
Sesaat suasana mencekam dengan pertanyaan Darsh. Beberapa keturunan dari kedua keluarga yang sudah berada di ruang tamu nampaknya memikirkan hal yang sangat mengerikan di masa lalu kedua keluarga. Yang paling berpikir saat ini adalah Darsh dan Glenda.
Suasana memang masih berduka. Pertemuan tidak sengaja ini membuat Kayana masuk dalam keluarga besar Armstrong. Walaupun mereka juga terikat sebagai hubungan keluarga karena keponakannya menikah dengan cucu kedua dari keluarga Armstrong.
"Tanyakan saja pada Daddy mertuamu!" ucap Sean.
Glek!
Darsh semakin bingung. Sebenarnya ada hubungan apa antara papa, Om dari pihak istri, dan Daddy mertuanya? Kenapa seolah memang ada sebuah kejadian yang menghubungkan mereka?
Vigor sekarang menjadi pusat perhatian oleh seluruh anggota keluarga. Tidak terkecuali tatapan putrinya yang seolah memintanya untuk berkata jujur.
"Dad, apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Glenda disela kebungkaman daddynya.
Vigor menatap satu per satu orang yang ada di sana. Rasanya dia seperti tersangka utama yang harus mengakui semua kesalahannya di masa lalu. Padahal semua karena permintaan Felix untuk menyatukan kakaknya dan dengan dukungan Sean yang menggelontorkan dana sebesar itu. Namun, cara mempertemukannya saja yang sangat tidak biasa. Seolah semua kejadian itu tidak sengaja. Padahal semua itu kebetulan sekali karena ulah seorang Vigor.
"Maaf, sepertinya aku bukan satu-satunya tersangka utamanya di sini. Tanyakan sama sama Felix dan kakak ipar, Sean!"
Glek!
Sekarang Sean dan Felix saling pandang. Darsh semakin penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi dengan ketiga pria paruh baya itu dengan papanya?
"Om, tolong ceritakan kronologisnya. Jangan sampai aku berpikiran negatif dalam hal ini," ucap Darsh masih dalam rasa penasarannya.
"Baiklah. Sepertinya aku yang akan menjadi tersangka utama dalam hal ini." Felix akhirnya angkat bicara. Dia menjelaskan detail kejadiannya dari awal pertemuan Dizon dan Olivia sampai penculikan itu. Akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah.
Diam sesaat. Setelah itu, tanpa basa-basi, Darsh malah tertawa. Ini pertama kalinya Darsh terlihat seperti mendapatkan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah didapatkan sebelumnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Glenda.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi dengan kita. Kupikir mama dan papa menikah dengan cinta, rupanya tidak sama sekali." Darsh tersenyum mengatakan hal ini.
Baik Zelene, Kayana, maupun Callista tersenyum mendengar penuturan Darsh yang jujur itu. Padahal dari ketiga wanita paruh baya di ruang tamu ini, hanya Zelene yang menikah dengan cinta. Kayana dan Callista malah belum mencintai pasangannya. Seiring perjalanan waktu, barulah kedua sahabat itu mulai mencintai pasangannya.
"Wah, kenapa ramai sekali?" tanya Willow yang baru saja datang. Semenjak tadi, gadis itu berada di kamar bersama suaminya. Dia kelelahan setelah pemakaman kemarin.
__ADS_1
Callista tertegun melihat perempuan cantik yang baru saja datang. Baru kali ini Callista bertemu. Namun, wajah cantiknya itu mengingatkannya pada seseorang.
Apakah dia anak Diana? Wajah cantiknya tidak asing untukku. Tapi, kenapa dia berada di sini? Suamiku juga tidak menceritakan apapun. Ataukah dia menyembunyikan keberadaannya di sini? Batin Callista.
"Sayang, siapa dia?" tanya Callista pada suaminya.
Kalau Felix memang sudah tahu kalau itu Willow. Sebelumnya memang pernah bertemu karena alasan Willow mencari kakaknya.
"Willow, kamu di sini?" sahut Felix.
Tanpa mendapatkan jawaban dari Sean pun, Callista sudah mencerna siapa sebenarnya perempuan itu.
"Aunty Callista," sapa Willow. Walaupun dia bertemu ketika kecil, wajah Callista tak banyak berubah. Hanya saja semakin menua.
"Kamu, Willow?"
Willow mendekati Callista dan memeluk wanita paruh baya itu. "Maafkan mamaku, Aunty. Mungkin di masa lalu pernah melakukan kesalahan semasa hidupnya."
Deg!
"Diana meninggal?" tanya Sean.
"Maaf, Om. Aku lupa memberitahukan padamu. Aku minta maaf semuanya yang sudah di sakiti mamaku semasa hidupnya." Willow melepaskan pelukannya.
"Itu hanya masa lalu, Willow. Sekarang, hiduplah berbahagia dengan suamimu," balas Kayana.
Kayana tahu kalau Willow sudah menikah dengan sahabat keponakannya.
"Baiklah, sepertinya kaum muda lebih banyak diam kali ini. Sebelumnya aku minta maaf atas semua salah yang dilakukan mamaku ataupun saudari kembarnya. Kita memang tidak boleh terlalu terpuruk dengan keadaan. Oleh karena itu, aku meminta kalian untuk mengusulkan sesuatu supaya kita bisa bertemu dengan Dizon maupun Olivia. Bagaimana? Apa kalian setuju?" ucap Sean.
Mumpung semuanya berkumpul bisa sekalian reuni. Agaknya ini mendapatkan tanggapan positif dari semua orang yang sedang berkumpul di ruang tamu.
"Kami setuju. Bisa langsung dikumpulkan vote rencananya mau pergi ke mana," usul Felix.
Mumpung lagi liburan dan Jillian masih beberapa bulan lagi melahirkan. Namun, Felix tidak mengizinkan putrinya itu terlalu capek.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak mengizinkan Jillian untuk ikut acara ini." Felix menyampaikannya di awal agar putrinya tidak berharap lebih.
"Yah, Daddy. Padahal aku ingin banget," ucap Jillian.
"Maaf, kalau boleh usul. Kenapa kita tidak pergi ke rumah Om Dizon saja? Di sana kita bisa berkumpul sekaligus berlibur. Nanti aku akan menyiapkan Kafeku khusus untuk liburan setelah dari rumah Om Dizon. Bagaimana?" usul Owen.
Mereka saling berpandangan. Sebenarnya usul ini bagus, apalagi keluarga Dizon sedang merawat dua bayi kembar. Kemungkinan besar mereka tidak bisa ke mana-mana.
"Di mana itu?" tanya Zack yang baru saja ikut bergabung. Sejak tadi dia dan istrinya sedang menidurkan baby Gavino. Bayi itu sangat manja sekali sama daddynya.
"Negara H, tempat tinggalku," sahut Darsh ketus.
Sejak awal pertemuan mereka sudah terbangun hal buruk. Sama-sama tidak mau mengalah dan terus bersaing.
"Aku setuju. Apalagi cucuku ada dua. Jadi, kemungkinan untuk pergi jauh tidak mungkin. Oh ya, Aquarabella kalau kamu mau ikut, silakan. Kalau tidak, tak menjadi masalah. Apalagi kalian membawa bayi." Zelene memang ingin semuanya berkumpul. Mengingat keponakannya itu masih memiliki bayi, takutnya malah kecapekan.
"Begini saja, Ze. Bagi siapa yang memungkinkan untuk ikut, silakan ikut. Kalau ada keperluan lain, lebih baik mundur tak menjadi masalah. Lagi pula ini hanya reuni kaum paruh baya seperti kami, bukan?" Callista menambahkan.
"Aku setuju usul istriku. Zack, kamu bisa kembali pulang dengan istri dan anakmu. Kesehatan Gavino lebih penting. Kurasa itu keputusan yang tepat." Sean memang ingin sekali bertemu dengan Dizon. Ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan pria paruh baya itu.
"Aku juga meminta Jillian dan Justin untuk pulang saja. Kurasa sebaiknya kalian urus rumah dan perusahaan. Ditinggal terlalu lama tidak akan baik. Apalagi Jillian sedang mengandung. Daddy rasa itu cukup adil untukmu. Benar begitu, Jill?" Felix berusaha memberikan pengertian pada putrinya. "Satu lagi, jangan lupa kabari kondisi grandpa."
Felix mengatakan ini jelas beralasan. Di rumah, papanya memang sedang sakit. Namun, dia berani meninggalkan untuk beberapa hari ke depan karena kondisi kesehatan papanya sudah membaik.
"Baik, Dad. Kami akan pulang," jawab Jillian lirih. Sebenarnya dia ingin ikut karena rindu sekali dengan baby W.
"Sayang, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Daddy benar, kamu tidak boleh terlalu capek. Lagi pula ini reuni semua orang dewasa," ucap Justin.
Rencana keluarga besar ini agaknya membuat beberapa orang dilema. Rasanya memang ingin berkumpul semuanya, namun ada beberapa hal yang murni tidak bisa ditinggalkan.
...🍃🍃🍃...
Yuk mampir karya teman Emak. jangan lupa tinggalkan jejaknya
__ADS_1