
Sore menjelang, Sean sudah memutuskan kalau mereka hanya akan pergi ke Kafe berdua saja.
"Daddy yakin tidak mengajakku?" tanya Callista yang sedang melihat suaminya bersiap.
"Tidak, kamu di rumah saja temani Olivia dan Glenda. Aku ke sana bersama Dizon. Nanti Darsh juga menyusulnya."
"Baiklah. Lalu, aku kalau bosan di rumah harus apa?"
"Berkemas saja, besok pagi kita berangkat."
Dizon sudah menunggunya sehingga Sean lekas keluar dari kamar. Dia membawa dompet dan ponselnya.
"Kamu tidak meminta Vigor untuk datang ke Kafe?" tanya Dizon ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Tidak, kurasa dia mungkin sedang sibuk di restoran. Biarlah, toh kami masih bisa berkomunikasi. Sementara denganmu, itu sangat langka. Oh ya, Om Denzel apa kabar?" Sean hanya ingin tahu kabar pria tua itu setelah kepergian sang istri.
"Papa terkadang sakit," jawabnya.
Oh ya, keduanya hampir melupakan Felix. Selepas kepergian beberapa orang ke tempatnya masing-masing, Felix memutuskan untuk menginap di hotel saja. Alasannya ingin menikmati liburan tanpa merepotkan keluarga kakaknya. Lagi pula, besok pagi mereka harus kembali ke negara asalnya.
"Pantas saja kalau Felix hanya pergi sebentar saja."
"Iya, Sean. Dia yang bertanggung jawab menjaga papa. Aku berharap papa selalu sehat sehingga tidak menyusahkan Felix dan istrinya. Aku sendiri tidak mungkin berada terus di sisinya. Perusahaan papa sudah diserahkan sepenuhnya pada Felix dan sekarang dikelola menantunya, Justin."
Mobil yang dikendarai Dizon sudah memasuki area parkir Kafe milik Owen. Ini pertama kalinya kaum paruh baya berkunjung ke Kafe. Keduanya langsung masuk ke dalam. Sebenarnya agak risih juga karena keduanya sudah berumur. Namun, tak mengurangi ketampanan di masa mudanya.
Banyak tatapan mata menelisik, termasuk kaum wanita muda. Beberapa malah berusaha menggoda kedua pria paruh baya itu. Baik Sean maupun Dizon tidak bergeming sama sekali. Keduanya sengaja memilih tempat duduk biasa karena VVIP room sudah ditempati oleh orang lain.
"Maaf, aku lupa mengabari Owen. Kita cuma dapat tempat yang membaur dengan banyak tamu," ucap Dizon.
"Tak masalah. Apalagi kamu juga banyak pikiran, kan?"
Dizon cuma mengangguk saja. Pelayan Kafe menghampirinya untuk mencatat pesanan mereka.
"Itu saja, Tuan?" tanya Pelayan.
"Oh ya, bosnya ada di tempat?" tanya Dizon.
__ADS_1
"Oh, Tuan Owen? Iya, hari ini belum datang. Mungkin agak malam, Tuan. Kalau begitu, saya langsung permisi, Tuan," pamit pelayan itu.
Suasana Kafe memang ramai sekali. Semuanya di dominasi oleh kaum muda sehingga kedatangan Sean dan Dizon begitu menyita perhatian mereka.
Dua gadis muda mendekati pria paruh baya itu kemudian menyapanya.
"Hai, Om. Berdua saja, nih?"
"Sebaiknya kalian kembali ke tempat. Jangan ikut campur urusan kami!" bentak Dizon.
Dizon paling anti masalah wanita, tetapi Sean enggan menanggapinya.
"Om, jangan begitu dong! Kami kan juga ingin gabung. Ini pertama kalinya loh," ucap salah satu temannya.
Tak berhenti di situ saja, kedua gadis itu nekad duduk di antara kedua pria paruh baya itu.
"Kalian ini punya aturan, kan? Lebih baik kembali ke tempat duduk kalian atau aku akan memanggil menantuku dan mengusir kalian," ancam Dizon.
Keduanya tidak malah jera, melainkan seperti menantang begitu saja. Sepertinya kedua gadis muda itu terlalu berharap lebih. Mungkin saja keduanya mengira kalau pria paruh baya itu adalah sugar daddy.
"Ayolah, Om. Si Om ini saja tidak berkomentar apapun. Kenapa Anda yang selalu saja berbicara?"
Lama-lama Sean risih juga dengan sikap kedua gadis muda itu.
"Sebaiknya kalian berdua pindah tempat. Kami sedang menunggu klien di sini," ucap Sean.
Di usir bagaimanapun, kedua wanita itu tidak mau pergi sedikitpun. Malah salah satunya mencoba menarik perhatian Om galak yaitu Dizon.
Dizon langsung menepis tangan itu. Bersamaan dengan itu, Darsh datang. Sungguh tidak menyangka kalau papa dan Om-nya dikelilingi dua wanita muda.
"Apa-apaan ini, Pa?" Darsh sangat terkejut. "Tolong kalian pergi sekarang!"
"Wah, maaf Darsh. Rupanya ini papamu, ya?"
Perlahan kedua gadis muda itu meninggalkan meja karena malu. Darsh tidak menyangka kedatangan papanya itu malah mengundang perhatian para gadis.
"Ck, lebih baik ini pertama kali dan terakhir kalinya kalian ke Kafe. Lihatlah beberapa pandangan mata mengira kalau kalian sugar daddy."
__ADS_1
Sean tersenyum. "Hemm, apakah kami semenarik itu, Darsh?"
"Om masih meragukanya? Lihat saja buktinya. Kalian malah digoda gadis-gadis seperti barusan. Itu sudah membuktikan kalau pesona Om Sean ataupun Papa tidak pernah memudar."
Bahkan pria paruh baya yang sudah memiliki cucu itu dikira sugar daddy. Sean jadi teringat pertemuannya dengan Callista. Usianya kala itu masih 40 tahun lebih sedikit. Rasanya saja seperti sugar Daddy. Sekarang malah usia di atas 60 tahun masih digoda seperti barusan. Sepertinya kharismanya semakin bertambah.
"Hemm, mereka hanya kurang kerjaan saja," ucap Dizon.
"Bukan kurang kerjaan, Pa. Mereka memang butuh uang. Ya begitulah hidup. Kurasa hanya kalian berdua yang selalu bersikap anti wanita."
Selain kedua pria paruh baya itu, Darsh juga termasuk lelaki yang anti dengan wanita. Bahkan, ketika dia dikejar oleh tiga gadis penggoda itu, Darsh enggan untuk meliriknya.
"Owen belum datang?" tanya Darsh.
"Belum, Darsh. Apakah setiap hari Owen selalu ke sini?" tanya Sean.
Dia perlu memastikan kalau Owen yang terbaik untuk Willow. Melihat Kafe yang terus ramai seperti ini, tentu saja omset yang didapatkan tidak bisa disepelekan.
"Hampir setiap hari Owen selalu mengurus Kafenya. Mungkin beberapa hari ini dia kecapekan setelah berlibur," jelas Darsh.
Tak lama, pesanannya datang. Rupanya yang membawa nampan langsung adalah owner Kafe yaitu Owen.
"Wah, ini spesial sekali. Langsung dilayani pemiliknya!" seru Sean.
"Maaf baru datang. Aku dan Willow sibuk di apartemen seharian," ucapnya kemudian langsung ikut bergabung dengan mereka.
"Ck, pengantin baru pasti selalu sibuk. Tetap semangat, Owen!" ucap Darsh sambil mengambil gelas minumannya. Tanpa pesan pun, Owen selalu menyediakan untuknya.
"Apakah Kafenya menyenangkan, Om?" tanya Owen pada kedua pria paruh baya itu.
"Sebenarnya sangat menyenangkan, tetapi karena ini pertama kalinya ada pria paruh baya masuk ke sini, kurasa perhatian mereka terpecah. Kami langsung didatangi dua gadis muda sekaligus." Dizon mengungkapkan kekesalannya.
Owen tersenyum. "Mungkin mereka mengira Om itu sugar daddy. Sangat wajar, sih. Ini memang pertama kalinya didatangi pria paruh baya. Maaf ya, Om," balas Owen.
"Ck, yang benar saja. Pria-pria bercucu masih dikira sugar daddy. Pesona papa terlalu menarik di mata mereka." Darsh tidak bisa menerima kenyataan kalau papanya sangat menarik di hadapan gadis muda.
"Kamu pikir Papa suka, hah? Tidak sama sekali. Kurasa kamu salah paham. Kami bahkan tidak tertarik untuk menjadi sugar daddy." Dizon memang anti wanita. Sekalinya kenal dengan Diana, dia hanya dijadikan obyek permainannya semata.
__ADS_1
"Betul, Darsh. Aku dan papamu itu bukan sugar daddy. Walaupun kami kaya, tetapi untuk menjadi sugar Daddy itu pantangan untuk kami. Kalaupun kami bersama wanita, mereka adalah istri kami," jelas Sean.
Pria paruh baya yang dikira sugar Daddy itu memang sangat menghargai komitmen pernikahan. Sehingga keduanya sampai memiliki cucu belum pernah terdengar buruk di mata anak-anaknya.