
Mobil mereka sudah memasuki area parkir Kafe milik Owen, namun sepertinya Owen sedang tidak berada di sana. Sehingga Darsh menyimpulkan kalau Owen sedang berada di apartemen.
"Jadi, kapan mau diselesaikan?" tanya Darsh yang sudah tidak sabar.
"Besok! Sayang, kamu coba kabari Livia. Pastikan penerbangannya hari ini dengan Juvenal berjalan lancar. Aku tidak mau ini menjadi kendala sehingga tidak berjalan lancar sesuai rencana"
"Iya, Max. Livia sudah mengatakan oke. Malam ini dipastikan dia akan sampai," balas Helga.
"Sekarang kalian mau ke mana?" tanya Darsh. Tidak mungkin kan kalau mampir ke Kafe sementara sang pemilik yang diharapkan kehadirannya tidak muncul.
"Kami akan pulang naik taksi saja. Sebaiknya kamu pulang kemudian temui kedua orang tuamu. Kalau bisa sekalian mertuamu kalau masih ada sangkut pautnya dengan Willow. Besok, kita bertemu di rumah keluarga besarmu saja, Darsh. Papa Willow akan berada di sana tepat waktu. Aku dan Helga akan mengurus kedatangan Livia dan Juvenal. Kuharap setelah ini, masalah kita semua selesai. Aku juga mau berbaikan dengan Owen. Kami tidak ada masalah apapun. Hanya dia salah paham terhadapku." Max menjelaskan panjang lebar. Sudah 90 persen rencananya dan ini tidak boleh gagal.
"Terima kasih, Max. Kamu membantuku menyelesaikan masalahnya."
"Sama-sama, Brother. Kita selalu bersahabat. Bukankah harusnya seperti itu?" ucap Max.
"Kamu benar. Kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu." Darsh meninggalkan kedua orang itu di sana. Darsh dan sang istri langsung pulang untuk menemui orang tuanya.
Kesalahpahaman yang masih berlanjut antara papa Dizon dan Darsh tentu menjadi penghambat penyelesaian masalah ini.
"Darsh, apa kamu yakin ini akan berhasil?"
"Tentu saja, Sayang. Setelah ini aku akan fokus pada keluarga kita."
"Daddy dan mommyku perlu dikabari juga?"
"Kurasa tidak perlu. Ini hanya masalah kita saja, bukan? Supaya tidak merembet ke mana-mana."
Baik orang suruhan Darsh maupun Vigor sudah kembali beberapa waktu yang lalu sebelum Max keluar dari penjara. Kabar yang mereka bawa pun sama halnya dengan yang disampaikan oleh Helga. Mereka merasa karena sebuah dendam dan obsesi membuat Willow bertindak nekad. Mamanya yang berada di rumah sakit jiwa itu memang depresi.
"Baiklah. Mari kita sampaikan berita ini pada mama dan papa. Semoga mereka berdua bisa mengerti keadaannya."
Niat yang menggebu untuk menyelesaikan permasalahannya membuat Darsh nekad. Sesampainya di rumah, mereka menemui orang tuanya.
"Kenapa ke sini?" tanya Dizon sengit.
"Menyelesaikan kesalahpahaman."
__ADS_1
"Sudah-sudah, kalian berdua jangan ribut terus. Mama sampai pusing mendengarnya." Olivia pusing. Setiap putra dan suaminya bertemu, keduanya selalu saja terlibat perdebatan sengit. Perihal Willow yang suaminya tidak mau mempercayainya sehingga menjadikan keluarga ini terpecah menjadi dua kubu.
"Besok kita selesaikan masalah Willow. Kuharap setelah ini Papa bisa lebih percaya pada putramu daripada orang lain."
Walaupun sudah disindir sedemikian rupa, tetap saja tidak digubris oleh Dizon.
"Pembuktian apa yang ingin kamu sampaikan pada kami?" tantang Dizon.
"Bagaimana kalau sebenarnya Diana masih hidup?" tanya Darsh. Glenda cukup diam. Dia akan berkomentar jika diperlukan.
"Kebohongan apalagi yang kamu ciptakan, hah?"
"Pa, sebelumnya Glenda mau minta maaf. Ini merupakan urusan Glenda juga kalau menyangkut suami. Boleh Papa tidak percaya, tetapi besok kami harap Papa bisa berdamai dengan suamiku."
"Baiklah," jawab Dizon.
...*****...
Keesokan harinya, Darsh sudah meminta Owen untuk membawa Willow ke rumahnya. Kabar mengenai kedatangan Livia dan Juvenal sudah terdengar jelas dari Max. Tinggal persiapan penting untuk mengumpulkan Max, Owen, Papanya, dan semua orang yang berhubungan dengan Willow.
"Kurasa ini penyelesaian yang bagus, Sayang. Aku tidak tahu nantinya akan seperti apa. Yang penting, kita usahakan dulu." Darsh memiliki keyakinan tinggi dalam hal ini.
Samar-samar terdengar perdebatan antara mamanya dan pria ini. Pria yang telah membuat seluruh kehidupan keluarganya berantakan.
"Kamu gila!" Hanya itu teriakan yang paling menggemparkan di telinga Darsh maupun istrinya.
"Sayang, Mama marah. Ayo lekas masuk!" ajak Darsh.
Benar saja, di dalam sudah ada Livia bersama pria itu dan orang tuanya.
"Darsh, kamu sudah datang? Mana Max?" tanya Olivia.
"Sebentar lagi, Ma," jawabnya.
"Baguslah! Semuanya biar jelas. Papamu sempat marah padamu, bukan? Ini Juvenal. Semuanya yang kamu ceritakan pada Mama benar adanya. Dia pria brengsek!" Olivia menuding langsung pada Juvenal.
"Tidak sepenuhnya seperti itu, Olivia. Aku minta maaf sudah meninggalkanmu di hari pernikahan kita. Aku terpaksa karena aku merasa memiliki tanggung jawab pada wanita lain." Juvenal menyanggah.
__ADS_1
"Ck, kurasa takdir kita memang harus seperti ini. Kamu tahu kan kalau mantan istrimu itu depresi. Kalau aku jadi menikah denganmu, bukan dia yang depresi melainkan aku."
Sekarang yang lebih rumit adalah pertengkaran Olivia versus Juvenal. Tak lama, sepasang suami istri yang dinantikan kehadirannya pun sudah berada di ruang tamu.
"Papa?" Willow sungguh terkejut. Pasalnya, Owen memintanya untuk bersiap karena keluarga Darsh memintanya untuk sarapan pagi bersama. Itulah yang membuat Willow cukup antusias.
Rupanya malah dia dijebak untuk bertemu dengan papanya. Pria yang tidak diharapkan sama sekali di dalam kehidupannya.
"Kamu membohongiku, Owen!" bentak Willow.
Willow ingin lekas lari dari rumah itu. Pergi sejauh mungkin. Namun, Owen mencegahnya dengan cukup kuat.
"Jangan lari dari tanggung jawab! Kamu juga harus mengakui seluruh kesalahanmu selama ini." Owen pun sudah siap dengan semua keputusannya. Maka dari itu, dia menahan Willow agar tidak pergi.
Selang beberapa menit, Max dan Helga sudah masuk. Kali ini Juvenal yang semakin terkejut bertemu dengan sugar baby-nya yang menemaninya selama beberapa bulan terakhir ini.
"Kamu?" Juvenal menunjuk Helga.
"Dad, cukup! Dia itu temanku. Dia tidak bersalah padamu. Jadi, Daddy harus menerima kenyataan ini dengan baik. Maafkan aku, Dad," ucap Livia.
"Baiklah. Semuanya sudah berkumpul. Sebelumnya aku mau meminta maaf sudah membuat kegaduhan ini," ucap Max diawal pembicaraannya. "Aku sudah menjalani hukuman yang bukan seharusnya. Jujur, aku sebenarnya kecewa. Namun, demi kebaikan bersama aku rela difitnah seperti ini."
"Apa maksud semua ini?" Telisik Dizon.
"Jadi begini, Om," ucap Owen menjelaskan. Dia menceritakan seluruh kronologi kejadian sampai akhirnya Helga dan Max harus mengalami kesusahan seperti ini.
"Apa? Jadi, ini semua karena ulahmu, Willow?" bentak Dizon. Selama ini dia sudah bertengkar dengan putranya sendiri demi membela dirinya.
"Iya, Om. Semua karena ulahku. Om tahu kan, mamaku menderita karena ulah papaku. Mama juga sempat menyebut namamu di setiap harinya. Kurasa ada hubungannya antara Om dengan mamaku," ucap Willow. Dia juga tidak mau mengalah. Kepalang tanggung karena papanya juga sudah berada di sini.
"Sebenarnya siapa wanita yang meninggal ketika kami video call, jelaskan!" bentak Dizon.
Pria paruh baya ini rupanya lebih marah dari yang dibayangkan sebelumnya. Semua yang ada di ruang tamu tidak berani menyela.
"Kau juga yang membuat Max masuk penjara? Kau juga yang membuat rumah tangga anakku dalam kegaduhan? Dan, kau juga yang membuatku bertengkar sepanjang waktu dengan putraku? Apa tujuanmu sebenarnya?" ucap Dizon.
...🍃🍃🍃...
__ADS_1
Yuk, jangan lupa mampir karya keren ini. Jangan lupa tinggalkan jejaknya