
Setelah dari Basemen, Darsh berjalan di samping Glenda. Gadis itu seperti berjalan dengan bosnya saja. Benar-benar tidak romantis.
"Kak, istrinya digandeng, dong," canda Jillian. Pemandangan yang seperti ini selalu diceritakan mommynya mengenai Om Dizonnya. Rupanya Darsh memang menurun dari papanya.
Darsh diam tidak mempedulikan ucapan adiknya. Dia terus saja fokus untuk berjalan menuju ke food court yang ada di sana.
"Kak, katamu mau jalan-jalan dulu. Kenapa langsung ke food court?" protes Jillian.
"Kamu ajak Kakakmu jalan-jalan. Aku dan yang lainnya menunggu saja di sini," jawab Darsh.
"Hemm, baiklah. Ayo Kak Glenda. Biarkan lelaki itu menyesal tidak mengikuti kita," ajak Jillian.
Selepas kepergian kedua gadis itu, Darsh dan keempat sahabatnya memilih duduk di tempat penjual bakso yang di maksud.
"Bakso mercon itu apaan sih, Darsh?" tanya Max.
"Hemm, sudahlah. Kita pesan saja dulu," ucap Darsh.
Ini pertama kalinya Darsh makan di Mal tempat tinggal keluarganya. Biasanya dia hanya datang sebentar kemudian pulang lagi ke negara H, tempat tinggalnya.
Darsh memanggil pelayan. Dia memesankan lima bakso mercon dan minuman es teh.
"Darsh, kamu yakin? Aku takut sakit perut," ucap Owen.
"Memangnya kamu tahu apa itu bakso mercon?" tanya Darsh.
"Apa gunanya ponsel sakti kalau kita tidak bertanya padanya?" balas Owen.
Semuanya menertawakan tingkah Owen. Baru pertama kalinya menginjakkan kaki di negara I, dia sudah dikejutkan aneka kuliner yang belum pernah dicobanya.
"Darsh, kenapa kamu biarkan kakak ipar pergi sendiri?" protes Frey.
"Dia tidak sendiri, Frey. Pergi dengan Jillian. Kamu jangan khawatir, ya," balas Darsh.
Darsh sengaja membiarkan istrinya supaya dia bisa leluasa berbincang dengan Frey dan sahabat lainnya. Ini mengenai kesepakatan yang telah dibuat bersama Frey. Setelah pulang dari Mal, Darsh akan berbincang lagi dengan keluarga besarnya.
"Max, sebelumnya aku minta maaf padamu. Sebenarnya kamu itu suka, na*su, atau cinta kepada Jillian?" selidik Darsh.
Mereka tahu kalau Max itu sebenarnya lelaki yang baik, tetapi pergaulannya yang terlalu melewati batasan. Apalagi Max itu tipe lelaki yang tidak puas hanya dengan satu perempuan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Darsh. Melihat Jillian, aku sesaat terpesona padanya. Apalagi mengingat dia tipe gadis mandiri. Nah, itu poin pentingnya. Dia bisa menjadi pendamping yang pas untuk lelaki sepertiku," jelas Max.
Darsh sudah memberikan peringatan kepada Frey untuk tidak berkomentar apapun ketika dia menanyakan Jillian pada Max.
"Lalu, tujuanmu sekarang apa?" selidik Darsh.
Setelah mendapatkan jawaban dari Frey, sekarang tugas Darsh mendengar jawaban dari Max. Tinggal dia menanyakan pada Jillian untuk jawaban dari gadis itu.
"Aku ingin menikahinya, Darsh. Melihatmu dan Glenda yang terkesan mendadak menikah, tetapi terlihat enjoy menikmatinya, rasanya aku ingin mempunyai istri juga."
"Maaf, Max. Ini bukan kompetisi maupun ajang pamer. Aku menikahi Glenda karena permintaan terakhir grandmaku. Selain itu, aku memang telah memilihnya sebagai pendamping hidupku untuk selamanya. Tidak untuk kali ini saja. Oh ya, aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu. Namun, sekarang aku ingin tahu apakah kamu ingin berubah menjadi lelaki yang baik atau tetap seperti sebelumnya?"
Max terdiam. Entah dia menyesal atau sedang memikirkan tujuannya untuk memiliki Jillian sentuhnya atau ada tujuan lain.
Kenapa ucapan Darsh makin ke sini membuatku merasa aneh, ya? Apakah mungkin seharusnya aku berhenti bermain-main dengan gadis malam dan sejenisnya. Jujur, aku melihat Darsh sudah menikah, rasanya aku ingin berada di posisi yang sama. Bisa sekamar dengan istri tanpa mengkhawatirkan sesuatu. Terkadang bersama Glenda di kamar hotel membuat pikiranku dag dig dug tidak karuan. Batin Max.
"Max, jawab! Kami semua menunggumu," ucap Justin.
"Kalau aku benar-benar berubah, apakah kamu mengizinkanku untuk menikahi Jillian?" tanya Max.
Jeduar!
"Frey, jangan jadi lelaki yang pura-pura tidak tahu. Katakan pada Max, apa keinginanmu terhadap Jillian?" ucap Darsh.
Owen dan Justin sebagai penonton dan juri dadakan kali ini. Rupanya perseteruan sahabatnya di negara H masih terus berlanjut di negara I.
"Aku ingin menikahi Jillian selepas gadis itu mendapatkan gelar sarjananya," jawab Frey.
"Nah, kalau kamu, Max?" selidik Owen.
"Aku pun ingin menikahinya."
"Darsh, tidak ada pilihan lain. Malam ini segera putuskan mengenai siapa yang dipilih Jillian. Kalau aku sendiri, jujur aku sudah mundur dari awal semenjak aku tahu kalau Jill dekat dengan Frey. Kupikir akan ada gadis lain yang pantas untukku," ucap Justin. Dia berusaha ikhlas untuk menerimanya. Memang dia belum layak untuk Jillian.
"Kamu benar, Justin. Max dan Frey, aku mohon pada kalian, apapun keputusan keluargaku, tolong bisa diterima dan jangan bermusuhan. Ingat rencana awal kita untuk membentuk hubungan persahabatan ini," jelas Darsh.
Obrolan terhenti ketika lima mangkok bakso mercon dan minumannya mendarat sempurna di meja mereka.
"Ini kan meatballs," ucap Justin.
__ADS_1
"Lah emang meatballs itu bakso," canda Owen.
Mereka belum bisa tertawa lagi karena suasana perdebatan barusan belum menemukan titik temu. Max dan Frey sama-sama ngotot untuk menikah dengan Jillian.
"Wow, ini sangat pedas sekali. Enak!" seru Justin. Dia sangat menikmati makanan pedas itu. Maklum, baru pertama kalinya makan.
Owen dan Max juga sangat menikmatinya. Mereka semua penyuka pedas, termasuk Darsh. Ukuran pedas untuknya tidak terlalu pedas. Jadi, dia tidak akan menambahkan lagi sambal, saus tomat,dan kecap ke dalam mangkoknya.
Puas menikmati semangkok bakso dan minum es teh, Darsh dan sahabatnya melanjutkan perbincangan yang sempat terputus.
"Frey, apa kamu yakin akan menikah dengan Jillian?" tanya Max.
"Aku sudah mengatakan ini pada Darsh, Max. Setelah Jillian lulus. Aku perlu berbincang dengan keluargaku juga."
"Apa kamu tidak menyesal menikah di usia muda?" selidik Max lagi. Dia harus mendapatkan Jillian dan menyingkirkan Frey dari niatannya untuk menikahi gadis pujaannya.
"Max, kamu menyindirku? Aku dan Frey seumuran. Kalau aku bisa menikah, kenapa enggak dengan Frey?" balas Darsh.
"Aku tidak bermaksud menyindirmu, Darsh. Aku hanya ingin tahu tanggapan Frey."
"Oke, cukup! Pembicaraan ini berakhir sampai di sini. Kita ke sini untuk melepas penat, kejenuhan, dan setres yang menumpuk. Jadi, tolong lupakan masalah kalian sejenak. Oke, Darsh?" ucap Justin.
"Hemm, sebelumnya aku minta maaf padamu, Justin. Ini mungkin sangat mengganggu, tetapi aku pastikan tidak akan ada perseteruan lagi antara Max dan Frey," jawab Darsh.
"Oke. Sebaiknya sekarang kita menyusul kemana perginya Jillian dan kakak ipar," ajak Justin.
Kedua gadis itu sudah pergi terlalu lama. Tak satupun dari lelaki itu menyadari perginya ke mana. Jillian bahkan tidak pamit pada kakak sepupunya. Solusi terakhir, mereka harus menyebar atau berkelompok untuk mencarinya.
...🍒🍒🍒...
Hai hai hai, Emak lagi flu. Mohon dimaafkan. Sudah hari senin, jangan lupa like, vote, komentar, dan kirim kembang atau kopinya. Emak jarang banget ya minta sawerannya 😁🙏🏻
Yuk, sambil menunggu update, kepoin karya Bestie emak...
Mantan Terindah by Author syantik rini sya
Terima kasih 💝💝💝
__ADS_1