Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Masih Samar-samar


__ADS_3

"Untuk apa kamu datang ke mari?" Suara bariton Dizon memecah keheningan.


Semuanya terkejut mendapati sikap Dizon yang sangat tidak ramah itu. Mungkinkah Dizon masih dendam pada Sean sehingga membuatnya bersikap seperti ini?


Dizon mendekati Sean seolah sebentar lagi terjadi pertempuran hebat. Olivia yang baru saja bergabung menjadi sangat terkejut dengan sikap suaminya. Rasanya ini bukan pemandangan yang bagus untuk dilihat orang banyak. Walaupun itu masih keluarganya sendiri, tetapi banyak pasangan muda di sana.


Tiba-tiba keduanya berpelukan membuat semua yang menyaksikan menjadi lega. Olivia masih tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Termasuk Vigor dan Felix. Namun, bayangan mereka pasti akan berubah jika Dizon mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Kurasa ini seperti mimpi, Kak. Kalian sudah berdamai?" ucap Felix.


Dizon melepaskan pelukannya. Rasanya sudah berbeda, tidak seperti puluhan tahun yang lalu.


"Kamu pikir aku masih dendam dengan Sean? Tidak, Felix. Bahkan, aku sudah menganggap Willow seperti anakku sendiri," jelas Dizon yang membuat semua orang masih tidak percaya.


Olivia tersenyum puas. Dia sudah berhasil mengubah kulkas 4 pintu itu mencair perlahan. Walaupun terkadang bisa saja kembali kaku ketika bersikap.


"Aku berterima kasih sekali, Dizon. Setidaknya kamu sudah berbaik hati untuk menjaga Willow dengan baik. Oh ya, aku perlu bicara berdua denganmu. Apakah kamu tidak keberatan?"


Sekali lagi, tatapan semua orang yang ada di sana menatap tidak percaya. Namun, beberapa menatapnya takut kalau terjadi sesuatu antara keduanya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" ucap Dizon.


"Tidak, kami tidak apa-apa, Pa. Hanya memandangmu saja," balas Olivia. "Kalian bisa bicara di ruang kerja saja."


Kedua pria paruh baya itu meninggalkan ruang tamu. Olivia lekas mengajak semua tamunya untuk pindah ke ruang tengah yang jauh lebih besar dan nyaman untuk beristirahat.


"Kayana, Zelene, ayo ajak semuanya masuk ke ruang tengah. Barangkali kalian mau beristirahat atau membersihkan diri. Aku akan menunjukkan kamar masing-masing. Kalian akan menginap di sini, kan?"


Callista dan Zelene berpandangan. Sebenarnya Zelene bisa saja pulang ke rumahnya karena jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun sepertinya malam ini dia harus menekan egonya untuk tetap berada di sana bersama yang lainnya. Termasuk sang kakak, Sean.


"Iya, kami semua akan menginap di sini. Apakah kamarnya cukup?" Callista memang belum tahu betul bagaimana situasi rumah Olivia.


"Jangan khawatir. Suamiku mendesain rumah ini hampir mirip rumah lama keluarga Damarion. Jadi, berapapun orang yang mau menginap pasti tertampung."


"Wah, ciri khas rumah lama masih tetap dipegang teguh oleh suamimu, ya," balas Callista.


"Iya, Call. Ayo aku tunjukkan kamar kalian."


Setiap sepasang suami istri mendapatkan kamarnya masing-masing. Yang paling terakhir, Olivia menunjukkan kamar untuk Callista. Menurutnya, kamar ini cocok untuk pasangan suami istri paruh baya itu.


"Kenapa kamar untukku terlihat paling besar?" tanya Callista. Ya, memang ketika berkeliling untuk mengantarkan sepasang tamunya untuk masuk ke kamar, Callista sebagai tamu juga sempat melihat setiap kamar yang kebetulan dilewatinya.

__ADS_1


"Aku hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk tamuku saja, Callista. Apalagi kita sudah saling kenal sejak lama."


Barang-barang Callista dan suaminya langsung dimasukkan ke kamar oleh pelayan.


"Terima kasih," jawab Callista.


"Kamu mau beristirahat sejenak atau mau ke dapur. Mungkin lapar atau apa? Kalian juga sudah membawa buah-buahan sangat banyak sekali."


Callista tidak menyangka di usianya yang sudah paruh baya ini bisa menjalin hubungan dengan baik dengan orang-orang di masa lalunya.


"Aku menunggu suamiku saja. Entah, apa yang mereka bicarakan? Aku khawatir kalau Sean dan Dizon bertengkar lagi. Mereka sudah tua, harusnya lebih sadar diri."


"Jangan khawatir, Callista. Dizon itu seperti Darsh. Anakku itu Duplikat papanya. Dia bisa juga luluh kok. Jangan khawatir, ya!"


Callista berusaha setenang mungkin. Dia juga berusaha berpikir positif dengan apa yang mereka berdua bicarakan.


"Aku akan mengganti baju dulu kemudian menyusulmu ke dapur." Callista tidak nyaman terus berada di kamar tanpa suaminya. Apalagi dia hanya tamu di sini.


"Apa perlu aku menunggumu? Tidak akan tersesat kan kalau harus pergi ke dapur sendirian?"


Callista menggeleng.


Di sisi lain, dua orang yang sedang berad di ruang kerja awalnya hanya saling pandang biasa saja. Namun, lama-lama pandangan keduanya semakin terlihat tegang sekali. Bukan ingin bertengkar atau apa, namun hanya ingin saling menatap saja.


"Bagaimana Willow bisa berada bersamamu?" Satu pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Sean.


"Jadi, itu yang ingin kamu bicarakan?"


"Iya, Willow tidak banyak cerita kepadaku." Sean menghela napas panjang. Walaupun dulu dia sempat mengira kalau gadis kecil itu putrinya rupanya salah besar.


"Dia sebenarnya ingin menemuimu, tetapi ketika bertemu Felix, gadis itu malah diminta untuk mencariku."


"Kenapa harus kamu?"


"Sebelum akhir hidup Diana, dia meminta maaf padaku melalui Willow. Dia sadar diri telah melibatkan aku dalam hubungan rumah tangganya denganmu. Aku minta maaf."


Sesaat Sean sedang memikirkan sesuatu. Yang ingin ditanyakan malah mengenai suami Diana, ayah biologisnya Willow.


"Ehm, kalau Diana sudah meninggal, lalu di mana Juvenal?"


Beruntung Dizon hanya mengajak pria itu berbicara berdua saja. Kalau rame-rame, bisa saja Willow akan merasa malu dan hina di hadapan orang lain. Sebenarnya Dizon berusaha menyimpan rapat-rapat masalah ini, tetapi mau bagaimana lagi, Sean juga berhak tahu.

__ADS_1


"Kurasa, kamu adalah orang pertama yang ingin memenjarakannya. Kalau aku, cukup dengan bertemu Willow dan membahagiakannya."


Sean tidak sabar mendengarkan penjelasan Dizon. Semakin tua, Dizon semakin bertele-tele dan bermain teka-teki.


"Kamu ini, semakin tua malah semakin bertele-tele. Langsung ke inti masalahnya saja!"


Kalau saja bukan kerena usia yang semakin menua, Dizon bisa saja melayangkan tinjunya pada Sean.


"Kamu masih sama seperti dulu. Suka membuat amarah orang tiba-tiba memuncak," balas Dizon.


Apapun tuduhan Dizon barusan, Sean tidak peduli lagi. Walaupun Willow sudah bukan tanggung jawabnya, sebelum dia pulang ke negaranya, Sean perlu tahu.


"Cepatlah!"


"Juvenal memang menikah dengan Diana dan bertanggung jawab pada Willow. Namun, seiring perjalanan waktu, usahanya bangkrut. Dia banyak utang dan beberapa orang yang menjadi sumber dananya menagih semua utangnya. Dia tidak bisa membayar. Apa kamu tahu apa yang dilakukan Juvenal selanjutnya?"


Sekarang Sean dibuat kesal oleh Dizon. "Kalau aku tahu, mana mungkin aku bertanya padamu, bodoh!"


"Ck, kamu terlalu sibuk sampai kabar seperti ini saja tidak tahu," cibir Dizon.


"Jangan banyak bicara. Lebih baik kamu jelaskan apa yang terjadi selanjutnya!"


"Juvenal menjadikan Willow sebagai penebus utangnya. Setelah itu dia menghilang entah kemana."


Deg!


Sean masih berusaha mencerna ucapan Dizon barusan.


Penebus utang? Apakah Willow dijual oleh Juvenal?


"Aku masih tidak paham dengan maksudmu, Dizon."


Sepertinya Dizon harus mengambil air minum dulu baru melanjutkan pembicaraannya. Jika tidak, Sean bisa sangat lama untuk memahami ucapannya.


"Kamu mau ke mana? Urusan kita belum selesai!" bentak Sean.


"Jangan membentak seperti itu. Ini rumahku. Aku berhak melakukan apapun termasuk me--"


"Baiklah. Apapun yang ingin kamu lakukan. Aku tunggu di sini!"


Penjelasan Dizon masih belum sepenuhnya membuat Sean bisa memahami. Mungkin saja Willow mengalami kesusahan yang teramat sangat. Sedih memang, tetapi mau bagaimana lagi. Willow bukan darah dagingnya. Dia cukup tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu baru memutuskan akan bersikap seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2