
Felix masih mempertimbangkan ucapan Darsh. Dia memikirkan masa depan putrinya jika harus menikah dengan Frey. Usia Jillian baru dua puluh tahun, sedangkan Frey, kalian tahu sendirilah kalau dia masih seumuran dengan Darsh.
"Terima kasih, Darsh. Sepertinya Om harus mengumpulkan semua keluarga sebelum memutuskan masalah ini. Om pamit ke kamar, ya."
"Silakan, Om." Darsh mengantarkannya sampai ke depan pintu kamarnya.
Felix menemui istrinya. Dia pikir masih ada kakak iparnya di sana.
"Kak Oliv sudah kembali, ya?" tanya Felix.
"Iya, Dad. Sudah sejak tadi. Bagaimana pembicaraanmu dengan Darsh. Apakah lelaki yang dimaksud kakak ipar cocok untuk Jillian?"
Felix duduk di ranjang. Dia menggeleng sebagai jawaban untuk pertanyaan istrinya.
"Kenapa tidak cocok? Lalu, apakah kita harus mencarikan calon yang lain?" Kayana mendekati suaminya dan duduk tepat di sampingnya.
"Jillian lebih dulu suka dengan asisten Darsh. Aku khawatir, Mom. Usia lelaki itu masih seumuran dengan Darsh. Aku tidak bisa menyerahkan kebahagiaan putriku begitu saja. Aku akan mencoba meminta pendapat mereka, termasuk Jillian. Kamu bisa bantu aku untuk mengumpulkan mereka di ruang tengah? Masalah ini harus diselesaikan dengan cepat. Terlambat sedikit saja, aku tidak bisa fokus untuk bekerja."
"Baiklah, Dad. Aku langsung ke kamar Kak Dizon, mama papa, dan Jillian. Oh ya, aku akan memanggil Darsh juga. Ehm, tapi apa yang ingin kamu sampaikan pada mereka?" Kayana takut kalau suaminya malah menjerumuskan putrinya sendiri dalam pernikahan dini.
"Mommy jangan khawatir. Aku hanya akan meminta pendapat Jillian. Kalau sampai dia menolak, aku yakin kalau Kak Dizon akan memilih Darsh untuk menikah lebih dulu."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu, Dad?" Kayana tidak mengerti jalan pikiran suaminya untuk masalah yang satu ini. Seperti dihadapkan dengan beberapa teka-teki yang belum bisa dipecahkan.
"Sudahlah, cepat kumpulkan mereka. Jika terlambat, kita bisa batal pulang malam ini."
Sesuai permintaan Felix, Kayana bergegas mengumpulkan semua orang. Dia berharap agar putrinya bisa menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Dia tidak tega melihat gadisnya itu harus memikirkan masalah rumah tangga disela-sela jadwal kuliahnya.
Tak lama, semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Felix yang paling akhir baru datang.
"Ada apa, Felix?" tanya Dizon.
Felix baru saja duduk. Dia memandang Mamanya dengan tatapan bimbang.
"Ehm, begini, Kak. Aku baru saja berbicara dengan Kakak ipar dan Darsh. Sebenarnya Kakak ipar lebih setuju kalau Jillian yang akan menikah lebih--"
"Tunggu, Dad! Ini maksudnya apa? Kenapa aku tidak tahu?" Jillian memotong ucapan Daddynya karena merasa namanya disebut.
"Sabar, Jill. Dengarkan Daddymu dulu!" tegur Kayana.
__ADS_1
"Begini, Kakak ipar setuju kalau Jillian yang akan menikah lebih dulu. Dia juga sudah menyarankan calon yang tepat untuknya, tetapi setelah aku berbincang dengan Darsh, rupanya lelaki itu tidak masuk sebagai pilihan Jillian. Makanya, aku sengaja mengumpulkan kalian semua di sini untuk memutuskan masalah ini."
Jillian yang menjadi obyek pembicaraan merasa ada sesuatu hal besar yang tidak diketahui.
Kenapa aku baru tahu sekarang? Sejak kapan mereka membicarakan masalah ini?
"Ma, memangnya kamu menyarankan siapa untuk calon Jillian?" tanya Dizon.
"Max, Pa. Aku pikir karena dia lebih dewasa daripada Darsh dan teman-temannya. Dia juga jauh lebih mapan," balas Olivia.
"Tidak, Tan. Aku tidak mau dengan lelaki itu!" tolak Jillian.
Felix bisa melihat rasa tidak suka Jillian pada lelaki itu. Entah apa penyebabnya? Felix juga belum tahu.
"Apa kalian merasa tertekan dengan permintaan terakhirku?" tanya Carlotta.
"Bukan seperti itu, Ma. Kami masih merundingkan semuanya. Kami pasti akan memenuhi keinginan terakhir Mama, tetapi tolong beri kami waktu," ucap Felix.
"Jillian tidak tahu masalah ini, Dad," protesnya.
"Kamu terlalu banyak berada di kamar, Jill," sahut Darsh.
"Lanjutkan lagi, Felix!" perintah Dizon.
"Ehm, jadi begini. Calon Jillian yang cukup umur itu belum ada, sementara dia malah memilih asistennya Darsh," ucap Felix.
Jillian langsung memandang kakak sepupunya. Daddynya tahu mengenai hal ini pasti karena Darsh. Siapa lagi selain dia yang tahu masalah ini?
"Kak Darsh sudah cerita semuanya kepada Daddyku?" tuduh Jillian.
"Mau bagaimana lagi, Jill? Kamu pikir mengenai masalah ini aku tidak terjebak di dalamnya," balas Darsh.
"Jadi maksud Daddy, aku harus menikah dengan Kak Frey, begitu?" tanya Jillian kesal. Niatnya mengenal Frey bukan untuk itu, tetapi untuk merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, diperhatikan, dan diberikan kasih sayang oleh lelaki yang dikaguminya.
"Hemm, kenapa kamu malah memilihnya, Jill? Bukankah Tantemu sudah memberikan calon yang sudah mapan itu?" sahut Grandpa.
Kalau Grandpa yang muncul, suasana rapat mulai tidak kondusif. Dia selalu saja menyulut perkara dengan cucu-cucunya. Apalagi kepada Jillian, gadis itu pasti langsung melawan.
"Grandpa ... mengenai masa depanku, aku bisa memilihnya sendiri tanpa melibatkan Grandpa," terang Jillian.
__ADS_1
"Pa, stop untuk berdebat dengan Jillian! Jangan lanjutkan lagi," sahut Dizon. "Lalu, apa keputusanmu, Felix?"
"Maaf, Kak. Dalam hal ini, aku tidak berhak memutuskan langsung. Aku juga memerlukan pendapat Jillian. Apalagi Kakak juga tahu sendiri kan, kalau Jillian juga belum lulus kuliah," terang Felix.
Ucapan adiknya itu sangat benar. Dizon tidak akan mungkin mengorbankan keponakannya yang masih belum menyelesaikan kuliahnya itu.
"Jill, Om tanya padamu. Seandainya kami memutuskan bahwa kamu yang akan menikah terlebih dahulu, bagaimana tanggapanmu?" tanya Dizon.
Jillian terdiam. Dia berada di posisi yang sama membingungkannya dengan kakak sepupunya. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini karena masih ingin menikmati masa mudanya terlebih dahulu.
Darsh sendiri harap-harap cemas. Setelah Jillian mengungkapkan penolakan ini, maka dirinya harus siap dengan segala keputusan keluarga besarnya.
"Ehm, sebelumnya aku minta maaf pada Grandma. Bukan Jillian tidak mau mengikuti permintaannya, tetapi aku harus menyelesaikan kuliahku dulu. Aku meminta maaf pada semuanya. Sekali lagi maafkan aku," balas Jillian.
Jeduar!
Ini merupakan mimpi buruk bagi Darsh. Jillian jelas sudah terbebas dari jeratan pernikahan dini, sedangkan Darsh harus mulai menerima keputusan keluarganya.
"Dad, sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini," ucap Kayana. Sejak tadi wanita itu terus saja menatap jam dinding di ruangan itu. Sudah jelas kalau rapat ini akan memerlukan waktu yang cukup lama.
"Tidak apa-apa, Mom. Kita batalkan untuk pulang malam ini. Aku akan mengabari beberapa staf Damarion untuk menunda rapatnya selama beberapa hari," jawab Felix.
"Felix, karena Jillian sudah menolak perjodohan ini, maka kamu tahu sendiri kan jawabannya akan seperti apa. Kami belum bisa memutuskan apapun untuk Darsh. Ma, aku minta maaf. Aku harus berunding dulu dengan Darsh. Mama tidak apa-apa, kan?" tanya Dizon.
Darsh merasa lega karena Papanya tidak langsung memojokkannya mengenai permintaan terakhir Grandma.
"Tidak apa-apa, Dizon. Beri kesempatan pada Darsh untuk menentukan calonnya sendiri. Aku yakin, dia tidak akan pernah mengecewakan Grandma," balas Carlotta.
Mendengar jawaban Grandmanya, Darsh merasa harus memperjuangkan masa depannya dengan cepat. Walaupun sebenarnya dia agak ragu untuk menjalaninya, tetapi pasti ada sisi positif yang akan didapatkan.
...πΊπΊπΊ...
Hai Kakak readers di manapun berada. Emak mau rekomendasikan karya teman Emak. Cus kepoin, jangan lupa kasih bintang, favoritkan, baca dulu, baru kasih like dan tinggalkan komentar.
Kita, Tanpa Aku by Author Hana Hikari
Terima kasih. Luv yu All πππ
__ADS_1