
Di sebuah Club malam di negara X, seorang gadis muda sedang berkerumun bersama rekannya. Mereka menikmati minuman yang diberikan secara cuma-cuma oleh seorang pria paruh baya. Dia selalu bersikap royal pada para gadis yang berhasil membuatnya tersenyum kembali.
Dari sekian banyak gadis yang menemaninya, hanya satu yang menurutnya cocok. Dia adalah Orlen. Wanita muda yang masuk beberapa bulan di Club itu berhasil mencuri perhatiannya. Hal itu juga dirasakan teman-teman barunya bahwa Orlen membawa keberuntungan.
Pria itu adalah Juvenal. Pengusaha sukses yang masih berjaya sampai saat ini. Namun, dia pria paruh baya yang kurang belaian. Menurut berita yang beredar, istrinya dibawa lari oleh pria lain. Itu versi asli yang diceritakan Juvenal pada setiap gadis yang ditemuinya.
"Orlen, malam ini temani Daddy ke hotel, ya?" ucap Juvenal.
"Siap, Dad. Tapi, sebelum itu puaskan dulu semua teman-temanku yang ada di sini, maka aku akan memberikan servis yang setimpal untukmu," bisiknya pada Juvenal.
Ya, dia adalah Helga Orlen. Demi mendapatkan informasi penting, dia rela menggadaikan kebebasannya serta tubuhnya untuk dijual pada pria paruh baya itu.
Di negara X, Orlen juga membutuhkan biaya hidup yang sangat tinggi. Kalau dia tidak menjebak Juvenal demi mendapatkan uang dari pria itu, Orlen mungkin tidak mampu bertahan.
"Tentu, Baby. Apapun akan kulakukan untukmu." Juvenal mengeluarkan debit card-nya dan memberikan pada Orlen. Dia sudah tahu berapa passwordnya. Walaupun Juvenal bukan pria kaya yang lagi trend memiliki black card, dia selalu mengeluarkan debit card yang uangnya tidak akan habis kalau hanya untuk menyenangkan para gadis Club itu.
"Terima kasih, Dad." Orlen mengecup pria paruh baya itu. Jika bukan demi menyelamatkan Max, dia juga tidak sudi menjalin hubungan dengannya.
Maafkan aku, Max. Walaupun kita sudah sering melakukannya, tetapi melakukan dengan pria asing ini, rasanya aku ingin melompat dari gedung tertinggi kemudian mayatku ditemukan oleh banyak orang di bawah sana. Namun, itu tidak akan kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Batin Helga.
Orlen lekas membawa debit card tersebut untuk membayar beberapa minuman yang banyak dipesan oleh Juvenal. Setelah itu, dia kembali ke kerumunan para gadis yang sedang berpesta.
"Sudah, Baby?" Juvenal menarik tangan Orlen untuk lekas keluar dari Club malam itu.
"Iya, Dad. Oh ya, aku pamit dulu, ya," ucap Orlen pada semua temannya.
"Hati-hati, Orlen. Besok jangan lupa bawa daddymu lagi ke sini ya. Bersenang-senanglah!"
Ya, walaupun Orlen orang baru. Dia bahkan tidak banyak memiliki musuh. Dia datang dan menjadi primadona di Club malam itu. Hanya Juvenal yang berhasil menyewanya. Beberapa orang sudah ditolak oleh Orlen sehingga Juvenal maju dan memberanikan diri untuk menyewanya dan Orlen setuju.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Itulah kata yang tepat diberikan pada Juvenal. Dia merasa beruntung menjadi sugar Daddy untuk gadis secantik Orlen yang semangatnya sangat tinggi. Apalagi cara menyenangkan Juvenal pun berbeda. Sehingga Juvenal semakin royal pada apapun yang diminta Orlen.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar hotel yang sudah dipesan sebelumnya. Orlen langsung duduk di sofa sembari mengangkat salah satu kakinya untuk memancing Juvenal agar pria itu mau mengatakan semua rahasia keluarganya. Tidak mudah memang, dia harus berusaha sekeras mungkin.
__ADS_1
"Kau merayuku, Baby?" ucap Juvenal yang mendekati gadisnya.
"Tidak, Dad. Aku hanya membuatmu bahagia saja. Oh ya, Dad. Aku memang baru mengenalmu, tetapi masih banyak kisah yang membuatku penasaran. Kalau seumpama kamu memiliki anak gadis dan pekerjaannya sepertiku untuk memuaskan setiap pria yang datang, apa daddy suka?"
Deg!
Juvenal terdiam. Selama ini dia melupakan anak kandungnya, Willow Halbur. Bagaimana nasibnya sekarang setelah lima tahun yang lalu dia berpisah dengan mamanya?
"Ya, kamu benar. Harusnya aku tidak melakukannya padamu, Orlen. Aku juga memikirkan nasib putriku yang entah ke mana sekarang."
Deg!
Sial! Jadi, Juvenal tidak tahu di mana putrinya sekarang? Lalu, apa tujuan Willow untuk mendekati keluarga Om Dizon? Batin Orlen.
"Daddy bahkan tidak tahu di mana putrimu? Memangnya kenapa kalian bisa terpisah? Apa karena Daddy berpisah dengan mamanya sehingga dia juga menjauh darimu?" Orlen menurunkan kakinya. Dia terlihat lebih baik sekarang.
"Kami hanya terpisah tempat dan waktu. Dia mungkin sakit hati pada sikapku terhadap mamanya. Aku kesal dan aku meninggalkannya."
Deg!
"Daddy kesal pada putrimu? Apa yang dilakukannya? Bukankah kalian itu keluarga yang bahagia?"
"Tidak, Baby. Kami tidak bahagia. Aku sudah lama tidak mencintai istriku lagi. Aku berselingkuh dengan saudari istriku. Dia yang bisa memberikan kebahagiaan lebih padaku. Namun, mendadak sikap putriku berubah. Dia seolah menyakiti orang-orang yang membuat dirinya bersedih. Dia juga sudah berusaha merusak kehidupanku, tetapi aku selalu menjaga semua orang-orang yang ada di sekitarku dengan baik."
"Jadi, menurut Daddy, putrimu itu berubah menjadi psikopat?"
"Tidak seperti itu juga, Baby." Juvenal menarik dagu Orlen kemudian memberikan ciuman terbaiknya. Cukup lembut dan sangat hangat.
Juvenal memperlakukan Orlen dengan cukup baik. Dia membuat gadis muda itu melayang ke angkasa hanya karena sebuah ciuman.
Orlen mendorong Juvenal sedikit ke belakang. "Kamu bisa membuatku kehilangan napas, Dad."
"Maaf, aku terlalu senang bisa bersamamu."
__ADS_1
"Dad, boleh aku bertanya lagi?"
"Silakan, Baby. Apapun yang kamu tanyakan, aku pasti akan menjawabnya."
"Terima kasih, Dad." Orlen menyandarkan kepalanya di dada bidang Juvenal. Rasanya Orlen ingin kabur dan menemui Max. Pria yang selalu membuatnya nyaman.
"Dad, apakah putrimu itu sangat emosional? Maaf, aku lancang bertanya seperti ini. Ehm, maksudku setelah kau dan istrimu bercerai, apakah ada perubahan sikapnya sebagai anak dari korban broken home?"
Juvenal mengelus puncak kepala Orlen. Damai rasanya berada bersama gadis muda itu. Dia merasa sangat nyaman mencurahkan semua permasalahannya pada Orlen.
"Entahlah, Orlen. Aku tidak lagi bertemu dengannya. Jadi, aku tidak tahu bagaimana sikapnya sekarang. Tetapi, dia merasa hidup bersamaku selalu tertekan sehingga dia berusaha melampiaskan amarahnya kepada orang lain. Ehm, maksudku kalau dia tidak bahagia, orang lain tentu tidak boleh bahagia."
Deg!
Kurasa ini tidak ada hubungannya dengan Juvenal, tetapi mengenai bangkrutnya usaha dan menjadi penebus utang, apakah benar? Atau hanya cerita bohong yang sengaja dibangun oleh Willow demi mendapatkan simpati banyak orang? Batin Orlen.
"Dad, boleh aku tanya satu lagi?"
"Hemm, tentu. Katakan saja."
"Apakah perusahaanmu bangkrut?"
"Kau ini lucu sekali, kalau perusahaanku bangkrut, aku bersenang-senang pakai uang siapa? Tidaklah. Usahaku selalu lancar."
Deg!
Jadi, selama ini Willow menciptakan seluruh kebohongan demi kebohongan untuk membuat semua orang terpecah. Namun, siapa sebenarnya tujuan Willow? Papa Darsh atau Darsh sendiri? Aku cukup kasihan pada lelaki itu. Walaupun dulu aku pernah mencintainya, tetapi mengingat Willow yang masuk dalam kehidupannya maupun Max rasanya aku tidak terima. Demi Max aku melakukan hal seburuk ini. Menjadi simpanan pria paruh baya yang aku sendiri tak suka. Batin Helga Orlen bergejolak.
...💦💦💦...
Sambil menunggu update, jangan lupa mampir karya keren berikut ini dan jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1