
"Sudah kubilang kan, kalau selama ini kamu terlalu menuduhku, Sean." Alasannya Dizon bagi mereka memang tidak jelas. Bagi dirinya sendiri, sudah jelas kalau di masa lalunya Dizon tidak pernah berselingkuh dengan Diana seperti pandangan semua orang.
"Oke, aku paham maksudmu. Baiklah, aku yang akan meminta maaf. Atas nama masa lalu, aku meminta maaf padamu." Sean yang mengalah untuk menyudahi kesalahpahaman di antara keduanya.
"Sudah cukup, ya. Sekarang giliranku," ucap Felix. Dia berdiri di antara anak dan istrinya. "Baiklah, perkenalkan namaku Felix Damarion. Adik dari Dizon Damarion. Yang ini istriku, Kayana. Wanita muda yang sedang hamil ini adalah Jillian Damarion, putriku. Kalau yang ini, dia menantuku sekaligus CEO dari Damarion Corporation, Madava Justin." Felix cukup bangga menyebut Justin sebagai penerus perusahaannya.
Olivia menyadari ada yang dilupakan yaitu Willow. Kini gilirannya yang maju. Felix duduk kembali ke tempatnya.
"Maaf, aku lupa menyampaikan hal sepenting ini. Anggota keluarga kami bertambah dengan datangnya Willow dan suaminya, Owen. Kurasa ini tidak bisa dilupakan bahwa mereka kini ikut menjadi keluarga besar kami," jelasnya.
Willow berkaca-kaca. Olivia dan keluarganya sudah sangat baik padanya. Sehingga dia berusaha menerima wanita paruh baya itu seperti mamanya sendiri.
Suasana haru itu harus segera diakhiri. Felix ingin mengakui semua kesalahannya di masa lalu yang belum diketahui kakaknya, Dizon. Mungkin setelah pengakuan ini, bisa saja sang kakak akan marah kepadanya.
"Mumpung semuanya berkumpul di sini, aku atas nama keluarga besar Damarion meminta maaf kepada kalian semua. Sebenarnya malam ini aku akan mengakui dosa masa lalu yang sudah kubuat." Felix menatap istrinya bergantian ke arah putri tunggalnya.
Deg!
Baik Kayana maupun Jillian merasa terkejut. Namun, lebih terkejut lagi memang Kayana. Apakah suaminya akan mengakui kalau dulunya pernah berselingkuh? Atau mungkin ada dosa lainnya lagi.
"Dad, apakah Daddy selingkuh?" tanya Jillian.
Felix tentunya langsung menatap tajam putrinya. Mana mungkin dia berani berselingkuh dari istrinya.
"Daddy tidak pernah selingkuh. Dengarkan dulu!" jawab Felix.
Sepertinya ada beberapa orang di sana yang merasakan dirinya terancam. Lebih-lebih Vigor.
Apakah Felix akan mengakui bagaimana kisah Olivia dan Dizon dimulai? Astaga! Ini gawat. Bisa saja Dizon langsung mengusir kami. Batin Vigor.
"Ehm, jadi begini. Sebenarnya pertemuan antara Kak Dizon dan Kak Olivia itu sebenarnya ada unsur kesengajaan," jelas Felix memulai pengakuannya.
Deg!
Vigor dan Sean sama-sama menatap tidak percaya pada pengakuan Felix barusan. Hubungan Sean dan Dizon saja sedang tidak baik. Sekarang ditambah pengakuan mengejutkan Felix. Puluhan tahun mereka melupakan masalah itu dan sekarang mendadak dibuka di hadapan semua orang.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Felix?" tanya Dizon.
Deg!
"Felix, apa kamu yakin akan mengakuinya?" tanya Vigor.
Kalau dosa masa lalu itu dibuka, tentunya akan berimbas pada hubungannya dengan sang besan. Begitu juga dengan Sean. Semuanya akan memburuk.
"Ya, Vigor. Setidaknya kita bisa hidup dengan normal. Kurasa Kak Olivia juga perlu tahu," balas Felix.
"Ini ada apa, Felix? Kenapa aku juga harus masuk dalam masa lalu kalian?" sahut Olivia.
Felix sudah tidak bisa memendam lagi masa lalunya itu. Dia mulai menceritakan dari awal pertemuan Dizon dan Olivia sampai pada penculikan menjelang malam tahun baru itu.
"Apa?" Respon Darsh pertama kali. "Apakah semua itu benar?" Darsh rasanya seperti mimpi mendengar kisah masa lalu orang tuanya. Rupanya adanya Darsh karena usaha Om, Daddy mertua, dan Om dari istrinya.
Dizon ingin marah, tetapi untuk apa? Lagi pula pernikahannya sekarang sudah bahagia. Sementara Vigor dan Sean sudah ketar-ketir kalau hubungan kekeluargaan mereka akan semakin memburuk.
Sama halnya dengan Olivia. Kalau saja waktu itu tidak terjadi, mungkin sekarang dia belum hidup bahagia bersama suami dan anaknya.
"Dizon, apa kamu akan marah pada kami? Apa kamu tidak berniat memaafkan kesalahan kami?" Tentu saja Vigor harus minta maaf. Dia berperan cukup besar dalam hal ini.
Dizon malah tertawa. Ini pertama kalinya dia menunjukkan rasa senangnya yang tiada terkira. Waktu itu Dizon tidak kepikiran ke arah sana bahwa penculikan itu ternyata disengaja.
"Kalau tahu itu unsur kesengajaan, kenapa aku harus susah-susah kabur? Iya kan, Sayang?" ucap Dizon pada Olivia.
Yang terjadi selanjutnya, mereka semua menatap tidak percaya. Mereka memikirkan huru hara, sementara yang menjadi obyek penculikan itu malah biasa saja.
"Jadi, Kak Dizon tidak marah?" sahut Felix dengan cepat.
"Tidak, untuk apa aku marah. Perjodohan kami ternyata yang paling mahal di sini. Rupanya Bos Sean tidak sia-sia menggelontorkan kekayaannya sebesar itu. Wah, kurasa aku perlu memberikan penghargaan padanya. Usaha Anda tidak sia-sia, Bos. Untuk besanku, kurasa ini keberuntungan yang berlipat ganda. Seandainya aku tidak berjodoh dengan Olivia dan memiliki Darsh, tentunya putrimu tidak bisa menikah dengan putraku," ucap Dizon.
Glek!
Bahkan dia mengucapkan rasa terima kasihnya bersamaan dengan sikapnya yang selalu songong itu. Rasanya Vigor mengepalkan tangan untuk menonjok besannya.
__ADS_1
Zelene yang melihat respon suaminya itu berusaha mengingatkan untuk tidak gaduh di rumah keluarga putrinya.
"Papa!" Darsh merasa malu sekali dengan sikap papanya barusan.
"Wah, kisahnya sungguh beragam, ya. Lalu, bagaimana kisah cinta kedua orang tuaku." Kini giliran Jillian yang penasaran.
"Sudah malam. Lain waktu Daddy akan bercerita," balas Felix.
Benar, malam memang semakin larut. Sehingga mereka semua memutuskan untuk kembali ke kamar. Di ruang keluarga tinggallah empat pria paruh baya.
"Kau mau memaafkan kesalahan kami di masa lalu?" tanya Sean. Felix benar, masalah ini harus segera menemukan titik terangnya.
"Hemm, tentu. Tapi jujur saja, sebenarnya ide gila itu atas usulan siapa?" tanya Dizon.
Baik Felix maupun Sean menunjuk ke arah Vigor. Dia merupakan otak dari semua kejadian yang terjadi. Termasuk pertemuan Callista dan Sean.
Vigor yang menjadi pusat perhatian tiba-tiba menjadi seperti lelaki muda yang ketahuan habis kencan dengan kekasihnya.
"Apakah kamu akan memaafkan aku? Demi keutuhan keluarga kita," ucap Vigor memohon.
Sesaat Dizon mengamati satu persatu. Mulai dari adiknya sampai berakhir pada Sean.
Mereka sudah baik padaku. Kurasa aku tidak perlu lagi menutupi sikapku sekarang. Sepenuhnya aku sudah berubah. Itu juga berkat istriku. Kurasa Olivia pasti tahu kalau aku hanya berakting. Batin Dizon.
"Tentu saja. Aku sudah lama memaafkan kalian. Bahkan, sebelum kalian datang ke mari."
"Jadi, kau hanya berakting?" tanya Sean.
"Tentu saja. Setidaknya aku puas sudah membuat kalian ketakutan seperti itu."
Tentu saja itu membuat Felix menghambur pada kakaknya. Dia langsung memeluk Dizon diikuti oleh Vigor maupun Sean. Sepertinya Darsh dan sahabatnya akan bersaing dengan persahabatan pria paruh baya yang baru saja berpelukan itu. Rasanya mereka seperti kembali muda lagi.
Dari jauh, seseorang melihat tingkah keempat pria paruh baya itu dan tersenyum penuh bahagia. Rasanya seperti mendapatkan hadiah yang luar biasa.
"Kalian pria yang baik," hanya itu ucapnya. Dia menitikkan air mata bahagia.
__ADS_1