
Beberapa hari menginap di rumah mertuanya, Darsh memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia sengaja meninggalkan anak dan istrinya di sana. Sebelum sampai ke rumahnya, dia mampir ke Kafe milik Owen.
Darsh tidak mungkin menceritakan apapun pada sahabatnya itu. Setidaknya, dia tahu kabar terbaru Owen. Apakah baik-baik saja dengan istrinya, atau ada masalah lain yang selama ini tergambar jelas dalam bayangannya?
"Tumben kamu ke sini, Darsh?" tanya Owen yang kebetulan mengetahui kedatangan sahabatnya.
"Kebetulan aku mampir. Mau pulang ke rumah orang tuaku sebentar."
"Glenda di mana?"
"Dia masih rindu orang tuanya."
"Oh," jawabnya.
"Kenapa hanya oh saja?"
"Kamu sangat beruntung memiliki Glenda. Dia cantik, bertanggung jawab, dan bahkan kalian sudah memiliki anak. Jujur, rasanya aku iri padamu. Glenda wanita sempurna dan kehidupan kalian juga sempurna."
Darsh terdiam menatap sahabatnya. Sebenarnya Darsh ingin mengatakan hal sepenting ini padanya, tetapi dia mengurungkan niatnya. Semakin sedikit yang tahu, maka semuanya akan baik-baik saja.
"Jangan seperti itu, Owen. Semuanya sudah dibagi sedemikian rupa. Bersabarlah! Kamu akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya."
Owen terdiam. Dia merasa kalau pernikahannya dengan Willow adalah sebuah kesalahan. Bahkan, beberapa hari ini dia tinggal di hotel untuk sementara waktu.
"Kamu mau minum apa?"
"Apapun minuman yang terbaik dari Kafe-mu."
Owen kembali untuk meminta minuman pada pelayannya. Setelah itu dia lebih memilih untuk masuk ke ruangannya dan mengecek ponselnya. Tak ada pesan apapun yang didapatkan. Padahal dia berharap mendapatkan pesan itu dari sang istri.
"Kosong. Sepertinya kamu main-main denganku, Willow. Aku sudah memberikan segalanya padamu, tetapi kamu kecewakan aku seperti ini. Kamu malah jatuh cinta pada sahabatku sendiri."
Selepas mengungkapkan perasaannya sendiri, Owen kembali pada sahabatnya. Dia memang tidak menaruh curiga pada Darsh karena meyakini kalau sahabatnya itu tidak akan tertarik pada istrinya.
"Darimana?" tanya Darsh yang melihat mimik muka Owen tak terlihat baik. "Apa yang sedang mengganggu pikiranmu? Bahkan, sampai pelayan mengantarkan minumannya, kamu tidak kelihatan."
Owen baru saja duduk. Dia ragu untuk menceritakan masalahnya. Namun, dia juga tidak ingin menyimpan kesalahpahaman ini terlalu lama.
"Darsh, apakah kamu mau mendengarkan masalahku?" tanya Owen. Dia berharap sahabatnya kali ini bisa mengerti posisinya.
__ADS_1
Sebenarnya Darsh juga ingin memberitahukan kabar itu, tetapi apakah ini pantas untuk menambah kesulitannya?
"Katakan saja, Owen. Mungkin aku bisa memberikan solusinya."
"Aku memberikan kesempatan selama seminggu agar Willow mau berubah."
Deg!
Kurasa Owen sedang tidak baik-baik saja. Batin Darsh.
"Aku tahu dia tidak sepenuhnya mencintaiku. Lebih tepatnya tidak sama sekali. Kurasa kamu juga tahu itu," ucapnya lagi.
"Jadi, kamu mengetahuinya?" tanya Darsh yang seolah tahu ke mana arah pembicaraannya.
"Ya, kamu benar. Aku memang sengaja memancingnya agar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku menyadari ketika berada di rumahmu dan aku berinisiatif untuk membawanya ke kantor."
"Kurasa ada yang salah dengan pernikahan kalian. Aku minta maaf padamu, Owen. Jujur, ada hal besar yang disembunyikan istrimu itu." Darsh terpaksa mengatakan hal ini.
"Kamu tahu sesuatu?" Owen semakin penasaran. Selain ungkapan cinta Willow pada Darsh, entah apalagi yang disembunyikannya.
"Tidak sekarang. Kalau ada hal yang mencurigakan tentang istrimu itu, katakan padaku!"
"Mana mungkin aku tahu, Darsh. Aku menginap di hotel untuk beberapa waktu."
"Entahlah, Darsh. Aku tiba-tiba emosional padanya. Semenjak aku tahu kalau dia mencintaimu, rasanya aku seperti ABG labil yang akan melepaskan kekasihnya."
Darsh mengambil minuman sembari mendengarkan sahabatnya mengungkapkan seluruh isi hatinya.
"Owen, apa kamu merencanakan sesuatu?"
"Sebenarnya ini sangat bertentangan dengan prinsip keluargaku, Darsh. Kami menikah sekali seumur hidup. Kurasa kamu pun sama denganku. Namun, akhir-akhir ini aku sadar kalau Willow mulai berubah. Sepertinya dia sangat ambisius untuk mendapatkanmu."
Deg!
Rupanya tak hanya Darsh yang menyadari akan hal itu. Owen pun merasakan hal yang sama.
"Boleh aku mengatakan hal ini padamu? Namun, apakah kamu juga merasakan hal yang sama denganku? Kejadian di apartemenmu kala itu, apakah kamu percaya kalau Max yang melakukannya? Maksudku, apa kamu percaya kalau Max tersangkanya?" ucap Darsh lirih.
Owen tentu saja terkejut. Jelas waktu itu Max memegang pisau di tangannya dan dia juga bersimbah darah. Namun, yang paling parah adalah Willow. Dia sampai mengeluarkan banyak darah dan harus dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Aku tidak paham dengan ucapanmu, Darsh. Jadi, menurutmu itu ulah Willow yang sengaja mengkambing hitamkan Max begitu?"
Darsh cukup mengangguk.
"Lalu, apa tujuannya?"
"Aku tidak tahu. Lebih baik kamu kembali ke apartemen. Mungkin saja kamu bisa mendapatkan petunjuk di sana."
Darsh tidak akan mengatakan pengakuan Willow kalau memang dia sengaja melakukan itu pada sahabatnya. Biarkan Owen bersikap senatural mungkin dengan membawa dirinya sendiri tanpa kepikiran apa yang sebenarnya terjadi.
"Petunjuk apa maksudmu?"
Baik Darsh maupun Owen semakin mengecilkan suaranya. Takut kalau ada orang disekitarnya yang semakin penasaran pada pembicaraannya. Jangan sampai ada yang menguping dan membocorkan rahasia ini pada Willow.
"Aku juga tidak tahu, Owen. Kurasa kamu harus hati-hati dengannya."
Owen masih bingung. Sebenarnya ada misteri apa yang sedang Darsh sembunyikan?
"Bisakah kamu memberitahuku?" pinta Owen.
"Helga menghilang. Kurasa dia dan Max mengetahui segalanya."
Bagai disambar petir. Owen mengingat kejadian di apartemennya beberapa bulan yang lalu. Cukup jelas kalau Max yang sedang memegang pisau itu dengan berlumuran darah.
Tunggu! Kalau Max tidak salah lalu, kenapa dia tidak memberikan pembelaan? Dia juga menjalani hukumannya. Aku bahkan sangat membencinya kala itu, tetapi sekarang mengapa rasanya berbeda? Kenapa seolah ada misteri lain yang aku tidak tahu? Sebenarnya apa yang Darsh ketahui tentang semua ini? Batin Owen mulai bergejolak.
"Jujur, semenjak Max dipenjara. Aku tidak mau lagi mengingat tentangnya. Aku marah dan bahkan sangat membencinya. Apalagi mengingat perlakuan Max pada Willow sebelum kejadian itu. Kurasa sepertinya Max memiliki kepribadian ganda. Terkadang baik, kadang juga seperti orang yang tidak kukenal." Owen mengungkapkan kegalauannya selama ini.
"Ehm, kalau pada akhirnya Max memang terbukti tidak bersalah, apakah kamu akan memaafkannya?"
"Tentu saja. Aku merasa bersalah padanya kalau memang kejadian waktu itu hanya sebuah pengalihan saja. Namun, aku bingung. Apa yang ingin dicapai Willow sebenarnya? Dan, mengapa Max tidak menyangkal tuduhan itu?"
Bukan hanya Owen, bahkan Darsh pun juga tidak tahu. Perlahan semua fakta akan terbongkar seiring perjalanan waktu. Darsh tinggal menunggu kehadiran Helga yang sepertinya juga tahu segalanya.
"Kita sama-sama tidak tahu, Owen. Selanjutnya, apa yang akan kamu lakukan pada Willow?" Pertanyaan ini cukup penting. Alasannya adalah agar Darsh tahu apa yang dipikirkan Owen saat ini.
Owen diam. Dia sebenarnya tahu apa yang akan dilakukan pada istrinya itu. Namun, dia masih ragu. Terkadang ada sebuah kesalahan yang memang masih bisa dimaafkan untuk diberikan kesempatan lagi. Jika memang nantinya kesalahan Willow tak bisa termaafkan, maka solusi terakhir, Owen akan menceraikanya.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya