
Melupakan kejadian semalam, pagi ini semua orang berada di meja makan. Beberapa orang sedang asyik menikmati sarapan paginya. Sejak pagi, Aquarabella maupun suaminya belum terlihat sama sekali.
"Aquarabella ke mana?" tanya Olivia. Dia melihat kursinya kosong untuk dua orang itu.
"Aku akan memanggilnya, Ma," ucap Glenda. Bagaimanapun Aquarabella adalah kakak sepupunya.
"Tak perlu, Glenda!" ucapan Aquarabella menggema. Dia bersama suami, anak, dan baby sitter-nya. Bahkan, beberapa koper sudah berada di sampingnya. "Kami akan pergi sekarang."
Jeduar!
Sean pikir kalau putrinya itu hanya menggertaknya saja. Rupanya ini tidak main-main.
"Kenapa kamu buru-buru sekali, Aquarabella?" tanya Olivia. "Sarapan dulu. Ayo ajak suami dan baby sitter anakmu."
"Terima kasih, Aunty," jawabnya.
"Aquarabella, kenapa tidak pulang bersama dengan Daddy dan Mommymu saja?" tanya Vigor.
"Maaf, Om. Daddy dan kami punya urusan masing-masing. Lebih baik kalau aku dan suami pulang duluan. Lagi pula, kelamaan meninggalkan perusahaan tidak bagus hasilnya. Walaupun ada orang kepercayaan. Lebih baik dikerjakan sendiri," ucapnya beralasan.
Callista berdiri untuk membujuk putrinya supaya pulang bersama esok hari.
"Sayang, Mommy akan memesan pesawat untuk penerbangan besok pagi. Ayo sarapan dulu. Kurasa kamu hanya terbawa perasaan saja." Callista menarik tangan putrinya. Dia merasa kalau kesalahpahaman semalam belum juga berakhir.
Aquarabella menepis tangan mommynya. "Maaf, Mom. Aku dan Zack akan berangkat dengan pesawat hari ini jam sembilan. Kurasa lebih baik Mommy dan Daddy di sini saja. Nikmati peran Daddy sebaik mungkin."
Deg!
Callista merasa kalau Aquarabella memang sedang bermasalah. Tak mungkin untuk menahan wanita muda itu agar tidak pergi.
"Ya sudah, pergilah! Mom tidak bisa memaksamu." Callista lebih baik mengalah. Keesokan harinya ketika sudah sampai di rumah, dia akan menanyakannya lagi.
Selepas kepergian Aquarabella bersama suami dan anaknya, Callista lebih memilih untuk berbicara berdua dengan suaminya. Dia meninggalkan meja makan terlebih dahulu.
Sementara Olivia merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Dia bahkan tidak tahu kalau Aquarabella mendadak pulang. Wajahnya seperti sedang menahan kekesalan.
__ADS_1
"Apa yang Mama pikirkan?" tanya Darsh.
Suasana rumah memang mulai sepi karena Vigor dan Zelene memutuskan untuk kembali ke rumah. Sedangkan pengantin baru, Owen dan Willow juga memutuskan hal yang sama yakni kembali ke apartemen.
"Mama heran, kenapa Aquarabella tiba-tiba memutuskan untuk pulang secara mendadak?"
"Mama jangan heran, semalam dia memaksa untuk pulang. Dia sangat sensitif terhadap Willow. Kurasa dia cemburu padanya."
"Kenapa begitu, Sayang?" ucap Glenda.
"Hanya salah paham menurutku. Dia mengira kalau daddynya lebih menyayangi Willow daripada dirinya."
Olivia tidak heran. Kedekatan Willow dengan Sean memang sudah cukup jelas. Sean sempat menganggap kalau Willow adalah putrinya.
"Iya, Ma. Kak Aquarabella memang terlihat sangat aneh. Ya, seperti orang yang gampang sensitif. Atau, jangan-jangan kak Aquarabella hamil?"
Deg!
Callista yang kebetulan mendengar pembicaraan itu lantas ikut bergabung dengan mereka. Mengingat semalam keributan itu tanpa alasan. Callista merasa kalau Aquarabella hanya membuat alasan saja. Bisa saja dia terpengaruh oleh suaminya. Namun, melihat Zack yang setenang itu, Callista yakin kalau pria itu tidak memaksanya.
"Ada kemungkinan, Callista. Apalagi melihat tingkahnya yang sangat sensitif itu. Padahal Sean dan suamiku hanya berbincang biasa saja. Kecemburuannya tak beralasan."
Olivia mungkin ada benarnya. Callista rasanya ingin secepatnya menyusul putrinya untuk pulang ke rumah. Benarkah ucapan Olivia dan anak-anaknya barusan?
"Baiklah, aku akan meminta Sean untuk memesan tiket pesawat. Kurasa dia terlalu sensitif."
"Bukankah dia juga pernah hamil? Apa tidak terlalu sensitif?" tanya Olivia.
"Tidak. Dia biasa saja. Bahkan seperti terlihat tidak hamil." Callista mengingat bagaimana Aquarabella hamil pertama dan kedua.
Di sisi lain, rupanya Dizon dan Sean sedang mengobrol di halaman samping rumah. Sean sudah memutuskan kalau besok dia akan kembali ke rumahnya.
"Dizon, aku sudah memutuskan untuk pulang esok pagi. Kurasa semua masalah keluarga kita selesai. Aku hanya berpesan padamu, jangan sampai Juvenal menemukan Willow."
"Tentu, aku akan menjaganya. Kenapa kamu mendadak ingin pulang besok? Bukankah kita belum berkunjung ke Kafe milik Owen?"
__ADS_1
Rencana yang disusun sedemikian rupa hancur dalam semalam. Putrinya cemburu pada Willow. Dia merasa kalau tak perlu cerita ini pada Dizon. Bisa-bisa Sean akan ditertawakan.
"Kita bisa ke Kafe nanti sore. Setelah Darsh berada di rumah. Dia harus ke kantor hari ini."
"Baiklah. Sebenarnya aku ingin beberapa hari lagi di sini, tetapi kamu tahu kan kalau putriku kekeh ingin pulang dan mendadak seperti tadi."
"Yang sabar saja, maklum aku tidak punya anak perempuan. Jadi, ketika bertemu dengan Willow dan Olivia mau menganggapnya seperti anak sendiri, aku senang sekali." Walaupun sudah punya menantu perempuan, tetapi rasanya berbeda ketika bisa menikahkan Willow.
Sean mampu merasakan kesungguhan Dizon dalam merawat Willow. Gadis kecilnya itu tak akan kekurangan kasih sayang. Apalagi Olivia adalah wanita yang baik dan penyabar.
"Terima kasih, Dizon. Baiklah, jadwalkan nanti sore untuk ke Kafe. Aku akan memesan tiket pesawat untuk besok pagi." Sean kembali ke kamar karena ponselnya tertinggal di sana.
"Di sini saja. Kirimkan identitasmu padaku. Aku akan mengirimkannya pada Darsh. Biar dia saja yang memesankan tiket pesawat untukmu."
"Baiklah, tetap saja aku harus mengambil ponselku di kamar."
"Lekaslah, aku tunggu."
Butuh beberapa menit saja sampai Sean kembali. Dizon menuliskan nomor ponselnya di ponsel milik Sean sehingga dia lekas mengirim data dirinya beserta sang istri.
Dizon menerima kedua identitas itu kemudian mengirimkannya pada Darsh. Tak lupa Dizon memberitahu untuk mencarikan penerbangan untuk besok pagi.
"Bagaimana? Sudah?" tanya Sean.
"Sebentar lagi Darsh akan mengabari. Jangan khawatir."
"Oh ya, menurutmu Juvenal apakah akan muncul setelah perlakuannya pada Willow?" tanya Sean. Dia sebenarnya ingin terus memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Andai saja Aquarabella tahu, wanita muda itu bisa mencak-mencak dengan sikap daddynya yang terlalu perhatian pada orang lain.
"Kurasa tidak. Mungkin saja dia ada di negara yang tidak mungkin kita pikirkan dia berada di sana. Sedang bersembunyi, kan? Lagi pula, beberapa utangnya juga belum lunas. Asal kamu tahu, bahwa beberapa kliennya masih memburunya."
Juvenal terlihat seperti pria yang cerdas. Mungkin saja seseorang telah membohonginya sehingga dia sampai bangkrut dan terlilit banyak utang. Apalagi versi cerita dari Dizon bahwa Juvenal juga pernah berjaya dalam bisnisnya.
"Kurasa lebih baik kita lupakan pria brengsek itu. Sebaiknya kita memikirkan apa yang akan kita lakukan di Kafe nanti sore. Apakah kamu ingin mengajak semua keluarga, atau hanya pria saja yang pergi?"
Sean bimbang. Rasanya ingin mengajak istrinya, tetapi dia tidak akan leluasa berbincang dengan Dizon. Sean masih belum memutuskan apapun mengenai hal ini.
__ADS_1