Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Keributan


__ADS_3

Hari H pertunangan telah tiba. Keluarga Glenda meminta acaranya malam hari bersamaan dengan waktu makan malam. Olivia menyiapkan cincin pertunangan putranya dan beberapa oleh-oleh yang akan diberikan kepada Glenda dan calon besannya.


"Semuanya sudah siap, Ma?" tanya Darsh.


"Iya, sayang. Mama juga sudah menghias semua oleh-oleh yang akan kita berikan pada mereka."


"Papa di mana, Ma? Sepulang Darsh dari kantor tidak melihatnya sama sekali," tanya Darsh.


"Ada di kamarnya. Mungkin sedang beristirahat. Sudah lama papamu tidak merebahkan badannya. Baru beberapa hari ini, dia terlihat santai. Terima kasih sudah menggantikan pekerjaan papa."


"Sama-sama, Ma. Oh ya, nanti jangan sampai terlambat ya. Nggak enak dengan keluarganya Glenda kalau hari pertama pertunangan saja sudah terlambat. Bagaimana kalau resepsi pernikahannya?" terang Darsh.


"Tentu saja, sayang. Oh ya, Mama akan meminta mereka untuk menyetujui pernikahan kalian yang akan dilangsungkan sebulan lagi. Apa kamu setuju?"


Deg!


Sebulan lagi statusnya akan berubah menjadi seorang suami. Apa Darsh sudah siap mengemban tugas seberat ini?


"Ehm, kalau keluarga Glenda setuju, Darsh ikut saja, Ma." Tentu saja Darsh harus pasrah. Apalagi menyangkut permintaan terakhir grandmanya.


"Baiklah, sayang. Terima kasih sudah menjadi putraku yang terbaik. Sebentar lagi tanggung jawab Mama akan digantikan oleh Glenda. Semua kebutuhan harianmu akan disiapkan olehnya."


Darsh tidak tahu harus bersikap seperti apa pada gadis itu. Apalagi tidak lama mereka akan menjadi sebuah keluarga.


"Apa Darsh perlu membeli rumah baru?"


Olivia yang masih sibuk dengan persiapannya menoleh ke arah putranya.


"Tunggu sampai kalian menikah. Setelah itu putuskan berdua. Mungkin saja mertuamu tidak mengizinkan atau bahkan kalian akan mendapatkan rumah baru dari mereka."

__ADS_1


Olivia tidak yakin kalau setelah menikah mereka akan memilih hidup mandiri. Keduanya masih perlu pengawasan. Apalagi masih sama-sama muda. Walaupun Olivia belum tahu pasti berapa usia Glenda, yang pasti gadis itu pasti berada satu atau dua tahun dibawah usia Darsh.


"Baiklah, Ma. Terima kasih atas semua saran yang diberikan."


"Tunggu, Darsh! Pernikahan kalian akan dilangsungkan di tempat grandma. Ingatkan itu, ya?"


"Iya, Ma. Aku ikut saja."


Darsh kembali ke kamarnya untuk bersiap. Beberapa jam lagi, keluarganya akan berangkat. Sementara Olivia masuk ke kamarnya. Dia ingin meminta suaminya untuk segera bersiap.


"Pa, lekaslah bersiap. Kita akan berangkat ke rumah Vigor," ucap Olivia yang baru saja masuk ke kamarnya.


Aku malas sekali. Kenapa Darsh bisa menyukai anak dari pria itu? Aku tidak habis pikir dengan jalan cintanya.


Tidak ada pergerakan dari pria itu. Dia juga diam dan tidak menyahut ucapan istrinya.


"Pa, kamu mendengarku atau tidak?" tanya Olivia lagi.


Deg!


Olivia melotot tajam pada suaminya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini.


"Apa maksudmu, Pa? Kamu tidak mau datang ke acara pertunangan putramu? Kamu jangan egois, Pa!" sentak Olivia. Sejak tadi dia sibuk menyiapkan barang yang akan dibawanya. Suaminya malah menolak untuk ikut dengannya.


Ini akan menjadi masalah besar jika suaminya benar-benar menolaknya. Mana mungkin dia akan berangkat berdua dengan putranya. Dia juga harus memperjuangkan pesan mama mertuanya untuk mendapatkan gadis itu. Ketika sudah di depan mata, suaminya malah membuat ulah seperti ini.


"Aku tidak bisa datang ke sana. Aku ingin berada di rumah saja. Sebaiknya kamu batalkan rencana pertunangan ini."


Tentu saja ucapan Dizon barusan semakin membuat Olivia murka. Dia pikir mudah untuk mengejar persetujuan dari keluarga Glenda?

__ADS_1


Dizon sebenarnya setuju dengan hubungan ini, tetapi dia tidak mau berbesanan dengan Dizon. Rasanya dunia sangat sempit. Mereka harus bertemu dengan orang sama di masa kini. Keinginan Dizon sebenarnya mengizinkan putranya menikah, tetapi bukan dengan gadis itu. Masih banyak gadis lain yang bisa dipilih. Itu yang disesalkannya.


"Kamu gila, Pa. Ingat mamamu. Wanita tua itu mengharapkan sekali Darsh berjodoh dengan gadis itu. Sekarang mendadak kamu meminta pembatalan pertunangan. Lama-lama kamu tidak waras, Dizon. Aku sudah tidak sabar menghadapi sikapmu yang kadang ogah-ogahan seperti ini. Kamu ini sudah tua. Sebentar lagi anak kita akan menikah. Kenapa sikapmu malah kekanak-kanakan seperti ini? Jelaskan, kenapa kamu berusaha membatalkannya?" tuding Olivia.


Bahkan, menit terakhir menjelang pertunangan putranya, Dizon menjadi berubah pikiran. Alasannya simpel, tetapi mungkin tidak akan bisa diterima oleh istrinya.


"Aku tidak mau lagi berhubungan dengan keluarga Armstrong. Termasuk Sean," ucapnya.


"Woho, Tuan Dizon Damarion. Pemikiran Anda pendek sekali. Calon besan kita itu Vigor bukan Sean."


"Iya, aku tahu itu. Zelene masih adiknya Sean. Nanti ketika pernikahan Darsh, mereka pasti akan datang."


"Pa, kamu itu jadi kepala rumah tangga kenapa tidak bisa berpikir secara nalar, sih? Kamu juga seorang CEO, maaf maksudku mantan CEO. Kenapa menghadapi kejadian seperti ini malah mundur? Harusnya kamu berpikir, seandainya kamu memiliki seorang anak gadis dan dia diperlakukan seperti Glenda yang acara pertunangannya sudah ditentukan, tiba-tiba ditinggal kabur begitu saja. Apa kamu tidak sakit hati sebagai orang tua?" Rasanya Olivia mulai mengalami tekanan darah tinggi menghadapi sikap suaminya. Dia berharap Darsh tidak bersikap sama seperti papanya. Kasihan Glenda harus mengalami nasib buruk seperti Olivia.


"Kamu menyudutkanku, Oliv. Aku bilang tidak ya tidak!" Dizon tidak mau mengalah. Dia harus melawan sikap istrinya yang selalu bar-bar jika ribut dengannya. Tentu saja bukan seratus persen salah istrinya, Olivia hanya berusaha membela dirinya dan memegang teguh apa yang telah menjadi keputusannya.


"Baiklah. Aku akan mengambil ponsel dan menelepon mama mertua. Aku akan mengatakan padanya kalau anak kesayangannya, Dizon Damarion, telah membatalkan rencana pertunangan cucunya. Kamu tahu apa yang akan terjadi pada mama. Bom, kesehatannya akan menurun. Apa kamu tega melihat mamamu seperti itu, hah?" balas Olivia.


Dizon tidak tahu harus berbicara seperti apalagi. Sepertinya untuk kali ini dia harus mengalah lagi. Tak ada lagi yang perlu diperdebatkan selain harus menuruti ucapan istrinya.


Dizon beranjak dari ranjangnya hendak menuju kamar mandi.


"Jadi, sudah mau berpikir sebab akibatnya sekarang?" selidik istrinya.


"Hemm, aku siap-siap sekarang."


"Baguslah kalau begitu. Aku akan menyiapkan keperluanmu."


Olivia senang. Suaminya mau menuruti ucapannya. Dia tidak lagi menjadi Olivia yang mudah ditindas seperti dulu. Benar ucapan mama dan mama mertuanya. Menghadapi Dizon haruslah dengan pikiran yang nalar dan mental yang kuat. Jika tidak, semuanya akan terpental dengan cepat.

__ADS_1


Olivia menyiapkan baju untuknya juga. Kalau soal putranya, Olivia tak perlu khawatir. Dia pasti bisa mengurus dirinya. Sebentar lagi keluarganya akan berangkat menuju kediaman calon besannya.


__ADS_2