Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Darsh Meradang


__ADS_3

Acara ulang tahun putra putri Darsh beberapa hari yang lalu meninggalkan kesan lucu dan akan terkenang selamanya. Pasalnya beberapa sahabat daddynya juga datang. Setelah acara itu usai, keempat sahabat ini berjanji akan bertemu seperti dulu. Ya, lebih tepatnya meluangkan waktu sejenak untuk sekadar mengobrol demi mengenang masa lalu.


Base camp yang cocok memang di tempat Owen. Sebuah Kafe yang berhasil menjadikan Owen pebisnis muda yang sukses, tetapi tidak sesukses kehidupan cintanya.


"Sayang, sore ini kamu jadi pergi ke Kafe Owen?" tanya Glenda yang sedang bermain dengan kedua anaknya.


"Iya. Sudah lama kami merindukan kebersamaan ini. Apa kamu mau ikut?"


"No, Dad!" teriak Willy. Dia tidak suka kalau daddynya mau pergi. Walaupun pemahamannya tentang daddynya yang entah akan kemana, tetapi mendengar kata 'ikut', sudah dipastikan kalau daddy atau mommynya akan pergi.


Darsh berjongkok untuk mengelus puncak kepala Willy. Dia berusaha merayu putranya.


"Daddy hanya pergi ke tempat kerja Om Owen. Apakah Willy mau ikut?"


Pemikiran Willy mengenai tempat kerja adalah tempat bermain yang berisi ribuan mainan sehingga dia betah berada di dalamnya.


"Yea," jawabnya singkat.


"Kurasa Willy mengira kalau itu tempat bermain," sahut Glenda.


"Ya, sebaiknya mereka ikut," ucap Darsh akhirnya. Dia tidak mungkin membiarkan kedua anaknya kesepian. Padahal, Darsh sendiri yang tidak bisa berpisah dari anak-anaknya.


"Kamu yakin, Darsh? Willy dan Welenora pasti membuat keributan di sana."


"Tidak masalah. Kita minta Owen menyiapkan ruangan khusus saja. Ya, setidaknya Willy bisa sepuas hatinya berbuat usil. Aku akan mengabari Max supaya membawa istrinya."


Kesepakatan sudah dibuat. Yang paling excited di sini adalah kedua anak kembarnya. Welenora sebenarnya paling cuek untuk mengikuti ke manapun mom dan dadnya pergi. Namun, melihat keinginan Willy semakin membuat gadis kecil itu antusias.


Kafe Owen tepat jam empat sore hari. Sepasang suami-istri yang tidak lagi ditemani baby sitter melainkan dua anak kecil yang baru saja turun dari mobil sudah terlihat antusias untuk masuk. Seperti sepasang anak yang paham akan situasinya.


"Ayo, Sayang," ajak Darsh pada anak-anak dan istrinya.


Glenda menggandeng kedua anak-anaknya. Untuk pertama kalinya, kedua balita kembar itu masuk ke sebuah Kafe yang selalu ramai itu. Walaupun tangannya bergandengan dengan mommynya, matanya tetap ke sana ke mari memandangi hal yang baru dilihatnya.


Owen sudah menyambutnya di pintu masuk sehingga membuat anak-anak itu langsung melepaskan genggaman mommynya.


"Willy! Welenora! Tunggu Mommy!" teriak Glenda sehingga menjadi pusat perhatian pengunjung Kafe. Wanita muda yang cantik dengan dua anak kembarnya memasuki Kafe.


Banyak pasang mata yang takjub dengan pemandangan tersebut. Namun, rupanya kedua balita itu tidak membuat rusuh. Mereka hanya berkeliling melihat-lihat tempat baru yang dikunjunginya.

__ADS_1


Tak beberapa lama, Max datang bersama istrinya, Helga. Kemudian disusul Frey yang berada tepat di belakangnya. Mereka menempati ruangan khusus yang sudah dipesan Darsh sebelumnya.


"Tumben di ruangan ini?" tanya Max.


"Ada bos kecil. Kurasa mereka nyaman berada di sini," ucap Darsh.


"Halo, anak-anak. Ayo ke sini! Aunty ingin sekali gendong kalian," ucap Helga mendekati kedua balita itu.


"Cie, apakah proses produksinya belum berhasil?" sindir Darsh. Tentu saja celetukan itu bukan tanpa sebab karena pernikahan mereka sudah berjalan selama dua bulan.


"Kau ini, Darsh! Semua butuh proses," jawab Max.


"Iya, sabar. Semuanya butuh proses," sahut Glenda.


"Nah, kakak ipar benar. Kami bersabar, kok," sahut Helga yang berhasil merayu Willy. Welenora melengos saja. "Oh ya, kenapa hanya Willy yang mau ikut? Keduanya berbeda, ya?"


Darsh maupun Glenda mengangguk.


"Ya, Welenora mengikuti sikap dingin Daddynya," jawab Glenda.


"Bakalan susah menaklukkan gadis model Welenora," sahut Frey.


"Jangankan Welenora, kamu masih berutang banyak penjelasan pada kami soal Mezzaluna," sahut Owen yang baru datang diikuti oleh pelayan yang membawa beberapa makanan dan minuman.


Mereka semua terdiam. Tak ada satupun yang berani mengatakan masalah Willow. Itu haknya Owen.


"Dad, dad," teriak Willy, balita paling usil.


"Ya, Sayang." Darsh fokus menemani putranya, sementara Welenora bermain sendirian.


Dari rumah, Glenda sengaja membawakan mainan untuk kedua balitanya itu.


Sementara Frey, Max, dan Owen melanjutkan obrolan mereka. Termasuk Helga yang sudah menurunkan Willy dari gendongannya.


"Willow sudah tiada," jawab Owen.


Deg!


Hanya Frey saja yang terlihat heran dengan kabar ini. Selama beberapa bulan bekerja di tempat Darsh, tak sedikit pun bosnya itu menceritakan masalah Willow.

__ADS_1


"Kenapa Darsh tidak pernah menceritakan hal itu padaku?" protes Frey.


"Karena aku tidak berhak menceritakannya," sahut Darsh. Dia meninggalkan kedua anaknya bersama mommynya yang sedang berjalan-jalan di luar Kafe.


"Maafkan aku, Darsh," ucap Frey akhirnya.


"Lalu, kenapa kamu mendadak kembali ke sini? Mezzaluna di mana?" tanya Owen.


"Hubungan kami berakhir. Mezzaluna dijodohkan dengan pria lain oleh keluarganya. Sebenarnya gadis itu menolak, tetapi aku tidak bisa berbuat banyak karena keluarganya sengaja memisahkan kami," terang Frey.


"Jadi, itu alasannya kamu kembali ke sini," tanya Max.


"Ya, Max. Aku minta maaf karena tidak tahu kalau kamu berada di penjara. Sekali lagi, maafkan aku, Max."


"Tak masalah, Frey. Semuanya sudah berakhir," jawab Max.


"Harusnya kalian mencoba move on. Bukan begitu?" usul Helga.


"Ya, kamu benar, Helga. Kehidupan cintaku tak pernah mulus," kata Frey.


"Apapun itu, seharusnya kalian memikirkan untuk move on daripada bertahan dengan luka lama. Tak akan baik nantinya," terang Helga lagi. Dia berusaha membuat Owen untuk memikirkan masa depannya pasca kehilangan Willow. Ini merupakan kesepakatan antara Max dan dirinya. Jadi, Max tidak akan cemburu.


"Bukan Owen saja, kamu juga, Frey," ucap Darsh. "Apa kalian tidak mau memiliki anak-anak lucu seperti Willy dan Welenora?"


"Kau itu selalu pamer, Darsh. Aku juga sedang berusaha untuk mendapatkannya. Kalau anakku perempuan, kita besanan, yah?" ucap Max.


"Kamu mau aku melamar anakmu untuk Willy?" tanya Darsh.


"Tentu, Darsh. Willy tampan sepertimu. Setidaknya, tidak mendapatkan daddynya, kita bisa besanan, kan?" sahut Glenda yang disusul gelak tawa semua yang ada di sana.


"Tidak bisa. Mana mau aku besanan dengan kalian," sahut Darsh dengan candanya. Dia mengingat penolakan Jillian pada sahabatnya, Max.


"Kalau begitu, biarkan Welenora untukku, Darsh," sahut Frey.


"Untuk anakmu? Cari calon istri dulu," sahut Owen.


Rasanya kedua balita itu menjadi rebutan di masa kecilnya. Bagaimana kalau nantinya mereka sudah dewasa? Daddynya saja menjadi incaran para gadis.


"Ya bukan untuk anakku, tetapi untukku," jawab Frey.

__ADS_1


"Kamu gila, Frey! Mana mau aku punya mantu bujang lapuk sepertimu. Yang ada aku bisa runyam tiap hari melihat putriku tersiksa. Tidak bisa. Cari wanita yang seumuran denganmu. Atau, kalau kamu tidak mau, cari saja janda atau apalah asal bukan anakku!" Darsh meradang.


Beberapa yang ada di sana menertawakan Darsh dan Max. Segitu putus asanya Frey sampai mau menunggu Welenora yang baru berusia dua tahun. Rasanya menggelikan sekali melihat sikap Frey barusan sampai harus membuat Darsh kesal padanya.


__ADS_2