
Mendapatkan pesan dari istrinya, kedua pria paruh baya itu lantas pergi ke rumah sakit. Dizon berangkat dari kantornya, sementara Vigor langsung dari restoran. Tidak terasa kini keduanya sudah menjadi grandpa dari dua orang cucu sekaligus.
"Sepertinya ketampananku sudah tergeser oleh bayi laki-laki itu. Entah putri semata wayangku akan memberinya nama siapa? Kata istriku, namanya baru diumumkan setelah aku berada di sana," ucap Vigor yang sudah berada di dalam mobilnya.
Sebelum sampai di rumah sakit, Vigor mampir membeli sebuah buket bunga dan sekeranjang buah-buahan kesukaan anaknya.
Sedangkan Dizon malah mampir ke restoran ZA untuk membeli beberapa makanan kesukaan menantunya. Entah, pria paruh baya itu tahu dari mana? Namun, kelahiran cucu kembarnya yang sepasang itu membuatnya semakin semangat untuk pergi ke rumah sakit.
"Aku tidak menyangka kalau sekarang sudah menjadi seorang kakek. Tidak tanggung-tanggung, dua sekaligus. Aku tidak bisa membayangkan rumahku akan seramai apa?" ucapnya setelah memesan makanan untuk take away.
Tidak hanya Vigor, tetapi juga Dizon yang lekas pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan. Keduanya hampir sampai bersamaan di tempat parkir.
Dizon sepertinya sudah banyak berubah. Ketika bertemu pertama kalinya dengan Vigor setelah sekian lama jarang bertemu, Dizon melontarkan sebuah candaan padanya.
"Rupanya kita sudah menjadi seorang kakek, ya," ucapnya.
"Iya, Dizon. Gen kembar yang didapat Glenda dari mama mertuaku. Aku tidak menyangka kalau putriku akan melahirkan dua sekaligus," balasnya.
"Mari lekas masuk!" ajak Dizon.
Tatapan mata Vigor tertuju pada paper bag yang dibawa besannya. Itu paper bag dari restoran yang dimilikinya.
Rupanya dia sudah berubah banyak. Kurasa itu makanan kesukaan Glenda yang ada di dalamnya.
Kedua pria paruh baya ini berjalan beriringan menuju ruang rawat Glenda. Di sana, bayi mungil itu terlihat menangis. Mungkin saja sedang senang karena sebentar lagi grandpa mereka akan datang. Mereka juga lekas memiliki nama lengkap yang dinantikan oleh semua orang.
Glenda terlihat kewalahan untuk menyusui bayinya. Bayi laki-laki itu nampak tidak mau mengalah dari bayi perempuannya.
Oek oek oek.
Suara tangisan bersahutan tiada henti. Kakaknya sedang menyusu kemudian bergantian adiknya. Sepertinya sang adik sangat tidak sabaran.
"Ck, belum tumbuh besar saja kalian sudah ribut seperti ini," keluh Glenda. Bukan keluhan kesal melainkan tidak bisa membayangkan jika putra dan putrinya tumbuh besar nantinya.
Olivia bisa memahami kondisi Glenda saat ini. Dia akan kesulitan jika kondisinya seperti ini. Maka dari itu, sambil menunggu kedatangan suaminya, Olivia meminta Darsh untuk segera menyiapkan dua baby sitter.
"Darsh, lihatlah betapa repotnya istrimu! Besok, sebelum Glenda pulang ke rumah, siapkan dua baby sitter dan satu perawat khusus yang akan merawat istrimu pasca persalinan."
__ADS_1
"Baik, Ma."
Olivia menyadari kalau persalinan caesar akan membuat ibu sang bayi lebih kerepotan. Selain dengan bayinya, dia pasti repot dengan dirinya sendiri.
Tok tok tok.
Pintu kamar perawatan itu akhirnya diketuk. Mereka yakin kalau itu adalah grandpa dari kedua bayi mungil ini. Rupanya kedatangannya berhasil menghipnotis kedua bayi itu untuk lekas diam. Perlahan, baik Olivia maupun Zelene mengembalikan bayi-bayi itu ke dalam boxnya.
Ceklek!
Kedua pria paruh baya itu masuk dan masing-masing membawa oleh-oleh untuk Glenda.
"Wah, lihatlah! Grandpa-mu sudah datang, Sayang. Pantas saja kalian langsung diam," ucap Zelene pada kedua bayi mungil itu.
"Apakah barusan bayi itu menangis?" tanya Dizon.
"Iya, ketika kalian berdua datang, keduanya langsung diam. Mungkin suka karena sebentar lagi akan memiliki nama," balas Olivia.
Darsh mendekati istrinya. Dia memegang tangan wanita itu dengan sangat lembut.
"Tentu saja. Oh ya, sebelumnya aku minta maaf dulu pada Mommy, Daddy, Mama, dan Papa. Sebelum aku memutuskan memberikan nama ini, aku sudah merundingkannya juga dengan suamiku. Kami memiliki kesepakatan kalau bayi kami kembar laki-laki, maka kami akan menggunakan nama Damarion di belakang namanya. Namun, karena bayi kami ada dua dan bejenis kelamin laki-laki dan perempuan, maka kami memutuskan akan memakai nama Abraham dibelakang nama bayi perempuan. Untuk bayi laki-laki, tetap menggunakan nama Damarion."
Vigor sebenarnya ingin nama Abraham melekat pada bayi laki-laki, namun karena putrinya sudah memberikan keputusan seperti itu. Sangat tidak pantas kalau dia melayangkan protesnya kali ini.
"Dad, kamu kenapa?" tanya Zelene yang melihat perubahan sikap suaminya.
"Ehm, aku sebenarnya ingin bayi laki-laki itu memiliki namaku. Namun, aku menghargai keputusan putriku. Setidaknya masih ada keadilan untukku." Vigor cemburu, tetapi juga dia merasa beruntung karena anaknya mendapatkan bayi perempuan. Jika semuanya laki-laki, jangan mimpi namanya akan tersemat di dalam nama cucunya.
"Daddy jangan khawatir. Walaupun nantinya kembar laki-laki, aku akan berusaha adil, Dad," ucap Glenda.
"Ayolah, Sayang. Cepat katakan! Kami semua sedang menunggunya," protes Darsh yang tidak sabar menunggu nama putra putrinya.
"Kakaknya bernama Welenora Abraham," ucapnya.
"Wah, nama yang cantik, Sayang!" seru Olivia. "Bayi laki-lakinya?"
"Willy Damarion."
__ADS_1
"Wah, aku suka sekali namanya, Sayang. Willy, dia putraku." Darsh langsung menuju box bayi laki-laki. Dia sangat senang dengan nama yang disematkan pada bayi laki-lakinya, begitupun dengan bayi perempuan.
"Hai, Willy dan Welenora. Selamat datang! Aku daddy kalian," ucap Darsh memperkenalkan diri.
Kebahagiaan keluarga ini semakin bertambah. Tidak ada perubahan nama pada yang disematkan pada kedua bayi kecil itu.
"Sayang, jadi siapa kakaknya?" tanya Olivia.
"Wele, Ma. Dia lahir lebih dulu daripada Willy," jawab Glenda.
"Kapan kita akan membuat perayaan untuk kelahiran cucu kita, Kak Oliv?" Sedari dulu, Zelene tidak bisa menghilangkan untuk menambahkan 'Kak' di depan nama Olivia.
"Secepatnya. Acara itu akan berlangsung di rumahku," sahut Dizon. Pria paruh baya itu senang sekali memiliki dua orang cucu sekaligus.
"Sesekali aku akan membuat perayaan di restoran. Bukankah tidak ada resepsi pernikahan, maka sebagai gantinya, aku akan membuat perayaan di sana. Bagaimana?" usul Vigor.
"Pa, sebaiknya kita sepakati saja usul besan kita. Yah, bagaimana pun semua bisa berjalan lancar berkat usaha bersama, bukan?" ucap Olivia.
"Baiklah," ucap Dizon.
Suasana kamar VVIP sudah kembali normal. Mereka sudah sepakat untuk sebuah tujuan yang sama untuk kedua cucu mereka. Dizon lekas mendekati kedua box bayi itu dan melihat kedua cucunya tidur terlelap.
"Siapa tadi kakaknya?" tanya Dizon.
"Welenora, Papa," sahut Darsh.
"Kenapa bayi perempuan?" protes Dizon.
"Karena yang keluar dulu dia, Papa," ucap Darsh menjelaskan.
Padahal hanya selisih beberapa menit saja semua itu jadi masalah untuk mereka. Lagi pula, mau yang duluan Welenora atau Willy, tak akan jadi masalah karena masih berada di tanggal yang sama.
...🍃🍃🍃...
Semoga suka dengan namanya. Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren milik Author Santi Suki. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟 Terima kasih
__ADS_1