Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Max sangat Misterius


__ADS_3

Sampai di rumah sakit, kedua sahabat ini langsung menuju ke IGD. Kemungkinan besar baik Max maupun Willow masih berada di sana.


Tak lama, seorang dokter keluar dari IGD dan mencari keluarga pasien Max maupun Willow dan menyampaikan kabar bahwa keduanya telah ditangani dengan baik. Owen dan Darsh bisa bernapas lega. Hampir saja keduanya kehilangan orang-orang terdekat mereka.


"Aku harus bagaimana setelah ini?"


"Kita bicarakan nanti. Apa kamu perlu bantuanku?"


"Tidak, Darsh. Aku akan menjaga Willow. Mengenai Max, biarkan saja dia sendiri untuk beberapa waktu."


"Owen, percayalah semua akan baik-baik saja. Aku akan mengirim pesan pada istriku bahwa aku sedang ada keperluan bersamamu."


Sebenarnya Owen ingin sekali menyetujui usul sahabatnya itu. Namun, ada pertimbangan lain yang menyebabkan Owen menolak dengan keras.


"Darsh, sebaiknya kamu tidak perlu menunggu. Pulang saja! Kasihan kakak ipar harus menjaga bayi kalian sendiri."


Darsh memang belum mengatakan kalau istrinya tengah berada di rumah orang tuanya. Ini kesempatan bagus Darsh untuk bisa bersama Owen demi menggali informasi mengenai kejadian malam ini. Mengingat Owen terlihat syok seperti itu.


"Sebaiknya kamu ganti baju dulu. Lihatlah, kamu terlihat sangat berantakan seperti itu."


"Nanti sajalah. Aku menunggu Willow pindah ke kamar rawat."


Tak butuh waktu lama, beberapa perawat mendorong brankar Willow. Owen memintanya untuk di tempatkan di ruang rawat VVIP, sementara Max, Owen tidak peduli lagi. Sahabatnya itu sudah keterlaluan.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Owen ketika sudah berada di sisi brankar Willow.


"Maafkan aku, Owen. Pria itu sangat kurang ajar terhadapku."


"Jangan terlalu dipaksakan untuk duduk. Kamu masih terluka," ucap Owen memberikan pengertian.


"Willow, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Darsh yang berusaha mengorek informasi.


Willow menceritakan semua kejadian mulai dari awal sampai gadis itu hendak mengakhiri hidupnya. Darsh sangat geram dengan sikap sahabatnya itu. Dia seperti pria yang tidak punya moral. Sangat keterlaluan dan benar-benar membuat Darsh ingin melemparnya ke Pluto.

__ADS_1


"Wanita itu banyak. Kenapa harus kamu?" selidik Darsh.


"Dia bilang, kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak dengan Owen. Dia sudah kehilangan Jillian katanya. Semua karena sahabatnya. Setelah dia melihat Jillian bahagia dengan suaminya, dia benar-benar marah dan ingin menyakitiku," jelas Willow lirih.


Astaga! Keterlaluan sekali. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada yang bisa membuat Max sadar. Kalau terus seperti ini, bukan hanya Willow yang dalam bahaya. Bisa juga istri maupun adik sepupuku itu.


"Owen, aku akan menemui Max dulu. Kamu di sini saja," pamit Darsh. Dia tahu kalau Owen akan emosi jika bertemu dengannya.


...🍃🍃🍃...


Berada di kamar rawat Max, Darsh melihat lelaki itu masih terbaring lemah. Mungkin saja Willow menyerangnya dengan membabi buta. Matanya masih terpejam, mungkin saja merasakan kesakitan yang teramat sangat. Darsh tahu kalau lelaki itu tidak sedang tertidur. Dia hanya merasakan kesakitan tanpa mengeluh.


"Max," panggil Darsh.


Max membuka matanya secara perlahan. Dia menoleh ke arah sumber suara.


"Apa kamu akan memusuhiku juga seperti Owen?" tuduhnya dengan suara lirih.


Deg!


"Kemana pikiranmu selama ini, hah? Kamu lelaki kaya, bisa memiliki segalanya, bebas menunjuk wanita mana saja yang ingin kamu tiduri bahkan kalau kamu menginginkan lima, mereka akan berbondong-bondong mendekatimu dan menerima tawaran menarik darimu. Lalu, ini apa? Kamu tega sekali membuat Willow tertekan seperti itu!"


Ada asalan yang Max beberkan. Ini sangat mencengangkan menurut Darsh. Dia seperti menjadi pribadi yang lain.


"Apa kamu bilang? Setelah kamu gagal dengan Jillian, sekarang kamu cemburu terhadap Owen karena dia mendapatkan Willow? Kamu gila, Max! Willow itu sudah kamu sia-siakan. Sudah kamu buang dan Owen merawatnya dengan cukup baik. Sekarang melihat kebahagiaan mereka, kamu cemburu? Sebaiknya kamu pergi ke psikiater dulu!"


Padahal kalau beberapa sahabatnya boleh iri, harusnya mereka iri sama Max. Lelaki itu merupakan paket komplit. Tampan, pengusaha muda, pemilik showroom mobil mewah, kekayaannya juga luar biasa. Perempuan mana pun pasti tertarik padanya. Namun, beberapa kali gadis yang disukainya pergi karena Max yang terlalu over ambisius untuk mendapatkan mereka. Itu yang membuat beberapa kali dia gagal.


"Pergilah ke psikiater dulu, setelah itu kita perbaiki hubungan persahabatan kita!"


Darsh tak perlu banyak bicara lagi. Ini mungkin hukuman yang pantas untuknya. Dijauhi untuk sementara waktu sampai lelaki itu sadar. Darsh juga sudah meminta izin Owen untuk pulang lebih dahulu.


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Sayang?" tanya Glenda yang menyambutnya di ruang tamu.


"Max bertingkah. Sekarang keduanya berada di rumah sakit," jawab Darsh.


"Siapa yang berada di rumah sakit, Darsh?" tanya Vigor, daddy mertuanya.


Darsh menjelaskan perihal masalah yang menimpa kedua sahabatnya itu. Daddy mertuanya tampak geram pada Max. Sungguh ini sangat keterlaluan karena telah memaksakan seorang gadis untuk menikahinya dengan memaksa seperti itu. Caranya saja sudah tidak benar.


"Sahabatmu itu sakit, Darsh!" geram Vigor.


"Entahlah, Dad. Dari kelima sahabat, hanya dia yang sikapnya aneh seperti itu."


"Glenda, pergilah temui mommymu. Bayi kalian sepertinya rewel," ucap Vigor. Dia sengaja meminta putrinya pergi karena ingin berbicara berdua dengan menantunya.


"Darsh, Daddy tidak suka kamu terlalu dekat dengan Max. Mungkin saja lelaki itu punya masa lalu buruk dan akan selalu membenci kebahagiaan di sekelilingnya. Aku takut target selanjutnya adalah keluargamu."


Alasannya memang masuk akal. Namun, selama ini Glenda tidak pernah bersinggungan secara langsung dengan Max. Mungkin Max hanya akan memaksa orang-orang yang masuk dalam kriteria disukainya.


Sebagai wujud baktinya kepada mertua, ada baiknya Darsh mempertimbangkan usul mertuanya. Itu juga demi kebahagiaan keluarganya. Mungkin tidak hanya Darsh, Owen juga akan melakukan hal yang sama. Untuk sementara waktu, biarkan lelaki itu meratapi keadaannya.


"Baik, Dad. Daddy jangan khawatir."


"Baguslah kalau begitu. Lekas temui istrimu dan katakan untuk tidak pergi ke mana pun tanpa pengawasan. Max sudah sangat keterlaluan dan berbahaya."


Darsh ke dalam. Dia menemui istrinya yang berada di kamar bayi kembarnya. Rupanya sang mertua sudah menyiapkan segalanya untuk cucunya. Dua box bayi sudah tersedia di sana. Sementara baby W sedang terlelap. Kedua baby sitter-nya tidak ada di sana.


"Ada apa, Sayang?"


"Max berulah. Willow masuk rumah sakit."


Darsh kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya. Glenda sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sungguh dia tidak menyangka kejadiannya akan sejauh ini.


"Sayang, mungkinkah Max memiliki masa lalu kelam sehingga dia berulah seperti itu? Kurasa ada sesuatu yang tidak pernah kalian ketahui. Max sangat misterius. Bukan begitu?"

__ADS_1


Kali ini Darsh setuju dengan ucapan istrinya. Ada sisi kelam yang mereka tidak tahu dan mungkin juga Max menutupinya dengan cukup rapat.


__ADS_2