
Seminggu sebelum hari H pernikahan, di rumah Darsh sudah terlihat sibuk sekali. Bukan karena mempersiapkan pernikahan putranya, tetapi sarapan pagi yang sedikit terlambat. Olivia sedikit kurang sehat. Biasanya dia yang menyiapkan sarapan pagi, tetapi untuk hari ini semua pelayan bekerja keras menyiapkannya. Olivia hanya memberikan rincian makanan apa saja yang perlu disiapkan.
Walaupun tinggal di negara H, Olivia tak melupakan masakan dari negara I, negara tempat tinggal mertuanya. Itulah sebabnya pelayan di negara H belum terbiasa menyiapkannya.
"Ma, istirahat saja. Pernikahan Darsh seminggu lagi loh," ucap Darsh yang baru saja duduk di kursi meja makan.
"Iya, Darsh. Setelah sarapan pagi, Mama akan beristirahat. Oh ya, tante Kayana bilang kalau kamu harus sampai di sana dua hari sebelum pernikahan. Mungkin untuk fitting baju dan beberapa persiapan lainnya. Sampaikan pada Glenda juga," jelas Olivia.
"Maksud Mama, Darsh boleh berangkat bersama Glenda?" tanya Darsh.
"Boleh saja kalau Glenda mau."
"Baiklah, Ma. Aku akan meminta Frey untuk memesankan tiket pesawat untuk beberapa hari lagi."
Pembicaraan terhenti karena papanya sudah bergabung dengan mereka di meja makan. Dizon juga tahu kalau kondisi istrinya sedang tidak sehat.
"Kita berangkat ke rumah Mama satu hari sebelum hari H pernikahan Darsh. Aku mau selesaikan urusan kantor dulu. Setelah itu, Darsh akan cuti selama beberapa hari," jelas Dizon.
"Iya, Pa. Aku ingin istirahat di rumah sampai beberapa hari ke depan. Supaya hari H pernikahan Darsh aku sudah bisa kembali sehat."
Darsh langsung menikmati sarapan pagi. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Dia mengirim pesan dulu pada Glenda.
[Kirimkan identitasmu. Penerbangan tiga hari lagi. Persiapan fitting gaun.]
Benar-benar pesan yang kaku, bukan? Itulah Darsh. Selesai mengirim pesan, dia kembali ke meja makan untuk berpamitan.
"Ma, Pa, Darsh berangkat ke kantor, ya," pamitnya.
"Hati-hati, Darsh," balas Olivia.
...🍅🍅🍅...
Ruangan kantor Darsh Damarion sudah bersih. Baru saja OB membersihkannya. Mereka punya jadwal kerja lebih pagi sebelum CEO mereka datang.
Darsh baru saja sampai disusul Frey yang datangnya hampir bersamaan. Keduanya selalu menjadi pemandangan yang menarik untuk dilihat seluruh karyawan DD Corporation.
__ADS_1
Ruangan Frey memang dibuatkan khusus yang letaknya tak jauh dari ruang CEO. Namun, Frey selalu bekerja di ruangan Darsh.
Pagi ini ada pemandangan yang tidak biasa dilihat Frey pada sahabatnya. Wajahnya terlihat sedikit ditekuk. Darsh memang sedang memikirkan dirinya yang beberapa hari lagi akan menyandang status sebagai seorang suami. Dia bingung karena ini merupakan pertama kalinya. Dia juga belum tahu harus bersikap seperti apa pada Glenda.
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa? Rasanya sangat aneh sekali.
Darsh menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia menutup matanya untuk beberapa saat. Bayang-bayang gadis itu terlihat jelas dipelupuk matanya. Demi mewujudkan keinginan grandmanya, Darsh nekat mengambil keputusan yang serba mendadak ini.
"Darsh, kamu kenapa?"
Mendapatkan pertanyaan dari Frey bukan malah menjawabnya langsung. Dia malah mengambil ponselnya yang diletakkan di meja ketika datang. Tak ada pergerakan yang terlihat di layar ponselnya.
"Darsh, aku bertanya padamu. Kenapa kamu diam?" tanya Frey lagi.
"Aku ingin meminta tolong padamu untuk memesankan dua tiket pesawat ke negara I, tetapi aku harus menunggu identitas satunya."
"Memangnya untuk kapan?"
"Tiga hari lagi," jawab Darsh. Dia masih memperhatikan ponselnya. Dia menunggu pesan balasan dari Glenda yang tak kunjung datang.
"Agak siang tak masalah, Darsh. Kamu mau penerbangan siang atau malam?"
"Kamu atur saja. Mau siang atau malam terserah."
Kalau sudah seperti ini, Frey tentu saja bingung. Kalau tidak sesuai dengan keinginan Darsh, dia takut mengecewakan atasannya itu.
"Oh ya, sekalian kamu pesankan untuk penerbangan esok harinya untukmu dan semua sahabat kita. Pastikan cari penerbangan yang bisa berangkat bersama. Rundingkan dulu dengan mereka."
Penerbangan beberapa hari lagi? Ada hal yang tidak diketahui oleh Frey. Pernikahan Darsh memang dipercepat dan Frey maupun sahabatnya belum tahu sama sekali.
"Ini apa maksudnya, Darsh? Penerbangan pertama yang untuk dua orang itu siapa saja? Dan, hari berikutnya kita menyusul? Maksudnya apa ini?"
"Pernikahanku dipercepat."
Frey melongo mendengar jawaban yang cukup singkat dan sudah mewakili seluruh isi pertanyaannya. Dia pikir masih tiga minggu lagi pernikahannya, rupanya malah kurang seminggu lagi.
__ADS_1
"Jadi, beberapa hari lagi kamu akan berangkat dengan calon istrimu?" selidik Frey.
"Iya, Frey. Aku harus fitting gaun bersamanya. Tanteku desainernya. Oh ya, aku lupa, maksudku Mommynya Jillian yang menjadi desainer untuk pernikahanku."
Darsh memang sengaja mengucapkan nama itu agar Frey juga menyadari kalau gadis itu sudah berada di hatinya atau belum. Beberapa hari lagi, bukan hanya Darsh yang akan merasakan kebahagiaan, tetapi juga Frey yang akan bertemu lagi dengan Jillian.
"Ehm, apakah kami akan menginap di rumah keluargamu?"
"Tentu saja. Pernikahanku pun akan digelar di sana. Memangnya kenapa? Apa kamu ingin mendekati adik sepupuku itu?" goda Darsh.
Darsh memang mau menikah, tetapi dia senang sekali menggoda orang lain untuk mengurangi rasa gugupnya. Tidak bisa dipungkiri, semakin mendekati hari H, rasanya sangat aneh.
Frey tidak bisa mengatakan apapun. Biasanya kalau Darsh sudah mengatakan seperti itu, tandanya sedang menguji Frey.
Beberapa menit kemudian, ponselnya Darsh baru mendapatkan jawaban tentang identitas Glenda. Tak menunggu lama, Darsh mengirimkan dua data itu ke ponselnya Frey untuk memesan tiket pesawat.
Tring.
Frey mengambil ponselnya. Dia menatap tidak percaya kalau calon istri sahabatnya itu masih sangat muda. Gadis beruntung itu sangat cantik di dalam kartu identitasnya, lalu bagaimana kalau bertemu secara langsung? Dia pasti sangat cantik sekali.
"Wah, Darsh, rupanya kakak ipar sangat cantik, ya? Inikah gadis yang sudah membuatmu tertarik?"
Darsh hanya mengangguk. Memang kenyataannya seperti itu. Tak ada gadis lainnya yang mampu membuatnya tertarik kecuali Glenda. Frey teringat sesuatu. Wajah gadis itu memang tidak asing. Dia berusaha mengingatnya.
Wajahnya sangat tidak asing. Aku lupa pernah bertemu gadis ini di mana.
"Kamu bertemu di mana? Kulihat wajahnya sangat tidak asing."
"Tentu saja. Dia pelayan restoran ZA," jelas Darsh.
"What? Kamu serius akan menikah dengan pelayan restoran? Kamu gila, Darsh! Bagaimana kalau sahabat kita tahu kalau seleramu turun seperti itu?"
Otomatis Frey mengomentari calon istrinya Darsh bersamaan dengan rasa terkejutnya. Namun, Darsh menanggapinya biasa saja. Toh, Glenda sebenarnya anak dari pemilik restoran itu.
"Memangnya kenapa kalau aku memilih pelayan restoran? Toh dia jauh lebih baik daripada gadis-gadis penggoda itu. Benar begitu, kan?"
__ADS_1
Darsh sangat membela calon istrinya. Walaupun sebenarnya dia pelayan restoran asli dan bukan anak dari pemilik restoran pun, Darsh akan menerimanya tanpa melihat status sosialnya. Kali ini, Darsh memang sangat beruntung. Selain karena Glenda hanya menyamar sebagai pelayan, keluarganya sudah dekat dengan orang tuanya.