
On time, itulah kata-kata yang selalu diucapkan Olivia untuk makan malamnya kali ini. Selepas merayu suaminya dan berakhir di ranjang sore hari, Olivia tersenyum puas. Tak menyangka bahwa dia yang paling bucin dalam hal ini. Kalau Dizon tidak bisa bucin akut pada dirinya, kenapa bukan Olivia saja yang bucin? Tak ada masalah, kan?
Hampir keseluruhan tamunya sudah berada di meja makan. Tinggal menunggu tuan rumah beserta nyonya pemilik rumah. Keduanya keluar dengan bergandengan tangan seperti anak muda yang lagi kasmaran.
"Besan kita terlihat berbeda, ya?" bisik Vigor pada sang istri.
"Apa kamu cemburu?" balas Zelene tentunya dengan cara berbisik pula.
"Tentu saja! Ini tidak boleh dilewatkan."
Lain halnya dengan Darsh. Responnya diluar ekspektasi.
"Pa, kalau pamer kemesraan jangan di depan kami! Ya, aku tahu kalau beberapa kaum muda di sini masih kalah dengan sikap kalian yang seolah seperti dunia milik berdua."
Tentu saja hal itu mengundang gelak tawa semua orang di sana. Termasuk Sean.
"Sayang, kurasa kita perlu meniru mereka," ucap Sean pada sang istri.
Pandangan beberapa orang beralih kepadanya. Rasanya Dizon sudah tidak peduli lagi alias berubah dingin.
"Jangan seperti itu, Dad. Malu sama Tuan rumah," jawab Callista.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul, makan malam bisa dimulai." Olivia mulai mengambilkan makanan untuk suaminya. Diikuti beberapa wanita yang ada di sana. Semuanya berpasangan.
"Wah, makanan ini sungguh luar biasa," ucap Jillian. Beberapa kali dia nampak cukup diam karena tidak ada yang perlu dikomentari.
"Tentu saja, Sayang. Ini hasil tangan mama mertuanya Kak Darsh," jawab Justin. Tentu saja dia tahu kalau Zelene yang menjadi koki utama di rumah ini. Memang benar kalau restoran ZA sangat ramai.
"Kalau Aunty Zelene masak terus untukku, aku bisa menjadi gendut seiring perjalanan waktu. Ah, senangnya," ucap Jillian sembari tersenyum puas.
"Jangan terlalu gendut, Jill. Lihat Glenda, dia habis melahirkan perlahan mulai kembali seperti semula. Benar kan, Sayang?" ucap Zelene pada Glenda.
"Benar, aunty. Aku juga sudah mulai diet lagi. Kurasa suamiku suka aku yang seksi," sahut Aquarabella. Dia juga baru saja melahirkan.
"Ara, jangan bicara seperti itu!" bisik Zack.
"Memangnya kenapa?" balas Aquarabella dengan berbisik juga.
"Aku malu!"
Dizon yang melihat tingkah wanita muda yang dirasa itu adalah anak dari Sean. Dia ingin membalas perbuatan pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Dizon menunjuk Aquarabella.
"Aquarabella, Om. Aku anaknya Daddy Sean," jawab Aquarabella.
"Oh, saudaramu cuma satu?" tanya Dizon lagi. Sepertinya lebih menarik untuk mengorek informasi mengenai putrinya Sean daripada berbicara dengan papanya.
"Ck, kamu itu bagaimana, Dizon? Kalau ingin tahu keluargaku, tak perlu bertanya padanya. Tanyakan saja padaku," sahut Sean.
Dizon menatap tajam pada Sean. Sebenarnya dia masih ingin bermain-main dengan pria paruh baya itu.
"Aku tidak suka bertanya padamu, Tuan Sean. Aku lebih suka bertanya pada yang bersangkutan langsung." Dizon menjawabnya dengan sangat ketus.
Tentu saja suasana meja makan seperti medan peperangan ini membuat semua orang di sana khawatir. Lebih-lebih Felix maupun Vigor. Yang berseteru malah kaum paruh baya.
"Kau ini!" Sean kesal. "Beruntung kalau putramu berjodoh dengan anak Zelene. Kalau berjodoh dengan anakku, aku bisa saja menyiksanya!"
Deg!
Mereka pikir akan ada kata damai, tetapi malah sebaliknya.
"Kak, lanjutkan makanmu dulu!" sahut Zelene. Dia tidak ingin suasana meja makan Olivia menjadi kacau.
Glek!
Zack merasa tersindir. Sepertinya pernikahan Zack dengan Aquarabella adalah sebab dari tindakan masa lalu orang tuanya.
"Bagaimana kalian tahu kalau aku duda?" ucap Zack.
Dizon terkejut. Dia hanya berucap asal saja. Namun, rupanya itu tidak salah sama sekali.
"Apakah kalian akan terus ribut seperti ini? Cepat habiskan makanannya! Papa jangan ganggu mereka dulu. Selesai makan malam, kalian bisa melanjutkan obrolan. Oke?" Kalau nyonya rumah sudah berbicara, semua orang terdiam. Termasuk Dizon.
Kalau saja makan malam ini sejak awal mereka tidak saling serang ucapan, mungkin bisa cepat selesai. Makan malam hari ini sampai hampir satu jam karena perbincangan tidak berfaedah itu.
Selesai makan malam, Olivia rupanya meminta mereka semua pergi ke ruang keluarga. Ada pembicaraan penting yang harus diselesaikan. Ini merupakan usul dari Zelene. Apalagi hanya tersisa beberapa hari keluarganya berada di sini.
"Baiklah, mungkin dari beberapa orang yang ada di sini belum saling kenal. Atau, mungkin beberapa sudah tahu wajahnya, tetapi tidak tahu namanya. Aku langsung memulainya dari keluargaku, ya," ucap Olivia sebelum menjelaskan satu persatu tentang keluarganya.
Olivia akan menunjukkan satu persatu keluarganya. Di sana juga ada baby sitter kedua cucunya.
"Oke, aku mulai. Perkenalkan namaku Olivia. Pria tampan ini adalah suamiku, Dizon Damarion. Pernikahan kami dikaruniai satu orang anak yaitu Darsh Damarion yang sekarang sudah beristrikan wanita muda dari keluarga Tuan Vigor, namanya Glenda Abraham. Oh ya, tak lupa aku akan memperkenalkan cucu kembarku." Olivia meminta dua baby sitter itu mendekatinya.
__ADS_1
"Ini kedua cucuku. Namanya Welenora Abraham dan Willy Damarion. Nah, kenapa tidak menggunakan nama keluarga suamiku untuk kedua bayi itu. Kesepakatan ini sudah dibuat oleh putraku dan istrinya. Kami tidak bisa menolaknya." Olivia menjelaskan semua detail keluarganya.
"Wah, kalau sudah seperti ini, aku rasanya tak perlu memperkenalkan diri lagi. Bukan begitu, Honey?" ucap Zelene pada suaminya.
"Maafkan aku, Ze. Keluarga kita terhubung. Benar begitu, kan?" jawab Olivia.
"Benar, Kakak ipar. Sekarang giliran Kak Sean yang akan memperkenalkan keluarganya," sahut Felix yang berusaha menjadi moderator dalam pertemuan malam ini.
"Terima kasih, Felix. Aku akan memulai dari diriku sendiri. Namaku Sean Armstrong dan tentunya kalian sudah tahu bidadari cantik di sebelahku ini, kan. Dia istriku, Callista. Wanita muda dengan gaya yang mirip kami berdua itu adalah buah cinta kami, Aquarabella Armstrong. Sedangkan pria yang selalu ada untuk putri tunggalku dan sebagai penerus SA Corporation adalah Zack Leoline, menantuku." Sudah cukup lengkap penjelasan yang diberikan oleh Sean.
Dizon belum puas dengan penjelasan Sean sehingga dia meminta menantunya untuk menjelaskan siapa sebenarnya dirinya. Kalau menelisik dari siapa Sean, tentunya sang menantu juga bukan orang biasa.
"Zack, bisa jelaskan bagaimana pertemuan kalian berikut keluargamu," pinta Dizon.
Deg!
Aquarabella mendadak terkejut. Bagaimana jika suaminya menceritakan seluruh kisah mereka. Itu tidak boleh terjadi.
"Ehm, Om. Sebagai istrinya, aku yang akan menceritakan pertemuan kami."
"Baiklah, silakan!" jawab Dizon.
"Aku saja tak masalah, Sayang," bisik Zack padanya.
"Tidak, aku tidak mau kamu mengatakannya secara gamblang. Sama saja membuka aib itu. Huft!" balasnya secara berbisik juga.
Zack harus mengalah. Mungkin ada hal yang tidak disukai Aquarabella jika dirinya yang bercerita.
"Baiklah, kami berdua tak sengaja bertemu di Mal. Itu pertemuan pertama kami yang cukup menyebalkan. Ya, kalian tahu juga kan kalau aku dan suami terpaut usia yang lumayan jauh, tetapi kami saling mencintai. Bukti cinta kami adalah bayi mungil ini, Gavino Leoline Armstrong," jelas Aquarabella.
"Aquarabella, maaf kalau aku harus bertanya padamu," ucap Willow.
"Katakan saja, Kak." Aquarabella memang sudah menganggap Willow seperti kakaknya.
"Kenapa usia kalian terpaut cukup jauh? Maksudku apakah suamimu sudah menikah sebelumnya?" tanya Willow. Dia tidak sempat memperhatikan ketika Zack mengatakan bahwa dirinya memang seorang duda ketika berada di meja makan.
"Ehm, iya. Suamiku duda cerai, Kak." Aquarabella tak perlu lagi menutupi siapa sebenarnya suaminya.
Glek!
Sean sampai tidak bisa mengatakan apapun kalau sudah seperti ini. Putrinya mendapatkan Zack karena sebuah kutukan. Ya, lebih tepatnya duda kutukan yang dilontarkan Dizon sebelum Aquarabella terlahir ke dunia.
__ADS_1