Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Frey Cemburu


__ADS_3

Tak lama, mobil mulai memasuki halaman rumah keluarga Damarion. Darsh turun lebih dulu kemudian membantu Glenda turun. Max dan Jillian tak lepas menatap pengantin baru yang terlihat romantis itu. Bahkan, keduanya sampai tidak sadar kalau hanya berdua saja di dalam mobil.


"Kak Darsh romantis sekali," lirih Jillian yang masih bisa didengar Max.


"Kita nikah, yuk?" ajak Max.


"Max!" teriak Jillian. Gadis itu langsung turun tanpa mempedulikan Max lagi. Lama-lama berada di dekat Max bisa semakin gila. Ada saja yang diucapkan sepanjang perjalanan menuju ke pemakaman. Semuanya tentang janji manis dan impian masa depan untuk membangun rumah tangga bersama.


Jillian sekarang berada di persimpangan antara Max dan Frey. Max menawarkan sejuta pesona dan rencana masa depannya. Sementara Frey masih fokus untuk menjadi asisten kakaknya. Dia belum mau membahas masa depan. Kalau disuruh memilih antara Max atau Frey, Jillian belum bisa memutuskan.


"Hai, Om, Tante," sapa Jillian pada orang tua Darsh.


"Terima kasih, Jill," ucap Olivia.


"Sama-sama, Tante."


Olivia sengaja meminta Jillian untuk menjemput putranya tanpa menunggu telepon lebih dahulu. Dia ingin membuat Glenda dan Darsh merasa nyaman walaupun setelah kepergian mertuanya.


Semuanya sudah berkumpul di ruang tengah termasuk grandpa Denzel. Darsh dan Glenda duduk bersebelahan. Sementara Max baru saja masuk dan ikut bergabung dengan mereka.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, maka rapat ini akan segera dimulai. Mengenai pernikahan Darsh dan Glenda yang terkesan lebih cepat dari jadwal, kami mohon maaf sebelumnya. Untuk acara yang seharusnya kita gelar lusa, pihak dari istriku menyarankan untuk tidak dilanjutkan. Walaupun undangan sudah kami sebar. Menurut kalian, bagaimana?" jelas Felix.


"Ehm, apa tidak sebaiknya acaranya tetap digelar saja, Dad. Tentunya orang tua dari Kak Glenda juga ingin menyaksikan pernikahan putrinya," usul Jillian.


"Bagaimana Kak Oliv?" tanya Kayana.


Olivia berusaha meminta persetujuan suaminya mengenai hal ini. Mungkin juga Dizon akan memberikan masukan yang sangat berarti.


"Resepsi pernikahan akan dilangsungkan di restoran milik keluarga menantuku saja. Kondisi keluarga Damarion sedang berduka. Aku tidak ingin membuat papa semakin mengingat terus kepergian mama," jelas Dizon.


Kata 'restoran milik keluarga menantuku' membuat beberapa sahabat Darsh semakin penasaran. Siapa sebenarnya Glenda? Yang mereka tahu kalau gadis pilihan Darsh adalah seorang pelayan restoran.


"Maaf, Om. Maksudnya apa, ya? Bukannya Glenda hanya pelayan restoran?" tanya Justin. Teka-teki mengenai istrinya Darsh membuat Justin semakin penasaran.

__ADS_1


Semua orang yang berada di ruangan itu sontak menatap tajam Justin. Sebenarnya pertanyaan lelaki itu juga tidak salah karena Darsh belum menjelaskan secara detail mengenai siapa Glenda sebenarnya.


"Ehm, biar istriku yang menjawabnya," ucap Darsh.


"Sebenarnya aku adalah anak pemilik Restoran ZA-"


"Oooooo." Belum selesai menjelaskan, semua sahabat suaminya sudah ber o ria.


"Daddy dan mom-ku sengaja menyembunyikan siapa sebenarnya aku. Bukan tanpa alasan karena mereka tidak ingin aku mengenal lelaki yang salah. Cukup lama aku bekerja di restoran, sebelumnya ketika menjadi mahasiswa, aku juga bekerja juga. Sampai pada akhirnya, Darsh, suamiku berani mendekat. Ternyata, keluarga kami saling terhubung di masa lalu. Itu saja yang menyebabkan Mom dan Dad-ku setuju dengan pernikahan ini. Belum lagi dengan saran dari grandma kembar," jelas Glenda.


"Apa kabar dengan grandma Jelita-mu, Glenda?" tanya grandpa Denzel.


"Baik, granpa. Sekarang menetap di negara T bersama dengan grandma Jenica. Mungkin besok akan hadir di rumah ini. Om Sean pasti memintanya untuk datang kalau tidak ada aral melintang," jawab Glenda.


"Kesepakatan mana yang akan dibuat?" tanya Felix pada semua orang.


"Keputusan Dizon sudah benar, Felix. Kita juga tidak akan ke sana. Cukup antar dua keluarga saja. Lagi pula, di sini kita baru saja berduka," ucap Denzel.


"Sejak pagi kalian belum sarapan, kan? Maafkan kami, ya?" ucap Kayana.


"Ayo langsung ke meja makan saja," ajak Kayana.


Satu persatu mulai pindah dari ruang tengah menuju ke meja makan. Kebetulan Max mendapatkan tempat tepat di samping Jillian. Sementara Frey berada tepat di hadapan gadis itu.


Pelayan mulai menyiapkan minuman dan beberapa makanan tambahan. Glenda mengambil piring makan suaminya untuk diisi beberapa makanan. Walaupun Glenda tidak tahu mana yang disuka atau tidak oleh suaminya, tetapi dia tidak menyurutkan semangatnya untuk menjadi istri yang baik seperti mom-nya.


"Darsh, kamu mau makan apa saja?" tanya Glenda.


"Ambilkan sedikit saja. Semua tidak masalah. Aku tidak ada alergi makanan," jelasnya.


Semua yang melihat tingkah pengantin baru itu membuat beberapa sahabatnya ingin lekas menikah. Terutama Max, lelaki yang sudah cukup umur itu.


"Dad, kamu mau makan yang mana?" tanya Kayana pada suaminya. Dia juga tidak mau kalah dengan pengantin baru.

__ADS_1


"Seperti biasanya, Mom. Kenapa kamu mesti tanya lagi?" protes Felix.


"Aku hanya ingin mengulang masa-masa kita bersama saat seperti Darsh dulu, Dad." jelas Kayana sembari tersenyum menatap Glenda dan Darsh secara bergantian.


Setelah Kayana yang berulah, kini Max yang berulah. Dia berusaha membuat Frey cemburu. Ya walaupun sekadar hiburan, tetapi hal itu membuat Frey meninggalkan meja makan.


"Tante, boleh minta izin untuk meminta Jillian menyiapkan makananku?" tanya Max.


Kayana cuma tersenyum. Frey yang baru makan setengahnya kemudian minum dan lekas meninggalkan meja makan.


"Max!" ucap Owen dan Justin bersamaan.


"Max, kamu membuat Frey cemburu!" balas Darsh.


Jillian juga meninggalkan makannya untuk menyusul Frey, tetapi Darsh mencegahnya.


"Jill, selesaikan makanmu dulu! Frey urusanku," ucapnya. Darsh memang selesai makan karena porsi yang disiapkan Glenda memang tidak terlalu banyak.


Yang lainnya sedang fokus menghabiskan makanan. Tidak sempat untuk mengurusi keributan yang ditimbulkan generasi muda di meja makan itu.


"Owen, kamu betah berada di sini?" tanya Olivia.


"Iya, tante. Padahal kami berharap bisa bersuka cita, tetapi mendadak mendapatkan kabar duka dan penyambutan keluarga ini sangat luar biasa membuatku nyaman, Tante."


"Baguslah. Tante ikut senang mendengarnya."


Olivia tidak terlalu akrab dengan semua sahabat Darsh, tetapi dia hapal semua namanya.


"Max, coba bersikaplah lebih dewasa. Frey terlihat sangat menyukai Jillian, tetapi kamu terus saja menggodanya. Jangan seperti itu lagi! Kalian lelaki dan seharusnya bisa dibicarakan baik-baik," pesan Dizon. Rasanya tidak nyaman kalau salah satu anggota keluarganya meninggalkan meja makan sebelum makan berakhir.


"Iya, Om. Maaf," ucap Max.


Mereka melanjutkan makannya lagi. Tidak ada pembicaraan sampai Darsh pamit pada istrinya untuk menemui Frey yang entah ke mana perginya.

__ADS_1


"Glenda, kalau sudah selesai, langsung ke kamar saja. Aku temui Frey dulu," pamitnya.


Glenda cukup mengangguk karena dia malu pada semua orang yang berada di sana. Rasanya dia seperti menjadi tertuduh yang sedang disidang orang banyak.


__ADS_2