Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Kejutan Istimewa


__ADS_3

Selepas dari makam, semuanya sudah berada di mobilnya masing-masing. Tujuannya sekarang ke bandara. Walaupun masih pagi, seenggaknya mereka tidak akan langsung terbang dengan pesawat yang sudah disewanya. Perlu pengecekan data diri, paspor, dan lain-lain.


Tepat jam 10, mereka akhirnya berangkat dengan menggunakan pesawat menuju negara H. Dua jam lagi mereka akan segera tiba di bandara negara tersebut. Ini merupakan liburan pertama naik pesawat yang hanya dinaiki oleh semua anggota keluarga. Rasanya sangat menyenangkan.


...***...


Dua jam kemudian, pesawat telah tiba di bandara Internasional negara H. Ada sesuatu yang sangat berbeda untuk Darsh kali ini. Dia akan memberikan kejutan pada orang tuanya dengan membawa pasukan sebanyak ini. Bisa jadi, papa atau mamanya pasti terkejut luar biasa.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu mengabari mama kalau kita sudah sampai di bandara? Ya, setidaknya mobil jemputan akan datang ke sini," ucap Glenda.


"Jangan. Kita tidak akan menggunakan mobil jemputan. Daddy akan menyewa mobil di bandara saja," sahut Vigor.


"Dad, aku khawatir kalau mama mertua akan kerepotan." Glenda kasihan setelah mengurus bayinya, tiba-tiba kedatangan tamu sebanyak ini.


"Jangan khawatir. Kalau mama mertuamu repot, Daddy yang akan memanggil pelayan restoran untuk mengantarkan makanan. Percayalah!" Vigor ingin agar Dizon mendapatkan kejutan ini. Ya, setidaknya untuk hiburan tersendiri baginya.


"Ayo, lekaslah! Aku sudah memesan tiga mobil." Sean muncul tepat di belakang Vigor.


"Nah, ayo lekaslah!" Vigor menarik koper bersama semua pria anggota keluarga lainnya.


Butuh waktu setengah jam sampai semuanya benar-benar masuk ke dalam mobil. Sebelumnya, baby Gavino rewel sekali setelah turun dari pesawat. Mungkin saja di tempat baru yang masih asing baginya. Sepanjang perjalanan, ini baru pertama kalinya bagi Sean berniat berkunjung ke tempat Dizon.


"Sayang, apa kamu yakin tidak akan ribut dengan papanya Darsh?" tanya Callista.


Mengingat masa lalunya, tentu saja setiap bertemu selalu saja ribut. Namun, satu hal yang perlu diingat bahwa semuanya mungkin sudah berubah karena sekarang keduanya sudah memiliki cucu.


"Mana mungkin ribut, Sayang. Kami sudah menjadi kakek-kakek sekarang. Lihatlah Gavino," pungkas Sean.


Callista hanya tersenyum, tetapi di lubuk hatinya yang paling dalam, Callista tidak yakin kalau mereka akan akur.


Satu kata untuk hubungan suamiku dan Dizon, mustahil untuk rukun. Batin Callista.


Membelah jalanan padat negara H untuk menuju kediaman Dizon, ketiga mobil beriringan. Sebenarnya jarak tempuh dari bandara ke rumah Dizon lumayan melelahkan.


Di mobil lain yang dinaiki Vigor dan anggota keluarganya, termasuk Willow dan Owen juga berada di dalam mobil yang sama. Vigor nampak sedang memikirkan sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi.

__ADS_1


"Honey, kenapa kamu cemas?" Zelene tidak mampu melihat kecemasan berlebihan pada raut wajah suaminya.


"Aku kepikiran tentang Dizon dan Sean, Ze. Kamu tahu kan kalau kakak ipar dan Dizon hubungannya tidak pernah baik. Kurasa, Dizon pasti akan terkejut melihat kedatangan Kak Sean."


Darsh dan Glenda berusaha mencerna ucapan Daddy Vigor. Sebenarnya banyak rahasia yang belum terlihat jelas. Hubungan masa lalu papa Darsh dan Om-nya Glenda memang belum terlalu diketahui. Termasuk hubungannya dengan Willow. Sedikit yang mereka tahu, Willow adalah anak dari mantan istri Om Sean dengan pria lain.


"Honey, jangan terlalu dipikirkan. Kak Olivia pasti bisa mengatasinya. Percayalah, Dizon pasti senang kita semua berkumpul."


"Dad, kenapa aku tidak pernah tahu cerita ini?" ucap Darsh. Walaupun hubungannya dengan sang papa tidak begitu dekat, Darsh tidak pernah mengetahui kisah masa lalu orang tuanya.


"Justru pertemuan kami ini akan membuka tabir masa lalu kisah orang tua kalian. Percayalah, ada sesuatu yang menyesakkan dada dan ada juga yang membuatmu tertawa sampai lupa diri. Percayalah!" jelas Vigor.


Penasaran? Tentu saja. Bagaimana mungkin daddy mertuanya itu mengatakan hal-hal yang membuatnya semakin penasaran.


Lain lagi di mobil Felix dan Kayana. Mereka nampaknya akan menjadi bintang tamu yang paling penting.


"Kamu tahu, sebentar lagi akulah bintang utamanya." Felix menyimpan rahasia ini dengan sangat rapat.


"Apa maksud Daddy?" tanya Jillian penasaran.


"Ya, perjodohan Kak Dizon dan istrinya adalah ulah kami bertiga. Aku, Kak Sean, dan mertuanya Darsh, Vigor. Sampai sekarang Kak Dizon maupun Kak Olivia tidak tahu."


"Tunggulah pengakuan mertua Darsh. Kita tunggu respon yang akan diberikan Kak Dizon setelah itu. Aku takut saja kalau kakakku akan marah."


"Dad, apakah itu sangat fatal, Dad?" Jillian berusaha mengumpulkan puzzle cerita yang membingungkan.


Felix tidak melanjutkan pembicaraan mana kala salah satu mobil berhenti dan dua mobil lainnya pun ikut berhenti. Rupanya Sean dan Callista mampir ke toko buah yang kebetulan ditemuinya saat lewat.


"Kalian duluan saja. Kami mampir sebentar," ucap Sean.


Mereka tetap menunggu Sean selesai berbelanja. Datang ke rumah Dizon tanpa membawa oleh-oleh rasanya hambar. Entah, nanti apa respon Dizon saat bertemu dengannya. Apakah masih angkuh atau sudah mencair seiring menuanya mereka?


Tak lama, sopir yang membawanya memasukkan beberapa parcel buah-buahan ke bagasi. Setelah itu perjalanan berlanjut diikuti dua mobil lainnya. Tak susah untuk menemukan alamatnya karena Zelene sudah memberikan alamat lengkap besannya itu pada sang kakak.


Rumah dengan halaman yang luas. Kini, ketiga mobil itu sudah berada di sana. Terparkir rapi karena mereka harus menurunkan semua barang terlebih dahulu.

__ADS_1


Darsh lebih dulu masuk ke rumahnya disambut oleh Olivia.


"Darsh, kamu sudah pulang?" Tentu saja Olivia terkejut. Seharusnya masih beberapa hari lagi Darsh dan istrinya pulang. "Mana Glenda?" Semenjak pagi, kedua bayi kembarnya sangat rewel.


"Papa di mana, Ma? Ada tamu spesial yang ingin bertemu dengannya."


Olivia hanya tahu ada mobil masuk lebih dari satu. Namun, Olivia tidak tahu kalau mereka orang-orang di masa lalunya.


"Papa ada di kamar. Dia pulang dari kantor karena sudah menyelesaikan beberapa pekerjaanmu."


"Baiklah, aku akan mengambil dua bayiku. Mama tolong panggilkan papa sekarang."


"Baiklah."


Darsh lekas meminta dua baby sitter-nya untuk menjaga dua bayinya untuk sementara waktu.


"Tolong jagalah dua bayiku itu. Aku masih ada tamu. Sebentar lagi istriku akan ke sini," ucap Darsh.


"Baik, Tuan."


Darsh lekas kembali ke depan untuk meminta semua orang masuk. Dia juga memanggil istrinya lekas menemui dua bayinya.


"Apakah bayi kita rewel?" ucap Glenda.


"Lekaslah ke kamarnya. Kurasa mereka merindukanmu," perintah Darsh.


Bersamaan dengan itu, Glenda yang baru masuk berpapasan dengan papa mertuanya yang baru saja keluar.


"Ada tamu siapa, Glenda?" tanya Dizon.


"Teman-teman papa," jawab Glenda sembari meninggalkan mertuanya karena harus menemui kedua bayinya.


Menginjakkan kakinya di ruang tamu, tatapan mata Dizon beradu dengan seseorang.


Deg!

__ADS_1


Ingatannya kembali ke masa silam. Tak butuh waktu lama, Dizon sudah bisa mengenali siapa saja yang hadir di sana. Pandangannya tetap tertuju pada salah satu dari orang-orang itu.


Bagi sebagian orang yang ada di ruang tamu yang sangat luas itu merupakan kejutan yang istimewa untuk tuan rumah. Namun, entah tanggapannya akan seperti apa yang diterima empunya rumah yaitu Dizon. Akankah dia masih bertengkar dengan Sean seperti di masa lalunya? Atau sudah berdamai karena usianya yang tak lagi muda?


__ADS_2