
Darsh dan Frey duduk di depan. Sementara orang tua mereka berada di kursi penumpang. Sebenarnya Dizon enggan untuk ke makam lagi, tetapi karena permintaan Felix untuk menghormati besannya, Dizon terpaksa ikut.
"Sayang, semoga kalian berdua selalu bahagia. Kalau ada masalah apapun, selalu selesaikan bersama. Jangan saling ngambek dan tidak mau berbicara. Itu bukan menyelesaikan masalah, tetapi menambah masalah. Darsh, Mommy titip Glenda, ya? Jaga dia dengan baik!" pesan Zelene.
"Iya, Ma," jawab Darsh.
"Kapan kalian memutuskan untuk memiliki momongan?" sahut Olivia.
Uhuk!
Tentu saja ini membuatnya pusing. Rencananya menikah belum memikirkan memiliki momongan. Jangankan momongan, malam pertamanya saja belum mereka lakukan. Apa iya harus melalui surat perjanjian malam pertama? Sangat lucu, bukan? Glenda terlihat lebih agresif, sedangkan Darsh, dingin-dingin kaku. Kebayang bagaimana mereka memulainya.
"Nantilah Darsh rembukan lagi sama istri," jawabnya singkat.
Mana mungkin aku memutuskan untuk memiliki momongan dalam waktu cepat. Aku pasti sangat repot harus menjadi suami siaga. Belum lagi pekerjaan di kantor sedang sibuk. Lama-lama aku bisa kurusan kalau seperti ini. Batin Darsh.
Padahal postur tubuhnya sudah ideal. Dia juga sering mengikuti workout. Tak heran kalau dia mengatakan bisa kurus bila bebannya terlalu berat.
...💝💝💝...
Pemakaman yang dituju tidak terlalu ramai. Apalagi ini bukan hari-hari tertentu yang menyebabkan semua orang berkunjung ke makam secara bersamaan.
"Tante Carlo sakit apa?" tanya Zelene.
"Sesak napas, Ze. Namun, wanita tua itu selalu memaksakan diri untuk mengikuti keingannya. Terkadang tekanan darahnya juga tinggi. Penerbangan beberapa minggu yang lalu ke tempatku adalah penerbangan terakhir untuknya. Itulah sebabnya, pernikahan Darsh dan Glenda harus dilangsungkan di sini," jelas Olivia.
Kini, mereka sudah berada di makam yang baru beberapa hari yang lalu seorang wanita tua yang sudah meninggal dalam keadaan bahagia di makamkan di sini. Mereka tak lupa menabur bunga dan mendoakan kebaikan untuknya.
Zelene teringat mamanya. Wanita tua itu terlihat sangat sehat. Dia sangat takut kehilangan seperti pada waktu kehilangan papanya dulu. Zelene menangisi masa lalunya.
"Mom, kenapa menangis? Grandma sudah pergi dengan membawa kebahagiaannya," ucap Glenda.
"Mommy hanya mengingat grandma kembar, sayang. Mommy tidak akan siap untuk kehilangan keduanya. Walaupun grandma Jelita pernah jahat sama Mommy, tetapi wanita itu juga pernah merawat Mommy dengan baik."
__ADS_1
Vigor pun sama. Dia bahkan pernah menjadi manusia yang paling dibenci oleh Jelita. Wanita yang dulunya berjuluk Mrs. Perfeksionis itu, kini sudah mulai berubah.
"Sabar, Honey. Kamu tahu kan kalau mama Jelita memang seperti itu. Walaupun mereka kembar, sifat dan sikapnya sangat bertolak belakang. Glenda, lain waktu ajak suamimu mengunjungi grandma kembar di negara T," jelas Vigor.
"Hemm, siap-siap, Darsh. Kalau ketemu dia, kamu harus tetap menjadi lelaki kuat seperti Papamu. Pasti hobinya masih menyudutkan orang dan semuanya harus serba sempurna," sahut Dizon. Sejak dulu, Dizon juga gedek dengan sifat Jelita.
"Maaf, Papa mertua. Grandma Jelita sekarang sudah berubah, tetapi terkadang sikap juteknya itu masih sama. Darsh tidak perlu khawatir, karena grandma Jenica selalu bisa menetramkan hati," jelas Glenda.
Mereka masih berada di makam. Darsh menatap makam grandmanya seperti enggan untuk meninggalkannya. Olivia melihat kesedihan tampak jelas di matanya.
"Sayang, grandma sudah bahagia. Kamu jangan bersedih terus, dong," ucap Olivia.
Darsh terdiam. Dia tidak mungkin menunjukkan kegelisahannya selama ini. Kehilangan grandmanya saja sudah membuat separuh kehidupannya pergi. Apalagi orang-orang terdekat lainnya.
"Berbahagialah kalian berdua. Grandma masih sempat menyatukan tangan kalian, bukan?" ucap Zelene. Dia tahu dari cerita Kayana. Sungguh, waktu yang sangat singkat dengan pernikahan singkat yang mengantarkan kepergian wanita tua itu.
...🍓🍓🍓...
"Max, apa kamu serius untuk menikahi Jillian?" tanya Justin. Dia cukup penasaran pada Max. Lelaki itu tiba-tiba mengejar Jillian seperti itu.
"Tentu saja, Justin. Menurutmu aku sedang bercanda, hah?"
Owen melihat kesungguhan ucapan Max. Sangat tidak masuk akal tiba-tiba mengejar Jillian dan ingin menikahinya.
"Kamu tidak ada maksud terselubung, kan?" selidik Owen.
"Ck, mana mungkin, Owen. Aku serius."
Masih tidak percaya. Jelas Max punya tujuan lain, tetapi lelaki itu sengaja menyembunyikannya. Max berdiri, dia menatap keluar jendela dan melihat Frey dan Jillian masih di sana. Sepertinya tidak ada hubungan yang serius di antara keduanya. Max sudah terlanjur suka dengan Jillian.
"Aku menyukai Jillian karena gadis itu sosok yang sempurna menurut pandanganku," ucap Max.
"Itu tidak adil untuknya, Max," protes Justin.
__ADS_1
"Tidak adil bagaimana, Justin?" Max memutar badannya. Dia memandang kedua sahabatnya secara bergantian.
"Tentu saja tidak adil, Max. Kamu lelaki yang selalu mengagungkan kebebasan, sedangkan Jillian itu gadis yang terhormat. Dia tidak pernah terlihat berdekatan dengan lelaki mana pun. Frey adalah orang pertama yang dekat dengannya. Dia juga lelaki yang baik," jelas Justin.
"Menurutmu aku bukan lelaki yang baik? Aku menyukai dan mencintainya dengan tulus, Justin."
"Tidak, Max. Kamu mencintainya dengan na*su!" ucap Owen.
"Ck, kalian berdua tidak mendukungku? Atau kalian lebih memilih Frey daripada aku?" Max kesal. Dia ingin menjadikan Jillian adalah gadis yang paling beruntung memilikinya di dunia ini. Max juga berjanji akan membahagiakannya.
"Kamu mau kami jujur, Max?" tanya Justin.
"Hemm, jujurlah!"
"Kamu terlalu sering pergi dengan gadis penggoda ataupun wanita malam. Kamu pasti sudah tidur dengannya. Sekarang, kamu mau tidur dengan Jillian juga? Dia gadis baik-baik," jelas Justin.
"Aku berjanji akan berubah," ucapnya.
"Max, janjimu tidak pernah bisa di pegang. Sebaiknya kamu memilih salah satu sari Helga atau Aimee," balas Owen.
Max menarik baju Owen. Dia semakin kesal pada sahabatnya itu.
"Max, lepaskan!" protes Justin.
"Aku bisa saja mendapatkan semua gadis itu hanya dengan menjentikkan jariku, namun aku tidak tertarik. Aku tertarik pada Jillian karena gadis itu terus saja menolakku," jelas Max yang masih dengan posisinya.
"Itu namanya kamu menabuh genderang perang dengan Frey dan Darsh, Max. Bukankah dari awal sudah kukatakan. Jangan hanya karena seorang gadis, persahabatan kita hancur. Harusnya kamu bisa menerima kenyataan jika Jillian lebih memilih Frey," jelas Owen. Dia mendorong Max untuk melepaskan tangannya.
Cinta sudah membuat Max buta akan persahabatan. Dia terlalu bersemangat untuk memiliki Jillian. Gadis itu selalu membuatnya menjadi lelaki yang paling menarik di matanya.
"Aku tidak akan menyerah. Dia harus menjadi milikku," tegas Max.
Justin dan Owen sudah tidak bisa mencegahnya lagi. Mereka harus segera membicarakan masalah ini dengan Darsh. Max dan Frey jangan sampai tahu mengenai masalah ini. Bagaimana pun juga, persahabatan mereka tidak boleh terpecah karena ulah Max.
__ADS_1