Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Keinginan Glenda


__ADS_3

Darsh mengemudikan kendaraannya dengan pelan. Dia terdiam, tidak menanggapi keinginan istrinya. Apalagi dia harus bersikap layaknya lelaki bucin. Glenda juga terdiam. Dia malas sekali berbincang dengan suaminya.


Pertama kalinya Glenda datang ke rumah sahabat suaminya. Dia memang bisa berteman dengan siapa saja dengan mudah. Setelah mobil suaminya terparkir rapi, rupanya Frey sudah menunggunya. Lelaki itu dengan santai menghampiri kedatangan sahabatnya bersama kakak iparnya.


"Maaf, Bos. Aku merepotkanmu," ucapnya.


"Hemm, ada apa?" tanya Darsh yang baru saja turun. Tak lupa, lelaki itu langsung menggandeng istrinya yang juga baru saja turun. Glenda menanggapi tingkah suaminya biasa saja. Mungkin saja itu sebagai formalitas di hadapan bawahannya agar terlihat rumah tangganya bahagia dan sempurna. Padahal jauh di lubuk hati Glenda yang paling dalam, rasa kecewa masih ditujukan pada suaminya.


"Masuklah dulu! Silakan kakak ipar," perintah Frey.


Ruang tamu yang tidak terlalu luas menjadi tempat berbincang mereka. Sebelum itu, Frey mengambil beberapa soft drink dan camilan. Frey menyuguhkannya terlebih dahulu.


"Silakan."


"Terima kasih," jawab Glenda.


"Katakan secepatnya! Setelah ini aku harus buru-buru pulang." Darsh akan menyelesaikan masalah dengan istrinya. Kalau tidak dilakukan secepatnya, maka semakin lama keduanya akan terlibat peperangan untuk tetap saling diam.


"Orang tuaku tidak setuju kalau aku menikah dengan Jillian dalam waktu dekat. Mereka memberikan syarat padaku untuk melanjutkan pendidikan. Itu artinya, aku juga harus keluar bekerja dari tempatmu, Darsh."


Deg!


Rupanya Frey memutuskan sesuatu yang sangat rumit. Darsh sudah terlanjur cocok bekerja dengannya. Sebentar lagi dia harus bekerja sendiri. Tidak mungkin dia menahan keputusan Frey yang mendadak itu. Darsh berhak memberikan kebebasan padanya.


"Aku tidak bisa menahanmu terlalu lama. Kalau itu keputusanmu, aku bisa apa. Itu artinya, kamu memberikan kebebasan pada Jillian. Kapanpun dia menikah dengan orang lain, kamu tidak akan pernah komplain."


"Tidak, Darsh. Aku pikir saran orang tuaku benar. Aku punya cita-cita dan aku harus mewujudkannya."

__ADS_1


Berbeda dengan Darsh. Kehidupannya sekarang harus fokus pada pekerjaan, istri, dan keluarganya. Rasanya akan berpisah dengan Frey dalam waktu dekat membuat Darsh gelisah. Tidak akan ada lagi sahabat yang sangat dekat selain dirinya. Seolah Glenda mengerti kegelisahan suaminya, dia menyarankan sesuatu yang akan menjadi bahan pertimbangan suaminya.


"Sayang, kamu bisa mencari asisten lagi. Ambil saja dari sahabatmu yang lainnya. Itu bukan masalah, kan? Biarkan Frey memutuskan masa depannya," jelas Glenda.


Kali ini Darsh setuju pada ucapan istrinya. Hanya tersisa Justin yang belum bekerja karena Owen sudah berencana untuk membuka Cafe. Namun, apakah keputusan Frey ini sudah diketahui sahabatnya atau belum?


"Apakah mereka sudah tahu tentang keputusanmu ini?" tanya Darsh.


"Belum, Darsh. Rencanaku besok ketika makan siang, aku mengajak kalian untuk makan di rumah. Aku akan mengatakan pada mereka, tetapi aku minta maaf padamu. Kalau kalian mau mengadakan resepsi pernikahan beberapa hari lagi, maka aku sudah tidak bisa datang. Papaku sudah mendaftarkan aku untuk kuliah lagi di negara T. Secepatnya aku harus berangkat ke sana."


"Baiklah. Aku mengizinkanmu, Frey. Itu hakmu." Padahal, jauh di lubuk hatinya paling dalam, Darsh merasa tidak rela berpisah dengan Frey. Sejak kecil keduanya sudah bersahabat.


Glenda sembari mendengar perbincangan mereka, dia mencicipi camilan yang sudah disiapkan. Mau bagaimana lagi, kalau ikut berbicara pun hanya sesekali karena tidak ingin mencampuri urusan mereka.


"Terima kasih, Darsh. Aku juga tidak akan menahan Jillian jika gadis itu akan menikah setelah lulus kuliah. Sampaikan permohonan maafku padanya."


"Hemm, baiklah. Oh ya, aku tidak bisa terlalu lama di sini, Frey. Lagi pula ini sudah malam. Kau sangat lelah."


"Tidak masalah. Stafku akan mentransfer gajimu selama beberapa hari bekerja untukku. Terima kasih. Kami langsung pamit."


Semakin dewasa, semua orang berada pada masalahnya masing-masing. Tidak hanya Darsh, Frey, bahkan beberapa sahabatnya yang lain juga memiliki masalah.


...🍇🍇🍇...


Apartemen unit Glenda dan Darsh baru saja dibuka. Sepulang dari rumah Frey, Darsh tidak jadi mengajak Glenda untuk makan malam romantis. Itu artinya, Glenda harus bekerja keras menyiapkan makan malamnya.


Sebelum masuk ke dapur, Glenda mengambil charger untuk ponselnya yang sudah off semenjak di rumah mertuanya. Dapur bukan hal sulit untuk Glenda. Cukup memerlukan waktu 30 menit, dia menyiapkan beberapa makanan di meja makan. Beberapa, Glenda menghangatkan makanan tadi siang yang baru di masaknya dan menambah sedikit menu saja. Glenda lekas memanggil suaminya yang masih berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Darsh, ayo makan malam dulu. Setelah itu, kita bisa berbincang sebelum tidur."


"Hemm." Darsh beranjak dari ruang tamu menuju ke ruang makan. Aroma makanan di sana saling mendominasi aroma sampai ke hidungnya. Darsh tidak salah memilih Glenda menjadi istrinya. Dia cukup duduk di sana, maka Glenda akan menyiapkan segalanya.


Sepiring makanan dengan berbagai lauk dan sayuran siap di santap. Tak menunggu lama, Darsh mulai memegang sendok dan garpu. Dia mulai makan secara perlahan dan sangat menikmatinya. Beberapa menit, seluruh makanan di piringnya habis tak tersisa.


Rupanya istriku sangat pandai sekali memasak. Tak salah aku memilihnya.


Darsh tersenyum sendirian, namun kali ini Glenda melihatnya dengan sangat jelas. Keberaniannya untuk menanyakan hanya 10 persen. Itu artinya, dia enggan untuk bertanya walau sudah ada niat.


"Darsh, setelah kupikir ulang, sebaiknya kita lekas memiliki anak."


Uhuk!


Saat yang tidak tepat bagi Glenda mengatakannya karena posisi Darsh saat itu sedang meminum air.


"Lain kali jangan bicara kalau aku sedang minum!" protes Darsh.


"Iya, maaf. Lalu, bagaimana rencanaku barusan. Apa kamu setuju?" Ada alasan khusus supaya dirinya lekas hamil.


"Kita bicarakan lagi nanti." Darsh beranjak dari tempat duduknya.


"Darsh, tunggu! Kita selesaikan sekarang atau tidak sama sekali," ancam Glenda.


Darsh menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah istrinya. "Lupakan semua rencana konyolmu itu. Aku belum siap!" Darsh menuju ke kamarnya.


Glenda terduduk lemas di lantai. Bagaimana mungkin dia kalah sebelum berjuang? Darsh tidak bisa dibiarkan seperti itu. Glenda tidak boleh menyerah. Dia bangkit untuk membereskan sisa makan malam mereka. Setelah itu baru ke kamar. Di dalam kamar, Glenda tidak melihat suaminya berada di sana.

__ADS_1


"Ke mana perginya? Kenapa sikapnya semakin lama menjadi seperti ini?" gerutunya.


Darsh berada di kamar tamu. Dia sedang menimbang semua keinginan istrinya itu. Bukan tanpa alasan untuk saat ini Darsh menolaknya. Dia ingin fokus mengurus perusahaan setelah keputusan Frey. Belum lagi urusan Owen yang ingin membuka Cafe. Semuanya serba terpecah. Semakin hari banyak masalah yang harus segera diselesaikan olehnya. Mengenai Glenda, setelah mendapatkan pertimbangan yang pas, Darsh akan segera menemui dan meminta maaf padanya.


__ADS_2