
"Aku bingung, Willow. Sebenarnya di Kafe, semua karyawanku sudah penuh dan aku belum berniat merekrut karyawan baru lagi."
"Ehm, pekerjaan apapun akan kuterima. Mungkin menjadi office girl di kantor temanmu atau apalah. Aku tidak akan menolaknya. Setidaknya aku memiliki pemasukan," ucapnya penuh harap.
Max pasti tidak akan membiarkan gadis ini hidup bebas sebelum dia mendapatkan uangnya kembali. Kalau bekerja di perusahaan Darsh, kurasa itu bukan tempat yang tepat. Dia pasti akan terus pulang pergi. Sementara di jalan, ada kemungkinan dia akan bertemu dengan Max.
Owen bingung. Namun, dia bukan lelaki bejat yang tiba-tiba melakukan hal buruk pada gadis itu. Mengingat dia selalu menjaga siapa pun wanitanya. Bahkan, dulu dia sangat menggemari Helga. Dia berniat membuat gadis itu mau berubah. Namun semenjak Owen membuka Kafe, perlahan rasa sukanya pada Helga turun level. Lebih tepatnya menjadi level empat. Sudah tidak terlalu berharap.
"Akan kupikirkan lagi. Oh ya, maaf, aku tidak berniat menyinggungmu. Kenapa kamu tidak kembali saja ke negara tempat tinggal mamamu?"
Menurut Owen, di sana akan aman. Berada di tempat tinggal asalnya dan memiliki orang-orang yang sudah dikenal sehari-hari akan membuatnya nyaman.
"Rumah kami dijual untuk menutup semua utang papaku," ucapnya sedih.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih seperti itu. Lalu, papa dan mamamu di mana? Maaf, aku hanya ingin tahu bagaimana sebenarnya dirimu. Mungkin saja aku bisa membantu. Jangan khawatir juga, rahasiamu akan aman bersamaku."
"Mama meninggal beberapa minggu yang lalu. Sementara papaku entah pergi ke mana."
Sebenarnya Willow enggan menceritakan kekacauan dalam kehidupannya. Namun, lelaki bernama Owen ini sangat baik dan terlihat benar-benar tulus menolongnya.
"Maaf, maukah kamu menceritakan sedikit tentangmu? Aku tahu kalau kamu sebenarnya sangat cantik, namun aku melihat kalau kamu sangat tidak terawat. Aku minta maaf sebelumnya."
Owen benar. Semenjak papanya bangkrut, gadis itu seperti kehilangan dunianya. Dulu, dia selalu menjadi ratu salon dan primadona di tempat tinggalnya. Sehingga setelah papanya bangkrut, beberapa klien bisnisnya mengejar Juvenal untuk membayar utangnya. Namun, pria paruh baya itu benar-benar kehilangan segalanya. Sebagai gantinya, Juvenal menawarkan putri satu-satunya sebagai penebus utangnya. Dia meyakinkan semua kliennya bahwa putrinya masih virgin sehingga dari beberapa kliennya berlomba untuk mendapatkan gadis itu. Namun, Juvenal hanya akan menyerahkan kepada klien prianya yang menurut catatan Juvenal bahwa utangnya sangat besar di sana.
Kesepakatan terjadi. Willow didandani layaknya seorang putri mahkota, namun niatnya untuk membayar utang papanya. Awalnya Willow dibohongi akan diajak makan malam bersama keluarga, namun Juvenal sangat licik. Dia sampai menggadaikan putrinya sehingga utang itu ditiadakan. Hal itu yang membuat Diana jatuh sakit sampai akhirnya koma dan meninggal.
"Cukup, Willow! Jangan dilanjutkan!" Owen tanpa meminta lagi, Willow menceritakannya dengan detail.
"Maaf, Owen. Aku sudah tidak virgin lagi. Klien papaku mengurungku sampai aku kehilangan kepercayaan diri. Saat aku bisa lepas, aku pergi ke negara I untuk mendapatkan kejelasan tentang masa lalu mama yang kuingat, namun aku bertemu dengan Om Felix, saudara Om Dizon. Sebenarnya aku ingin menemui papa Sean, tetapi pria itu jelas tidak ada hubungannya dengan mamaku lagi. Itulah sebabnya aku terdampar di negara ini."
Owen merasa kasihan pada gadis itu. Sebenarnya masih banyak hal yang ingin ditanyakan, namun Owen tidak tega. Ini sudah lebih dari cukup untuknya.
__ADS_1
"Apa kamu juga jijik padaku?" tanya Willow akhirnya.
Owen menggeleng. "Tidak! Semua orang punya masa lalu, Willow. Bagaimana pun, aku merasa kalau kamu wanita yang kuat. Berapa usiamu sekarang?"
"Hampir 30 tahun. Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku yakin kalau kamu akan menjadi wanita hebat jika berada di tangan yang tepat." Owen berusaha membesarkan hati gadis itu.
"Sayangnya tidak semua lelaki mau padaku. Aku kotor, Owen. Bahkan kamu tahu sendiri kan kalau Max saja menghinaku seperti itu. Apa kamu juga akan menghinaku?"
"Tidak, Willow. Aku selalu menghargai masa lalu setiap orang. Menurutku kehidupan memang berbeda."
Willow senang. Lelaki itu bisa memahami keadaannya. Sepertinya setelah lepas dari Max, lelaki yang tiba-tiba berubah menyeramkan itu, Willow mendapatkan lelaki yang mampu memberikan tempat ternyaman untuknya. Willow tidak boleh terlena karena kebaikan Owen. Setelah dia mendapatkan pekerjaan, dia akan memilih hidup mandiri tanpa bergantung pada lelaki itu.
"Owen, terima kasih kamu mau menerimaku," ucapnya ketika hendak masuk ke kamar tamu.
"Istirahatlah! Aku akan memikirkan pekerjaan yang cocok untukmu."
"Terima kasih, Owen."
"Kasihan dia. Aku belum tahu pekerjaan apa yang cocok untuknya. Namun, aku tidak akan membiarkan Max bertemu terus-terusan dengannya. Bisa saja gadis itu semakin tertekan."
Owen mondar-mandir di kamarnya. Memikirkan gadis itu tak ada hentinya. Entah karena sebuah rasa kasihan atau memang empatinya yang terlalu tinggi. Perlahan dia mulai naik ke ranjangnya. Berusaha memejamkan mata terasa sangat berat sekali.
"Hemm, aku sudah menemukan pekerjaan yang cocok untuknya. Esok pagi setelah dia terbangun, aku akan mengatakannya."
...🍃🍃🍃...
Pagi yang indah dengan suasana berbeda, Owen lebih dulu bangun dari tidurnya. Dia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Willow. Dia menggunakan pakaian santainya karena dia berniat berangkat agak siang ke Kafe.
Owen hendak menuju ke dapur untuk memasak. Namun, ketika sampai di dapur, dia dikejutkan dengan Willow yang sudah berada di sana.
__ADS_1
"Pagi, Owen! Maaf, aku telah membuat dapurmu berantakan. Aku tidak ada pekerjaan, jadi kuputuskan untuk memasak," ucapnya semringah.
"Hemm, tak masalah. Apakah semalam tidurmu nyenyak?" Owen sangat khawatir kalau gadis itu tidak nyaman di apartemennya.
"Tidurku sangat nyenyak sekali, Owen. Bahkan, aku lupa terakhir kali kapan aku tidur nyenyak. Terima kasih telah memberikan tempat senyaman ini."
"Sama-sama. Oh ya, mengenai pekerjaan, apa kamu mau bekerja di mana pun?" Owen duduk di meja makan menunggu makanan terhidang di mejanya.
Willow nampak senang. Sebentar lagi dia akan mendapatkan penghasilan. Sebagian kecil akan dikumpulkan untuk membayar utangnya kepada Max. Selebihnya akan digunakan untuk biaya hidupnya.
"Apapun itu. Aku mau," jawabnya.
"Bekerjalah di apartemenku!"
Deg!
Willow pikir, dia akan bekerja sebagai office girl di sebuah kantor. Namun, pemikirannya salah. Rupanya Owen malah memilihnya untuk bekerja di apartemen.
"Apa pekerjaanku?"
"Membersihkan apartemen, menyiapkan makan pagi dan malam untukku, dan mengurus apa yang seharusnya kamu bereskan di apartemenku termasuk membersihkan kamarku."
Willow belum menyetujui. Dia merasa tak enak hati memaksa meminta pekerjaan pada Owen.
"Terima saja. Aku akan mengurus Max mengenai uang yang katanya kamu pakai itu."
"Terima kasih, Owen. Aku berutang banyak padamu."
Willow menyepakati untuk bekerja di apartemen milik Owen. Dia berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh karena Owen akan membayarkan uang untuk Max terlebih dahulu.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren milik teman Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟💟💟 Terima kasih