
Tanpa basa-basi, Helga lekas meminta Owen untuk secepatnya mengantar ke tempat Darsh. Ada berita penting yang akan disampaikan olehnya.
"Kamu tidak mau mengatakannya padaku?" tanya Owen.
"Tidak. Aku hanya akan menyampaikannya pada Darsh saja. Memangnya sekarang bagaimana hubunganmu dengan nenek sihir. Ehm, maksudku Willow."
"Kenapa kamu menyebutnya nenek sihir?"
"Karena dia itu jahat. Kurasa kamu pasti sudah terperdaya olehnya, bukan?"
"Dia istriku sekarang."
Deg!
Pada umumnya Owen akan merasa malu mengatakan hal ini pada orang lain, tetapi pada Helga nyatanya tidak.
"Kau pasti menyesal." Cuma itu yang bisa disampaikan Helga padanya.
Daripada pertengkaran berlanjut, lebih baik Helga diam. Pasalnya sebelum menuju ke kantor Darsh, Owen sengaja menggratiskan makanan yang dipesannya hari ini. Kalau tahu gratis, sebenarnya Helga ingin memesan lebih banyak dan mengajak teman-temannya. Namun, Owen sudah menyanggupi kalau lain hari Max sudah bebas, Helga bisa makan sepuasnya di Kafe miliknya.
DD Corporation. Perusahaan terkenal yang berkembang pesat, tetapi tidak semua orang tahu siapa CEO-nya. Mulai dari petinggi sebelumnya yaitu Dizon Damarion yang hanya dikenal sebagai CEO DD saja.
Helga agaknya sangat beruntung karena baru kali ini dia mengetahui CEO perusahaan itu. Sampai di tempat parkir, keduanya langsung turun untuk menemui resepsionis. Namun, Helga melarangnya.
"Kalau kamu tahu di mana ruangan Darsh, lebih baik kita ke sana sekarang." Ini jalan pintas yang sengaja diambil Helga agar tidak ada orang lain yang banyak tahu tentang dirinya.
Owen segera mengajak Helga untuk naik ke lantai atas. Melalui beberapa lorong sampai naik lift, Helga masih diam. Dia sedang berpikir apa yang akan disampaikan pada Darsh selanjutnya.
Tok tok tok.
Suasana lorong yang kebetulan mengarah ke ruang kerja Darsh cukup sepi. Sehingga Helga merasa cukup aman karena tidak diawasi siapa pun.
"Ya, masuk," jawab Darsh dari dalam. Dia mengira kalau yang mengetuk pintu adalah karyawannya. Namun, Darsh cukup terkejut ketika melihat Owen datang dengan seseorang.
__ADS_1
Deg!
"Darsh, maaf kami langsung ke sini tanpa memberitahukan resepsionis dulu." Owen merasa bersalah dalam hal ini.
"Tidak apa-apa. Aku tidak sedang sibuk juga." Darsh memandang wajah tertutup masker itu. Hanya matanya saja yang terlihat. "Duduklah di sofa."
Owen dan Helga langsung beralih ke sofa. Helga masih dalam diamnya.
"Kamu bawa siapa itu? Selingkuhan?" ucap Darsh. Darsh tidak tahu kalau sebenarnya itu adalah Helga.
"Jangan gila, Darsh! Dia ini Helga."
Deg!
Sebentar lagi semuanya akan berakhir mengenai kebusukan Willow.
"Apa kamu dapat kabar?" Darsh antusias mendekati Helga.
Jeduar!
Owen rasanya seperti dipukul dengan palu. Mendadak kepalanya pusing. Dia langsung lemas menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Owen, kamu baik-baik saja?" ucap Darsh.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Darsh. Semuanya sudah terlambat."
"Tidak ada kata terlambat untuk semua itu, Owen. Pilihanmu ada dua. Tetap bertahan atau melepaskan. Walaupun sama-sama akan kamu lalui dalam kesulitan. Namun, percayalah akan ada sesuatu yang indah setelah ini." Darsh meyakinkan sahabatnya itu agar tetap berpikir positif.
"Sebaiknya kita tunggu Max keluar dari penjara saja. Hanya tinggal beberapa bulan. Setelah ini, aku akan tinggal di tempat lamaku. Aku akan muncul bersamaan dengan kemunculan Max." Helga tidak bisa menghadapi Willow seorang diri. Seorang Max saja bisa kalah karena Willow memutar balikkan fakta. Tak masalah. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mereka bertahan sampai Max keluar.
"Kamu yakin akan aman, Helga?" tanya Darsh.
"Tentu saja. Aku bisa jaga diri dengan baik kok. Oh ya, kalau kalian membutuhkan kedatangan papanya Willow, kabari aku. Soalnya Livia ada bersamanya." Helga tidak malu lagi berbincang dengan Darsh.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau selama ini kamu--"
"Ya, Darsh. Aku terpaksa menjadi sugar baby papanya. Itu demi informasi yang kudapatkan. Kamu jangan khawatir. Asal aku mendapatkan bukti, sudah cukup. Untung saja ada Livia. Dia yang menolongku. Kami sempat bertukar tempat juga. Kamu jangan khawatir. Aku hanyalah memikirkan Max dan persahabatan kalian."
Darsh cukup terharu. Pernikahannya yang terancam oleh kehadiran Willow membuatnya yakin kalau dia tidak sendiri.
"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Owen. Dia sudah bisa menguasai keadaan dengan cukup baik.
"Kamu jangan pikirkan kami, Owen. Yang harus kamu pikirkan itu, kamu melanjutkan pernikahan ini atau menceraikanya? Pikirkan itu dengan baik." Darsh tidak mau karena masalah yang ditimbulkan Willow membuat sahabatnya kalut dan frustasi.
"Aku akan memikirkannya, Darsh. Helga, aku berterima kasih padamu. Kamu sudah berjuang banyak demi keutuhan persahabatan kami." Owen terharu melihat perjuangan wanita penggoda yang saat ini dekat dengan Max, sahabatnya. "Aku akan meminta maaf pada Max atas kesalahpahaman ini."
"Max pasti mengerti, Owen. Jangan pikirkan apapun, kecuali Kafe dan pilihan hidup. Mungkin pernikahanmu dengan Willow bukan sebuah kesalahan. Namun, bagaimana caramu untuk memperbaiki keadaan." Darsh sekali lagi berusaha mengingatkan Owen agar tidak salah jalan.
"Apa aku harus bertemu dengan mamamu dan kita bisa bicara untuk mengambil keputusan bersama. Bagaimana?"
"Sebaiknya jangan bertindak apapun untuk sekarang. Kita tunggu Max keluar baru bertindak. Bersabarlah!" Helga hanya ingin perjuangan semua sahabat kekasihnya itu tidak sia-sia.
Bukan hanya Owen saja yang sedang galau saat ini, tetapi Helga dan Darsh juga. Usahanya akan berhasil ketika sedikit bersabar lagi untuk menunggu kebebasan Max. Walaupun dalam perjalanannya, Willow menjadi batu sandungan.
Kesepakatan antara ketiga orang itu akhirnya menemukan titik terang. Mereka akan menunggu Max keluar dari penjara. Sementara Owen tetap kembali ke apartemennya untuk menjalani kehidupan seperti biasa dengan istrinya. Sebenarnya Darsh sudah memberitahukan kalau memang masih bisa dipertahankan, maka Owen akan mencoba mengendalikan istrinya. Jika tidak, terpaksa Owen akan melepaskannya.
"Aku akan ke rumah orang tuamu, Darsh. Aku akan berbicara dari hati ke hati. Jujur, sebenarnya aku tidak tega melepaskan Willow begitu saja. Bagaimanapun sikapnya itu hanya karena kesalahpahaman saja. Aku rasa bisa diperbaiki lagi," ucap Owen penuh keyakinan.
"Owen, semua orang bisa berubah. Kamu tahu aku, kan? Aku juga kotor, brengsek, pekerjaanku juga tidak bagus. Setelah aku menyadarinya, sekarang aku mau berubah. Kita tidak bisa hanya memandang dari sudut satu orang saja. Tapi, papanya memang berselingkuh dengan saudari mamanya. Mungkin itu penyebab kegilaan Willow selama ini. Kalau kamu sanggup, maka pertahankan. Jika tidak, maka lepaskanlah." Semenjak Helga bersama Max, perilakunya mulai berubah.
Terkadang di masa lalunya buruk, tetapi seiring perjalanan waktu orang bisa berubah. Kadang, sikap buruk orang terdekat kita mampu mengubah segalanya. Dari perangai baik bisa jadi lebih buruk, bahkan sebaliknya. Willow bukan sepenuhnya salah dari dirinya sendiri, tetapi ada masalah dari keluarganya. Ketiga orang ini bertekad untuk memperbaiki keadaan.
...🍃🍃🍃...
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 🙏❤️
__ADS_1