Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Ending


__ADS_3

Keesokan harinya, suasana rumah keluarga Dizon semakin ramai. Ketiga anak kecil itu berlarian ke sana ke mari. Yang paling aktif adalah Teo dan Willy. Keduanya bermain lari-larian.


"Teo, Willy! Jangan lari terus, Nak!" teriak Olivia.


Beberapa pelayan yang sibuk dengan persiapan hari ini takut terganggu oleh kedua anak kecil ini.


"Tidak masalah, Nyonya. Kami bisa mengatasinya. Lagi pula, ini bukan perkara sulit. Mereka juga tidak menggangu kami," ucap salah satu pelayan yang merasa tidak terganggu dengan dua anak kecil itu.


Sembari menyiapkan segala sesuatunya, rupanya para tamu sudah mulai berdatangan. Yang datang lebih dulu adalah besannya. Olivia dan Dizon menyambut kemudian mempersilakan masuk ke ruang makan. Pagi ini diawali sarapan bersama terlebih dahulu.


Tak lama, beberapa sahabat Darsh juga sudah hadir. Sehingga sebelum sarapan pagi tiba, semuanya sudah berkumpul.


Anak-anak juga sudah siap di mejanya masing-masing. Beberapa orang tua menyiapkan makanan mereka. Sementara grandpa sebentar lagi keluar untuk mengikuti sarapan pagi bersama.


"Nah, karena semua sudah berkumpul, bisa kita mulai sarapan paginya. Hari ini istriku dan semua yang ada di sini sengaja menyiapkan pesta kebahagiaan kita semua," ucap Dizon.


Mereka semua langsung menyantap sarapan pagi tanpa komplain. Walaupun Olivia tidak sehebat Zelene dalam urusan masak memasak, tetapi hasilnya juga lumayan bisa dinikmati banyak orang.


"Maaf, sarapan pagi ini disponsori oleh grandma Olivia, ya. Walaupun tidak seenak masakan grandmom Zelene, tetapi aku sudah berusaha sebaik mungkin," ucap Olivia.


Tentu saja mereka tersenyum memandang Tuan rumah. Padahal makanan yang mereka nikmati tidak seburuk ucapan Olivia.


Selesai sarapan pagi kemudian menikmati makanan penutup yang disiapkan. Keluarga Olivia lebih suka menyiapkan aneka puding sehingga membuat semua orang senang. Pasalnya, puding buatan Glenda-lah yang paling enak. Dia berbakat seperti mommynya.


"Ini pasti puding buatan istriku. Sungguh, aku sangat beruntung menikahinya," ucap Darsh.


"Jangan pamer pada kaum singel seperti kami," sindir Frey.


Mereka semua tertawa mendengar ucapan Frey barusan.


"Makanya, cepatlah menikah! Di mana gadismu itu?" tanya Justin yang sudah lama tidak bertemu dengan Frey.


"Dia dijodohkan oleh orang tuanya," jawab Frey sendu.

__ADS_1


"Aku heran saja. Zaman sudah semakin modern, mereka masih mau saja menikah dengan perjodohan seperti itu. Jujur, Frey juga tidak jelek, tetapi mengapa mereka lebih memilih calon dari orang tuanya?" ucap Max.


"Wah, bukan seperti itu, Max! Sepenuhnya orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya. Andai saja putriku belum memiliki kekasih waktu itu, aku pasti akan mencarikan jodoh untuknya," sahut Vigor.


Mereka sempat melirik ke arah Darsh, namun lelaki itu seakan tidak peduli.


"Eh, kamu mau ke mana, Welenora? Di sini saja," ucap Glenda. Nampaknya putri kecilnya itu malas mendengar basa-basi semua orang yang ada di sana.


"Pergilah, Glenda! Putrimu itu selalu seperti daddynya. Bersabarlah sedikit saja!" ucap Olivia. Dia paham betul bagaimana sikap Darsh di masa kecilnya.


Seusai sarapan pagi, mereka semua langsung ke halaman. Di sana sudah disiapkan hiasan untuk melakukan sesi foto keluarga. Fotografer yang dipesan untuk acara ini pun sudah datang.


"Sayang, panggil Welenora ke mari. Willy dan Teo sedang bermain di sana," ucap Darsh yang menunjukkan putranya sedang berlarian dengan anak Jillian.


"Astaga, putra kecilku itu pasti berkeringat. Sebaiknya aku akan mengajaknya mengganti baju dulu. Lihatlah, mereka terlalu bersemangat," ucap Glenda.


Tanpa pikir panjang, Glenda langsung mengajak Teofilo dan Willy masuk ke dalam terlebih dahulu.


Sementara yang lainnya lebih dulu melakukan sesi foto bersama. Di mulai dari foto persahabatan lima orang lelaki yang sampai saat ini bersahabat dengan cukup baik. Mereka adalah Darsh Damarion, Frey Matteo, Owen Othman, Max Oringo, dan Madava Justin.


"Ayo, sedikit merapat!" ucap Fotografer.


Beberapa kali jepretan sehingga mereka turun untuk bergantian. Selanjutnya adalah keluarga besar Damarion yang terdiri dari keluarga inti. Denzel Damarion, Dizon Damarion, dan Felix Damarion.


Di tengah-tengah memang disediakan kursi untuk menempatkan Denzel Damarion yang lebih banyak duduk ketimbang berdiri. Pria tua itu bisa berjalan, tetapi gampang lelah.


"Ayo, Pa. Kita buat foto kenangan kebersamaan kita walaupun tanpa mama," ucap Dizon. Kenangan tentang Charlotta sungguh membuat Dizon sedih sekali.


Beberapa kali berpose, kini giliran keluarga besar Felix yang beranggotakan kedua orang tua, anak, menantu, dan cucu.


"Ayo Justin, giliranmu!" panggil Darsh.


"Ya, Darsh," jawabnya.

__ADS_1


Sesekali sambil mengantre untuk berfoto bersama, kelima sahabat ini bergantian berbincang.


"Kurasa cinta pertamaku masih tetap sama, Brother. Mamaku tetap cinta pertamaku," ucap Darsh.


"Kalau Mamamu cinta pertama, lalu istri dan anakmu bagaimana?" tanya Max. Dia lebih sensitif mengenai hal itu.


"Tentu saja akan ada tempat yang lain di sudut hatiku. Mereka bukan yang pertama, tetapi yang utama untukku," jawab Darsh.


"Wah, aku meleleh mendengarnya," sahut Helga. "Kalau aku, yang ke berapa untukmu, Sayang?"


"Hai kalian, jangan bercanda terus! Saatnya foto bersama seluruh anggota keluarga," panggil Jillian.


Ya, yang dimaksud Jillian adalah keseluruhan orang yang ada di sana. Tak hanya keluarga besar, beberapa pelayan pun ikut andil dalam sesi foto ini. Setelah pelayan turun dari area foto, barulah keluarga inti dengan berbagai macam gaya. Yang paling menggemaskan adalah ketiga anak kecil itu.


Setelah selesai, barulah Darsh berdua saja dengan Glenda. Sepasang suami-istri itu cukup memberikan kebahagiaan bagi semua orang di sana. Karena dari sanalah cerita bermula.


"Kau tahu bagaimana cerita kita bermula?" tanya Darsh.


"Aku tidak tahu, Darsh. Memangnya dari mana?" tanya Glenda yang menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. Keduanya memilih tempat yang jauh dari anggota keluarga. Sementara anak-anaknya sedang bermain dengan banyak orang di sana.


"Dari kebahagiaan dan akah berakhir dengan kebahagiaan pula. Maka dari itu, aku ingin meninggalkan kebahagiaan yang tiada terkira diakhir kisah kita. Kurasa kamu juga paham maksudku," terang Darsh.


Glenda menggenggam erat tangan suaminya itu. Dia merasa kebahagiaan keluarganya sudah lengkap. Begitu juga dengan beberapa sahabat suaminya.


"Kami pasti berbahagia seperti kalian juga, Darsh. Benar begitu kan, Frey?" ucap Owen. Rupanya baik Owen, Frey, Max, dan Justin berada di sana dengan pasangan masing-masing.


"Kehidupan akan terus berlanjut, kakak ipar. Kisah kita cukup sampai di sini," ucap Jillian.


"Kamu benar, Jill. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setelah ini, kita semua akan hidup di jalan masing-masing. Sementara untuk Owen dan Frey, semoga kalian menemukan kebahagiaan," jelas Glenda.


"Kalian benar. Akupun sudah bahagia dengan Max. Tetap seperti ini. Karena kisah kita berawal dari bahagia dan akan berakhir bahagia."


"Kami mencintai kalian semua," ucap semua yang ada di sana sembari melemparkan buket bunga kebahagiaan yang sudah disiapkan sebelumnya.

__ADS_1


Dari mereka kita belajar arti persahabatan, kekeluargaan, kejujuran, dan cinta. Hari ini kebahagiaan milik mereka semua yang akan melanjutkan kisahnya masing-masing. We love you.


__ADS_2