
"Darsh, kenapa tidak mengarah ke rumah kita?" tanya Glenda ketika mengetahui mobilnya belok ke kanan. Harusnya kalau mau ke rumahnya itu belok ke kiri.
"Masih ada kejutan lain yang belum selesai, Sayang." Darsh masih ingin membuat Glenda lebih bahagia lagi.
Ketika mobilnya mulai memasuki area parkir hotel, Glenda terperanjat.
"Loh, kenapa kita malah ke sini, Darsh? Ingat, ada bayi kita di rumah. Kamu tahu kan, kita tidak mungkin meninggalkan bayinya terlalu lama."
"Kamu bilang merindukan aku? Kalau kita di rumah, kerinduan kita tidak akan tersalurkan. Apa kamu lupa? Kamu wanita normal, kan? Sama sepertiku, aku juga pria normal," ucap Darsh tanpa senyuman sedikit pun. Seperti sebelumnya, dia mulai bersikap dingin lagi.
Astaga! Kenapa aku merasa dia akan melakukan sesuatu terhadapku?
Glenda ingin menolaknya. Kenyataannya, antara hati dan jiwanya berbeda. Dia mengikuti saja ketika Darsh menggandeng mesra tangannya untuk melakukan check in malam ini.
Setelah mendapatkan akses masuk, kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Namun, lagi-lagi pikiran Glenda terpecah.
"Darsh, bagaimana bayi kita? Mereka pasti mencariku."
Sepertinya akan sangat sulit bisa berduaan dengan istrinya. Apalagi setelah Glenda melahirkan. Beberapa bulan bersabar, namun kali ini tidak lagi. Darsh harus membahagiakan istrinya lebih dari apapun. Jika tidak, jangan harap kalau Darsh akan merasa tenang.
"Sebenarnya kita mau apa ke sini, Darsh?"
"Berkencan, tidur berdua, dan menikmati kebersamaan," ucapnya sembari memeluk istrinya dari belakang.
Sesaat Glenda melupakan bahwa dia telah memiliki dua bayi yang menggemaskan. Darsh memulai misinya untuk menaklukkan mama muda beranak dua itu. Malam ini tidak akan terlewatkan begitu saja. Darsh mulai menyusuri leher jenjang istrinya. Dia memberikan sentuhan kecil sampai Glenda merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya.
"Darsh, jangan diteruskan!" lirihnya.
__ADS_1
Bukan Darsh namanya. Dia sudah menahan diri selama beberapa bulan untuk tidak menyentuh istrinya. Setelah melahirkan pun, Darsh harus tetap bersabar sampai istrinya siap untuk memberikan jatah yang selama ini di tahannya.
Malam ini, Darsh akan menumpahkan segala kerinduannya yang sudah tertahan. Dari leher jenjang istrinya, dia beralih ke bagian sensitif lainnya.
"Darsh, kata dokter, aku belum boleh memiliki anak lagi dalam waktu dekat."
Darsh tidak peduli. Dia sudah mendengarkan segalanya. Dia juga tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Darsh kemudian berada di hadapan istrinya. Sisa beberapa sentimeter, bibirnya akan menyentuh ciuman yang selama ini diinginkannya.
"Darsh, bayi kita bagaimana?" tanya Glenda.
Inilah repotnya. Jika awal kehamilan, Darsh tidak tega menyentuh istrinya. Maka kali ini dia harus melakukannya. Dia juga butuh kehangatan seperti ini.
"Kita selesaikan sekali, setelah itu kita pulang? Bagaimana?" Tanggung, karena Darsh sudah dalam posisi ingin sekali.
Glenda pun mengalah. Dia menyetujui apapun ucapan suaminya. Perlahan namun pasti, Darsh mulai memberikan ciuman nakalnya yang memabukkan dan menggairahkan itu. Glenda sudah banyak belajar dari suaminya. Walaupun sama-sama amatir.
Perlahan, bongkahan berlian surgawi sudah nampak dihadapannya. Tak disia-siakan, Darsh mulai menyusuri kedua bongkahan indah itu. Sementara Glenda sudah tidak keruan. Dia mulai mengeluarkan suara-suara erotis pembangkit jiwa yang mulai berkelana. Lambat laun, bukan hanya Darsh saja yang terus menggebu, melainkan istrinya juga sudah terpengaruh cumbu rayu suaminya.
"Darsh, lekaslah!" Glenda sudah tidak nyaman dengan kondisinya yang sekarang. Darsh pandai sekali membuat sang istri kelabakan. Akhirnya, untuk pertama kalinya keduanya melakukan penyatuan yang hampir dilakukannya lagi ketika usia pernikahan mereka memasuki satu tahun.
Suara-suara indah dengan ritme sedang ke tinggi sudah menggema di dalam kamar hotel tersebut. Darsh benar-benar berjanji untuk membuat istrinya bahagia luar dan dalam. Masih dalam penyatuan, Glenda terus saja mengerang merasakan kenikmatan yang selama ini baru didapatkan malam ini.
"Darsh, rasanya aku sudah tidak kuat," ucapnya.
Tinggal beberapa waktu lagi, keduanya akan memberikan pelepasan yang sama. Namun, Darsh sudah mengantisipasi untuk tidak membuat istrinya hamil dalam waktu dekat. Dia menarik batangan miliknya dan menumpahkan segalanya diluar.
Rasanya lega. Itu pertama kali yang dirasakan sepasang suami istri itu. Keduanya menarik selimut dan membenamkan dirinya di ranjang hangat malam ini. Darsh memeluk istrinya dengan erat sekali.
__ADS_1
"Terima kasih. Kamu memberikan kebahagiaan yang berlimpah untukku. Tetap berada di sampingku untuk selamanya," ucap Darsh sembari mengecup puncak kepala istrinya.
Glenda tersenyum dengan wajahnya yang merona merah. Malam ini, tidak hanya makan malam romantis, tetapi juga kebahagiaan yang berlimpah terus saja diberikan oleh sang suami.
Jika tidak ingat kalau mereka punya bayi, Darsh akan mengajak istrinya untuk bermalam di hotel. Namun, dia cukup sadar diri bahwa tanggung jawabnya bukan hanya pada istrinya, tetapi juga kedua bayi buah cinta mereka berdua.
"Darsh, kita bersihkan diri kemudian pulang. Kurasa kita terlalu lama meninggalkan baby W."
"Kita bersihkan bersama-sama, setelah itu kita pulang."
Darsh masih menginginkan lebih untuk malam ini. Namun, bagaimana caranya untuk membuat istrinya tetap mau memberikan sentuhan yang sama seperti dirinya.
"Darsh, ayolah!" Glenda merajuk. Dia khawatir pada kedua bayinya.
"Kita mandi bersama dan melakukannya sekali lagi. Setelah itu kita pulang. Oke?"
Kalau sudah dalam pengaruh suaminya, Glenda tidak bisa berbuat apapun lagi. Dia pasrah sekaligus menikmati permainan kedua malam ini. Di dalam bath up, keduanya seperti mermaid yang sedang jatuh cinta. Sentuhan demi sentuhan mereka berikan dengan irama jantungnya yang semakin menggila.
Baik Darsh maupun Glenda sama-sama dimabuk asmara. Keduanya hampir melupakan kalau di rumah ada anak yang sedang menunggunya. Untung saja sesi penyatuan mereka berlangsung singkat dan padat.
Selesai melakukan hal indah itu. Keduanya lekas bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Malam semakin larut, jika kedua orang tua mereka mengetahui tingkah anaknya, bisa saja mereka langsung marah. Namun, mengingat hubungan ini juga penting, mereka pasti akan menyadarinya.
Darsh lekas melakukan check out di malam yang sama. Glenda terus saja semakin bahagia karena pria itu memanjakannya sepanjang malam. Mungkin setelah sampai di rumah, kedua bayinya akan melakukan demo besar-besaran karena sang mommy mengabaikannya.
"Darsh, terima kasih untuk malam indah ini," ucap Glenda yang masih memegang erat tangan suaminya ketika baru sampai di tempat parkir.
"Tetap seperti ini. Kapanpun kita menginginkan, jangan menundanya. Karena aku juga ingin menebus seluruh kesalahan yang pernah kubuat padamu."
__ADS_1
Glenda merasakan kedamaian menjalar dalam dirinya malam ini. Tepat di malam Wedding anniversary pertama mereka. Rasanya seperti mendapatkan hadiah yang tiada henti.