
Kemarahan Glenda bukan tanpa alasan. Dia tidak ingin suaminya ribut dengan suami kakak sepupunya. Seusai makan malam, Glenda mengajak Darsh untuk kembali ke kamarnya.
"Sayang, kenapa kamu bersikap seperti itu?" protes suaminya.
"Karena aku tidak mau kalian ribut."
"Ayolah, dia hanya sensitif melihat keromantisan kita."
Rasanya Darsh ingin sekali lekas pergi dari rumah ini. Dikiranya akan menyenangkan, ternyata malah membosankan.
"Kamu bosan, ya?" tanya Glenda.
Darsh mengangguk. "Kupikir akan merasa mudah tinggal di rumah grandma kembarmu. Kenyataannya aku malah bertemu dengan makhluk astral."
Glenda menoleh ke arah suaminya. Keduanya Sekarang berada di ranjang yang sama. Kamar ini biasa ditempati Glenda ketika berkunjung ke sini.
"Di sini tidak ada hantu. Kamu mungkin salah lihat, Sayang." Glenda menggenggam erat tangan suaminya. Dia beralih untuk bersandar pada dada bidang suaminya.
"Kamu tidak melihatnya?"
"Aneh."
Darsh cukup tersenyum saja. Makhluk astral yang dimaksud adalah Zack. Dia mendadak datang dan mengajaknya bertengkar.
"Darsh, jangan bilang kalau makhluk astralnya itu suami kak Aquarabella."
"Cerdas. Rasanya aku ingin lekas pulang karena keberadaannya di sini."
Perbincangan yang seharusnya terjadi antara sepasang suami istri, tiba-tiba mendadak terhenti. Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Aku buka dulu." Glenda turun dari ranjang dan membuka pintunya. Dia melihat Willow berada di sana. "Ada apa?"
"Grandma Jelita sudah datang. Dia mencarimu."
"Kak Aquarabella di mana?"
"Pergi ke rumah sakit. Om Sean meneleponnya barusan. Entah apa yang terjadi dengan grandma di sana."
Glenda lekas keluar disusul suaminya mengekor di belakang. Mereka langsung masuk ke kamar grandma Jelita.
__ADS_1
Wanita tua itu sedang berbaring di ranjangnya. Terlihat pucat dan letih sekali.
"Grandma dari mana?" tanya Glenda.
"Dari rumah sakit, Glenda. Kamu apa kabar, Nak?"
"Baik. Kabar grandma di rumah sakit bagaimana?"
"Jenica kritis." Air mata mulai menganak sungai di pipi wanita tua itu.
"Kenapa grandma menangis?"
"Aku akan kembali sendirian. Jenica sudah memberikan kehidupan baru untukku. Kalau sampai dia meninggalkanku, aku tidak bisa hidup sendirian."
Glenda memeluk grandma Jelita. Willow yang berada di sana ikut sedih melihatnya. Wanita tua itu yang pernah dekat dengannya selama ini.
"Grandma jangan khawatir. Willow mau merawat grandma," usul Willow. Sudah lama wanita tua itu tidak bertemu dengannya.
"Willow, kemarilah. Kamu juga cucuku. Rasanya di hari tuaku ini perlu kedamaian yang seperti ini."
Ketiganya berpelukan. Rasanya seperti sebuah keistimewaan yang tiada terkira untuk wanita tua itu. Semua cucunya sudah dewasa. Tenggelam dalam pelukan, kebahagiaan yang tidak terkira ini menjadi akhir dari sebuah kehidupan panjang seorang wanita tua. Jelita menghembuskan nafas terakhirnya. Baik Glenda dan Willow tidak menyadari kalau grandma Jelita telah tiada.
"Sayang, grandma menutup mata." Darsh membantu menurunkan wanita tua itu. Dia langsung mengecek denyut nadi dan napasnya. Tidak ada hembusan napas dan denyut nadinya pun berhenti. "Grandma meninggal."
Deg!
Semua orang yang ada di rumah terkejut. Glenda menangis. Begitu juga dengan Willow. Owen lantas mengajak istrinya untuk masuk ke kamar dan menenangkan diri. Sementara Glenda sibuk mengabari Om-nya agar lekas pulang ke rumah. Padahal kondisi grandma Jenica kritis, malah grandma Jelita yang pergi meninggalkan mereka.
Tak lama, Sean beserta anak menantunya telah datang. Sean lekas meminta pelayan untuk memanggil orang yang biasanya mengurus pemakaman. Sementara Glenda mengabari mamanya untuk datang ke sini. Dia tak mungkin mengabari mama mertuanya karena masih ada dua bayi yang harus diawasi.
"Om, kabar grandma Jenica bagaimana?" tanya Glenda ketika berada di ruang keluarga.
"Mama koma. Rupanya setelah meminum obat, malah tertidur dan tak bangun lagi." Sean terlihat sangat sedih.
"Om jangan khawatir. Aku sudah mengabari mommy untuk lekas datang. Kemungkinan besok sore menjelang malam baru sampai di sini," jelas Glenda.
Walaupun Glenda tahu bahwa grandma Jelita bukan mama kandung mommynya, tetapi wanita paruh baya itu pernah hidup bersama.
"Terima kasih," jawab Sean.
__ADS_1
Suasana rumah grandma kembar mendadak ramai. Banyak petugas pemakaman dan beberapa pelayan yang menyiapkan segala keperluan pemakaman.
"Om, kapan pemakaman grandma Jelita?" tanya Darsh.
"Besok pagi, Darsh. Lebih baik kamu beristirahat. Besok kamu kan yang akan menjemput mertuamu ke Bandara?"
"Iya, Om. Malam ini aku tidak bisa tidur. Glenda terus saja menangisi kepergian grandmanya. Dia juga tidak hentinya untuk mendoakan grandma Jenica."
Tak lama, Zack dan Owen ikut bergabung di sana. Kedatangan dua orang barusan membuat suasana sepi. Mereka terdiam sambil melihat orang yang berlalu lalang mulai berkurang. Malam semakin larut, keempat pria itu berada dalam pikirannya masing-masing.
"Darsh, apakah sebaiknya pemakaman grandma dilangsungkan besok pagi? Maksud Om, tanpa menunggu mertuamu. Om takut kalau grandma Jenica kita tinggalkan begitu saja. Walaupun Om sudah menyuruh orang kepercayaan untuk berjaga di sana."
Darsh tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya keputusan itu berada di tangan Sean dan bukan pada dirinya.
"Maaf, Om. Ini bukan hakku untuk memutuskan. Sebaiknya Om bicarakan dengan keluarga. Aku mau menemui istriku dulu." Darsh merasa tidak enak juga pada menantunya Om Sean.
Darsh dan Owen lebih memilih untuk masuk ke kamarnya. Glenda duduk mematung menghadap ke jendela yang sengaja dibuka.
"Apakah aku juga akan kehilangan grandma Jenica seperti kamu kehilangan?" ucap Glenda yang menyadari kehadiran suaminya.
"Sayang, tidak ada yang abadi di dunia ini. Kehilangan grandma bukan akhir segalanya. Kita harus tetap bangkit. Percayalah, setelah kehilangan, kita pasti mendapat sesuatu yang berharga. Kita terlatih lebih sabar." Darsh memang pernah mengalami. Sedangkan Glenda, walaupun Grandpanya meninggal sejak lama, dia masih belum lahir dan belum bisa merasakan arti kehilangan yang sesungguhnya.
"Kamu tidak akan meninggalkanku seperti grandma, kan?" Glenda beralih memandang suaminya. Darsh tidak tega. Dia mendekati sang istri kemudian mengecup keningnya. Barulah menggenggam erat kedua tangannya. Dia berjongkok karena sang istri duduk di kursi.
"Kita tidak akan pernah tahu kapan cinta dan takdir itu datang, Glenda. Selagi kita masih bernapas, lebih baik kita nikmati kebersamaan ini dengan cukup baik. Kurasa kamu paham apa yang kumaksud."
Ya, segalanya tentang takdir yang tertulis untuknya. Sepanjang perjalanan hidup, selagi semuanya baik-baik saja, maka arti kehilangan perlahan akan memudar seiring perjalanan waktu. Tergantikan kebahagiaan lain seperti putra putrinya yang sekarang. Itu merupakan sumber kebahagiaan setelah duka. Orang tua yang masih lengkap juga sumber kebahagiaan yang tiada terkira.
"Kita akan berjalan beriringan, Darsh. Anak-anak membutuhkan kita, bukan?"
"Kamu benar, Sayang."
Melewati malam panjang dalam kehilangan rasanya sungguh tidak mudah. Walaupun Jelita bukan orang tua kandung mommynya, tetapi Glenda juga menyayangi grandmanya itu seperti grandma Jenica.
...🍃🍃🍃...
Yuk mampir karya keren Bestie Emak. Mampir karya Author SyaSyi
__ADS_1