
Frey benar. Seandainya posisinya ditukar, Glenda kemungkinan akan melakukan hal yang sama. Melupakan masa lalu tidak seperti membalikkan telapak tangan.
"Maafkan aku, Frey. Mungkin karena aku terlalu mengkhawatirkan Welenora. Kurasa sebaiknya kamu mencari yang lain saja. Kalau hari ini tidak cocok, mungkin saja di kantor kamu bisa menemukannya." Glenda tentunya harus mengalah. Mereka juga tidak bisa memaksakan kehendaknya karena urusan hati itu bukan seperti belanja bulanan yang sudah dicatat, cocok, dan langsung membelinya. Semuanya jelas butuh proses yang tidak instan.
"Ya, Kakak ipar. Aku minta maaf, ya. Kakak ipar jangan khawatir. Kami tidak akan mengejar cinta Welenora." Frey merasa tidak mungkin menunggu terlalu lama.
Meninggalkan acara ulang tahun Owen yang sudah usai, kedua pria singel itu belum menemukan tambatan hatinya yang pas. Hingga suatu hari Frey terjebak di dalam lift bersama seorang perempuan muda yang kebetulan sedang magang di sana. Beberapa mahasiswa magang memang diterima Darsh untuk menambah karyawan serta membantu kinerja karyawan yang lainnya.
Tetap saja tidak mudah untuk Frey maupun Owen hingga pada akhirnya Darsh memutuskan sesuatu untuk kehidupan kedua sahabatnya itu.
"Kalau kalian tetap memilih status seperti itu, jangan pernah sekalipun mempunyai keinginan untuk mendekati putriku, Welenora. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa menerima kalian. Sebaiknya kalian menentukan jalan hidup masing-masing. Kami tidak akan memaksanya," ucap Darsh disela kesibukannya mengurus perusahaan. Mereka masih saja menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama.
"Jangan khawatir, Darsh. Kami akan membiarkanmu berbahagia. Setelah ini, kami tidak akan mengusik kehidupanmu. Apalagi putrimu." Itu janji Frey. Begitu juga dengan Owen.
Sepasang balita kembar itu semakin hari tumbuh semakin besar. Keinginan Glenda maupun Darsh untuk memiliki adik untuk balita kembarnya sudah tidak ada lagi. Fokus mereka hanya pada Willy dan Welenora.
*****
Tiga tahun kemudian, baik Welenora maupun Willy sudah masuk ke taman kanak-kanak. Keduanya sangat menggemaskan. Kalian tahu bukan kalau sikap Welenora seratus persen meniru daddynya? Tak mudah untuk menaklukkan gadis kecil itu. Jangankan keluarganya atau orang lain. Bahkan gurunya pun tidak bisa merayunya.
"Mom, Willy selalu begitu!" protes Welenora ketika adik kembarnya itu usil memasukkan bukunya ke dalam tas sang kakak.
"Mom, aku ini pria, kan? Aku tidak bawa apapun ke sekolah."
Entah darimana Willy mendapatkan kata-kata seperti itu. Rasanya sangat menggelitik sekali.
"Willy, jangan seperti itu! Baik perempuan atau laki-laki, ke sekolah tetap saja membawa tas. Kalau kamu mengganggu kakakmu terus, Kak Welenora bisa marah." Glenda bukannya malah kesal, dia hanya lelah saja menghadapi Willy yang rupanya tingkahnya menirukan masa kecil Glenda sendiri.
__ADS_1
"Kurasa mom dan dad sudah cukup kewalahan mengurusku di masa lalu, Sayang. Lihatlah bagaimana sikap Willy! Untung saja aku anak tunggal."
"Kamu benar, Sayang. Oh ya, ada kabar gembira. Setelah beberapa tahun, hari ini Teofilo Damarion akan datang bersama keluarga besarnya. Kami ingin membuat kenangan indah. Besok, kita foto bersama. Kamu tahu kan kalau aku juga memanggil fotografer untuk mengabadikan kisah kita?"
"Benarkah? Hanya keluarga besar Damarion saja? Ajak juga keluargaku, Sayang. Kamu jangan lupa mengabari Mommy dan Daddy. Mereka juga akan ikut dalam bagian ini," balas Glenda.
"Dad, benarkah Teo akan datang?" tanya Willy. Rasa ingin tahunya cukup tinggi.
"Ish, lebih baik tidak datang," gerutu Welenora. Dia paling tidak suka kalau Willy memiliki teman. Bukan karena Teo masih keluarganya atau apa, tetapi Welenora tidak suka jika adiknya itu punya teman yang akan menggangu dirinya.
"Sayang, jangan begitu! Sebaiknya kamu bersiap karena Daddy akan mengantarmu."
Ya, keduanya berada di kelas dan sekolah yang sama. Seperti sebelumnya, Welenora tipe gadis kecil yang cuek. Sedangkan Willy, tipe laki-laki periang yang mudah memiliki banyak teman.
Tak mudah bagi Welenora yang harus berpura-pura bersikap manis seperti ini. Dia harus menjalani hari-hari yang tak biasa. Rasanya ingin sekali pulang ke rumah dengan cepat.
Sementara Darsh harus pergi ke bandara untuk menjemput keluarga besarnya. Semua orang ikut dalam rombongan, termasuk grandpanya, Denzel.
Darsh akan membawanya ke rumah orang tuanya. Ini pertama kalinya grandpa datang ke sini setelah beberapa tahun yang lalu datang bersama grandma.
Barang bawaan mereka cukup banyak sehingga Darsh terpaksa menyewa satu taksi untuk membawa beberapa barangnya.
"Kau ini mau menginap di rumah kami atau mau pindahan?" protes Darsh pada Justin.
"Darsh, kau ini. Aku hanya mengikuti arahan mommy dan daddy mertua. Apalagi kamu tahu kan kalau grandpa juga ikut? Wajar saja kalau bawaan kami banyak," ucap Justin seolah tidak bersalah sama sekali.
"Baiklah, ayo kita masukkan ke dalam mobil," ajak Darsh yang dibantu juga dengan Om-nya, Felix.
__ADS_1
"Apa kabarmu, Darsh?" tanya Felix.
"Baik, Om. Setelah ini aku akan ke kantor sebentar, kemudian menjemput dua anakku itu. Jika tidak, Welenora akan sangat marah padaku," jelas Darsh.
Sementara beberapa orang dibagi untuk naik ke mobil Darsh, beberapa lagi ikut taksi. Di dalam mobil Darsh hanya beberapa wanita dan anak kecil, Teofilo. Sedangkan di taksi ada Grandpa, Felix, dan Justin.
"Kak, bagaimana kabar anak-anakmu?" tanya Jillian.
"Mereka baik-baik saja. Setelah aku mengantar kalian ke rumah, aku langsung ke kantor sebentar kemudian menjemput mereka."
"Wah, pasti seru ya, Teo! Nanti kamu main dengan kakak-kakakmu," ucap Kayana, grandmanya Teofilo Damarion.
"Iya, Oma," jawab Teofilo singkat. Dia terbiasa memanggil Oma dan Opa.
Pertama kalinya Teofilo berkunjung ke rumah saudaranya. Tak menyangka bahwa tempat tinggal Welenora dan Willy seindah ini. Walaupun mereka hanya berhubungan melalui video call di sela kesibukan mom dan daddynya, tetapi untuk pertemuan, ini memang baru pertama kalinya.
Sepanjang jalan, Teofilo lebih memilih memandang ke kiri dan ke kanan. Rasanya sangat asing berada di negara baru, tempat baru, dan suasana baru.
"Kamu menyukainya, Teo?" tanya Darsh.
Teofilo diam. Dia lebih sibuk mengurusi sepanjang jalan yang dilihatnya menarik itu.
"Teo, Om Darsh tanya tuh. Teo suka tidak dengan tempat ini?" tegas mommynya. Maklum, usianya dibawah kedua anak kembar Darsh. Makanya Teo sedikit ogah-ogahan untuk menjawab pertanyaan keluarganya yang baru ditemui pertama kalinya.
Teofilo masih diam sehingga Jillian berinisiatif untuk membalas ucapan kakak sepupunya.
"Darsh, maafkan Teo, ya. Terkadang dia suka cuek pada orang yang baru ditemui. Sebenarnya dia itu orangnya perhatian, apalagi sesama anak kecil. Kurasa Teo akan menyukainya jika sudah bertemu dengan anak kembarmu, Kak," jelas Jillian.
__ADS_1
"Ya, Jill. Tidak masalah. Kurasa Teo akan lebih cocok bermain dengan Willy. Kalau Welenora, dia persis sepertiku, cuek," jelasnya.
Tentu saja akan sangat unik ketika anak perempuannya bersikap dingin seperti daddynya. Entah, Darsh kepikiran apa saat itu sehingga salah satu anaknya meniru dirinya. Bayangannya tidak terduga. Dia malah berpikir kalau Willy-lah duplikatnya, ternyata Darsh salah besar.