
"Justin, pergilah makan siang! Ajak Jillian bersamamu!"
Deg!
Tidak hanya satu hati yang terkejut, melainkan dua hati. Keduanya tidak bisa berkata apapun lagi selain sama-sama terdiam.
"Tunggu apalagi? Ini waktunya makan siang," ucap Darsh.
Sebenarnya Justin merasa tak enak hati. Bukan karena Darsh, melainkan Frey dan Max. Kedua lelaki itu masih menyukai Jillian.
"Darsh, aku minta maaf. Aku tidak bisa menyakiti sahabatku begitu saja," ucapnya keberatan.
Darsh tahu kalau Justin lelaki yang baik. Dia tidak akan bisa menyakiti sahabatnya walaupun sedikit saja. Dia perlu dipaksa sedikit saja untuk mau menerima permintaan Darsh.
"Jill, keluarlah sebentar! Kakak ingin berbicara dengan Justin sebentar."
Jillian memang tidak tahu harus ke mana. Setidaknya dia tidak ingin membuat kakaknya menunggu lama. Dia keluar dari ruangan itu dengan segera.
"Justin, ada yang ingin kamu ketahui tentang kedatangan Jillian. Sebelumnya aku meminta maaf padamu. Aku sedikit memaksa. Bukan maksudku untuk ikut campur dengan urusanmu, tetapi Jillian tetaplah adikku dan dia berhak bahagia."
"Lalu, apa hubungannya denganku, Darsh?" tanya Justin.
"Kedatangan Jillian ke sini untuk mencari calon suami. Sebelumnya aku minta maaf. Pastikan Jillian tidak tahu ucapanku ini. Dia sudah patah hati dengan Frey. Dia juga tidak akan memilih Max. Satu-satunya pandangan terakhirku adalah dirimu," jelas Darsh.
"Kenapa harus aku dan bukan Owen?" tanya Justin.
Ini pertanyaan masuk akal menurut Darsh. Kedua sahabatnya itu memang sama-sama sedang mencari pasangan. Darsh tidak mungkin memilih Owen karena kesibukannya jelas tidak bisa meninggalkan Kafe yang baru saja dirintisnya. Sementara Justin, lelaki itu mempunyai track record pernah menyukai Jillian dan posisinya sekarang sangat mudah untuk menggantikan Om Felix-nya.
"Aku percaya padamu, Justin." Darsh mendekati sahabatnya itu kemudian memberikan semangat dengan memukul pundaknya dengan penuh kasih. Tentu saja ini tidak mudah untuk Justin. Sebentar lagi bukan hanya usahanya untuk mendekati Jillian lagi, melainkan dia akan merasakan berselisih paham lagi dengan Max. Belum lagi kalau memang Jillian sudah menerimanya. Beberapa tahun lagi Frey akan kembali. Apa yang akan dikatakan pada lelaki itu?
"Darsh, aku tidak bisa melakukannya." Justin menolak. Dia merasa akan terjadi keributan besar jika menerima Jillian kembali.
__ADS_1
"Aku tidak memaksamu. Ajaklah adikku itu untuk makan siang dan berbincanglah. Masih ada waktu selama tiga bulan. Setelah itu, berikan keputusanmu!"
Justin bisa bernapas lega. Tentu saja selama tiga bulan tidaklah mudah untuk menjalaninya. Namun, menolak Darsh sudah tidak mungkin dilakukannya.
"Baiklah. Aku akan melakukannya."
"Terima kasih," jawab Darsh.
Justin keluar mencari keberadaan Jillian. Dia berusaha menata hati dan perasaannya untuk bisa bersikap netral di hadapan gadis itu. Rupanya ada yang aneh dalam dirinya. Jantungnya berdetak semakin cepat ketika menghadapi Jillian.
"Jill," panggil Justin ketika menemukan gadis itu berada di rooftop. Tidak sulit menemukannya karena sebelum Jillian pergi ke rooftop, gadis itu sudah berpesan pada resepsionis untuk memberitahukan kakaknya kalau mencari dirinya langsung saja ke rooftop.
"Kak Justin?" Jillian pikir kakaknya akan mencarinya. Rupanya dia salah besar.
"Kita pergi makan siang bersama. Itu pun kalau kamu mau," ucap Justin. Dia tidak mungkin memaksanya. Untuk mendekati gadis itu, dia harus membuatnya nyaman terlebih dahulu.
"Adakah tempat makan yang nyaman dan menunya sangat enak?"
Justin adalah lelaki yang bertanggung jawab. Dia akan mengambil tanggung jawabnya dengan baik.
"Baiklah."
...🍒🍒🍒...
Restoran Star tidak jauh dari kantor DD Corporation. Justin sengaja mengajaknya ke sana karena suasananya sangat ramai. Semua makanannya enak. Walaupun ramai pengunjung, tempat ini sangat nyaman dan tidak gaduh.
Sambil menunggu makanan yang sudah mereka pesan, Justin memulai pembicaraannya. Dia ingin memulainya dari awal lagi.
"Apa tujuanmu ke sini untuk berlibur?" tanya Justin. Dia harus memilih kata-kata yang tepat untuk tidak menyakiti gadis itu. Dia juga tidak akan mengingatkannya mengenai Frey ataupun Max.
"Iya, Kak. Aku baru saja menyelesaikan pendidikanku. Sebelum aku menggantikan daddy, aku ingin menikmati liburan panjangku."
__ADS_1
"Berapa lama?"
"Kurang lebih selama tiga bulan, tetapi kalau sebelum itu aku sudah bosan, maka aku akan segera pulang."
Justin bingung harus menanyakan apalagi pada gadis itu. Untung saja pesanannya segera datang. Mereka menikmati makan siang dalam diamnya.
"Kak, ini sangat luar biasa," ucap Jillian. Makan siangnya sangat enak dan membuatnya nyaman berada di restoran ini.
"Apa kamu mau tambah lagi?"
"Tidak, Kak. Ini cukup untukku."
Jillian terlihat sangat berbeda. Setelah bertemu beberapa bulan lalu, banyak perubahan dalam diri gadis itu. Mungkin karena pandangan Justin saat ini tertuju padanya. Sehingga gadis itu sangat terlihat cantik di matanya.
Mengakhiri makan siang yang nikmat karena bersama Jillian, membuat Justin harus memikirkan lagi ucapan Darsh. Frey sudah meninggalkan Jillian. Jillian juga tidak akan memilih Max. Justin bukan mengambil kesempatan dalam kesempitan, namun dia diberikan kesempatan penuh oleh kakak sepupu Jillian.
"Jill, maukah kamu ikut jalan-jalan bersamaku? Mungkin aku akan mengajakmu ke Kafe milik Owen."
Jillian menghentikan makannya. Sedikit lagi selesai. Pikiran Jillian mulai terpengaruh ucapan mommynya. Terkadang dia harus melepaskan orang yang dicintainya demi orang yang benar-benar mencintainya. Rumit memang, namun membangun kebiasaan baru apa salahnya. Dia akan mengubur cita-citanya seumur hidup kalau sampai terjun ke perusahaan. Itulah sebabnya, waktu tiga bulan akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menemukan jodohnya. Justin juga bukan lelaki jelek. Dia juga tampan. Apalagi menjadi asisten kakak sepupunya. Berarti dia memiliki potensi yang tinggi untuk bisa menggantikan daddynya.
Jangan menyerah, Jill! Kalau cintamu pergi, tak ada salahnya mencoba mengisinya dengan cinta yang lain. Saat ini yang kamu butuhkan kepastian, bukan harapan yang tidak pasti.
"Ehm, tentu. Nanti kita buat janji lagi. Kak Justin bisa mengabariku lewat nomor ini." Jillian memberikan sebuah kartu nama untuk Justin. Dia sengaja membuat kartu nama itu untuk orang-orang baru yang akan menjalin hubungan bisnis maupun pertemanan dengannya. Biar tidak ribet harus mengeluarkan ponsel atau apalah. Semuanya jadi lebih simpel.
"Terima kasih." Justin memasukkan kartu nama itu ke dalam dompetnya. Dia tidak mau kehilangan kesempatan sebesar ini. Dia juga membutuhkan Jillian. Ini kesempatan langka dan harus diambilnya.
Selesai makan siang, Jillian berniat kembali ke kantor kakak sepupunya. Namun, Justin menahannya sebentar untuk berbicara serius.
"Jill, tunggu sebentar! Kita akan kembali bersama-sama. Oh ya, sebelumnya aku mau minta maaf padamu. Mungkin ini terlalu cepat. Namun, aku meminta satu kesempatan lagi untuk mengenalmu dari awal. Apakah kamu mengizinkannya?"
Jillian mengangguk. "Tentu, Kak."
__ADS_1
Justin rasanya ingin melompat setinggi mungkin karena kebahagiaan ini tidak terkira. Dia mendapatkan pekerjaan yang bagus sebagai asisten Darsh dan sekarang mendapatkan kesempatan bagus untuk mengenal Jillian. Kesabarannya akan berbuah manis.