Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Dini Hari


__ADS_3

Menempuh perjalanan panjang rupanya tak membuat Darsh dan Glenda bisa saling kenal. Keduanya bahkan sibuk dengan urusan masing-masing. Itu karena Darsh yang mulai menunjukkan sikap dinginnya.


Hari ini, mereka berdua sudah sampai di negara I. Jangan tanya, ini pasti kesengajaan Frey untuk memutuskan penerbangan siang. Jika saja ambil penerbangan malam, tentu sampai sana pagi hari.


Mengantuk tentu saja. Negara I menunjukkan tepat jam satu lebih sedikit. Itupun turun dari pesawat sudah mendekati jam satu malam. Mereka mengambil kopernya kemudian menuju ke tempat kedatangan Internasional. Darsh yakin kalau Om-nya sudah menunggu di sana.


"Darsh, siapa yang memesankan tiket penerbangan ini?" selidik Glenda.


"Asistenku," jawabnya singkat.


"Katakan padanya, ini sangat menyusahkan sekali," protes Glenda.


"Hemmm." Hanya itu jawaban Darsh.


Rupanya Om Felix sedang duduk di kursi tunggu dalam keadaan tertidur. Sementara Jillian menoleh ke sana ke mari sambil melihat kedatangan penumpang pesawat kalau-kalau ada kakak sepupunya di sana. Benar saja, Darsh di dampingi seorang gadis yang sama membawa koper dengan kakak sepupunya.


"Dad, bangun! Kak Darsh sudah datang," ucap Jillian membangunkan Daddynya.


"Hemm." Felix membuka matanya. Dia berdiri menyambut kedatangan keponakan dan calon istrinya itu. "Selamat datang, Darsh. Bagaimana penerbanganmu? Apakah ada kendala?"


"Semuanya lancar, Om," jawabnya.


"Kamu pasti putrinya Zelene, ya?" tanya Felix to the point.


"Iya, Om. Perkenalkan namaku Glenda." Glenda mengulurkan tangannya.


Felix menyambut uluran tangan gadis itu. "Felix Damarion. Om-nya Darsh. Kalau yang ini, putriku. Jill, perkenalkan dirimu pada calon kakak iparmu."


Setelah berjabat tangan dengan Felix, sekarang bergantian dengan Jillian. Gadis itu sangat antusias karena melihat kakak iparnya yang masih muda. Ini tentu saja merupakan poin plus untuk Jillian yang notabene anak tunggal. Mendapatkan anggota keluarga baru sama-sama perempuan membuat Jillian semakin bersemangat.


"Jillian Damarion, Kak."


"Glenda Abraham."

__ADS_1


Setelah berjabat tangan, Felix membantu membawakan koper itu ke mobilnya. Begitu juga dengan Jillian. Gadis itu membantu Glenda untuk membawanya ke mobil.


"Aku bisa sendiri, Jill," tolak Glenda. Dia tidak ingin merepotkan keluarga calon suaminya.


"Jangan seperti itu, Kak. Kamu tamu keluarga kami. Tak masalah kalau hanya menarik koper. Bukan pekerjaan berat juga," ucap Jillian pada Glenda.


Glenda tak bisa mendebat lagi. Rupanya Jillian gadis yang mudah bergaul dengan siapa pun. Buktinya baru kenal beberapa menit saja sudah bisa seakrab ini. Jillian memutuskan untuk duduk di belakang bersama Glenda. Sementara Darsh duduk di kursi depan samping Daddynya.


"Maaf, Kak. Duduknya harus dipisahkan dulu karena kalian belum resmi menikah, bukan? Tinggal beberapa hari saja. Harap bersabar," canda Jillian.


"Jill, jangan kamu goda terus kakakmu itu!" ucap Felix mengingatkan. Dia hanya khawatir kalau Glenda tidak nyaman bersama putrinya.


"Tidak apa-apa, Om. Memang seharusnya seperti ini," balas Glenda.


Darsh terdiam mendengarnya. Dia memang tak banyak bicara. Selain karena sudah mengantuk, Darsh tidak ingin merusak moodnya yang sedang malas. Dia berusaha memejamkan matanya.


"Darsh, kamu pasti ambil penerbangan siang, ya?" tanya Felix.


"Tak masalah, Om. Mungkin asistenku lupa perbedaan waktu negara kita," jelas Darsh.


Menyebut nama asisten, tentu saja hal itu membuat Jillian merasakan hawa aneh di sekujur tubuhnya. Sudah lama dia tidak menghubungi lelaki itu. Dia ingin bertanya pada kakak sepupunya, tetapi takut ditertawakan.


Apakah Kak Frey akan datang di pernikahan kak Darsh? Kalaupun dia mau datang, kenapa tidak mengabariku? Atau karena aku mengatakan sedang menyelesaikan tugas akhir sehingga dia tak berani mengirimkan pesan untuk sekadar mengucapkan selamat malam, mungkin.


Darsh melirik sekilas pada Jilian. Gadis itu pasti sedang memikirkan Frey.


"Kalau kamu merindukannya, lebih baik kirim pesan. Jangan sampai menyesal karena lelaki itu akan dimiliki oleh orang lain," sindir Darsh pada Jillian.


Glenda tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Namun, satu hal yang bisa ditangkap dari pembicaraan ini adalah kemungkinan Jillian menyukai salah satu teman Darsh.


...❣️❣️❣️...


Rumah keluarga Damarion sudah dibuka sejak dini hari. Grandma Carlotta sudah tidak sabar menunggu kedatangan cucu dan calon cucu menantunya. Sejak sore, wanita tua itu sudah tidur. Mengetahui cucunya akan tiba pada dini hari, wanita tua itu meminta Kayana untuk membangunkannya.

__ADS_1


"Mama yakin akan menunggu mereka sampai datang?" tanya Kayana.


"Iya, Kay. Mama tidak sabar kalau harus menunggu hari esok. Coba kamu telepon Felix atau Jillian, siapa tahu mereka sudah dekat atau masih jauh," pintanya.


"Bukannya Kayana tidak mau menelepon mereka, Ma. Ponsel Jillian ketinggalan di kamarnya. Kalau aku telepon Felix, dia pasti sedang mengemudi," jelasnya.


"Oke, kita tunggu saja. Semoga sebentar lagi sampai."


Kayana melihat jam dinding menunjukkan hampir jam dua pagi. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai. Niat Kayana untuk mengambilkan minuman hangat untuk mertuanya diurungkan karena mendengar deru suara mobil memasuki halaman rumah.


"Kay, itu pasti mereka. Antar Mama keluar, ya?" pinta Carlotta.


Setelah pulang dari rumah Darsh kapan hari, kesehatan Carlotta mulai menurun. Sekarang, dia hanya bisa duduk di kursi rodanya. Sesekali di bantu pelayan untuk mendorongnga. Namun, dini hari menjelang pagi ini, Carlotta menunggu kedatangan cucunya.


"Ma, tunggu di sini saja! Sebentar lagi mereka masuk. Udara diluar masih sangat dingin," tolak Kayana. Mama mertuanya bukan tipe mertua yang kekeh dengan kemauannya. Kalau memang ada hal yang tidak mungkin, dia cukup menyadarinya. Satu hal yang tidak bisa untuk menahan keinginannya. Melihat cucunya menikah.


Darsh dan Glenda lebih dulu masuk. Sementara Felix dan Jillian masih mengeluarkan beberapa koper yang mereka bawa. Darsh langsung mendekati Grandmanya.


"Kenapa Grandma tidak tidur?" tanya Darsh.


"Sedang menunggu kedatanganmu, Nak," ucap Carlotta. Dia memegangi pipi cucunya yang berjongkok di hadapan kursi rodanya. Sementara Glenda berdiri mematung di belakangnya.


"Harusnya Grandma istirahat. Pagi ini sehabis bangun tidur, aku pasti menemui Grandma. Oh ya, sesuai permintaan Grandma, aku sudah membawa calon istriku. Apa Grandma bahagia?" ucap Darsh.


Carlotta tidak hanya bahagia, tetapi sangat bahagia. Rasanya memang Darsh adalah lelaki yang baik. Perhatian kepada orang tua lebih-lebih pada Grandma-nya.


"Grandma sangat bahagia. Aku hanya ingin menutup mata setelah kamu menikah, Darsh. Tubuh Grandma sudah tidak kuat lagi," ucapnya dengan berkaca-kaca.


Tak hanya Darsh, Glenda dan Kayana juga hampir saja menitikkan air mata. Untung saja Felix lebih dulu datang sehingga membuat mereka tidak terlalu larut dalam kesedihan. Felix meletakkan koper itu di ruang tamu. Felix langsung mendekati mamanya.


"Mama jangan bicara seperti itu. Mama pasti selalu sehat. Bahkan, sampai Jillian menikah dan memiliki keturunan. Apa Mama tidak ingin melihat Jillian menikah?" tegas Felix.


Tentu saja semua keinginan itu ada di dalam daftar cita-citanya. Namun, Carlotta tidak pernah tahu sampai kapan dia kuat bertahan. Dini hari menjelang pagi, Grandma Carlotta sudah berhasil membuat semua orang bersedih.

__ADS_1


__ADS_2