Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Perang Batin


__ADS_3

Vigor dan Zelene masih merasakan keterkejutan yang luar biasa. Putrinya telah menyukai lelaki dari keturunan Damarion yang tidak terpikirkan olehnya.


"Mom, Dad, apa kalian akan membenci Darsh?" tanya Glenda.


Sesaat, sepasang suami istri itu saling memandang. Bukan untuk membenci lelaki itu, tetapi mengingat masa lalunya yang sangat buruk. Vigor kemudian fokus mengemudikan kendaraannya lagi.


"Kenapa kalian diam? Itu artinya, Darsh sudah mengetahui jati diriku yang sebenarnya, bukan?" tanya Glenda lagi.


"Mommy tidak membenci Darsh, sayang. Kita cuma perlu mempertimbangkan apakah menerima lamaran itu atau tidak," jawab Zelene. Dia tidak ingin putrinya berpikir yang macam-macam.


Glenda terdiam. Gadis itu masih mengkhawatirkan jawaban yang akan diberikan kedua orang tuanya. Bisa saja Glenda akan mendapatkan penolakan dari orang tuanya.


Bagaimana ini? Vigor pasti akan menolak lamaran Darsh. Sementara putriku sudah terlanjur menyukainya. Apa yang harus aku lakukan? Rasanya ini sangat sulit untuk mengambil keputusan. Rasanya kami menjadi orang tua yang cukup egois kalau melarang Glenda menerima pinangan lelaki itu.


Sampai di rumah, Vigor langsung masuk ke kamarnya. Sementara Glenda masih menahan Mommynya untuk berbicara sebentar.


"Mom, tunggu sebentar. Glenda ingin berbicara," ucapnya.


"Ada apa, sayang?"


"Ehm, apakah daddy akan menolak Darsh?"


Rasanya Glenda tidak siap harus berpisah dengan lelaki itu. Ini untuk pertama kalinya Glenda mengenal laki-laki dan langsung mengajaknya untuk menikah.


Zelene mengelus kedua pipi putrinya. Mungkin ini saatnya orang tua itu mengambil keputusan. Dia terlihat terharu melihat wajah putrinya yang hampir saja menangis.


"Sayang, Mommy dan daddy akan membicarakannya dulu. Pikirkan baik-baik tentang pernikahan itu, sayang. Apa kamu sudah siap mengemban tugas yang lebih besar? Seluruh hidupmu akan kamu serahkan kepada Darsh. Apa kamu siap, Nak?" selidik Zelene.


Glenda terdiam. Selama dua hari ke depan, dirinya ingin mengambil liburan untuk menenangkan pikiran dan memutuskan mana yang terbaik.


"Mom, aku meminta izin pada daddy untuk berlibur selama dua hari. Aku akan memikirkan dengan matang keputusanku, Mom. Apa Mommy setuju?" Sepertinya Glenda harus menentukan keputusannya. Dia tidak boleh terlihat lemah menghadapi masalah ini.


"Pergilah. Selama kamu berlibur, Mommy dan daddymu akan berembuk untuk memberikan keputusannya. Mommy harap, kamu sudah yakin dengan pilihanmu," balas Zelene.


"Iya, Mom. Aku tahu, menikah bukan sekadar bermain-main. Glenda akan mempersiapkan diri."

__ADS_1


"Pergilah ke kamarmu. Mommy akan menemui daddymu," pamitnya.


"Terima kasih, Mom."


Zelene langsung menuju ke kamarnya. Malam ini merupakan kejutan yang tidak terbayangkan seumur hidupnya. Keluarganya akan berbesanan dengan keluarga Damarion.


Ceklek!


Zelene melihat suaminya duduk di ranjang. Dia menatap istrinya dengan tanda tanya yang lumayan besar.


"Apakah kamu akan menerimanya?" tanya Vigor.


"Honey, awalnya aku harus berperang dengan perasaanku sendiri. Aku pikir andaikan Darsh adalah anaknya Felix, mungkin aku akan langsung memutuskan begitu saja. Namun, ini berbeda. Darsh ternyata putranya Dizon. Aku yakin sedikit banyak, kelakuan pria itu akan menurun kepada anaknya."


"Pemikiranmu sama denganku, Honey. Lalu, bagaimana dengan Glenda?"


"Dia mengatakan padaku untuk berlibur beberapa waktu. Dia akan memutuskan setelah dua hari. Kita juga harus memberikan jawaban padanya. Aku rasa, kita tidak bisa menolaknya," tegas Zelene.


Vigor mendekati istrinya kemudian memeluknya. Dia butuh kekuatan lebih untuk menerima kenyataan ini.


"Aku tidak melihat Dizon sepenuhnya, Honey. Aku melihat kegigihan lelaki itu dan perasaan Glenda." Zelene melepaskan pelukan suaminya.


Perasaan Glenda? Apa gadis itu sudah jatuh cinta padanya?


"Glenda menyukainya, Honey," ucap Zelene lagi.


Kalau sudah seperti ini, rasanya Vigor tidak bisa menolaknya. Apapun keputusan istrinya tentu sudah melalui beberapa tahapan pemikiran. Keputusan yang akan mereka berikan setelah kepulangan Glenda dari berlibur.


...***...


Di sebuah kamar keluarga Dizon, sepasang suami istri masih saja berdebat. Rupanya perdebatannya di jalan belum berujung juga. Hal itu yang membuat Darsh semakin pusing. Lelaki itu lebih memilih masuk ke kamarnya.


"Apa kamu yakin mau berbesanan dengan keluarga Armstrong?"


"Tentu, kenapa tidak? Anak Zelene baik. Dia yang akan menemani seumur hidupnya putra kita. Aku rela melepaskan Darsh pada gadis itu," tegas istrinya.

__ADS_1


"Aku yang tidak rela!" seru Dizon.


Olivia menatap tajam suaminya. Hanya karena Glenda anak dari keluarga Armstrong, Dizon menolaknya.


"Pa, tolong berpikirlah secara realistis. Jika bukan karena keinginan mama mertua, aku juga tidak akan tega melepaskan Darsh untuk menikah. Apakah kamu pikirkan kalau permintaan mama sangat mendadak? Tidak akan ada gadis lain yang cocok untuk Darsh. Lelaki itu cukup paham dengan sikapnya. Apa kamu lupa kalau kamu sendiri tidak bisa untuk dipaksa menikah jika bukan karena pilihanmu sendiri, Tuan Dizon," tegas Olivia.


"Banyak gadis lain, Ma. Pikiranmu saja tidak mau membukanya untuk orang lain. Setelah bertemu dengan gadis itu, maka kamu tidak akan berpaling pada gadis lainnya. Negara ini luas, masih banyak gadis yang bisa dipilih untuk Darsh."


Olivia benar-benar kesal menghadapi suaminya. Tidakkah dia berpikir kalau Darsh hanya menyukai satu gadis di muka bumi ini?


"Tidak, Pa. Darsh sudah menyukai gadis itu. Aku tidak akan memilih gadis lain untuk putraku. Suka atau tidak, aku setuju dengan pilihannya. Kalau kamu mau bersikap seperti papa mertua, silakan saja!"


Papa Denzel tipe pria yang sangat kaku daripada Dizon. Pria yang selalu mengagungkan kesetaraan kekayaan dan memiliki pemikiran yang sangat tinggi terhadap sesuatu. Selalu merendahkan apapun yang tidak selevel dengannya. Itu tidak boleh terjadi pada Dizon. Olivia harus berusaha meyakinkan pria itu untuk menerima Glenda. Tidak boleh ada penolakan darinya. Cukup Olivia saja yang bisa membuat semuanya berjalan sesuai rencananya.


"Aku tidak mau kita besanan dengan keluarga Armstrong. Sean pasti akan menertawakanku yang tidak pernah lepas dari kehidupannya. Kamu ingin mempermalukan suamimu di hadapannya?" gertak Dizon. Dia yang paling kekeh menolak perjodohan itu.


"Pa, apa kamu tidak sadar sudah menghancurkan perasaan putramu sendiri? Ingat, permintaan mama cukup singkat. Dia mau agar Darsh lekas menikah. Kamu pikir aku mau menurutinya begitu saja? Aku berperang terhadap batinku untuk meyakinkan diri bisa merelakan Darsh untuk menikah. Aku bahkan sudah berbicara pada Felix agar mengizinkan Jillian menikah lebih dulu, tetapi kamu tahu kan kalau Jillian menolaknya. Darsh mengajukan diri untuk menggantikannya."


Dizon tak mampu mengatakan apapun. Semua ucapan istrinya benar. Harusnya Dizon tidak egois. Setelah ini tanggung jawab Darsh bertambah berat. Selain mengurus bisnis keluarganya, dia juga bertanggung jawab atas istrinya. Itu tidak akan berjalan mudah di usianya yang sekarang ini. Beberapa kerumitan hidup pasti akan dijalani putranya, sementara untuk memberikan keputusannya saja kenapa Dizon harus berbelit-belit?


"Aku akan memutuskannya besok," jawab Dizon.


Olivia sangat lega. Keputusannya mungkin akan mendapatkan penolakan atau tidak, suaminya akan menjawabnya besok. Semoga saja tidak ada kendala lagi dalam hubungan yang baru dibangun ini.


...🍇🍇🍇...


Hai hai hai, selamat siang. Emak mau merekomendasikan karya keren sambil menunggu Emak update.


Yuk kepoin, jangan lupa berikan bintang, tap ❤ biar masuk rak favorit. Baca dan tinggalkan jejak like dan juga komentarnya untuk menambah semangat Author.


Gangster Dalam Diriku by Author Libra


Terima kasih. Miss you All... 😍😍😍


__ADS_1


__ADS_2