
Jillian yang sedang berada di kamar tamu untuk berniat tidur. Kegiatannya terhenti manakala suara ketukan pintu seperti terburu-buru. Jillian menghampiri pintu untuk lekas membukanya. Dia terkejut ketika melihat kakak iparnya berdiri di sana.
"Kupikir Aunty yang datang. Ada apa, Kak? Sepertinya kamu buru-buru."
"Kakak sudah memesan taksi online untukmu. Pergilah ke Kafe, ada seseorang yang menunggu di sana," ucap Glenda. Dia tidak tega mengatakan kalau Frey berada di sana.
Bayangan pikiran Jillian tertuju pada Justin. Mungkin lelaki itu sedang menyiapkan kejutan untuknya. Makanya dia terlihat sangat senang manakala Glenda memesankan taksi untuknya. Namun, malam ini dia terlihat biasa saja karena tidak membawa baju ganti lagi.
"Terima kasih, Kak." Jillian mengecup pipi kakak iparnya lantas gadis itu kembali ke kamar untuk mengambil dompet dan ponselnya. Malam ini, dia tidak boleh mengecewakan Justin.
Glenda yang melihat tingkah Jillian merasa bersalah karena tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Namun, mungkin itu akan lebih baik untuknya daripada mengetahui dari awal.
Maafkan aku, Jill. Aku rasa ini saatnya kamu menyelesaikan masalahmu. Hubunganku dengan kakakmu sudah membaik, jadi tak perlu kukhawatirkan lagi.
Jillian merasa senang. Di dalam taksi, beberapa kali dia memandang cincin pemberian Justin. Baru kali ini dia merasa ada lelaki yang membuatnya segila ini. Sebentar saja tidak bertemu dengan Justin rasanya sudah seribu tahun lamanya tidak melihatnya. Dia sangat tergila-gila dengan lelaki itu.
Memasuki halaman Kafe setelah turun dari taksi menjadikan perasaan Jillian semakin tak menentu. Gadis itu merasa kerinduannya akan terbayar pada lelaki yang sudah mengisi hari-harinya selama di sini.
Jillian perlahan mulai masuk ke Kafe. Di sana dia menoleh kanan maupun kiri. Setelah tatapannya tertuju pada sebuah meja yang di sana terdapat kakak sepupunya, sudah dipastikan kalau Justin juga berada di sana. Sayangnya, posisi Frey kebetulan memunggunginya sehingga Jillian tidak tahu keberadaan lelaki itu.
__ADS_1
"Kak Justin," panggil Jillian ketika sampai di meja yang ditujunya.
Deg!
Semua orang yang berada di sana semakin was-was. Nama pertama yang disebut Jillian bukan Frey, melainkan Justin. Otomatis Frey berdiri kemudian memutar badannya ke sumber suara.
Deg!
Kini giliran Jillian yang syok. Sementara Justin bersikap biasa saja. Dia hanya meyakini kalau Jillian akan memilih orang yang tepat. Dia malas ribut setelah semalam babak belur berantem dengan Max.
"Kak Frey?" Jillian menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia tidak tahu harus berkata apapun lagi. Lelaki yang pernah mengisi kehidupannya sebentar itu harus segera dieliminasi dari hatinya. Frey bukan yang utama, melainkan Justin.
Jillian malah menarik tangan Justin untuk mengikutinya. Justin tidak menolaknya. Dia berdiri mengikuti langkah Jillian. Genggaman erat tangan gadis itu sudah jelas menunjukkan hubungan apa yang terjadi di antara mereka.
Lelaki yang paling terkejut tentu saja Frey. Secepat itu gadisnya berubah dalam waktu singkat. Dia seperti kehilangan arah tanpa tahu penyebab sebenarnya.
"Frey, kenapa kamu terlihat seperti itu?" tanya Owen. Dia tertuduk lemah tanpa bisa berkata sepatah kata pun.
"Darsh, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Frey.
__ADS_1
"Kamu meninggalkannya tanpa pesan, Frey."
Itulah kalimat yang tepat untuk menjawabnya saat ini. Ini memang murni keteledoran Frey. Dia pikir kalau Max saja yang akan mengejarnya, tentu gadis itu tidak akan memilihnya. Namun, kenapa sekarang berbalik kepada Justin? Frey cemburu, tentu saja. Dia berharap akan menjalin hubungan LDR dengan gadis itu. Namun, sepertinya semuanya sudah terlambat.
"Sebaiknya kamu mau mendengar penuturan yang akan disampaikan Jillian. Dia sudah menunggumu di ruangan sana." Owen memang sempat mengejar keduanya dan meminta mereka untuk bersikap jujur apapun yang terjadi. Hubungan mereka penting, namun hubungan persahabatan juga jauh lebih penting.
Frey mencoba menata hatinya. Dia pikir dengan pulang dan mencari nomor ponsel Jillian untuk menghubunginya akan membuat Frey semakin semangat untuk melanjutkan pendidikannya. Namun, dia salah. Jillian memang gadis bebas. Dia tidak berhak melarang berhubungan dengan siapa pun. Lagi pula keduanya tidak ada ikatan dan Frey yang tiba-tiba menghilang.
Ceklek!
Perasaan yang tidak menentu dengan irama jantung yang berdetak tidak karuan mengantarkan Frey masuk ke ruangan itu. Di sana sudah ada Justin dan Jillian yang duduk berdampingan. Ini sebenarnya telah membuat jantungnya berhenti berdetak, namun bagaimana pun juga, Justin tidak salah dalam hal ini. Frey harus bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Kak Frey," ucap Jillian mengawali pembicaraan. "Maaf sebelumnya. Setelah mendengar penuturan Kak Owen, memang sebaiknya ini kita selesaikan baik-baik. Jujur, aku sempat kecewa karena kamu tiba-tiba meninggalkanku tanpa pesan. Aku lekas menyelesaikan pendidikanku kemudian berniat menyusul kakak ke sini, namun apa yang kudapat? Kakak sudah tidak di sini. Benar begitu, kan?" Jillian menggenggam erat tangan Justin. Dia berharap mendapat kekuatan lebih darinya.
"Iya, Jill. Orang tuaku meminta untuk melanjutkan pendidikan lagi. Aku rasa itu akan bisa menyejajarkan diri denganmu dan keluargamu. Namun, rupanya aku salah paham di sini. Kamu tidak membutuhkan semua itu, kan?"
"Frey, dari awal Jillian tidak pernah mempermasalahkan pendidikan terakhirmu. Kita sama-sama lulus menjadi seorang sarjana. Lalu, kenapa sekarang seolah kamu merasa minder bersanding dengan Jillian? Sebenarnya aku tidak mau ikut campur masalah ini, namun Jillian sudah membawaku terlalu jauh. Kamu juga sahabatku, bagaimana pun juga, aku tidak mau hubungan kita berakhir begitu saja. Kalau memang kamu masih mengharapkan Jillian, aku bisa memaklumkan. Bagaimana denganmu, Jill?" jelas Justin.
"Kak Frey, sebelumnya aku meminta maaf padamu. Aku rasa kita memang tidak ada ikatan khusus sehingga membuatku berusaha melupakanmu. Orang tuaku meminta waktu lebih cepat kali ini. Maaf, bukan maksudku untuk menyakiti perasaanmu, namun kepergianmu tanpa pesan itu sudah membuktikan bahwa tidak ada keseriusan yang kakak berikan untukku. Sekali lagi, aku meminta maaf padamu. Aku mohon, setelah ini hubungan kakak dengan Kak Justin akan tetap seperti sebelumnya. Sekali lagi, aku minta maaf padamu." Jillian lantas mengajak Justin untuk keluar dari ruangan itu. Rasanya sudah cukup baginya untuk mengatakan isi hatinya. Justin pun tidak menolak ajakan Jillian untuk keluar. Bagaimana pun, Justin tidak salah. Dia berusaha membuat Jillian menemukan dunianya kembali.
__ADS_1
Frey terduduk lemah di dalam ruangan itu. Salah memang, cintanya telah pergi. Apapun yang terjadi, Owen juga sudah mengingatkan bahwa hubungan persahabatan jauh lebih penting. Ketika tahu Jillian memutuskan untuk memilih Justin, Frey harus bisa menerima kenyataan ini. Menerima kenyataan bahwa cintanya telah dimiliki sahabatnya.