Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Mommy Kecewa


__ADS_3

Dengan langkah gontai, Darsh berjalan dari basemen menuju ke unit apartemennya. Bukan karena istrinya, tetapi karena ada hal lain yang mengganjal di benaknya. Urusan Max dengan Jillian yang dianggap telah berakhir itu menghantui pikirannya.


Apa iya, Max akan berhenti mengejar Jillian kalau Frey mundur? Jillian juga mundur. Namun, aku tidak yakin Max akan berhenti. Aku yakin, Frey dan Jillian pasti masih menjalin hubungan jarak jauh. Ah, entahlah. Aku hanya tidak ingin Jillian dekat dengan Max. Rumit sekali kisah mereka.


Darsh masuk ke unit apartemennya. Dia tahu kode akses dari istrinya. Lagi pula, Darsh tidak ingin merepotkan. Setelah sampai di dalam, dia tidak melihat keberadaan istrinya di ruang tamu. Keliling ke dapur pun tidak di temukan.


"Mungkin dia berada di kamar." Darsh menuju ke sana dan tidak mendapati keberadaan istrinya. "Ke mana dia? Bukankah harusnya berada di apartemen? Atau, jangan-jangan dia pulang ke rumah orang tuanya."


Darsh mendial nomor ponsel istrinya. Beberapa kali panggilan tak kunjung diangkat oleh Glenda. Hampir saja dia kesal, tetapi ada hal yang mengganjal di benaknya.


"Jangan-jangan pergi ke rumah mamanya. Oh God, Glenda!"


Darsh bergegas turun dari unit apartemennya. Dia kembali ke basemen dan mengambil mobilnya. Secepatnya dia harus sampai ke rumah mertuanya sebelum semuanya terlambat.


"Glenda, kamu membuat masalah baru. Aku takut salah paham dengan papamu."


Darsh mempercepat laju kendaraannya. Dia harus sampai di rumah mertuanya dengan rentang waktu tidak terlalu lama dari istrinya. Bisa saja akan timbul berbagai macam pertanyaan dari mereka. Sampai di sana, Darsh turun kemudian menemui pelayan.


"Bi, mama dan papa ada?" tanya Darsh.


"Ada, Tuan. Tunggu sebentar." Pelayan itu masuk tanpa menanyakan apapun pada menantu majikannya.


Tak lama, Vigor dan Zelene keluar. Mereka melihat menantunya datang seorang diri. Keduanya sempat saling pandang untuk menetralkan keterkejutannya sesaat. Namun, tak lama mereka menanyakan kedatangan menantunya. Darsh berdiri untuk menyambut kedatangan mertuanya.


"Duduklah, Darsh! Mana Glenda?" tanya Zelene.


Deg!


Darsh seperti orang orang yang sedang bingung. Dia ke sini tujuannya untuk mencari istrinya malah ditanya di mana istrinya. Sepertinya terjadi sesuatu yang dia tidak tahu.


"Ehm, bukannya Glenda datang ke mari, Ma?" tanya Darsh.


Zelene melirik suaminya. Mungkin terjadi sesuatu yang membuat Glenda pergi dari apartemennya. Zelene sangat khawatir pada putrinya.

__ADS_1


"Darsh, apa kalian bertengkar?" selidik Zelene.


"Bertengkar? Kami tidak sedang ada masalah, Ma. Cuma, aku baru pulang dan mencari Glenda di apartemen, tetapi tidak ada. Darsh pikir dia berada di sini."


"Tidak pamit padamu? Atau mungkin ke mana begitu? Sudah mencoba meneleponnya?" Zelene benar-benar khawatir. Sesekali wanita paruh baya itu melirik suaminya untuk membantu berpikir kira-kira ke mana perginya putrinya.


Zelene dengan Vigor sangat berbeda. Pria paruh baya itu malah lebih tenang menghadapi situasi seperti ini. Dia hanya melihat Darsh yang mulai khawatir pada anaknya.


Mungkin Glenda sedang memainkan trik manis untuk menjerat suaminya yang dingin itu. Biarkan saja, Darsh biar tahu rasanya. Batin Vigor.


"Dad, kenapa kamu diam? Bantu berpikir dong!" protes Zelene.


"Ini aku sedang berpikir, Mom. Darsh, apa kamu sudah mencoba meneleponnya? Glenda pasti pergi menggunakan taksi online. Dia tidak bisa mengemudikan mobil," jelas Vigor.


Oh God. Mungkinkah dia pergi ke restoran? Tapi mustahil sekali kalau dia pergi ke sana. Batin Darsh.


"Apa mungkin Glenda pergi ke restoran ya, Pa?" selidik Darsh.


"Glenda tidak ada di restoran. Pelayan tidak ada yang melihatnya."


Darsh terlihat sangat frustrasi. Dia memikirkan hal buruk yang terjadi pada istrinya. Mungkin saja ada orang yang hendak melukai istrinya. Bayangannya terlalu jauh memang, tetapi bagaimana lagi.


Kemana dia? Aku sudah mencoba meneleponnya berulang kali, tidak ada respon darinya. Batin Darsh.


"Pa, apakah Glenda memiliki teman dekat? Ehm, maksudku mungkin dia berada di sana karena lama tidak bertemu."


Vigor dan Zelene lagi-lagi saling pandang. Zelene yang paling terlihat sangat khawatir. Glenda tidak memiliki teman dekat. Apalagi status penyamarannya sebagai orang biasa, tentu akan sulit berteman dengan kalangan menengah ke atas. Jawabannya cukup menyakitkan bagi Darsh karena kedua orang tua Glenda menggeleng bersamaan.


"Aku harus mencarinya ke mana, Ma, Pa?" Rasa putus asa, kesal, kecewa berbaur menjadi satu. Kalau tahu istrinya tiba-tiba menghilang seperti ini, dia akan mengajaknya pergi untuk menemui Owen.


"Coba kamu hubungi ponselnya! Siapa tahu dia mengangkatnya," usul Vigor.


Darsh mengambil ponsel di saku bajunya. Berulang kali mendial nomor istrinya, tetap tak kunjung diangkat. Dia sampai mengirim pesan padanya, berharap mendapat balasan. Namun, usahanya sia-sia. Pesan juga tidak dibalasnya. Kini giliran Darsh yang menggeleng. Dia sepertinya berada di posisi yang salah di mata mertuanya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku belum bisa menjaga Glenda dengan baik," ucapnya menunduk.


Zelene yang teramat panik itu malah membuat Darsh semakin bersalah. Wanita paruh baya itu benar-benar khawatir kalau putrinya akan disakiti oleh orang lain.


"Dad, kita harus mencarinya. Aku tidak mau terjadi apa-apa pada putri kita. Darsh, lain kali jangan seperti itu. Kamu tahu, Glenda itu bukan gadis pada umumnya. Dia hanya bisa pergi menggunakan taksi. Bagaimana kalau sopir taksi berbuat buruk padanya? Oh ya ampun, Dad. Aku tidak bisa membayangkan nasib putriku. Darsh, kamu sudah menjadi suaminya. Berusahalah untuk bertanggung jawab atas istrimu itu. Mommy kecewa padamu!"


Deg!


Darsh merasa tidak enak pada mertuanya. Bagaimana pun juga ini salahnya. Mungkin Glenda pergi ke mana untuk membeli sesuatu atau entahlah. Hanya dugaan saja.


"Ma, maafkan aku. Aku akan kembali ke apartemen lagi. Siapa tahu Glenda sudah pulang dan lupa membawa ponselnya. Darsh pamit, ya," ucapnya.


Zelene tidak membalasnya. Dia terlalu kecewa pada menantunya itu. Seharusnya putri semata wayangnya itu dijaga dengan baik, malah sekarang menghilang.


"Iya, Darsh. Kabari kami, kalau sudah bertemu," jawab Vigor.


"Terima kasih, Pa."


Darsh pulang. Sementara Vigor malah menertawakan istrinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana menantunya itu akan kelimpungan mencari anak semata wayangnya itu.


"Dad, ini tidak lucu!" protes Zelene.


"Harusnya kamu itu bertepuk tangan. Putrimu pandai sekali membuat drama."


"Maksud Daddy apa?"


"Aku yakin kalau Glenda hanya pergi ke rumah mertuanya. Kamu tahu sendiri kan kalau Darsh itu tipe lelaki dinginnya seperti apa? Mungkin saja Glenda sedang berguru pada mama mertuanya," ucap Vigor dengan senyuman mengembang di bibirnya.


"Aku masih belum paham, Dad."


"Sudahlah, lupakan! Kamu masih marah. Jadi, mana bisa memahami ucapan sederhanaku itu."


Vigor paham putrinya. Gadis itu hanya berusaha menarik simpati suaminya. Wajar dia melakukan hal secepat ini supaya Darsh bisa berubah menjadi lelaki yang lebih peka. Sangat sulit memang menaklukkan karakter dingin seperti Darsh. Namun, tidak menutup kemungkinan lelaki itu bisa bucin akut kalau berada di tangan yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2