
Hari H keberangkatan Darsh dan Glenda ke negara I membuat semua orang sibuk. Tak hanya keluarga Darsh maupun Glenda, tetapi semua sahabat Darsh yang penasaran dengan gadis itu pun ikut mengantarkan mereka.
"Wow, ini kakak ipar!" seru Max. Pertama kalinya menyadari kalau calon istri Darsh adalah gadis yang sangat cantik.
"Max, jaga sikapmu!" sindir Frey. Dia berusaha membuat senyaman mungkin calon istri bosnya.
Ada yang mengganjal di benak keempat sahabat Darsh. Beberapa hari yang lalu saat pertemuan, Darsh mengatakan kalau calon istrinya adalah seorang pelayan. Namun, menurut pengamatan mereka dengan pakaian gadis itu yang sangat fashionable dan jauh dari kata sederhana, bukan berarti dia menggunakan pakaian yang glamor.
"Mom, Dad, Glenda pamit, ya," ucapnya.
"Sebentar, Sayang. Mom masih ingin memelukmu. Tunggu Mommy di sana ya? Kamu menginap di rumah Om Sean atau langsung ke rumah keluarganya Darsh?" tanya Zelene.
"Ehm, terserah Darsh saja, Mom. Lagi pula, aku juga akan aman berada di sana," ucapnya sedikit berbisik.
"Darsh, jaga calon kakak ipar dengan baik, ya," ucap Owen. Perjumpaan pertamanya dengan calon istri Darsh sangat terkesan. Walaupun katanya seorang pelayan, tetapi seperti terlihat sebagai anak seorang pengusaha. Namun, gadis itu ramah dan tidak sombong.
"Kalian jangan khawatir. Aku akan menjaganya dengan baik," balas Darsh.
"Darsh, Mama sudah mengabari Om Felix untuk menjemput kalian di Bandara. Ingat, perkenalkan Glenda pada Jillian," ucap Olivia.
Rupanya ucapan Olivia memancing orang lain untuk berbicara. Dia adalah Zelene, Mommynya Glenda. Ada sebuah nama yang menuntunnya untuk penasaran. Bagaimana mungkin Olivia terang-terangan meminta Darsh untuk memperkenalkan putrinya dengan seorang perempuan?
"Ehm, Kak Oliv, siapa Jillian?" tanya Zelene.
Vigor pun nampak memikirkan hal yang sama dengan istrinya. Sepertinya tidak hanya Zelene, tetapi Vigor pun sudah terputus hubungan sehingga tidak tahu kabar terbaru keluarga Damarion. Bisa saja Jillian itu menantunya Felix Damarion.
"Ehm, dia itu anaknya Felix, Ze. Mungkin usianya sedikit berbeda dengan putrimu," balas Olivia.
__ADS_1
Vigor dan Zelene hanya bisa ber o ria bersama. Rupanya yang memiliki anak lelaki hanya Dizon. Kakaknya saja juga mempunyai anak perempuan. Rupanya keberuntungan berada di tangan Dizon kali ini.
"Darsh, jangan lupa ajak calon istrimu bertemu grandma dan grandpa," ucap Dizon mengingatkan.
Benar, tujuan pertama kali memang itu. Setelah itu ke butik untuk fitting gaun, padahal perjalanan dari negara H ke negara I kurang lebih 30 jam. Ini pertama kalinya mereka pergi berdua.
"Darsh, besok kami akan menyusulmu. Jangan lupa untuk menjemput kami di Bandara," ucap Justin mengingatkan.
"Itu bukan tugasku, Justin. Om Felix dan Jillian yang akan menjemput kalian," balas Darsh.
Berulang kali mendengar nama Jillian, rasanya Frey tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Maklum, semenjak Jillian pamit untuk menyelesaikan tugas akhir, belum ada lagi komunikasi setelahnya.
"Frey, kenapa kamu diam saja? Harusnya kamu yang paling tertarik dengan perbincangan kami," sahut Max.
"Memangnya aku harus bicara apalagi, Max? Bukankah kamu juga tahu kalau daddynya Jillian yang akan menjemput. Terus apalagi?" balas Frey.
Keduanya masih ribut mengenai Jillian. Rasanya Olivia paham akan pembicaraan Max dan Frey. Kesalahpahaman yang tidak akan berakhir kalau tidak dijelaskan.
"Ehm, Max, Tante cuma mau bilang kalau Jillian sedang menyelesaikan tugas akhir. Jadi, itu tidak mungkin ada komunikasi antara Frey dengannya," jelas Olivia.
Ehm, apakah karena Jillian tipe gadis yang sangat disiplin atau memang daddynya yang melarang putrinya? Rasanya gadis itu sangat konsisten sekali. Didikan Felix luar biasa. Batin Zelene.
"Maaf, Tante. Aku tidak tahu. Kupikir Jillian masih sering berkomunikasi dengan Frey. Soalnya kebanyakan gadis di luar sana akan terus seperti itu. Mengejar lelaki yang disukainya," balas Max.
"Tidak semua perempuan seperti itu," sahut Zelene mematahkan ucapan Max.
"Mom, sudahlah. Sebaiknya aku dan Darsh lekas masuk ke pesawat," pamitnya.
__ADS_1
Waktunya memang tak banyak karena 30 menit lagi pesawat akan lepas landas. Itulah sebabnya, sejak tadi Glenda fokus pada jam tangannya. Tidak mungkin harus terlambat ke sana, bukan.
Mereka saling memeluk orang tuanya masing-masing untuk meminta doa dan restu agar perjalanannya selamat sampai tujuan. Tak lupa pula, Darsh berpamitan pada sahabatnya yang sudah berkenan untuk mengantarkannya ke Bandara.
...❣️❣️❣️...
Perjalanan panjang di mulai. Rasanya Darsh dan Glenda sudah tidak ada pembatas lagi. Glenda yang selalu penasaran sama sikap dan perilaku Darsh. Bisa dibilang kalau Glenda ini tipe agresif yang levelnya setengah-setengah. Intinya, Glenda terkadang menjadi gadis yang mendominasi dan terkadang tidak ada nyali sama sekali. Perpaduan sempurna antara Zelene dan Vigor yang terdapat dalam dirinya. Kalau seorang Darsh Damarion, yang paling mendominasi adalah Papanya, Dizon Damarion.
Glenda ingin berbincang dengan Darsh walaupun hanya menanyakan kabar, tetapi lelaki itu rupanya tidur atau pura-pura tidur, Glenda tidak tahu.
Kenapa semakin ke sini, Darsh sikapnya sangat dingin, sih? Sesekali perhatian memang iya, tetapi mendekati hari H pernikahan, sifat aslinya mulai muncul. Oh God, berikan kekuatan penuh pada keputusanku ini.
Bayangan pernikahan indah tidak tampak jelas di wajah Glenda. Dia merasakan akan ada perjuangan panjang setelah ini. Bukankah impiannya untuk selalu bersama Darsh? Bagaimanapun kenyataan pahit atau manis, Glenda harus tetap kuat.
"Darsh, kita belum menikah saja rasanya seperti ini. Bagaimana kalau sudah menikah?" gerutunya.
Darsh tentu saja tidak mendengar. Dia sudah tertidur sangat pulas sekali. Sementara Glenda fokus memandangi lelaki yang beberapa hari lagi resmi menjadi suaminya.
Mimpi? Jelas seperti sebuah mimpi. Tidak menyangka kalau kehidupannya akan terikat masa lalu orang tuanya. Orang tua Glenda kenal baik dengan orang tua calon suaminya. Seperti kehidupannya itu sudah tergambar jelas dan tidak direncanakan sama sekali.
Kehidupan kita ternyata sudah dekat sejak dahulu, Darsh. Bagaimana mungkin aku bisa menolakmu? Sementara kamu orang pertama yang berani mendekatiku tanpa memandang siapa aku sebenarnya. Namun, daddy tak perlu terlalu lama menyembunyikanku karena orang tuamu jelas sudah paham mengenai orang tuaku.
Tidak bisa dibayangkan, perjalanan selama 30 jam dan berdua dengan durasi bicara yang sangat pendek membuat Glenda jenuh.
"Sudah makan?" tanya Darsh. Lelaki itu baru saja bangun dari tidur panjangnya. Semenjak pertama kali pesawat lepas landas dan sudah memasuki sepatu perjalanan, dia baru bertanya. Oh ya ampun, Glenda benar-benar diuji.
Glenda cuma mengangguk. Setelah itu, Darsh melanjutkan perjalanannya dengan menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan. Setengah perjalanan lagi, keduanya akan sampai di negara I. Mereka akan menapaki kehidupan baru yang benar-benar diluar dugaan.
__ADS_1