus pulang bersama-sama.
"Jill, sudah pamit sama Frey? Jangan lupa, dia pasti kecewa kalau kamu tidak mengabarinya," ucap Darsh.
"Iya, Kak Darsh. Nanti juga aku kirim pesan sebelum berangkat. Kalau Kakak Darsh jadi menikah, jangan lupa ajak Kak Frey juga untuk ke sana, ya?" pinta Jillian.
"Salahmu sendiri, Jill. Disuruh menikah tidak mau, sekarang siapa yang pusing harus LDR?" cibir Darsh.
"Ck, Kak Darsh selalu saja begitu. Ngomong-ngomong, nama calon Kak Darsh, siapa? Apa dia sangat cantik?" tanya Jillian.
"Jangan seperti itu, Jill. Kak Darsh-mu masih malu-malu untuk mengatakannya," sahut Kayana.
"Iya, Mom. Manusia kaku ini akhirnya punya tambatan hati," goda Jillian.
Tring.
Sedang fokus berbincang, rupanya ponselnya Darsh berbunyi. Darsh segera mengambilnya dan melihat rupanya ada pesan masuk.
[Darsh, besok jam tujuh malam tepat, Restoran BC.]
__ADS_1
Pesan dari Glenda rupanya. Gadis itu mungkin sudah berbicara dengan keluarganya.
"Grandma, gadis itu sudah mengabari meminta bertemu besok malam. Sayang, kalian harus balik malam ini," ucapnya.
"Oliv, pesan Mama, jangan sampai gadis itu lepas. Aku yakin kalau Darsh sudah memilih yang terbaik. Jangan kecewakan Mama!" pesan Mama mertuanya.
Dizon yang baru saja datang sangat terkejut mendengar ucapan Mamanya.
"Wah, ada apa ini, Ma?" tanya Dizon.
"Putramu ternyata lebih keren. Dia sudah mendapatkan calon istri untuk memenuhi permintaan terakhir Mama," jawab Carlotta.
Dizon menatap putranya. Dia menelisik mimik muka lelaki itu.
"Kamu sudah yakin, Darsh?" tanya Dizon.
"Tentu, Pa. Besok keluarganya minta bertemu," jawab Darsh.
"Secepat itu, Darsh?" tanya Dizon lagi.
"Sudahlah, Kak. Mama juga memintanya lebih cepat lebih baik. Kalau Darsh sudah yakin, tinggal kalian dukung saja. Bukan begitu, Ma?" balas Felix.
"Dad, aku mau ke kamar dulu ya. Jangan sampai kita terlambat untuk berangkat ke Bandara," ucap Jillian mengingatkan.
Mereka menghambur ke kamar masing-masing. Tak lupa, Felix dan Kayana mengantar Mama dan Papanya. Tinggalah Darsh dan orang tuanya.
"Kamu nekat? Bahkan kita belum mengenal keluarganya. Bagaimana kalau dia bukan berasal dari keluarga baik-baik? Ingat, kamu penerus Damarion. Jangan sampai mempermalukan Papa," tegur Dizon.
"Pa, sudah kubilang dari awal. Dia dari keluarga biasa saja. Aku menyukainya. Aku harap Papa besok tidak membuat kerusuhan di sana," sindir Darsh.
"Darsh!" geram Dizon.
"Pa, cukup! Jangan ribut terus. Setidaknya untuk saat ini kita bisa secepatnya mewujudkan keinginan mama. Kalau sampai Darsh gagal dengan gadis ini, terpaksa aku akan meminta Felix menikahkan Jillian," ancam Olivia.
Kalau sudah melawan Olivia, Dizon lebih baik diam. Jika berlanjut, bisa saja wanita itu mematahkan semua ucapannya. Nampaknya Tuhan sudah bersikap adil padanya dengan mengirimkan lawan yang seimbang seperti Olivia.
Dizon langsung meninggalkan mereka berdua. Tujuannya kamar mandi untuk segera membersihkan diri dan menyegarkan pikirannya.
Darsh bebas mengungkapkan perasaannya pada cinta pertamanya itu.
"Mama setuju kalau aku menikahi Glenda?" tanya Darsh.
__ADS_1
"Kita putuskan besok, sayang. Setelah bertemu dengan orang tuanya, Mama akan berunding dengan Papa," jawab Olivia. Bagaimanapun juga, pria itu sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Bertepatan dengan selesainya pembicaraan antara Darsh dan mamanya, semua keluarga besarnya telah siap untuk pulang. Felix sengaja memesan penerbangan yang tidak terlalu malam.
"Tidak ada yang ketinggalan?" tanya Olivia.
"Semuanya sudah, Kak. Kak Dizon mana?" tanya Felix.
"Ke kamarnya. Tunggu sebentar!" Olivia memanggil Dizon.
Tak lama, pria itu sudah muncul di hadapan mereka semua.
"Kak, kami langsung pamit ya," ucap Felix.
"Hati-hati, Felix. Jadi diantar Darsh kan?" tanya Dizon. Dia mendekati adiknya lalu memeluknya.
"Tidak, Kak. Jillian mendapatkan sewa mobil gratis dari temannya. Aku pikir supaya Darsh tidak bolak-balik lagi. Apalagi menjelang malam. Aku tidak tega, makanya kami menerimanya, " balas Felix yang sudah melepaskan pelukan kakaknya.
"Dizon, Mama dan Papa balik dulu ya? Sesuai kesepakatan antara aku dan Olivia, pernikahan Darsh akan digelar di rumah keluarga Damarion. Boyong calon menantumu dan besanmu ke sana," terang Carlotta.
Mereka semua saling menumpahkan kerinduan sebelum pulang ke rumahnya. Mengenai Jillian, sudah bisa ditebak. Gadis itu pasti menerima tawaran Frey untuk mengantarkannga ke Bandara. Ini kesempatan bagus untuk Darsh bisa beristirahat. Sejak tadi dibuat pusing oleh semua orang tua di rumahnya. Rupanya tidak hanya jabatan CEO saja, melainkan harus menemukan calon istri dalam waktu singkat.
"Jangan kamu permainkan dia. Walaupun dia lelaki, dia juga punya perasaan," bisik Darsh pada Jillian.
Rupanya kakak sepupunya sudah tahu siapa yang memberikan tumpangan gratis untuk keluarganya.
Darsh membantu membawakan beberapa koper ke depan. Jelas saja Jillian mau menerima, pengemudi mobilnya saja adalah Frey.
"Om, Tante, kopernya langsung masukkan ke bagasi saja," pinta Frey.
"Oh, rupanya kamu asistennya Darsh," ucap Felix dan Kayana.
"Iya, Om, Tante," balas Frey.
"Kamu yakin balik malam ini, Felix? Hanya tinggal besok penentuannya," tanya Dizon.
"Kami tidak bisa menunggu, Kak. Kondisi Mama dan Papa juga butuh banyak istirahat. Secepatnya kabari saja supaya kami bisa menyiapkan rencana pernikahan beserta resepsinya," balas Felix.
Semua orang memahami maksud pembicaraan antara Felix dengan Dizon, tetapi tidak dengan Frey. Dia bingung sebenarnya siapa yang dimaksud akan menikah di sini. Mungkin nanti dia bisa bertanya kepada Jillian. Yang penting sekarang semuanya sudah masuk ke mobil dan siap berangkat.
"Hati-hati di jalan ...," ucap Dizon dan keluarganya.
__ADS_1
Frey mengemudikan kendaraannya menuju Bandara. Dia mengantarkan keluarga Jillian penuh tanda tanya besar. Ingin langsung bertanya, tetapi diurungkannya. Mungkin setelah sampai Bandara dia akan mendapatkan jawabannya.