Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Selidiki Dia!


__ADS_3

"Kita langsung pulang, ya," ajak Willow.


Owen masih berpikir tentang cara untuk mendapatkan kejelasan masalah ini. Lagi pula, Owen juga belum sepenuhnya menyentuh Willow walaupun secara resmi dia memang istrinya.


"Baiklah."


Keduanya kini berada di dalam mobil yang sama. Willow lebih memilih duduk di kursi penumpang. Namun, Owen enggan untuk memprotes.


Jalanan menuju ke apartemen dan kantor Darsh memang berbeda. Sejenak ketika berada di persimpangan, Owen ragu. Haruskah dia melanjutkan rencana gilanya? Ya, dia harus meyakinkan dirinya untuk membuat Willow mengaku. Kalau saja sampai Owen terlalu jauh bersikap, lebih baik dia melepaskan Willow. Lalu, bagaimana dengan janjinya seumur hidup yang akan menjaga gadis itu? Owen tidak memikirkannya lagi.


"Owen, kenapa jalan yang kita lewati berbeda?" tanya Willow. Dia mengamati sekeliling jalanan yang bukan menuju ke apartemen mereka.


"Aku lupa kalau harus mampir dulu ke tempat teman. Apa kamu keberatan?"


"Tidak, aku ikut denganmu saja," ucapnya kemudian beralih memandang ke sekeliling jalanan yang dilewatinya.


Aku sebenarnya ragu, tetapi apa yang kulakukan ini demi menyelamatkan pernikahanku. Kalaupun nantinya Willow memang menyukai Darsh, aku akan melepaskannya. Namun, bukan berarti aku mengizinkan dia untuk mengejar. Untuk apa aku hidup bersamanya kalau pikirannya tidak bersamaku? Batin Owen.


Ketika mendekati area perkantoran, Willow menyadari kalau ini menuju kantor Darsh. Dia tidak berani menanyakan hal ini pada suaminya.


Mungkin saja ke tempat temannya yang lain. Darsh kan hanya sahabatnya. Batin Willow.


Memasuki area parkir DD Corporation, Willow baru menyadari kalau Owen membawanya ke kantor Darsh.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Willow dengan aura terkejutnya.


"Aku ada perlu dengan Darsh."


"Bukankah tadi pagi baru bertemu? Bisa kan kamu bertemu dengannya lain kali."


Bagi Owen, sepertinya Willow tidak suka karena mendadak mengajak bertemu dengan Darsh. Owen semakin berpikir kalau ternyata Willow benar-benar menyukai sahabatnya itu.


"Kamu mau turun atau tetap di sini? Apa kamu lupa kalau ini ada urusannya dengan Om Sean?"


Willow tahu kalau Sean meminta Darsh untuk mengurus pembelian tanah dan bangunan yang digunakan untuk Kafe milik Owen saat ini. Jelas pertemuannya lebih lama dari yang dibayangkan.


"Baiklah, aku ikut."


Owen memandang lekat wajah istrinya. Ada keraguan jelas di wajah gadis itu.


Maafkan aku, Willow. Batin Owen.


Keduanya lantas masuk untuk mampir ke resepsionis terlebih dahulu. Owen takut kalau Darsh sedang ada meeting mendadak. Apalagi kedatangannya yang serba mendadak ini.


Setelah berbincang sebentar dengan resepsionis, Darsh ternyata tidak terlalu sibuk sehingga resepsionis langsung memintanya untuk masuk ke ruangan.


Willow dan Owen berjalan beriringan. Tak ada gandengan tangan atau sikap mesra yang ditunjukkan sepasang suami istri itu.


Tok tok tok.

__ADS_1


"Masuk!" jawab Darsh.


Owen yang membuka pintu. Darsh terlihat biasa saja.


"Eh, Owen, Willow, silakan masuk. Duduk di sana, ya." Darsh menunjuk sofa.


"Terima kasih," jawab Willow.


Owen melirik Willow yang terlihat antusias sekali. Padahal ketika tahu kalau mobilnya menuju ke kantor Darsh seolah tidak terima kalau Owen membawanya ke sini.


"Kalian mau minum apa?" tanya Darsh.


"Tidak perlu. Aku hanya sebentar," ucap Owen.


"Jangan begitu. Mungkin istrimu juga haus."


Darsh menelepon pantry untuk mengantarkan tiga teh hangat ke ruangannya. Dia kemudian beralih ke sofa yang ada Owen dan istrinya.


"Darsh, toilet di mana?" tanya Owen.


Darsh sedikit memicingkan matanya menatap Owen. "Kamu ini seolah tak pernah berada di sini saja."


"Maaf, sejak di bandara aku menahannya sampai aku lupa letak toilet. Sayang, aku keluar dulu, ya." Owen berakting sebaik mungkin agar Willow tidak curiga.


Selepas Owen keluar, tinggallah Willow dan Darsh. Darsh sedang sibuk memainkan ponselnya karena berkirim pesan dengan sang istri, Glenda.


"Darsh," panggil Willow.


"Apakah kamu selalu bersikap dingin pada semua wanita?"


"Maksudmu?"


"Ya, selalu cuek sama seperti kepadaku."


"Kamu itu ngomong apa?"


"Aku tahu kalau ini salah. Namun, aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku padamu."


Deg!


"Kamu itu sudah tidak waras, ya? Orang tuaku sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri. Kenapa kamu malah bersikap seperti itu padaku? Bukankah kamu juga sudah menikah dengan sahabatku? Ingat, jangan main api kalau tidak mau terbakar!" Darsh enggan menanggapi sikap gila Willow padanya. Entah, sejak kapan gadis itu menyukainya?


Mengingat Owen masih berada di toilet, Willow terus saja mendesak Darsh agar dia menjawab perasaannya.


"Darsh, kita tidak bisa memaksakan hati kita mencintai siapa. Apa aku salah kalau mencintaimu?"


Deg!


Ada hati yang terluka. Ada jiwa yang mulai bangkit amarahnya.

__ADS_1


"SALAH!" bentak Darsh. "Kamu salah kalau mencintaiku. Asal kamu tahu, aku bisa saja mengatakan ini pada sahabatku tentang tingkahmu yang tidak waras ini. Atau, jangan-jangan cerita tentang papamu itu semuanya bohong?"


Glek!


Menginginkan jawaban tentang cintanya malah mendapatkan bentakan. Willow pikir Darsh adalah lelaki gampangan. Nyatanya semakin ditolak, Willow merasa semakin tertantang.


"Ingat, jangan coba-coba bertindak nekad! Kalau sampai kamu menghancurkan pernikahanku atau keluargaku, kamu akan menyesal telah bermain-main denganku!" ancam Darsh.


Tok tok tok.


"Masuk!"


"Maaf, Darsh. Aku cukup lama ya berada di toilet." Owen kembali ke sofa dan duduk bersama istrinya.


"Owen, sebaiknya kamu pulang saja. Kita bicarakan di Kafe-mu. Aku yang akan datang ke sana."


Suasana hati Darsh sedang buruk. Bisa-bisanya gadis yang dianggap anak oleh orang tuanya malah berpikiran mencintainya.


"Tapi, aku masih ingin berbi--"


"Sebaiknya kamu pulang sekarang! Aku sedang ada meeting mendadak. Aku minta maaf!"


Darsh sengaja menghindari Willow. Dia masih kesal pada gadis itu. Pikirannya terlalu tinggi mengenai dirinya.


"Ayo, Sayang. Mungkin kita datang di saat yang tidak tepat. Kalau begitu, aku tunggu kamu di Kafe. Kabari kapanpun kamu mau datang," ucap Owen.


Willow sudah tidak bisa bicara apapun. Cintanya ditolak. Dia sangat terluka.


Selepas kepergian Willow dan Owen, Darsh menatap jauh ke depan. Dia tidak menyangka kalau Willow malah jatuh cinta pada lelaki yang sudah beristri. Sungguh miris sebenarnya dengan kisah hidupnya. Namun, mendapati sikapnya barusan, Darsh yakin ada hal yang disembunyikan Willow dari keluarga maupun suaminya.


"Perempuan gila! Rasanya aku perlu menelepon seseorang untuk menyelidikinya. Kurasa ada banyak rahasia yang sengaja dia sembunyikan. Awas saja kalau sampai membuat Glenda atau anak-anakku terluka. Aku tidak akan tinggal diam."


Darsh mengambil ponselnya untuk mendial nomor seseorang. Tak lama, sambungan terhubung.


"Halo, Bos. Tumben Anda menghubungiku," ucap pria itu.


"Aku ada pekerjaan penting untukmu. Bagaimana?" ucap Darsh.


"Kalau bayarannya cocok, aku siap Bos."


Walaupun sebenarnya Darsh selalu memberikan bayaran lebih untuknya. Itu hanya basa-basi saja sebagai bos dan klien.


"Aku akan memberikannya lebih. Tapi--"


"Tapi apa, Bos? Apakah kami akan menyelidiki mafia?"


"Tidak, aku mau kalian menyelidiki Willow. Pergilah ke negara X dan selidiki dia! Jangan lupa selidiki orang tuanya dan masa lalunya."


"Baik, Bos."

__ADS_1


"Aku akan kirimkan biaya akomodasi selama sebulan di sana. Lekas kerjakan dan berikan kabar padaku!"


Darsh mengakhiri sambungan teleponnya. Dia tidak ingin rencananya diketahui oleh siapapun termasuk orang tuanya.


__ADS_2