Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Apa Rahasianya?


__ADS_3

Justin kesal pada sahabatnya. Mendadak Darsh izin untuk tidak masuk ke kantor selama beberapa hari. Dia menanyakan apakah Darsh sakit atau bagaimana, namun istrinya cuma menjawab ingin beristirahat sejenak dari rutinitas pekerjaan. Nah lo, Darsh enak sebagai Bosnya, sedangkan Justin harus mengubah jadwal meeting dengan beberapa klien penting. Namun, bukan itu masalahnya. Kali ini Darsh cuti lebih lama dari biasanya.


Tepat hari kelima, Darsh baru masuk ke kantor. Itupun kondisinya sudah terlihat berubah total. Darsh seperti menjadi orang lain. Dia sudah duduk di ruangannya sebelum Justin masuk ke sana. Mendapatkan kabar dari resepsionis bahwa Bosnya sudah masuk membuat Justin begegas masuk ke ruangan tersebut.


Tok tok tok.


"Masuk!" jawab Darsh sedikit pelan dari biasanya.


Ceklek.


Justin menutup pintunya lagi dan melihat betapa buruknya kondisi Darsh. Dia benar-benar seperti orang yang sakit parah.


"Darsh, kamu kenapa? Kenapa muka jadi seperti mayat hidup seperti itu?" Tentu saja Justin masih bisa bercanda. Pasalnya, Darsh terlihat pucat dan sesekali meletakkan kepalanya di meja seperti seorang yang mabuk perjalanan dan berusaha mencari sandaran.


"Ini gara-gara Glenda."


"What? Apakah kakak ipar menyakitimu?"


"Tidak."


"Lalu, apa maksudmu mengatakan hal seperti itu? Apa kamu menuduh kakak ipar berbuat jahat padamu? Atau dia se--"

__ADS_1


"Cukup, Justin! Istriku tidak selingkuh, tetapi sekarang dia sedang hamil."


Justin tidak memberikan selamat. Dia malah menertawakan sahabatnya itu. Menurut Justin, wajar sekali untuk perempuan yang sudah menikah itu hamil, kecuali modelan tiga gadis penggoda itu hamil, baru penasaran siapa ayah biologis dari anaknya.


"Hahahaha, kamu itu lucu, Darsh. Istri hamil harusnya kamu senang dong. Sebentar lagi kalian akan memiliki bayi. Keren! Ngomong-ngomong, berapa kali tembak?" canda Justin.


Dari keempat sahabatnya, satu-satunya lelaki yang bebas celap-celup sana-sini cuma Max seorang. Namun, mengenai bahasan seperti itu, Justin tidak munafik. Dia bisa mengatakannya secara gamblang apalagi hanya di hadapan Darsh. Mereka memang atasan dengan bawahan, tetapi hubungan persahabatan tidak mengikis jarak di antara mereka. Darsh hanya meminta Justin bersikap formal ketika berada di luar atau di depan klien. Sahabatnya itu bisa mengatasi situasi yang dimaksud.


"Apalah kamu itu, Justin? Aku heran saja, padahal aku baru saja unboxing sekali. Ini parah atau memang aku yang sakti?" ucap Darsh jujur akhirnya.


"Gila! Ini amazing, Darsh. Kamu tahu tidak, bayanganku langsung tertuju pada Max. Berapa banyak dia sudah unboxing para gadis itu? Kalau sampai Max melepas alat kendalinya, bisa-bisa semua gadis itu hamil dan meminta pertanggungjawaban padanya. Coba bayangkan showroom-nya akan seramai apa kalau satu per satu mereka meminta ganti rugi atau bahkan meminta Max untuk menikahinya. Bangkrut dia!" Justin bukannya malah menanyakan perihal Darsh seperti itu karena apa, malah jauh memikirkan Max.


"Kamu tidak tanya padaku, kenapa aku seperti ini?"


Darsh kembali mengingat bagaimana dengan mudah dia mendapatkan Glenda pada hari itu. Dia merebahkan istrinya tanpa penolakan apapun. Semua dilakukannya dengan sangat cepat. Glenda malah menikmati semua sentuhan suaminya. Seperti sepasang kekasih yang sedang menggebu. Keduanya secara sadar telah melakukan itu berulang kali. Apalagi itu pertama kalinya untuk keduanya. Setelah kejadian itu, Darsh seakan menghindarinya untuk tidak mengulang hal yang sama. Keinginan memang ada, namun Darsh terlalu egois untuk memintanya lebih dulu. Sementara Glenda, dia terlalu malu untuk meminta haknya sampai beberapa kali. Komunikasi yang terputus oleh sikap egois dari keduanya membuat mereka terjebak dalam sore pertama dan terjadi berulang kali sampai melewatkan waktu makan malam.


"Entahlah, aku lupa, Justin."


"Wow, harusnya kamu itu memanfaatkan kesempatan dengan baik. Sekarang kalau kakak ipar hamil, apa kamu tega untuk menyentuhnya? Ada anakmu juga di dalam sana."


Deg!

__ADS_1


Ini namanya keegoisan yang berakibat fatal. Andai saja Darsh mau mengalah sedikit untuk menikmati pernikahan mereka, tentu saja Darsh bisa seperti Max menikmati keindahan hidup. Namun, bedanya Darsh sudah menikah dan itu malah membuatnya bebas mau melakukan apapun. Sayang sekali, sekarang Glenda sedang hamil. Dia juga takut untuk menyakiti buah perbuatannya yang dilakukan secara mendadak itu.


"Aku tidak tahu, Justin."


"Ehm, sebenarnya kamu sakit apa? Sampai lama benar baru masuk kantor."


"Menurut mamaku, ini namanya kehamilan simpatik yang mana suami yang merasakan gejala seperti orang hamil pada umumnya. Kamu tahu, ini berlangsung tidak pasti. Ada yang cepat dan ada juga yang sampai melahirkan. Gila kan namanya? Seorang Darsh Damarion harus kalah gara-gara morning sickness. Mamaku menggodanya seperti itu. Manusia kaku versus morning sickness. Katanya ini hukuman buatku!"


Sumpah, Justin tidak bisa menghentikan tawanya melihat Darsh menjadi seperti itu. Lelaki dingin nan kaku itu harus berurusan dengan ribetnya menjadi wanita hamil. Istrinya yang hamil, dia yang tersiksa. Namun, tidak hanya mamanya yang puas dengan kondisi putranya sekarang. Justin pun sangat puas melihat Darsh tersiksa seperti itu. Ada alasan kenapa sampai Justin menyetujui mamanya Darsh.


"Itu betul dan aku sangat setuju. Harusnya kamu itu bersikap lemah lembut dan penyayang pada kakak ipar. Jangan bersikap kaku seperti itu. Kulkas saja kalau sudah lepas dari colokan listrik, batu es-nya mencair. Nah kamu, sudah ada istri masih saja sikapnya seperti itu. Ini kutukan dari kakak ipar untukmu. Biar kamu rasakan betapa sakitnya menjadi wanita hamil. Aku sih setuju saja kalau kakak ipar bersikap seperti itu padamu."


"Justin, keluar kamu dari hadapanku!" bentak Darsh. Dia kesal, bukan malah dihibur, Justin malah membuatnya menjadi manusia yang tidak berguna.


"Kamu tahu, itu bagian dari ibu hamil. Sensitif dan gampang marah! Cari saja di internet. Kamu akan menemukan semua jawabannya."


Oh God, Justin benar-benar membuatku kesal. Kalau seperti ini, apa bisa aku bekerja secara profesional? Padahal, aku tidak biasanya seperti ini. Aku ini lelaki, kenapa tingkahku menjadi sensitif seperti perempuan, sih?


"Kenapa kamu diam? Mau mengusirku lagi? Tidak mempan, Darsh. Aku ke sini hanya untuk memberikan laporan kerja selama beberapa hari dan beberapa persetujuan kontrak yang belum kamu tandatangani. Maaf, bukan maksudku untuk meledekmu. Saat ini, nikmatilah peranmu menjadi seperti ini. Kalau kamu ingin tahu rahasianya untuk mengurangi penyakitmu ini, maka biarkan aku tetap berada di ruanganmu. Jika tidak, aku akan keluar sekarang."


Darsh nampak menimbang ucapan sahabatnya. "Tunggu! Apa rahasianya? Aku sudah tidak tahan setiap hari harus seperti ini."

__ADS_1


"Bersikaplah manis kepada kakak ipar dan buat dia selalu enjoy menikmati kehamilannya. Ya setidaknya berubahlah menjadi lelaki yang romantis dan penyayang," jelas Justin.


Justin sendiri tidak yakin akan ucapannya barusan. Dia juga tidak tahu apakah kehamilan simpatik itu akan berubah jika Darsh mau berubah. Setidaknya ini antisipasi agar Darsh tidak mengusirnya dari ruang kerjanya. Justin mencari aman untuk dirinya sendiri.


__ADS_2