Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Bertukar Tempat


__ADS_3

Malam-malam kelam Helga dihabiskan bersama Juvenal. Membuka mata di pagi buta, tangan kekar itu memeluknya dengan cukup erat. Sebenarnya Helga enggan melakukannya, namun demi sebuah misi, Helga merelakan dirinya.


Perlahan, Helga menyingkirkan tangan kekar itu dari tubuhnya. Semalaman, pria paruh baya itu menginginkannya sehingga terpaksa Helga melayaninya.


Setelah ini aku akan pergi. Namun, apakah Livia berhasil menyelesaikan pesanku pada Darsh?Kalau Livia mengirimkan pesan, kuanggap ini adalah hari terakhirku berada di sini. Aku akan menuliskan pesan agar pria ini menjemput putrinya. Jika tidak, aku akan mempermasalahkan gadis kurang ajarnya itu. Batin Helga dengan geram.


Helga turun secara perlahan. Juvenal memperlakukannya dengan baik, namun tetap saja dia tidak rela karena terpaksa melayani pria itu demi uang dan berita yang didapatkan. Helga mengambil bajunya kemudian menggunakannya sejenak sebelum masuk ke kamar mandi. Dia menghampiri nakas untuk melihat ponselnya yang diletakkan di dalam tas.


Masih kosong. Hari-hari Helga digunakan untuk menunggu kabar dari Livia.


"Sebaiknya aku mandi sekarang," ucapnya lirih. Pria paruh baya itu seperti memiliki puber berulang kali. Rasanya juga lelah karena keperkasaannya.


Helga mengguyur tubuhnya dengan shower. Dia enggan untuk berendam di bathtub atau apapun itu. Pikirannya jauh menerawang tentang Max. Setelah semuanya selesai, dia akan meminta maaf pada Max dan Darsh secara bersamaan.


"Ayolah, Livia. Jangan lama-lama. Aku bisa gila terus berada di dekat pria ini." Helga mengucapkan sembari berada di bawah guyuran shower yang terus mengguyurkan airnya.


Lama Helga berada di sana kemudian mengambil bathrobe dan mengeringkan rambutnya. Dia mengambil paper bag di sana untuk mengeluarkan pakaian baru yang dibelikan oleh Juvenal.


"Seleranya lumayan bagus juga," ucap Helga sembari bercermin untuk merias wajahnya. Helga memang pandai berhias. Apapun yang dipakainya selalu terlihat cantik karena postur tubuh dan wajahnya yang seimbang. Cantik dan proporsional. Setelah selesai semuanya, Helga kembali ke kamar. Rupanya Juvenal sudah bangun.


"Pagi, Baby!" sapa Juvenal.


"Pagi juga, Dad."


"Kamu tahu, aku sangat senang seperti ini. Bangun tidur kemudian melihat bidadari cantik sepertimu."


"Dad, kau jangan berlebihan. Bersihkan dirimu dulu kemudian kita sarapan pagi."


"Baiklah."


Juvenal turun dari ranjang. Dia juga mengambil beberapa baju yang berserakan kemudian memakainya. Sementara Helga menutup wajahnya agar tidak melihat Juvenal yang masih terlihat polos sembari memunguti bajunya itu.


"Kenapa menutup mata seperti itu, Baby? Permainan ranjangmu luar biasa. Aku sampai benar-benar terlelap karena kelelahan."


"Aku malu melihatmu, Dad," ucapnya beralasan.


"Hemm, kau ini. Kita sudah berulang kali melakukannya. Kamu masih saja terlihat malu."


"Ya sudah, lekaslah! Aku sudah lapar, Dad."


Kalau terus mengobrol, Juvenal bisa saja terus menjawab semua ucapan Orlen. Helga Orlen sendiri sudah kelaparan karena ini lagi menjelang siang. Dia cukup lama berada di kamar mandi.

__ADS_1


Helga kembali lagi melihat ponselnya. Ada notifikasi pesan dari Livia. Rasanya senang sekali.


Or, aku sudah menyampaikan pesanmu pada D. Sekarang kamu di mana? Aku jemput!


Secepatnya Helga keluar dari kamar. Dia tidak lagi meninggalkan pesan seperti rencananya. Lagi pula, Juvenal tak ada hubungannya lagi dengan Willow.


...*****...


Livia yang baru saja sampai di bandara langsung mengabari Orlen. Dia memang mengenal Helga dengan nama itu. Dia juga yang membantu Orlen sampai di negara X ini dan menemukan Juvenal.


Kehidupan Livia sendiri sama halnya dengan Orlen. Dia juga menjadi simpanan sugar Daddy yang sangat kaya. Sehingga apapun keinginan Livia, semuanya selalu dipenuhi. Namun, Livia juga masih punya hati. Jika bukan karena terpaksa, dia juga tidak akan mau menjadi seperti ini.


"Orlen memintaku menjemput di dekat hotel A. Kurasa aku harus memesan taksi ke sana."


Tak lama, Livia sudah berada di dalam taksi. Dia meminta sang sopir untuk secepatnya menuju ke tempat yang dimaksud Orlen. Jarak tempuh yang lumayan mungkin membuat Livia maupun Orlen sama-sama jenuh.


Sekitar hampir 45 menit, taksi yang ditumpangi Livia baru saja sampai di tempat yang dimaksud Orlen. Dia tidak melihat Orlen di sana.


"Wah, di mana kau berada gadis bodoh?" gerutu Livia.


Livia turun sebentar untuk mencari keberadaan Orlen.


"Tolong tunggu sebentar, ya!" ucap Livia pada sopir taksi tersebut.


Berkeliling ke sekitar lokasi yang dimaksud, akhirnya Livia berhasil menemukan orang yang dicarinya. Livia langsung menepuk pundak Orlen.


"Hei, ayo masuk ke taksi! Taksiku menunggu."


"Kau lama sekali."


"Hei, sudahlah. Lagi pula aku baru turun di bandara."


Sebelum Juvenal menemukannya, dia lantas masuk ke taksi yang dimaksud. Taksi itu kemudian jalan sesuai arahan Livia.


"Bagaimana kabarmu? Apakah pria itu memperlakukanmu dengan cukup baik?" tanya Livia.


"Iya. Dia baik."


"Apakah kamu mendapatkan informasi penting?"


"Ada, tetapi tidak banyak. Setidaknya pria itu tak ada hubungannya dengan putrinya."

__ADS_1


"Kamu serius?"


Orlen mengangguk. Tak banyak yang didapatkan informasinya. Setidaknya ini cukup untuk dibawa kembali ke negaranya.


"Kau mampir ke tempatku dulu. Setelah itu, kita akan bertukar tempat. Aku akan kembali pada Juvenal dan selalu mengawasinya," ucap Livia.


"Kamu teman terbaikku, Livia. Setelah ini aku akan menampakkan wajahku di hadapan Willow. Aku tidak akan takut lagi."


"Kamu perempuan hebat, Orlen. Demi menyelamatkan banyak orang, kamu dan kekasihmu itu rela menjalani hukuman yang bukan seharusnya."


Yang belum banyak orang tahu, ternyata Helga dan Max resmi menjalin hubungan serius. Bahkan, setelah Max keluar dari penjara, mereka siap meresmikan hubungan serius itu.


"Kamu juga hebat, Livia. Kurasa sebaiknya kamu menikah dengan duda."


"Hah, apa maksudmu?"


"Sebentar lagi kalau kebusukan Willow terbongkar, Owen akan melepaskannya. Jelas, dia akan menjadi duda, kan?"


"Aku tidak tega menikah dengan pria polos seperti itu. Aku sudah cukup kotor untuk bisa menerima kenyataan bersanding dengan pria baik sepertinya," ucap Livia. Dia sudah tahu banyak mengenai persahabatan Darsh, Max, dan Owen.


"Kau jangan bersikap seperti itu. Owen pria baik. Aku saja tidak rela kalau Willow menikah dengannya."


"Hemm, jangan khawatir. Jodoh sudah ada yang mengatur. Sama sepertimu, kan?"


Taksi mulai memasuki area apartemen tempat tinggal Livia. Dia mendapatkannya dari sugar Daddynya yang sebelumnya.


Setelah keluar dari taksi, keduanya langsung menuju unit apartemen milik Livia.


"Kamu yakin kalau Juvenal tidak akan mencariku?" tanya Orlen nampak keraguan di matanya.


"Tidak, dia pasti memahami konsekuensinya hidup bersama sugar baby sepertimu. Apalagi dia bukan termasuk pria ambisius. Jadi, kamu jangan khawatir. Besok, aku akan mengantarmu ke bandara."


Menekan kode akses masuk ke unit apartemennya, Livia langsung masuk bersama Orlen. Rasanya Orlen tidak bisa kembali tanpa Livia.


"Liv, ikut aku ya? Aku masih membutuhkan bantuanmu."


"Orlen, di sini kamu bisa mengatasi Daddy Juvenal. Kalau aku ikut kamu, siapa yang akan mengawasinya? Aku akan bertukar tempat denganmu."


Livia yakin setelah Orlen pergi, Juvenal pasti kesepian. Itulah kesempatan bagus yang akan dimanfaatkan Livia untuk menjaga keseluruhan informasi yang didapatkan untuk teman dan sahabat terbaiknya itu.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya



__ADS_2