
"Om Sean keren," ucap Owen. "Oh ya, jangan lupa dinikmati minuman dan makanan kecilnya."
"Terima kasih," jawab Sean.
Darsh tidak menyangka kalau kedatangan ke sini mengundang sesuatu yang sudah lama tidak muncul. Dari sudut lain, dua orang perempuan muda baru saja masuk dengan tawanya yang membuat pandangan orang lain tertarik. Suara tawanya merdu sesuai kecantikan yang dimiliki. Ya, mereka adalah Clianta dan Aimee. Sedangkan Helga sudah lama tidak pernah muncul semenjak Max masuk ke penjara.
Kedua perempuan muda itu belum menyadari keberadaan Darsh. Padahal selama ini mereka sering datang ke Kafe ini berharap untuk menemukan Darsh di sini.
"Aimee, di mana Helga?" tanya Clianta. Dia tahu kalau Aimee itu teman dekatnya.
"Aku tidak tahu, Clianta. Dia menghilang bersamaan dengan Max. Keduanya menghilang secara misterius."
Tentu saja mereka tidak tahu. Masuknya Max ke penjara memang disamarkan agar orang lain tidak tahu. Bahkan, showroom miliknya dikelola anak buah kepercayaan Darsh.
"Jangan-jangan keduanya sudah menikah dan tidak mau kita ketahui. Dasar Helga! Mungkin dia sengaja karena Max itu kaya. Apalagi Max itu selalu menjadi pelanggan tetapnya," ujar Clianta.
"Ck, menikah? Mana mungkin Max mau menikahi Helga? Dia itu sama dengan kita yang tidak berhenti untuk mencari mangsa. Kehidupan itu realistis, Clianta. Sepertinya kita harus mencari sugar daddy supaya bisa menikmati hidup dengan baik."
Ya, walaupun penghasilannya sebagai wanita penggoda itu lumayan, tetapi mereka harus terus mencari mangsa.
Tak lama duduk di mejanya, pelayan datang untuk menanyakan pesanan. Setelah selesai, keduanya langsung melanjutkan obrolan yang tertunda.
"Kenapa kita tidak mendekati pemilik Kafe ini saja? Bukankah ini juga sahabat Max? Kurasa dia berhasil mendirikan usahanya, bukan?" ucap Clianta.
"Ck, Owen? Tidak semudah itu. Dia paling anti dengan wanita. Pria yang aneh! Aku sebenarnya masih merindukan Darsh. Lama juga lelaki tampan itu menghilang. Kalau bertemu, aku tidak segan-segan akan memberikan ciuman memabukkan padanya. Aku ingin menjeratnya supaya masuk perangkap cintaku. Sejak lama, aku sudah suka padanya. Sayangnya waktu itu aku bersaing dengan Helga."
Deg!
Clianta hampir lupa. Darsh juga merupakan lelaki yang menjadi incarannya.
"Kita akan bersaing secara sehat untuk memperebutkan Darsh," ucap Clianta akhirnya.
Bersamaan dengan itu, pesanan mereka datang. Aimee lekas meminum dan melihat sekelilingnya. Siapa tahu ada orang yang dikenalnya.
Deg!
Matanya menatap punggung orang yang mungkin dikenalnya. Dia masih tidak percaya, tetapi akan mendekati dan meyakinkan bahwa itu benar nyata.
"Gotcha!" seru Aimee. Binar mata gadis itu terlihat sangat jelas sehingga perhatian Clianta tertuju padanya.
"Kenapa?"
"Aku seperti melihat Darsh di sini. Lihatlah ke sana!" Aimee menunjukkan arah yang dimaksud.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat Clianta juga senang. Impiannya bertemu dengan Darsh lagi bukan khayalan semata.
"Wah, pangeran tampan! Ayo kita ke sana." Clianta sudah tidak sabar ingin memeluk lelaki itu. Dia tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan Aimee. Yang pasti, Clianta akan langsung memeluknya.
Sebelum meninggalkan mejanya, Aimee lebih dulu membayar pesanannya. Setelah itu barulah menuju meja yang dimaksud. Sayang, niatnya untuk memeluk Darsh dari belakang malah didahului oleh Clianta.
Glek!
Semua orang terkejut. Darsh pikir kedatangannya ke sini tidak akan mengundang salah satu dari mereka.
"Lepaskan!" Darsh menarik tangan yang merangkulnya dengan cukup kuat.
"Tidak akan!" Clianta semakin mengeratkan. Dia bahkan tidak malu di hadapan pria paruh baya itu. Mungkin saja Darsh sedang bertemu klien karena pekerjaannya. Darsh tidak banyak dikenal sebagai CEO DD Corporation. Jika keduanya tahu, bisa dipastikan kantor DD Corporation akan dipenuhi para gadis yang silih berganti datang untuk menemuinya.
"Lepaskan putraku!" Suara bariton Dizon mengejutkan gadis itu. Kekuatan tangannya yang semula rapat, perlahan mulai memudar.
Putraku?
Deg!
Tangan Clianta terlepas begitu saja, namun bukan Clianta namanya kalau tidak berulah. Dia rupanya lebih sulit dikendalikan daripada Aimee.
"Om papanya Darsh?" tanya Clianta seolah tidak terjadi apa-apa.
"Om jangan galak-galak, dong!" Clianta malah mendekati Dizon dan merangkul pria paruh baya itu. "Maafkan aku, Om."
Risih? Tentu saja. Dizon tidak terbiasa.
"Dasar ******! Lepaskan tanganmu!" Amarah Dizon memuncak. Sean tidak berani ikut campur. Bisa saja setelah Dizon, dirinya menjadi obyek selanjutnya.
"Pa, sebaiknya kita pulang," ajak Darsh. Suasananya sangat tidak nyaman. Sementara Darsh melihat Aimee terdiam di belakangnya. "Ajak Clianta pulang atau aku akan menyeret kalian berdua ke kantor polisi!"
Aimee tidak bisa tinggal diam. Secepatnya dia mendekati Clianta kemudian menarik tangan gadis itu yang masih berada di leher papanya Darsh.
"Ayo pergi!" bisiknya.
Clianta memang melepaskan tangan pria paruh baya itu. Namun, dia tidak akan mengalah begitu saja. Kalaupun dia tidak bisa menjadi yang pertama untuk Darsh, dia siap menjadi yang kedua.
Sebelum Clianta pergi, dia mendekati Darsh kembali dan membisikkan sesuatu.
"Kalau aku bukan yang pertam untukmu, setidaknya aku bisa menjadi simpanan!"
"Kamu gila!" Hanya itu yang bisa diucapkan Darsh sekarang.
__ADS_1
Clianta dan Aimee lekas meninggalkan meja itu. Suasana kembali kondusif, tetapi Dizon sudah tidak enak hati dengan Sean.
"Maafkan aku. Kamu menjadi tidak nyaman di tempat ini, kan?" ucap Dizon pada Sean.
"Om Dizon, maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apapun untuk mengusirnya."
"Tidak masalah, Owen. Walaupun begitu dia tetap pelangganmu, kan?" ucap Dizon. Dia memang tahu kalau kedua gadis itu baru saja memesan minuman di Kafe ini. Itulah sebabnya, Dizon masih menjaga sikap.
"Terima kasih pengertiannya, Om."
"Aku salut pada Kafe ini. Konsepnya bagus. Kurasa kamu berhasil menjadi anak didik Vigor, ya?" ucap Sean yang baru saja selesai meminum minumannya.
"Iya, Om."
"Apa kamu tidak berencana membuka cabang?" tanya Sean lagi. Jiwa bisnisnya meronta-ronta. Padahal harta kekayaannya masih beberapa puluh keturunannya yang tak akan habis.
Cabang? Itu merupakan cita-cita Owen, namun untuk saat ini permodalannya masih bergantung pada keuangan yang didapatkan dari Darsh. Intinya berupa utang yang setiap setahun sekali dibayarkan.
"Boleh, Om. Namun, usahaku ini masih berada di tempat yang kusewa selama beberapa tahun ke depan. Om Vigor menyarankan seperti ini. Kalau sudah lancar, baru aku diizinkan untuk mencari pandangan tempat baru yang bisa dibeli," terang Owen.
Sean nampak sedang mempertimbangkan sesuatu untuk tempat usaha Owen. Dia sebaiknya membeli tempat ini untuk hadiah pernikahan Willow dan Owen.
"Baiklah, kamu jangan khawatir. Aku tidak akan menggangu keuangan usahamu, tetapi izinkan aku untuk membeli lahan ini dan menjadikannya milikmu," ucap Sean.
Deg!
Seperti mendapatkan hadiah yang tiada terkira. Owen tidak bisa menerima begitu saja.
"Maafkan aku, Om. Aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berlebihan."
"Owen, jangan ditolak! Ini kesempatan bagus untuk mengembangkan usahamu," sahut Darsh.
"Lagi pula kekayaan Sean tidak akan habis hanya untuk membelikan sejengkal tanah untuk usahamu ini," sahut Dizon.
"Kau benar, Dizon. Anggap saja ini adalah hadiah pernikahanmu dengan Willow. Darsh, kamu urus pembelian tanah dan bangunan ini. Biayanya berapa sampai beres? Aku akan mentransfernya."
Hadiah pernikahan yang tidak disangka sangat berarti untuk kelangsungan usaha Kafe-nya. Owen ingin menolak, tetapi Sean terus memaksanya.
...🍃🍃🍃...
Yuk mampir karya keren berikut ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya. terima kasih
__ADS_1