
"Hai, Frey. Apa kabar?" tanya Helga. Namun, Frey tidak menanggapinya. Lelaki itu masih dalam lamunannya sehingga sebuah lengan menyenggolnya.
"Frey, kamu baik-baik saja, kan?" Owen berusaha menyadarkan sahabatnya itu dari lamunannya.
"Iya, aku baik."
Owen lantas menarik tangan lelaki itu untuk duduk tepat di sampingnya. Acara sebentar lagi di mulai, tetapi sebelum itu, Owen membisikkan sesuatu kepadanya.
"Sadar, dia sudah jadi milik orang lain. Jangan jadikan persahabatan kita hancur hanya karena perempuan!" bisik Owen pada Frey.
Suara mikrofon mulai mengumumkan acara hari ini sebagai wujud rasa syukur karena kehadiran dua bayi kembar emas. Willy Damarion dan Welenora Abraham. Semua orang yang hadir bersuka cita menyambut kehadiran bayi lucu yang berada di gendongan grandmanya. Darsh dan istrinya berdiri tepat di samping kedua wanita paruh baya itu.
Tak lupa, Vigor juga memperkenalkan Glenda sebagai putri pemilik restoran ZA. Tentu saja hal ini membuat beberapa karyawan yang sempat mengenal Glenda menjadi malu. Rupanya gadis yang selama ini pernah dibuat kewalahan oleh beberapa teman sesama pelayan adalah anak pemilik restoran.
Terdengar ucapan penyesalan pada beberapa karyawan yang mengetahui kenyataan ini. Namun, Glenda tidak pernah mempermasalahkan sama sekali. Bahkan, dia tidak pernah melaporkan kejadian ini pada daddynya. Setelah sambutan selesai membuat tamu undangan bertepuk tangan menerima kehadiran dua bayi kembar dan pengakuan Glenda sebagai anak dari Vigor Abraham.
Acara dilanjutkan dengan makan siang santai di meja masing-masing. Vigor membuat konsep seperti ini agar kenyamanan tamunya tetap terjaga. Mereka tidak perlu mengantre makanan model Prasmanan karena semua akan siap di meja masing-masing.
Baby W setelah acara malah terlihat rewel sekali. Kedua bayi itu tidak membiarkan orang tuanya dengan tenang untuk menyambut tamunya. Hingga Vigor menyarankan untuk membawa kedua bayi itu masuk ke ruangan kantornya. Di sana ada sebuah kamar yang biasanya dipakai Vigor untuk beristirahat selama ini.
"Lihatlah tingkah mereka, Mom! Mereka tidak akan membiarkan Glenda menikmati acara hari ini," ucap Glenda pada mommynya.
"Tentu saja. Mungkin mereka masih malu ditatap banyak pasang mata di luar," sahut Olivia, mama mertuanya.
"Darsh ke mana, Ma?" tanya Glenda.
"Menemui sahabatnya. Kamu jangan khawatir. Kami akan menemanimu bersama dua bayi lucu ini. Setidaknya biarkan suamimu itu diluar," ucap Olivia mengingatkan.
__ADS_1
Ya, tanggung jawab Glenda pada dua bayi mungil ini jauh lebih besar. Dia harus menekan egonya untuk merawat kedua bayi ini. Walaupun ada dua baby sitter yang terus siaga bersamanya, tetap saja kedua bayi mungil ini membutuhkan dirinya.
Seusai menyusu, kedua bayi itu tidur juga di ranjang yang biasa ditempati granpanya. Pulas dan sepertinya tidak terbebani kehidupan dunia seperti kedua orang tuanya.
Kerumitan dua bayi lucu telah usai karena keduanya sudah tidur pulas. Sementara di sebuah meja di sudut restoran yang masih dalam nuansa penyambutan bayi, perbincangan sedang berlangsung. Kelima sahabat sedang berkumpul di sana. Di antara dua orang yang ada tanpa pasangannya yaitu Darsh dan Frey.
"Darsh, bagaimana rasanya punya bayi?" tanya Max.
Pertanyaan lelaki itu sungguh menggelitik hatinya. Hanya keempat sahabatnya yang belum pernah merasakan dag dig dug-nya punya bayi. Yang paling berkesan adalah momen menuju lahiran sampai bayi itu berada di luar.
"Pertama ketika menanti kelahiran bayi itu aku merasakan kekhawatiran yang mendalam pada istriku, tetapi ketika keduanya sudah lahir, ada perasaan haru bercampur bahagia. Kamu akan merasakan kalau sudah menikah dan istrimu hamil. Oh ya, Justin, bagaimana dengan kabar istrimu itu?" Darsh sengaja bertanya pada Justin. Padahal Jillian juga sedang berada di meja yang sama dengannya. Entah pancingan apa yang sedang dijalani Darsh untuk semua sahabatnya.
"Pertanyaanmu salah sasaran, Darsh! Harusnya kamu bertanya pada Jillian langsung. Bukan pada suaminya," sahut Owen. Dia menggenggam erat tangan Willow supaya tetap berada di sisinya. Sementara Max dengan seenak jidatnya berani mencuri pandang ke arah gadis yang sudah disia-siakan beberapa waktu belakangan ini.
"Aku juga bisa menjawabnya, Kak Darsh. Tunggu saja kabar baik dari kami. Oh ya, apa kabar, Kak Frey?" Jillian bisa bersikap biasa dan sudah sangat normal sebagai gadis yang pernah menjalin hubungan dengan Frey. Justin sudah memberikan bertubi-tubi kebahagiaan. Maka dari itu, dia bisa melupakan Frey dengan sangat cepat.
Justru lelaki itu yang salah tingkah. Walaupun berusaha menutupi kenyataannya, namun dari pandangan mata sahabatnya yang lain, Frey belum bisa move on dari Jillian. Dia memang tegar, tetapi hati mana bisa berbohong dan berubah secepat kilat. Mungkin saja nanti kalau sudah menemukan gadis yang bisa menggantikan Jillian seutuhnya, barulah Frey akan move on besar-besaran.
"A-aku baik, Jill. Bagaimana denganmu?"
"Kami baik, Frey," jawab Justin. Rasa cemburu Justin sudah menjalar. Ya, walaupun Justin tahu kalau Frey hanya masa lalu, tetapi hatinya tak mungkin bisa dipungkiri. Pesona istrinya masih menarik di mata sahabatnya.
"Ehm, kalian jangan seperti itu. Sudah punya pasangan masing-masing. Lihatlah Max, dia berani membawa Helga ke sini. Ada kemungkinan untuk masa depannya juga, bukan?" ucap Darsh. Dia berusaha membuat lelaki itu tersadar bahwa perempuan bukan mainan. Kalau niatnya serius, tak perlu sampai ribut dan babak belur antar sahabat. Lagi pula perempuan juga banyak.
"Doakan kami, Darsh. Melihatmu seperti ini membuatku menyadari arti kekeliruan hidupku. Kamu benar, berbahagia itu ketika bersama pasangan kita yang sah. Terima kasih sudah menerimaku yang hina ini," ucap Helga secara gamblang. Tentu saja hal itu membuat perasaan seorang gadis dipertaruhkan di sini.
Willow merasa terpacu dan juga tersinggung dengan ucapan pasangan Max barusan. Walaupun Willow tidak tahu betul siapa dia, tetapi ucapannya barusan membuatnya menciut.
__ADS_1
"Owen, aku pamit ke toilet sebentar, ya," pamit Willow dengan sedikit berbisik.
"Hemm, pergilah! Lekas kembali ke sini. Ku tunggu," ucapan Owen dibuat sekeras mungkin agar Max tidak berani lagi menggoda gadis itu.
Setelah Willow, Helga rupanya juga menyusul pergi ke toilet. Entah, ada apa dengan beberapa gadis ini? Kenapa pada pergi ke toilet?
"Kamu tidak pergi ke toilet juga, Sayang?" tanya Justin pada Jillian.
"Kamu mengusirku?" canda Jillian pada suaminya.
"Tidak seperti itu, Sayang. Aku hanya ingin mengobrol sesama lelaki. Sebentar saja," bisiknya.
"Baiklah. Aku akan pergi ke tempat mommy dulu," ucap Jillian yang sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Mereka sudah pergi. Katakan apa yang ingin kalian ungkapkan," ucap Darsh.
"Justin, aku minta maaf sudah membuatmu tidak nyaman dengan keberadaanku," ucap Frey ketika menyadari kalau sahabatnya itu cemburu padanya.
"Tidak masalah. Lagi pula kita baru bertemu sekarang, kan. Kamu jangan khawatir, istriku itu berusaha menghormati dirimu. Itulah yang kusuka darinya. Dia berusaha mengesampingkan ego-nya demi persahabatan suaminya," jelas Justin.
Justin tak perlu lagi cemburu yang berlebihan. Frey hanya masa lalu. Sekarang dialah pemilik jiwa dan raga seutuhnya. Jadi, untuk apa cemburu berlebihan?
...🍒🍒🍒...
Sambil menunggu update, yuk kepoin karya keren rekomendasi Emak. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya 💟 Terima kasih
__ADS_1