
Mencari Frey di rumah sebesar ini tidaklah mudah. Bisa saja Frey pergi ke belakang, berada di taman dekat kolam renang, bisa juga dia bersembunyi di dalam kamarnya.
"Oh God, ternyata lelaki lebih rumit mengenai urusan hati," gerutu Darsh.
Darsh mencarinya ke belakang. Dia tidak menemukan siapa pun di sana. Mengelilingi rumah sebesar itu tak menemukan keberadaan Frey. Darsh kembali ke kamarnya. Di sana, Glenda sudah menunggu di sofa.
"Bertemu Frey?" tanya Glenda.
"Tidak."
"Mungkinkah dia masuk ke kamarnya?"
"Entahlah. Lupakan saja. Ada yang lebih penting dari Frey."
"Maksudnya?"
"Sepulang dari sini, aku meminta Frey untuk menyiapkan apartemen baru. Kita akan tinggal di sana."
"Darsh, apakah orang tua kita setuju?"
"Setuju atau tidak, itu pilihan kita. Kalau kamu tidak mau, tak masalah."
"Bukan begitu, Darsh. Kita belum membicarakan kelanjutan hal ini," balas Glenda.
Darsh diam. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan istrinya. Dia keluar kamar tanpa pamit. Glenda sendiri memaklumkan tingkahnya yang memang seperti itu.
"Darsh, aku tidak tahu ini akan berjalan sampai kapan? Memahamimu membutuhkan ilmu level tertinggi." Glenda masuk ke kamar mandi. Dia ingin menyegarkan pikirannya kemudian mencari Jillian. Mencuci muka agar terlihat lebih segar sudah dilakukannya. Sekarang, dia kembali ke kamar untuk memakai make up natural.
Ceklek!
Glenda keluar. Dia bertemu dengan mama mertuanya di jalan gendak ke kamar Jillian.
"Glenda, kamu tidak beristirahat, sayang?" tanya Olivia.
"Ehm, Glenda mau ke kamar Jillian, Ma. Ada perlu dengannya."
"Sudah tahu letak kamarnya?"
"Ya, Ma."
Sebenarnya tidak ada urusan penting dengan Jillian, tetapi dia membutuhkan nomor ponsel gadis itu. Selagi Glenda mengingat apa saja yang dibutuhkan, dia segera mengerjakannya.
__ADS_1
Samar-samar, Glenda melewati kamar sahabat Darsh. Dia mendengar pembicaraan mereka mengenai dirinya.
"Setidaknya menikah untuk tidak membuat keributan! Aku dan Glenda memutuskan untuk menikah, tetapi kami belum tahu di mana itu cinta. Kami harus berbuat apa juga belum tahu. Rasanya seperti pernikahan remaja saja," ucap Darsh.
"Tapi aku belum siap, Darsh. Kalau Max, segalanya dia siap. Dia pun siap untuk membahagiakan Jillian. Apa aku bisa bersaing dengannya?" ucap Frey.
Rupanya di kamar itu hanya ada dua orang, Frey dan Darsh.
"Kamu mau kehilangan Jillian untuk selamanya atau saling menguatkan? Max memang bukan tipe Jillian, bukan berarti lelaki itu akan menyerah begitu saja," jelas Darsh.
Sebaiknya aku pergi saja. Tidak baik mendengar pembicaraannya. Batin Glenda.
Glenda menuju ke kamar Jillian. Dia mengetuk pintu itu berulang, tetapi tidak ada jawaban. Dizon yang kebetulan lewat melihat menantunya di depan kamar keponakannya.
"Nyari Jillian?"
"Iya, Pa. Kemana dia?"
"Ada di kolam renang. Sedang berbincang dengan sahabat suamimu."
"Terima kasih, Pa." Glenda mencari keberadaan kolam renang. Dia bingung harus berjalan ke mana. Melewati lorong demi lorong akhirnya Glenda sampai di kolam renang. Ada tiga sahabat suaminya dan Jillian.
"Kakak ipar?" ucap Jillian.
"Duduklah di sini kakak ipar. Kami ingin berbincang denganmu," ucap Justin.
Glenda mengambil duduk tepat di sebelah Jillian. Dia tidak ingin terlalu dekat dengan sahabat suaminya. Dia belum paham betul apakah suaminya akan cemburu atau bagaimana?
"Hemm, baiklah. Sebelumnya, perkenalkan namaku Glenda Abraham. Aku bekerja di restoran ZA sebelum bertemu dengan Darsh," jelasnya.
"Ehm, kakak ipar ini pelayan atau anak pemilik restoran, sih?" selidik Max lagi.
"Aku anak pemilik restoran ZA. Dad-ku bernama Vigor Abraham. Dad-ku dulunya asisten Om-ku, Sean."
"Wah, kehidupan kakak ipar selalu terhubung dengan masa lalu, ya?" ucap Jillian.
"Entahlah, Jill. Aku belum sempat bertanya lebih jauh pada orang tuaku."
"Kak, apakah kamu mencintai Darsh?" selidik Owen.
Glenda terdiam. Dia menatap jauh ke kolam. Rasanya satu kata itu yang belum ada di antara dirinya dan Darsh. Semuanya serba mendadak. Hanya ada rasa kagumnya pada sang suami.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa itu cinta, tetapi aku percaya akan ada cinta di antara kami," jelas Glenda. Dia tersenyum menatap Owen.
"Apakah ini pernikahan terpaksa?" tanya Justin.
Terpaksa, tentu tidak. Glenda menerimanya dengan cukup sadar dan tanpa pengaruh dari siapa pun. Mendapatkan Darsh adalah anugerah terindah dalam hidupnya.
Glenda sudah menyukai lelaki itu sejak awal pertemuannya. Walaupun tidak langsung menyukai, tetapi perhatian Darsh mampu membuatnya luluh dan menerima lelaki itu apa adanya.
"Tidak. Aku tidak pernah dipaksa siapa pun. Aku menjalaninya karena pilihanku. Setidaknya daddyku bisa mengizinkan ke mana pun aku pergi hanya dengan suamiku."
Sungguh sangat istimewa sekali. Jillian juga ingin menikah seperti kakak iparnya. Namun, dia belum memutuskan akan memilih siapa. Karena saat ini Max dan Frey mulai ribut lagi. Tentu saja hal itu yang membuat Jillian semakin pusing. Belum lagi tugas akhir kuliahnya yang belum selesai.
"Jujur kakak ipar, Darsh tidak gampang jatuh cinta. Dia bilang pada kami kalau hanya satu gadis yang mampu menarik perhatiannya, maka dia akan mengejarnya," jelas Owen.
"Ternyata gadis beruntung itu adalah Kak Glenda. Ini kejutan untuk kami. Selamat atas pernikahanmu, Kak," ucap Justin.
"Terima kasih. Ehm, sebelumnya aku minta maaf. Aku belum hapal dengan kalian."
"Max, perkenalkan kami pada kakak ipar," usul Owen.
"Baiklah kakak ipar. Namaku Max Oringo. Panggil saja Max. Yang itu, Madava Justin. Dewa penyelamat untuk suamimu. Panggil saja, Justin. Dan yang terakhir, Owen Othman. Panggil Owen saja. Kalau yang sedang di kamar bersama suamimu, itu asistennya. Namanya Frey Matteo," jelas Max dengan menunjuk satu per satu sahabatnya.
"Terima kasih, Tuan Max."
"Panggil Max saja, Kakak ipar!"
"Jadi, apa kalian mau jalan-jalan di negaraku ini? Aku yang akan mentraktirnya," tanya Jillian.
"Tentu saja kami sangat ingin, tetapi apakah Darsh setuju?" balas Justin.
Nah, ini yang paling sulit. Pemakaman grandma baru pagi ini. Sore hari apakah kakak sepupunya itu akan mengizinkan atau perlu meminta izin daddynya saja?
"Aku belum tahu, Kak. Aku akan mengatakan ini pada daddyku dulu," ucap Jillian.
"Ada apa ini, Jill?" tanya Darsh yang baru saja keluar bersama Frey.
"Ehm, kami akan pergi ke Mal sore ini. Apa Kak Darsh setuju? Atau aku bertanya pada daddy saja? Aku yakin keberadaan kalian di sini tidak akan lama. Mungkin kesempatan untuk pergi bersama sangat tipis."
Jillian benar. Harusnya sahabatnya sesekali pergi untuk membuang penat karena perjalanan yang sangat jauh. Besok menunggu kedatangan mertua Darsh. Ada kemungkinan lusa mereka semua sudah kembali ke negara H. Jadi, tak banyak waktu untuk sekadar berjalan-jalan di negara I.
"Sore ini kita akan pergi. Bawa mobil daddymu!" ucap Darsh memutuskan. Dia juga butuh untuk merenggangkan otaknya yang mulai tidak singkron. Lelah memang, tetapi dia harus siap menjalani kehidupan barunya.
__ADS_1
Mengenai urusan Frey sudah beres. Setelah pergi ke Mal, Darsh akan membicarakannya lagi di meja makan. Semua harus tahu tentang keputusan final yang sudah dibuatnya.