Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Bersikaplah Biasa Saja


__ADS_3

Darsh lekas pulang ke rumah orang tuanya. Dia secepatnya harus kembali ke rumahnya. Hatinya merasa tidak aman karena sewaktu-waktu Willow pasti datang untuk menemui mamanya. Darsh pikir, hanya ada tiga wanita penggoda dalam hidupnya selama ini. Rupanya bertambah satu lagi yaitu Willow.


Mengendarai mobilnya, tak lupa dia mengabari sang istri untuk lekas bersiap. Tentu saja hal itu membuat bingung semua orang termasuk mamanya.


"Glenda, kenapa mendadak sekali?" tanya Olivia disela-sela bercanda dengan kedua cucunya yang sangat aktif itu.


"Entah, Ma. Glenda juga tidak tahu. Mendadak Darsh menelepon dan memintaku untuk segera berkemas. Termasuk kedua bayiku dan baby sitter-nya."


Olivia malah mondar-mandir tidak jelas. Dia kepikiran sikap Darsh yang serba mendadak ini. Tentu ada alasannya dan Olivia sangat mengenal putranya dengan cukup baik.


Tak lama, orang yang dinantikan telah datang. Darsh tergopoh-gopoh masuk untuk menemui mama, anak-anak, dan istrinya.


"Sayang, semuanya sudah siap?" tanya Darsh pada sang istri. Memang kenyataannya ada beberapa koper yang sudah disusun dengan baik di ruang tamu. Berikut perlengkapan bayi dan barang-barang milik baby sitter-nya.


"Darsh, ini sebenarnya ada apa? Kenapa kalian mendadak pulang? Mama masih rindu dengan Willy dan Welenora."


Kasihan mamanya, tetapi kalau dibiarkan di sini, Darsh takut kalau sikap Willow akan semakin ngelunjak. Cukup Darsh yang tahu agar sang istri tidak terlalu kepikiran bahwa ada musuh di dalam rumahnya sendiri.


"Ma, aku rindu rumah. Mama tahu kan sudah berapa lama kami meninggalkan rumah. Ya, walaupun sudah ada yang menjaga dan membersihkannya setiap hari, aku ingin agar kedua anakku mengenal rumahnya dengan baik. Bukan begitu, Sayang?" Di dalam kebohongannya, Darsh sengaja melibatkan istrinya agar wanita muda itu mau diajak kompromi secara tidak langsung.


"Darsh benar, Ma. Kami sudah rindu rumah dan ingin mengajak baby W beraktifitas di sana."


Istrinya sudah masuk perangkap. Sebentar lagi mamanya pasti mengizinkan.


Olivia tak berhak melarang keduanya. Mungkin butuh waktu untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya.


"Pulanglah! Kalau ada waktu senggang, ajak baby W ke sini atau Mama yang akan ke sana."


"Baiklah," ucap Darsh.


...*****...


Sampai di rumah, baby sitter membawa kedua bayinya untuk bermain. Sementara Darsh ingin berbincang dengan sang istri. Sebenarnya dia tidak ingin menceritakan hal ini padanya, tetapi Darsh tidak ingin terjadi salah paham dikemudian hari. Kini keduanya berada di dalam kamar.


"Apa kamu tidak bertanya kenapa tiba-tiba aku mengajakmu pulang?"


Glenda menggeleng. "Untuk apa aku bertanya kalau suamiku sudah tahu yang terbaik untukku. Tapi, sebenarnya ada masalah apa?"


"Kemarilah. Duduk di pangkuanku!"


Tumben, kali ini Darsh bersikap sangat romantis seperti pria dewasa pada umumnya. Rasanya sangat aneh memang, tetapi Glenda tidak menolaknya.

__ADS_1


"Harusnya tangan ini memeluk seperti ini." Darsh mengalungkan tangan Glenda di lehernya. Pandangan keduanya kini hanya berjarak beberapa centimeter saja.


Terdiam. Sesaat detak jantungnya saling bersahutan. Ya, keduanya saling mencintai. Terkadang sikap dingin Darsh yang membuat mereka sangat berjarak.


Perlahan, bibir Darsh mulai menyentuh lawannya. Perlahan namun pasti bibir itu memberikan sentuhan lembut yang membuat Glenda sampai terlena dan tidak menyadari kejadian yang mendadak indah ini. Darsh menggigit perlahan bibir bawah sang istri agar wanita muda itu mau memberikan akses masuk untuk bertukar saliva. Napas keduanya memburu sampai pada akhirnya Glenda mendorong dada Darsh untuk mundur. Glenda rasanya hampir tidak bernapas.


"Cukup, Darsh! Rasanya aku tidak bisa bernapas," ucap Glenda yang masih berada di pangkuan suaminya.


"Hemm, padahal aku masih menginginkannya."


"Kalau caramu seperti barusan, aku bisa mati kehabisan napas," gerutu Glenda. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan Tuan Darsh yang dingin?"


"Berjanjilah untuk tidak marah padaku atau mengatakan hal ini pada siapapun."


Deg!


Sepenting apakah masalah ini sampai orang lain tidak boleh tahu? Apa suamiku memiliki wanita idaman lain di luaran sana? Atau, dia berselingkuh dengan salah satu wanita penggoda itu? Ah, kenapa pikiranku mendadak kacau. Batin Glenda.


"Hei, kenapa terdiam? Berjanjilah padaku!" ucap Darsh mengulanginya lagi.


"Apa kamu selingkuh?" tanya Glenda langsung ke inti permasalahannya.


Ya, Darsh benar. Glenda hanya terbawa perasaan yang tak seharusnya. Glenda hanya perlu menanamkan keyakinan bahwa suaminya bukan pria gampangan.


"Ya, aku berjanji."


"Bagus, gadis pintar!" Darsh mencolek hidung istrinya. "Baiklah, dengarkan aku! Apapun yang terjadi, jangan sampai orang tua kita tahu masalah ini. Sebenarnya aku tidak ingin membuatmu kepikiran, tetapi aku tidak ingin timbul masalah di kemudian hari karena aku tidak jujur dari awal."


Darsh bermain teka-teki sehingga membuat Glenda tidak sabar dengan apa yang akan diucapkan sebentar lagi.


"Darsh, cepat katakan! Kalau tidak, aku turun sekarang." Glenda memasang wajah ngambeknya.


Darsh memejamkan mata, mengatur irama napasnya, dan menggenggam tangan sang istri. Barulah dia membuka matanya.


"Willow mencintaiku."


Jeduar!


Glenda sampai membelalakkan matanya. Dia seperti tersengat aliran listrik berkekuatan tinggi. Tubuhnya serasa lemas. Padahal dia mash berada di pangkuan suaminya.


Glenda mulai berkaca-kaca dan memikirkan hal buruk yang terjadi di belakangnya. Mungkinkah suaminya selingkuh dengan Willow? Rasanya masih tidak percaya.

__ADS_1


"Hei, kenapa diam?"


"A-aku tidak tahu harus berkomentar apa, Darsh? Apakah kamu dan Willow selingkuh di belakangku?"


"Hei, kau ini bicara apa? Dengarkan penjelasanku!"


Darsh menceritakan pertemuannya hari ini dengan Willow dan suaminya. Dia juga tidak menyangka kalau gadis itu berani menantang dirinya. Darsh juga menceritakan untuk meminta orang lain menyelidiki kebenaran tentang Willow.


Glenda lega. Suaminya memang pria yang baik. Dia senang karena Darsh mau terbuka seperti ini.


"Jadi, dia jatuh cinta padamu?"


Darsh mengangguk.


"Aku masih tidak percaya ini, Darsh. Kurasa kamu benar harus bersikap seperti ini," ucap Glenda lagi.


"Makanya, aku meminta kerja samanya agar orang tua kita tidak tahu. Aku tidak ingin mama dan papa salah paham sebelum aku memiliki bukti kuat tentangnya. Kamu mau mendukungku, kan?"


"Tentu, Darsh. Oh ya, apakah Owen tahu hal ini?"


Ya, Darsh hampir melupakan sahabatnya itu. "Aku tidak tahu, tetapi kalaupun dia tahu, entah apa yang akan dilakukannya."


Glenda merasa kasihan pada Owen. Padahal dia sudah menyelamatkan kisah hidup Willow, memberikan tempat tinggal yang layak, dan menjadikannya wanita yang terhormat.


"Apa tidak sebaiknya kamu mengatakan ini juga pada Owen? Maksudku, agar dia tidak salah paham padamu, Darsh."


Darsh sedang memikirkannya. Namun, berbicara tanpa bukti sama saja membuat Darsh terjebak. Dia tidak ingin dituduh sebagai orang ketiga dalam rumah tangga sahabatnya itu. Kini, posisinya serba salah.


"Tidak, sebelum kita mendapatkan bukti."


"Kalau begitu, kita harus bersikap bagaimana terhadap Owen dan Willow? Jujur saja, aku merasa tidak nyaman berinteraksi dengannya setelah mengetahui kenyataan seperti ini."


"Bersikaplah biasa saja seolah tidak terjadi apapun. Kurasa ini sangat sulit, tetapi kamu mau mendukungku, kan?"


Glenda tak bisa memungkiri. Dia akan terus bertemu dengan Willow. Apalagi mama mertuanya sudah menganggap gadis itu seperti putrinya. Akan sangat sulit memberitahukan pada mereka tanpa memegang bukti.


...🍃🍃🍃...


Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren berikut ini. Terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2