Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Menaruh Hati


__ADS_3

"Tidak masalah," jawab Darsh.


Glenda mulai berani menatap lelaki itu walaupun tidak secara langsung menatap matanya.


"Jadi, kamu tidak marah padaku?" Glenda hanya berusaha meyakinkan saja.


Darsh menggeleng. Itu sudah cukup untuk mewakili semua jawaban atas pertanyaan Glenda.


"Terima kasih, Darsh."


Waktu pergantian shift telah tiba. Glenda sebenarnya masih ingin berbicara banyak hal dengan Darsh, tetapi dia harus kembali ke loker dan mengganti bajunya.


"Darsh, aku minta maaf. Mungkin lain kali bisa bertemu lagi. Aku harus secepatnya mengganti pakaianku." Glenda sebenarnya pulang pergi bersama Daddynya, tetapi untuk mengecoh lelaki itu, dia harus secepatnya berganti pakaian.


"Apa mamamu sudah menunggu?" tanya Darsh.


Mama? Berarti selama ini Darsh sudah tahu jika aku sering diantar jemput mama atau mungkin kebetulan saja.


"Ehm, aku belum tahu. Mama belum mengabariku. Mungkin agak terlambat karena harus mengurus pekerjaan di rumah," ucap Glenda beralasan.


"Boleh kuantar?" Darsh berusaha menawarkan diri. Sekalian ingin tahu di mana rumah gadis itu.


"Ehm, lain kali saja, ya. Aku tidak enak sama mama." Glenda lekas meninggalkan Darsh. Dia tidak ingin pembicaraan yang terlalu jauh. Glenda khawatir identitasnya sebagai anak pemilik restoran akan terbongkar dengan cepat.


Setelah kepergian Glenda, Darsh menghabiskan segelas minumannya. Dia bergegas membayar ke kasir dan pulang ke rumah. Urusannya dengan Glenda sudah selesai. Kalaupun dia masih ingin melanjutkan obrolan yang belum selesai, bisa melalui pesan atau meneleponnya langsung.


...***...


Di teras rumah keluarga Darsh, masih berlanjut obrolan kedua anak manusia yang baru saja dipertemukan hari ini. Setelah membicarakan diri masing-masing, kini Jillian sangat penasaran dengan kakak sepupunya. Bisa dibilang kalau lelaki itu sangat misterius seperti Omnya, Dizon.


"Kak Frey, menurutmu Kak Darsh itu seperti apa, sih? Apakah memang benar dia sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Jillian.


"Hah, kekasih? Memangnya dia bilang kalau sudah punya kekasih? Setauku, dia enggan sekali didekati gadis-gadis, apalagi tipe gadis agresif yang selalu mengejarnya."


Hemm, rupanya kak Darsh berbohong. Dia belum mempunyai kekasih, tetapi mengatakan kalau memiliki tambatan hati.


"Ah, tidak juga. Aku hanya mengira-ngira saja. Lagi pula siapa yang mau dengan Kak Darsh. Dia kan selalu kaku dan dingin," jawabnya.

__ADS_1


"Kamu salah besar. Kalau menurutmu, apakah Darsh itu menarik?" tanya Frey. Dia penasaran sebesar apa daya tarik sahabatnya itu sampai sekelas Helga dan Aimee mengejarnya.


Jillian berpikir sejenak. Pesona Darsh memang tidak diragukan lagi. Papanya yang tampan dan mamanya yang cantik. Perpaduan sempurna untuk ukuran Darsh memang seperti paket komplit.


"Seandainya aku bukan saudaranya Kak Darsh, mungkin saja aku akan menjadi orang pertama yang mendekatinya," jawab Jillian.


Rupanya Darsh sangat menarik di mata mereka semua. Bahkan, adik sepupunya juga mengakui itu. Ah, kalau begini bisa kalah telak jika mengajak Darsh menemui calon incaranku, misalnya.


"Hei, Kak Frey kenapa diam? Aku sudah mengatakannya, bukan? Kalau kak Darsh itu sangat menarik. Kakak tahu, hanya gadis beruntung yang akan mendapatkan dirinya. Bukankah Kak Frey bilang kalau dia tipe pria sulit. Nah, gadis-gadis yang mengejarnya itu pasti suka tertantang karena mendapatkan Kak Darsh tidaklah mudah. Lihat saja lelaki gampangan, gadis-gadis itu pasti enggan mendekat walaupun untuk mengejarnya. Akupun sama akan mengejar model lelaki seperti Kak Darsh," jelasnya sambil memberikan senyuman terbaik untuk Frey.


Frey terdiam. Rupanya ucapan Jillian ada benarnya. Itulah sebabnya dari kelima lelaki yang bersahabat, hanya Darsh yang menjadi incaran mereka.


Saat mereka terdiam, rupanya Darsh baru saja pulang. Dia turun dari mobilnya kemudian langsung menghampiri Frey dan Jillian.


"Masih betah di sini, Frey?" tanya Darsh.


"Aku sengaja menunggumu, Darsh. Oh ya, besok acaranya jam berapa?"


Frey benar karena Darsh hanya memberikan hari di mana dia akan diangkat menjadi CEO DD Corporation.


"Tunggu, aku akan bertanya mama dulu. Aku juga lupa," balasnya.


"Ma, besok acaranya jam berapa?" tanya Darsh.


"Eh, anak mama baru pulang? Bagaimana pertemuannya?" Bukannya malah menjawab, Olivia balik bertanya.


"Itu nanti saja, Ma. Jawab pertanyaanku!"


"Malam, sayang. Siangnya Papa masih harus bekerja, bukan?"


"Baiklah, Ma. Terima kasih." Darsh keluar lagi untuk menemui Frey.


Mereka terdiam lagi ketika Darsh datang. Keduanya mengamati tingkah Darsh yang tidak biasa itu. Seperti ada yang aneh dengannya. Itu sangat terlihat dari auranya yang entahlah itu. Hanya Frey dan Jillian yang bisa melihatnya.


"Kak Darsh dari mana?" tanya Jillian.


"Hemm, sejak kapan seorang Jillian Damarion penasaran dengan urusan orang?"

__ADS_1


"Baru pulang menemui tambatan hati, yah," ledek Jillian.


Deg!


Dari mana dia tau? Bukankah aku tidak pernah mengatakan kemana pun aku pergi?


"Tidak, Jill. Ada urusan sebentar. Oh ya, Frey, apa kamu siap bersaing dengan Justin dan Max?" sindir Darsh.


Frey terlihat betah sekali mengobrol dengan Jillian.


Sial! Kenapa Darsh bisa membaca pikiranku? Aku memang merasa nyaman mengobrol dengan Jillian. Apakah ini namanya persaingan sahabat?


"Oh ya, acaranya besok malam. Aku belum mengumumkan di Grup Chat kita," ucap Darsh.


"Oke, Darsh. Aku pasti akan datang," ucapnya.


"Tentu saja kamu harus datang. Kamu kan asistenku," balas Darsh.


Oh, jadi Kak Frey ini asistennya Kak Darsh. Pantas saja, dia juga terlihat cerdas. Cocok dengan karakter Kak Darsh yang dingin. Kak Frey orangnya enak diajak ngobrol. Santai dan tidak membosankan. Uh, kenapa aku banyak memujinya?


Frey cuman bisa tersenyum. Tidak menyangka bersahabat dengan Darsh, dia juga mendapatkan pekerjaan dari keluarganya. Frey memang sudah kaya dari lahir, tetapi menikmati tantangan untuk bekerja dengan Darsh adalah impiannya.


"Darsh, aku langsung pamit dulu, ya. Aku memerlukan persiapan untuk besok," pamitnya.


"Kamu memerlukan persiapan atau memerlukan strategi, Frey?" ucap Darsh.


Jillian merasa malu karena arah pembicaraan Kakak sepupunya. Dia memang tidak menampik kalau pertemuan pertamanya dengan Frey menarik perhatiannya. Ini pertama kalinya dia bebas mengobrol dengan lawan jenis. Lebih tepatnya Jillian selalu menghindari lelaki. Dia masih fokus dengan kuliahnya. Hanya tinggal setahun lagi maka semuanya akan selesai.


"Aku harus mempersiapkan strategi untuk melindungi atasanku dari kejaran gadis agresif itu," kilah Frey.


"Kak Darsh, Kak Frey, aku masuk dulu, ya," pamit Jillian.


Gadis itu tidak boleh ketahuan kakak sepupunya kalau ada ketertarikan dengan Frey.


Setelah Jillian masuk, Darsh mendekati Frey dan memberikan semangat pada lelaki itu.


"Berjuanglah! Sainganmu sama beratnya denganmu, tetapi jangan khawatir. Sepertinya Jillian menaruh hati padamu," ledek Darsh.

__ADS_1


Frey tidak berani memberikan jawaban apapun pada Darsh. Harapannya untuk mendapatkan Jillian sangat besar saat ini. Darsh benar, dia memang mendapatkan kesempatan paling besar hari ini. Besok, Frey tidak akan tahu seperti apa karena Max dan Justin akan bersaing dengannya.


Frey bergegas meninggalkan rumah Darsh dengan pikiran yang berkecamuk di dadanya. Dia semakin khawatir jika Jillian akan memilih salah satu sahabatnya.


__ADS_2