Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Bakso Mercon


__ADS_3

Darsh menarik tangan istrinya. Dia mengajak gadis itu ke kamar. Masih perlu membiasakan diri untuk selalu berdua.


"Kami pergi dulu. Ada urusan," pamit Darsh.


Semua sahabatnya melihat tindakan konyol yang dilakukan Darsh. Mungkin cemburu karena dekat dengan sahabatnya atau memang hal lainnya.


"Aku masih mengobrol dengan mereka, Darsh. Kenapa kamu mengajakku ke sini?" protes Glenda yang sudah berada di dalam kamar bersama suaminya.


"Aku ingin berbicara berdua denganmu mengenai masa depan kita."


Darsh dan Glenda sama-sama berdiri. Lelaki itu masih menggenggam tangan istrinya.


"Mengenai apa?"


"Tempat tinggal dan hubungan kita."


"Hemm, apakah kamu sudah memutuskan tempat tinggal untuk kita."


"Hemm, Frey yang akan mengurusnya."


Darsh dan Glenda sama-sama terdiam. Sebagai perempuan dan lelaki normal, berada berdua di kamar yang sama tentunya tidak akan tahan dengan godaan. Apalagi mereka merupakan pengantin baru. Tak ada salahnya untuk saling mengungkapkan cintanya.


Glenda lebih dulu memberikan kecupan bibir pada suaminya. Sesaat bibir yang telah bersatu itu dibiarkan terdiam dan tak melakukan aktivitasnya apapun. Dia pikir, ini caranya untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, sayang sekali, Darsh masih terlihat kaku. Glenda melepaskan kecupannya. Dia melepaskan tangannya dari genggaman suaminya. Dia mengalihkan pandangannya dan wajahnya merah merona.


"Maafkan aku, Darsh."


Darsh diam. Glenda memang seperti gadis yang agresif, tapi ini bukan kesalahan. Ini murni karena hubungan suami istri.


"Hemm, bersiaplah. Aku akan meminta izin pada Om Felix. Jangan lupa bawa dompetku di atas nakas," ucapnya.


Glenda menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Oh ya ampun, aku malu padanya. Ini pertama kalinya untukku."


Glenda mengambil baju di kopernya. Dia bergegas ke kamar mandi untuk bersiap. Semuanya selesai, tak lupa Glenda mengambil dompet suaminya. Dia penasaran, tetapi diurungkan niatnya untuk membukanya.


Sabar Glenda. Ini privasi. Batin glenda.


Dimasukkannya dompet itu ke dalam tas. Secepatnya dia menuju ke depan, takut saja kalau suaminya kelamaan menunggu.


Di depan, Glenda baru melihat Darsh yang berada di ruang tamu seorang diri. Glenda ingin menanyakan ke mana yang lainnya, tetapi gadis itu tidak memiliki keberanian yang cukup setelah apa yang dilakukannya pada Darsh di kamarnya.


"Duduklah!" perintah Darsh.


"Darsh, apa kamu marah?" selidik Glenda.

__ADS_1


"Tidak, lupakan saja!"


Satu per satu sahabat suaminya mulai memenuhi ruang tamu. Tinggal Jillian saja yang belum muncul. Penampilan mereka pun bisa dibilang wow.


"Maaf, aku terlambat!" ucap Jillian. Penampilannya terlihat sangat cantik. Frey tidak melepaskan pandangannya dari Jillian. Termasuk Max juga. Kedua orang ini masih terus saja melakukan hal yang sama.


"Max, jaga pandanganmu!" seru Owen.


"Owen, apa salahnya aku mengagumi ciptaan Tuhan yang paling indah ini," jawabnya asal.


"Max!" ucap Darsh.


Jillian lebih dulu keluar. Dia segera mengambil mobil daddynya. Sesuai kesepakatan, Jillian yang akan mengemudi dan Glenda duduk di kursi depan.


"Darsh, kamu ini bagaimana, sih? Banyak lelaki di sini, kenapa harus Jillian yang mengemudi?" protes Max. Dia seperti menjadi lelaki yang tidak berguna saja.


"Yang tahu jalan menuju ke Mal di sini siapa?" tanya Darsh.


"Jillian," jawab mereka serempak.


"Lalu, salahnya di mana, Max?" tanya Darsh lagi.


"Kita seperti menjadi lelaki yang tidak berguna dengan membiarkan seorang perempuan mengemudi sendiri," balas Max.


Tentu saja penekanan gadis mandiri membuat Glenda minder. Dari segi mengurus rumah, okelah dia bisa melakukan segalanya. Namun, untuk mengemudikan mobil atau naik sepeda motor, jangan tanya lagi. Kemampuannya nol alias tidak bisa sama sekali.


"Hemm, baiklah."


Max bergegas masuk ke mobil. Semuanya juga sudah masuk. Tinggal Glenda yang masih berdiri di samping mobil. Dia masih tertegun dengan ucapan suaminya barusan. Apa Darsh menyesal menikah dengannya?


"Sayang, kenapa masih di situ?" ucap Darsh.


Deg!


Apalagi ini? Setelah mengatakan Jillian gadis mandiri, sekarang memanggilku sayang. Apa aku tidak salah dengar? Batin Glenda.


"Eh, iya. Sebentar." Glenda membuka pintu mobil kemudian menutupnya kembali.


Jillian segera mengemudikan mobilnya. Mal yang dituju tidak jauh dari rumahnya, tetapi tetap saja butuh waktu lama menggapainya. Terkadang jalanan padat merayap. Itu yang membuatnya lama.


"Kak Darsh, apa kamu tidak ingin membelikan sesuatu untuk Kak Glenda?" tanya Jillian.


"Seperti apa?" balas Darsh.

__ADS_1


Glenda yang sedang dibicarakan sepupu kakak beradik ini nampak diam saja dan berusaha mencerna situasinya.


"Baju, gaun, perhiasan, atau cuma makan steak di restoran favoritku," jelas Jillian.


"Tidak, lain waktu saja," jawab Darsh.


"Ya ampun, Darsh. Sesekali bersikaplah romantis pada istrimu. Apa kamu tidak ingat kalau Helga, Aimee, dan Clianta masih mengejarmu?" ucap Max.


Ucapan Max selalu saja membuat orang salah paham. Rupanya Glenda menangkap ucapan Max ini kalau Darsh adalah lelaki yang memiliki banyak penggemar. Padahal Darsh berusaha menutup nama mereka dari istrinya. Bukannya tidak mau bercerita, tetapi tidak ada urusannya juga dengan mereka.


"Glenda, apa yang kamu pikirkan?" selidik suaminya.


"Wah, Max, kamu membuat keributan kali ini," ucap Justin.


"Kakak ipar jangan khawatir. Tiga nama itu hanya masa lalu. Sekarang kakak fokus saja dengan Darsh. Jangan pikirkan hal lainnya," jelas Owen.


"Terima kasih," jawab Glenda. Dia mengambil ponselnya dan melihat pesan di sana. Ada satu pesan dari mommynya. Nanti malam minta di jemput ke Bandara. Otomatis tidak pulang ke rumah Om-nya.


"Darsh, nanti malam mom dan dad minta dijemput ke bandara. Bisa?" tanya Glenda. Dia menoleh ke arah suaminya.


"Hemm, kita jemput berdua," ucapnya.


"Nah, begitu dong. Pasangan pengantin baru. Romantis dikitlah, Darsh!" canda Max.


Darsh tidak mempedulikan lagi ucapan sahabatnya. Dia ingin fokus bagaimana bersikap dengan Glenda. Tidak mudah menyatukan dua karakter yang berbeda. Apalagi pertemuan mereka sangat singkat sekali.


"Max, terima kasih," jawab Darsh akhirnya.


"Jill, bisakah mengajakku makan sesuatu yang pedas. Aku ingin mencoba kuliner di tempatmu," ucap Jillian.


"Ada, Kak. Bakso mercon," ucap Jillian.


"What, Bakso mercon? Apakah itu bisa meledak, Jill?" tanya Justin.


Perbedaan negara dan makanan tentu saja membuat Justin sangat terkejut. Berbeda dengan Darsh dan Glenda yang memang berasal dari tempat yang sama.


"Tentu saja akan meledak sepertimu, Justin," canda Frey. Lelaki itu baru saja bisa tersenyum setelah berbincang dengan Darsh.


"Sudah-sudah, sebentar lagi sampai. Kalian mau langsung kuliner atau belanja dulu?" tanya Jillian.


"Hemm, sebaiknya kita jalan-jalan dulu, Jill," usul Glenda.


Orang tua Glenda memang berasal dari negara I. Ini untuk pertama kalinya dia bisa jalan-jalan bebas bersama suaminya. Rupanya ini yang dimaksud papanya. Menikmati perjalanan indah bersama suaminya. Dia akan menjadi gadis yang sangat beruntung dikelilingi oleh sahabat terbaik suaminya dan adik sepupu yang sangat manis.

__ADS_1


__ADS_2