Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Dua Kandidat


__ADS_3

Rupanya Owen tidak setuju. Sangat sulit mencari keberadaan kedua gadis itu di Mal sebesar ini.


"Darsh, coba telepon keberadaan istrimu! Mereka sudah terlalu lama pergi," keluh Owen. Makan bakso yang pedas saja membuatnya lama karena sangat menikmati.


Darsh mengambil ponselnya. Dia mendial nomor istrinya. Tak lama, telepon pun diangkat.


"Halo, Darsh," sapa Glenda.


"Kamu di mana?"


"Aku makan steak di restoran pojok. Maaf, aku ambil uangmu untuk membayarnya. Jillian memaksaku untuk makan di sini. Katanya ini restoran steak yang paling rekomendasi," ucapnya.


"Hemm, tak masalah. Tunggu aku di sana!" Darsh memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Di mana mereka?" tanya Max.


"Restoran steak," jawabnya.


Mereka melanjutkan jalan-jalan untuk mencari keberadaan Glenda dan Jillian. Ternyata letak restoran steak tidak jauh. Dari jauh, mereka melihat kedua gadis yang dicarinya baru saja keluar dari restoran.


"Senang jalan-jalannya?" tanya Darsh yang melihat istri dan adik sepupunya itu tersenyum.


"He em." Glenda mendekati Darsh dan menggandeng tangan lelaki itu.


"Langsung pulang?" tanya Darsh lagi.


"Iya, Kak," jawab Jillian.


"Jill, berikan kunci mobilnya padaku. Aku yang akan mengemudikannya," pinta Max.


Jillian menyerahkan kuncinya tanpa penolakan. Dia kenyang setelah mencoba beberapa steak bersama Glenda.


"Jill, urusan kita belum selesai. Setelah ini langsung menghadap keluarga besar," ucap Darsh.


...🍓🍓🍓...

__ADS_1


Di rumah keluarga Damarion, semua sedang menunggu kedatangan mereka. Felix yang sedari tadi cemas mengungkapkan kegundahan hatinya.


"Kamu terlihat cemas, Felix?" tanya Dizon.


"Iya, Kak. Aku berusaha mencerna ucapan Darsh. Jillian rupanya disukai dua sahabat Darsh. Salah satunya nama yang pernah kakak ipar sebutkan yaitu Max. Keduanya saling berebut. Namun, Jillian katanya condong ke asisten Darsh. Max tidak mau mengalah. Aku pusing, Kak," jelas Felix.


"Pilih saja yang siap menikahinya," usul Denzel.


"Papa benar, Dad. Sebaiknya kita putuskan yang lebih siap," jawab Kayana.


"Bagaimana kalau Jillian tidak menyukainya?"


Rasa khawatir Felix sangat beralasan. Yang paling siap menurut Darsh adalah Max, tetapi Frey sanggup menunggu Jillian sampai lulus kuliah.


"Rasa suka ataupun cinta bisa dipupuk seiring perjalanan waktu," sahut Olivia. Dirinya pun sama yang awalnya sangat anti terhadap suaminya. Lambat laun bisa mengimbangi suaminya dan memiliki seorang anak setampan dan sedingin Darsh Damarion.


"Aku setuju itu, Kak," sahut Kayana. Dia pun menjalani pernikahannya sama dengan kakak iparnya. Apalagi sempat ribut mengenai sekretaris sialan itu yang rupanya gagal menikah dengan mantan kekasih Kayana.


"Kalau Jillian tidak mau dengan Max, bagaimana?" tanya Felix.


"Aku yang akan berbicara." Kayana dan Denzel mengucapkan bersamaan.


"Karena aku ingin Jillian menikah dengan orang yang tepat," jawabnya.


Felix sepertinya kalah. Sebenarnya dia lebih cenderung memilih Frey daripada Max. Seperti yang Darsh pernah sampaikan. Dia tidak akan pernah menjelekkan sikap sahabatnya walaupun dia tahu, namun setidaknya Jillian juga berhak memilih.


"Kita tunggu mereka datang," usul Felix.


Tak lama, Jillian dan yang lainnya masuk ke ruang tengah. Semuanya sudah menunggu di sana. Mereka langsung ambil duduk masing-masing.


"Jill, Daddy kali ini tidak berbelit-belit lagi. Jujur, Daddy cukup pusing dengan urusan kantor, ditambah dengan masalahmu kali ini. Mumpung Max dan Frey ada di sini, Daddy akan menanyakan kepada keduanya. Apapun keputusan yang Daddy berikan, kamu harus menerimanya," jelas Felix.


Deg!


Mana mungkin aku memilih Max. Lelaki itu terlalu dewasa dan aku tidak suka. Batin Jillian.

__ADS_1


"Dad, sabar!" ucap Kayana.


Mereka semua terdiam, tertunduk tidak berani memandang daddynya Jillian. Terutama Max dan Frey.


"Mungkin ini terlalu cepat. Maafkan Daddy, Jill. Frey, aku minta padamu untuk mengatakan apa yang ingin kamu ungkapkan selama ini. Setelah itu, silakan giliranmu, Max," pinta Felix.


Rasanya seperti berada di sayembara untuk menentukan calon penerus tahta kerajaan Damarion selanjutnya. Maklum saja, Dizon sudah mempunyai perusahaan sendiri dan sudah digantikan oleh putranya. Sedangkan Damarion Corporation, perusahaan yang diwariskan Denzel untuk Felix dan sekarang penerusnya hanya Jillian Damarion, seorang gadis muda yang belum lulus kuliahnya.


"Ehm, maaf Om, Tante, Grandpa, semua sahabatku, dan Jillian. Sekali lagi aku minta maaf. Mungkin ini juga terlalu cepat. Kalau untuk menikahi Jillian, aku harus berunding lagi dengan keluargaku. Maaf, Jill, karena aku juga masih terlalu muda dan baru saja bekerja di perusahaan Om Dizon. Walaupun keluargaku kaya, namun aku bukan lelaki yang mengandalkan kekayaan orang tuaku. Aku baru saja bekerja dan kupikir kamu bisa memaklumkan kondisiku. Kalau memang orang tuaku setuju, maksimal jawabannya adalah setelah kamu lulus sarjana," jelas Frey.


Kecewa? Tentu saja Jillian sangat kecewa. Namun, harus bagaimana lagi? Dia tidak ingin membuat Jillian merasa kesulitan.


Kenapa Frey berubah pikiran? Bukankah tadi dia sudah setuju dan yakin untuk menikah dengan Jillian? Batin Darsh.


"Baik, sekarang giliranmu, Max," ucap Felix.


Max mulai menunjukkan taringnya. Dia sudah menjadi pengusaha muda sejak lama. Dia bekerja dan berpenghasilan. Tentu saja ini yang menjadi nilai plus untuknya.


"Selamat malam semuanya. Perkenalkan namaku Max Oringo. Aku berniat untuk menikahi Jillian kapan pun dia siap. Walaupun aku hanya memiliki showroom, aku yakin bisa menghidupi semua kebutuhan Jillian tanpa kekurangan sedikit pun," ucapnya.


"Baiklah, terima kasih untuk Max dan Frey. Sekarang izinkan Daddynya untuk berbicara dengan Jillian. Ayo sayang, ikuti Daddy!" ucap Felix.


Pria paruh baya itu melihat mimik muka putrinya yang terlihat tidak senang. Entah karena ucapannya atau karena Max barusan. Jillian mengikuti daddynya masuk ke ruang kerjanya. Jillian langsung menutup pintunya.


"Dad, kenapa kamu lakukan itu padaku?" protes Jillian.


"Sayang, itu tidak akan pernah selesai kalau kamu tidak segera memutuskannya," saran Felix.


"Aku harus memutuskan apa, Dad? Bahkan, aku sama sekali tidak mencintai Max. Aku menyukai Frey, Dad. Namun, lelaki itu belum siap untuk menikah denganku. Bukankah sudah jelas kalau lelaki itu meminta tenggang waktu? Biarkan Jill fokus dengan kuliah, setelah itu terserah daddy. Mau menikahkanku dengan Max atau Frey, aku pasrah, Dad," ucap Jillian. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, gadis itu sangat kecewa pada Frey. Lelaki yang selama ini sedang diuji perasaan dan hatinya itu malah tidak peka sama sekali.


"Kamu setuju dengan pilihan Daddy?" selidik Felix.


"Terserah, Dad. Aku belum ingin memikirkan pernikahan," ucapnya. Kemudian gadis itu keluar entah ke mana.


Felix terdiam menatap kepergian putrinya yang membawa rasa kecewa di wajahnya. Mungkin saja, dia memang benar mencintai Frey. Namun, lelaki itu belum memberikan keputusannya yang tepat. Sementara Max, lelaki yang memberikan kepastian itu malah tidak dicintai putrinya.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana? Apakah keputusan yang kubuat ini akan mengecewakan putriku? Apa aku harus mengatakan ini pada Kayana?" Felix semakin pusing.


Dua kandidat yang maju sama-sama kuat menurut Felix. Frey, lelaki yang baik, sudah mengatakan apa adanya, dan juga memberikan tenggang waktu agar dia bisa berbincang dengan orang tuanya terlebih dahulu. Sedangkan Max, lelaki berumur yang terlihat dewasa dan sangat mapan itu juga menjadi pertimbangan. Apalagi jiwa bisnisnya sudah terbentuk sejak lama. Itu juga poin plus untuk Felix.


__ADS_2