Duplikat Daddy

Duplikat Daddy
Tamu Misterius


__ADS_3

Sebulan penuh Jillian sudah berada di tempat kakak sepupunya. Mommynya sudah menagih kapan dia pulang karena mendadak grandpa-nya sakit sehingga Kayana dan Felix bergantian untuk menjaga di rumah sakit.


Kehamilan kakak iparnya juga sudah terlihat membesar. Rasanya sebentar lagi keponakannya akan lahir. Dari jauh, Jillian melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Namun, terkadang pertengkaran yang ditimbulkan masih dipicu oleh kakaknya.


"Kak, tumben kali ini akur?" sindir Jillian.


"Hemm, makanya menikahlah!"


"Tunggu saja. Sebentar lagi kami akan menikah. Aku akan membuat kalian cemburu pada keromantisanku," canda Jillian.


"Hahaha, kamu pasti bermimpi. Justin hanya modus menggunakan sisi romantisnya untuk mendekatimu. Dia sama denganku. Sama dinginnya."


Glenda hanya tertawa melihat tingkah suaminya. Dingin atau tidak, baginya bukan masalah sekarang. Dia sudah belajar banyak pada Mama mertuanya. Perkara mudah sekarang untuk meluluhkan suaminya yang katanya kulkas empat pintu itu. Cukup dengan mengancamnya kabur dan akan membawa kedua anaknya sudah membuat Darsh menyerah. Dia seperti pria yang takut istri.


"Itu tidak mungkin, Jill. Aku mengenal betul siapa Justin. Kamu, baru saja mengenalnya. Rasanya ini akan menjadi kejutan untukmu. Kita lihat saja, Nyonya Madava Justin." Kalau Jillian bisa menggodanya, maka dia juga bisa membuatnya ragu mengenai Justin.


Mana mungkin Kak Justin seperti manusia kutub? Kak Darsh saja kulkas empat pintu sebentar lagi roboh. Kalau Kak Justin? Ih, kenapa dia seperti itu? Apa Kak Darsh sengaja menakutiku?


"Sudahlah, Jill. Lupakan ucapan kakakmu yang kadang tidak berbobot itu."


"Tapi aku berbobot di hadapanmu, kan?"


"Apalah kamu itu, Darsh?" balas Glenda.


Jillian baru saja keluar dari kamarnya. Sepagi ini dia sudah berada di dapur untuk membuat makanan.


"Jill, aku heran. Selama di sini, ini pertama kalinya kamu masuk ke dapur. Adalah sesuatu yang penting?" selidik Darsh.


"Aku mau membuatkan makan siang untuk kakak Justin. Hitung-hitung, aku belajar jadi istri yang baik."


Tentu saja ini menyindir Glenda. Selama menjadi istri Darsh, wanita itu belum pernah sekali pun menyiapkan makan siang untuk suaminya. Darsh memandang lekat istrinya itu. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya?


"Sayang, kenapa kamu malah diam?" Darsh mulai mengkhawatirkan istrinya.


"Jillian benar, Dad. Selama kita menikah, aku belum pernah sekali pun membuatkan makan siang untukmu." Semenjak Glenda mendekati persalinan, wanita itu sudah mengubah panggilan untuk suaminya menjaga Daddy. Namun, Darsh rasanya geli kalau harus memanggil istrinya dengan sebutan mommy. Itulah sebabnya, mereka memutuskan memanggil Sayang dan Daddy.


"Aku tidak bermaksud membuat kakak ipar sedih, loh. Aku hanya melakukan keinginanku saja, Kak. Kalau kakak mau, ayo kita buat sama-sama," ajak Jillian.

__ADS_1


"Nah, itu benar sayang."


...❣️❣️❣️...


Di kantor, Justin nampak senyam-senyum tidak jelas setelah menerima satu kotak makan siang untuknya dari Jillian. Bukan Jillian yang mengantarnya langsung, namun Darsh yang membawanya. Karena ada rapat penting, Darsh meminta Jillian untuk menemani kakak iparnya di rumah.


"Kamu baik-baik saja, Justin?" tanya Darsh.


"Eh, iya. Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja."


"Aku rasa kamu kerasukan kotak makanan."


"Ck, atasanku mulai tidak waras!"


"Kamu yang tidak waras!"


Perdebatan dua lelaki berbeda status membuat suasana kantor semakin ramai saja. Mereka berhenti ketika ada resepsionis yang mengabari jika ada tamu yang datang.


Ceklek!


"Bos, maaf aku langsung saja masuk. Di bawah ada tamu yang mencari Tuan Dizon. Namun, sudah kukatakan kalau Tuan Dizon sudah menggantikan jabatannya pada putranya. Dia kekeh ingin bertemu dengan Anda."


"Tunggu 15 menit lagi. Aku akan turun."


Darsh berpikiran negatif tentang tamunya. Bagaimana kalau dia berniat buruk untuk menghancurkan perusahaan atau malah ada maksud terselubung?


"Justin, apa sebaiknya aku menelepon papaku? Maksudku, aku tidak tahu dia siapa dan ada keperluan apa ke sini? Lagi pula selama ini aku tidak pernah memiliki hubungan dengan siapa pun atau saudara lain selain Jillian."


"Mungkin orang di masa lalunya papamu? Bisa saja kan, tetapi kamu tidak mengenalnya. Mungkin saja ada pesan khusus yang akan disampaikan tamumu itu."


Darsh tidak pernah tahu cerita di masa lalu papanya. Dia berusaha positif thinking bahwa tamunya ini akan membawa kabar baik.


"Apakah aku yang akan menemuinya?" usul Justin.


"Tidak perlu. Mungkin kita berdua yang akan menemuinya, tetapi tidak di sini. Sebaiknya kita turun saja."


Justin dan Darsh turun berdua. Mereka menemuinya di ruangan di bawah yang khusus untuk menerima tamu asing atau klien baru.

__ADS_1


Resepsionis mempersilakan tamu itu menunggunya di ruangan. Darsh dan Justin masuk ke ruangan tersebut. Mereka melihat seorang gadis muda tampak membalikkan diri menoleh kepadanya.


"Om Dizon mana?" tanya gadis itu. Gadis dengan postur tubuh tinggi semampai dan sangat cantik menurutnya.


Justin dan Darsh bukan tipe lelaki yang mudah tertarik dengan kecantikan. Apalagi keduanya sudah memiliki tambatan hati. Bagaimana pun berlian bersinar di hadapannya, mereka tidak akan tertarik.


"Duduklah! Ada keperluan apa kamu mencari papaku?" Darsh duduk tepat di samping Justin. Sementara gadis itu sedikit menjauh. Namun, sepertinya gadis itu juga bersikap sewajarnya tamu.


"Aku tidak akan mengatakan apapun padamu. Aku ingin bertemu dengan papamu!" Gadis itu kekeh pada pendiriannya untuk meminta bertemu langsung dengan papanya.


"Kalau kamu tidak mengatakan apa tujuanmu, aku pun tidak akan memberitahukan keberadaan papaku di mana."


Darsh berdiri hendak meninggalkan ruangan tersebut, namun Justin mencegahnya.


"Kita tunggu sebentar, mungkin saja Nona ini mau mengatakannya, Bos," ucap Justin.


"Sebelumnya aku mencari papamu ke negara I. Kata Om Felix, Om Dizon ada di negara ini. Dia hanya memberikanku alamat perusahaan dan bukan rumahnya."


Om Felix mengenalnya? Siapa gadis ini.


"Siapa sebenarnya dirimu? Ada hubungan apa dengan papaku?"


"Maaf, Nona. Tolong jangan berbelit-belit. Bosku sebentar lagi akan menghadiri meeting, aku harap Anda jangan bermain teka-teki seperti ini." Justin meradang. Sepertinya gadis itu sengaja bermain-main dengannya.


"Kamu hanya asisten, kan? Tolong jangan ikut campur urusanku!" sentak gadis itu.


Sial! Kalau bukan kamu wanita, sudah kuhajar dari awal. Ucapannya membuatku geram. Dasar wanita!


"Maaf, Nona. Asistenku ini sedang berusaha membuatku keluar dari permasalahanmu yang tidak jelas itu."


Darsh semakin kesal. Dia berdiri hendak meninggalkan ruangan itu. Namun, rupanya gadis itu juga sudah lelah menghadapi lelaki di hadapannya.


"Tunggu, Tuan! Aku hanya ingin bertemu dengan papamu, itu saja. Antarkan aku ke rumahmu dan semua akan beres." Gadis itu memaksa Darsh untuk mempertemukan dengan papanya. Entah masalah apa yang sebenarnya dibawanya.


Darsh semakin kesal. Sebaiknya dia menelepon papanya terlebih dahulu untuk meminta izinnya. Kantornya tiba-tiba didatangi gadis tidak jelas sepertinya. Persetan dengan namanya. Darsh juga tidak butuh dan tidak mau tahu.


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


Sambil menunggu update, cus kepoin karya keren milik Author Asri Faris. Jangan lupa tinggalkan jejaknya 💟💟💟 Terima kasih



__ADS_2